Analisis Historis Perempuan-perempuan di Sekitar Turunnya Wahyu


Terbit di Jurnal Musawa, Januari 2010.

Judul Buku      : Ayat-ayat Wanita: Kisan Nyata Perempuan-perempuan Penyebab Turunnya Wahyu

Penulis             : Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi

Penerjemah     : Khalifurrahman Fath

Volume           : 230 hlm.

Penerbit          : Zaman, Cilandak Timur, Jaksel.

Cetakan           : Cetakan I, 2008

ISBN               : 978-979-024-079-7

Diskursus Ulûm al-Qur’ân mengenal apa yang disebut dengan asbâb al-nuzûl(occasions of revelation).Terkait hal ini, secara umum Alquran diturunkan dengan dua model. Pertama, ayat yang turun serta merta dari Allah swt tanpa didahului oleh beberapa perisiwa yang melatarinya. Dan kedua ayat yang turunnya berkaitan dengan persitiwa-peristiwa tertentu sebelumnya. Pada model kedua ini lah asbâb al-nuzûlberedar. Secara definitif, asbâb al-nuzûladalah peristiwa yang terjadi yang kemudian dibicarakan atau dijelaskan oleh ayat yang turun mengiringinya. Peristiwa tersebut bisa berupa suatu kejadian tertentu atau pertanyaan dari para sahabat.[1] Dengan fokus dan sudut pandang yang berbeda, asbâb al-nuzûllebih diterjemahkan kepada riwayat, biasanya berasal dari sahabat, yang merinci peristiwa, waktu, dan tempat diturunkannya sebuah wahyu.[2]

Diskursus ini telah dikenal begitu lama dalam sejarah keilmuan Islam. Hal ini dapat dibuktikan misalnya dengan beberapa karangan yang concern membahas ayat-ayat dengan persitiwa-peristiwa yang melatarinya yang telah ada semenjak lama seperti Ali Ibn al-Madini, al-Wahidi yang menulis kitab Asbâb al-nuzûl, al-Ja’bari yang meringkas tulisan al-Wahidi dengan pembuangan sanad, Syaikh al-Islam Ibn Hajar dan al-Suyuti dengan bukunya Lubab al-Nuqul fi Asbâb al-nuzûl.[3] Karangan-karangan tersebut, seperti Asbâb al-Nuzûlal-Wahidi, menampilkan riwayat-riwayat secara umum yang menceritakan peristiwa-peristiwa penyebab turunnya wahyu. Sepertinya, Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, penulis buku yang memiliki judul asli Qisas Islamiyyah Nazalat fi Ashabiha Ayat Qur’aniyyah, dengan tulisan ini berinisiatif untuk menguti jejak ulama-ulama pendahulunya dalam kajian asbâb al-nuzûlini.

Sebagaimana diakui penulis, ia berinisiatif menulis buku ini dengan beberapa pertimbangan. Yang paling penting adalah bahwasanya semua peristiwa yang dicantumkan memiliki hikmah yang luar biasa dan tujuan yang mulia. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa diandalkan menjadi salah satu instrumen dalam menjelaskan kaidah dan dasar-dasar syariat, akidah, dan hukum fiqh. Selain itu, penulis berharap peristiwa yang disampaikannya ini dapat menghilangkan keraguan yang dimunculkan oleh beberapa sejarahwan. Tidak jarang, keraguan tersebut pada gilirannya dimanfaatkan oleh beberapa orientalis untuk memojokkan kaum Muslimin.[4]

Lazimnya sebuah karangan asbâb al-nuzûlmencantumkan peristiwa-peristiwa yang kemudian menjadi penyebab turunnya wahyu. Akan tetapi, dari segi ini, penulis bergerak kepada lahan yang lebih spesifik. Ia tidak membahas asbâb al-nuzûlsecara umum. Penulis menyusun sistematika penulisannya berdasarkan tokoh-tokoh yang dispesifikasi kepada tokoh-tokoh perempuan saja. Buku ini menceritakan sedikitnya tiga belas perempuan yang kisah mereka diabadikan dalam Alquran. Dari jumlah tersebut, tujuh diantaranya adalah Ummahat al-Mukminin atau istri dari Rasulullah, seorang anak Rasulullah, empat sahabat perempuan, dan satu lainnya adalah perempuan kafir Quraisy. Mereka adalah Zainab bint Jahsy, Aisyah bint Abu Bakr, Hafshah bint Umar, Ramlah bint Abu Sufyan, Ummu Salamah, Saudah bint Zam’ah, Nasibah bint Ka’ab, Ummu Syarik, Ummu Kalsum bint Aqabah, Fatimah bint Muhammad, Khaulah bint Sa’labah, Umrah, dan Ummu Jamil. Selain itu, juga ada beberapa laki-laki yang menjadi ‘peran pembantu’ yaitu Ali ibn Abi Thalib, Sa’d ibn al-Rabi’, dan Abu Lahab.

Memperhatikan sistematikanya, buku ini bisa digolongkan kepada tulisan biografi. Penulis menceritakan biografi dari tokoh-tokoh tersebut secara ringkas dengan bahasa yang ringan. Dari segi ini, tentunya buku ini tidak bisa diklasifikasikan sebagai salah satu karangan yang berkaitan dengan asbâb al-nuzûl. Karena, konten buku itu sendiri sepertinya lebih cocok digolongkan kepada kajian sejarah. Akan tetapi, menjadi suatu keunikan, selain kepada biografi, penulis menekankan pembahasannya kepada kasus-kasus atau peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh yang berkaitan dengan turunnya ayat Alquran. Dari segi ini, tentunya tidak salah jika menempatkan buku satu rak bersama buku-buku asbâb al-nuzûllainnya. Dari tiga belas tokoh yang dicantumkan, diantaranya ada yang direkam sebanyak tiga kali oleh Alquran seperti Zainab bint Jahsy dan Aisyah bint Abi Bakr.

Akan tetapi, buku ini bukan sekedar asbâb al-nuzûl. Penyusunan sistematika berdasarkan tokoh tersebut menuntut adanya eksplorasi yang lebih mendalam mengenai tokoh terkait. Itulah sebabnya tulisan ini juga cocok untuk digolongkan kepada tulisan biografi. Penulis tidak hanya menuliskan peristiwa yang secara langsung beriringan dengan turunnya ayat. Penulis kerap kali menarik jauh ke belakang hingga rentang waktu beberapa tahun. Penyampaian model ini menjadi kelebihan tersendiri. Penulis berhasil menyajikan kaitan ayat dengan sisi psikologis tokoh terkait atau dalam konteks yang lebih luas dengan sisi sosiologis masyarakat pada masa itu. Seperti pada kasus Ramlah Ummu Habibah yang kemudian menjadi penyebab turunnya QS. Al-Mumtahanah [60]: 6-7 yang turun di Madinah beberapa tahun setelah hijrah. Akan tetapi, penulis menarik kisahnya jauh ke belakang hingga peristiwa hijrahnya sebagian muslim dalam rangka mencari perlindungan ke Abessinia. Ia menceritakan bagaimana kehidupan bahagia Ramlah dengan suaminya dalam perlindungan raja Najasyi, yang kemudian terenggut karena berpalingnya suaminya dari agama Allah. Beberapa tahun penderitaan ia alami, hingga Rasulullah melamarnya melalui seorang utusan kepada raja Najasyi. Sang raja yang ramah memberikan hadiah pernikahan jarak jauh Ummu Habibah dengan Rasulullah. Akan tetapi, Ummu Habibah hanya menyimpan hadiah tersebut, ia sama sekali tidak menggunakannya. Ia merasa ragu untuk menggunakan pemberian dari non-muslim, Raja Najasyi yang saat itu belum menyatakan keislamannya. Tentu saja untuk menolaknya juga bukanlah hal yang etis, karena telah beberapa tahun ia hidup dalam perlindungan sang Raja. Setelah tiba di Madinah, ia menanyakan perihal ini kepada Rasulullah hingga turunlah surat QS. Al-Mumtahanah [60]: 6-7 yang menjelaskan untuk menjalin hubungan baik dengan non-muslim.[5]

Karangan Fathi Fawzi ini juga telah memenuhi kriteria sebagai sebuah karangan asbâb al-nuzûldari segi peranan yang dimainkannya. Asbâb al-nuzûl, salah satunya berperan sebagai informasi mengenai rahasia diturunkannnya ayat atau hukum tertentu dalam Alquran.[6] Pada banyak hal, Fathi Fawzi telah menyingkap rahasia dari suatu peristiwa yang berkaitan dengan turunnya ayat. Sebagai contoh QS. Al-Nur [24]: 4 yang berkenaan dengan hukum bagi orang yang menuduh wanita baik-baik berbuat nista (baca: zina). Ayat ini sebelumnya dilatari dengan kisah suatu perang pada tahun 6 H. Pada perang itu, kebetulan Aisyah lah yang mendapatkan giliran menemani Rasulullah ke medan perang. Perang tersebut dimenangkan oleh umat Islam dan mendapatkan banyak rampasan perang dan budak. Kemudian rombongan muslim pulang ke Madinah. Menjelang malam, rombongan menurunkan barang, mendirikan tenda dan beristirahat. Suatu saat, Aisyah keluar dari sedekup berniat untuk buang hajat. Sekembalinya ke peristirahatan, ia meraba lehernya dan ia menyadari bahwa ia telah kehilangan kalung yang ia pinjam dari Asma’, saudaranya. Aisyah kembali ke tempat semula dan meraba-raba untuk mencari kalung tersebut. Terlalu asyik mencari, ia lupa waktu. Di samping itu, rombongan mulai berangkat ke Madinah, tanpa ada yang menyadari bahwa Aisyah masih tertinggal. Setelah berhasil menemukan kalungnya, Aisyah kembali ke tanda, dan tersentak kaget bukan kepalang. Mengapa tidak, ia telah ditinggal sendirian di tengah gurun pasir yang luas. Hingga kemudian ia ditemui oleh Shafwan ibn al-Mu’attal. Kemudian Aisyah dinaikkan ke unta dan Shafwan menuntunnya hingga ke Madinah. Kejadian ini menjadi momen penting bagi mereka  yang memusuhi Islam. Sebutlah seorang tokoh munafik, Abdullah ibn Ubay ibn Salul. Ia merangkai berita bohong dan menuduh Shafwan berbuat tidak senonoh. Perbuatannya bahkan mempengaruhi banyak Muslim lainnya yang lemah iman. Singkat cerita, bahkan Abu Bakar dan istrinya, orang tua Aisyah, tidak dapat berbuat apa-apa dan hampir terpengaruh gosip yang beredar. Rasulullah pun demikian. Hal ini tentunya karena belum ada kejelasan wahyu. Hingga akhirnya turunlah QS. Al-Nur [24]: 11 yang membebaskan Aisyah dari tuduhan tersebut sekaligus menyelamatkan rumah tangganya bersama Rasulullah. Mengiringi ayat tersebut, turunlah QS. Al-Nur [4]: 4 yang menjelaskan hukum bagi orang yang menduduh perempuan baik-baik berzina. Dalam hal ini, beberapa nama seperti Hasan ibn Tsabit, Musthah ibn Asasah, Himnah bint Jahsy dan Abdullah ibn Ubay ibn Salul adalah tokoh-tokoh yang terlibat dalam kasus ini.[7]

Contoh lainnya adalah kisah pernikahan Rasulullah dengan Zainab bint Jahsy. Sebelumnya, Zainab dinikahkan oleh Rasulullah dengan anak angkat beliau Zaid ibn Harisah. Secara strata sosial, keduanya memiliki latar belakang kehidupan yang jauh berbeda. Zaid ibn Harisah adalah hamba sahaya, sementara Zainab bint Jahsy adalah seorang wanita cantik yang memiliki garis keturunan yang bagus. Ibunya adalah bibi Rasulullah, Amimah bint Abd al-Mutahllib. Sepertinya Rasulullah ingin menghilangkas sekat sosial dalam pernikahan ini. Akan tetapi, pernikahan keduanya tidak bisa berjalan lama. Rumah tangga Zaid dan Zainab pada gilirannya telah berada di ambang perpecahan. Beberapa kali Rasulullah menasihati keduanya untuk mempertahankan bahtera mereka. Akan tetapi, lama-kelamaan hubungan mereka putus juga. Mereka bercerai. Beberapa lama setelah itu, Rasulullah merasa iba dan bertanggung jawab atas kesendirian Zainab lantaran beliaulah yang menyuruh mereka menikah. Apalagi Zainab menikah hanya lantaran perintah dari Rasulullah setelah beberapa kali sebelumnya ia menolak. Terbetik keinginan Rasulullah untuk meminang Zainab, akan tetapi beliau menyimpannya di dalam hati. Berselah beberapa lama, Allah menurunkan wahyu QS. Al-Ahzab [33]: 37 yang menikahkan Rasulullah dengan Zainab. Zainab merasa bangga dan bahagia. Betapa tidak, jika seluruh istri Rasulullah dinikahkan oleh wali mereka, Zainab secara langsung dinikahkan oleh Allah dengan wahyu-Nya. Pernikahan Rasulullah dan Zainab diumumkan. Diadakanlah jamuan untuk merayakannya. Banyak para sahabat yang datang ke rumah hingga setelah beberapa lama Rasulullah merasa segan kepada mereka. Namun mereka lupa waktu, dan tetap duduk di sana sambil bercerita satu sama lainnya. Kejadian ini kemudia menjadi alasan turunnya QS. QS. Al-Ahzab [33]: 53 mengenai hijab bagi istri Nabi.[8]

Kedua contoh di atas sangatlah cukup untuk menjelaskan rahasia dibalik peristiwa yang terjadi. Seperti pada kasus Aisyah, bahwa peristiwa tersebut secara langsung menjadi penjelasan bagi firman Allah QS. Al-Nur [4]: 4. Begitu juga dengan kasus Zainab yang menjadi latar belakang turunnya ayat mengenai hijab. Tentunya, dengan adanya peristiwa ini, pemahaman ayat tersebut akan semakin melekat di benak para sahabat, audiens pertama turunnya wahyu. Tentunya berbeda pemahaman yang dihasilkan antara datangnya berita dengan melihat atau peristiwanya dengan datangnya berita semata tanpa peristiwa. Tentu saja yang pertama akan lebih berkesan dan lebih berbekas pada pemahaman. Begitulah lebih kurang kedua contoh di atas.

Beberapa aspek lainnya yang cukup menarik adalah gaya bahasa yang digunakan oleh Fathi Fawzi. Ia menggunakan bahasa yang mengalir, ringan, dan mudah dipahami. Penggambaran demikian menjadikannya setara dengan karya-karya sastra seperti novel atau roman. Model penggambarannya juga dilengkapi dengan setting waktu atau tempat serta perwatakan. Keberadaan setting dan penokohan ini seakan-akan melenakan pembaca dan ‘memaksa’ mereka untuk terus membaca halaman demi halamannya. Bahasa indah yang ia gunakan bisa dilahat dari contoh:

Mendengan penuturan Ummu Masthah, Aisyah terhentak hingga hampir membuatnya pingsan. Sebilah belati beracun seperti menembus ulu hatinya, lalu merobek-robeknya. Pada saat bersamaan, ia teringat bagaimana sang suami tercinta bersikap kurang hangat kepadanya, kendati ia terbaring sakit. Lebih buruk lagi, kedua orang tuanya seperti sengaja tidak memberitahu berita itu kepadanya. Sudah barang tentu mereka berdua sedih melihat penderitaan Rasulullah yang dituduhkan karena ulahnya.”[9]

Segi setting tempat atau waktu juga bisa terlihat dari uraiannya:

Alam di sekitar Makkah seakan membisu. Semesta diselubungi keheningan yang mencekam. Dunia seperti menagan napasnya.

Perlahan-lahan prajurt kegelapan mulai merayap, kemudian merentangkan sayap hitamnya di cakrawala.

Satu per satu manusia beranjak ke peraduan, berlayat mengarungi mimpi indah setelah raga penat karena seharian memeras keringat dengan aktivitas masing-masing.

Malam semakin larut. Beberapa orang Yastrib menembus kegelapan, datang ke suatu tempat yang dikenal dengan aqabah.”[10]

Sementara segi penokohan dapat terlihat dari:

Tumbuh sebagai seorang anak kecil yang murni dan lembut, lalu menjadi remaja putri yang cantik, manis, dan berparas ceria. Suaranya lembut, merdu, dan membawakan ketenangan kepada orang yang mendengarnya. Ia hidup dalam belaian kasih sayang kedua orangtuanya, yang memelihara dan mendidiknya dengan perilaku yang baik dan terpuji. Sepenihnya ia terhidar dari kehidupan yang jahat dan sesat.

Allah menganugerahinya rupa yang cantik menawan dan akal yang cerdas. Suatu perpaduan yang langka dimiliki wanita Quraisy. Selain itu, ia punya kelebihan lain: ia berasal dari sumber keturunan yang mulia dan terhormat.[11]

Meskipun penyampaiannya dengan gaya bahasa bertutur, yang disusun dan dirancangan dengan baik, buku ini juga layak untuk dikualifikasikan sebagai tulisan ilmiah. Hal ini karena pada banyak halaman ia menyelipkan beberapa catatan kaki dengan berbagai referensi sejarah, tafsir, hadis dan sebagainya. Tentu saja referensi-referensi tersebut menjadi landasan dari tulisan-tulisannya ini. Lebih kurang terdapat lima belas judul buku dan satu majalah yang ia kutip. Diantara yang terkenal adalah Thabaqah ibn Sa’d, Tarikh Thabari, Usd al-Ghabah karangan Ibn al-Asir, al-Ishabah fi Ma’rifat al-Sahabah karangan Ibn Hajar al-‘Asqalani, Siyar A’lam al-Nubala karangan al-Zahabi, Nisa’ al-Nabi karangan Aisyah bint Syati’, dan sebagainya. Selain itu, dari referensi tafsir ia menggunakan tafsir Ibn Kasir, Qurtubi, Tafsir dan tafsir Nasfi. Dari referensi hadis, ia menggunakan 5 dari Kutub al-Sittah dan Mustadrak al-Hakim.

Dari berbagai sisi, sepertinya tidaklah berlebihan jika buku ini disebut asbâb al-nuzûl-biografi-novel. Karena, dari segi kaitannya yang kuat dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringi turunnya ayat, ia termasuk karangan asbâb al-nuzûl. Dari segi sistematika penulisannya, buku ini tergolong kepada kumpulan beberapa biografi. Dan dari segi bahasa penyampaiannya, ia adalah novel dengan bahasa yang hidup dan indah.

Disamping beberapa keunikan dan kelebihan buku ini, perlu diperhatikan beberapa hal. Seperi penggambaran yang kental dengan nuansa imajinatif terkadang mengesankan berlebih-lebihan dari realitasnya. Meskipun diakui oleh penulis sendiri, penggambaran dengan nuansa imajinatif ini ditujukan untuk mendalami karakter setiap pelaku sejarah, kehidupan, perasaan, dan kepribadian tokoh.[12] Akan tetapi, terdapat suatu permasalahan di sini, menimbang buku ini adalah terjemahan dari bahasa Arab. Apakah nuansa imajiner yang ditampilkan buku edisi Indonesia ini dilebih-lebihkan dari edisi aslinya atau tidak. Tentu saja, untuk menerjemahkan begitu saja akan mengalami kesulitan. Karena nuansa sastra antara kedua bahasa, Indonesia dan Arab, memiliki banyak perbedaan baik dari segi makna kata, maupun struktur kalimat.


[1] Al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1995), hlm. 89; lihat juga al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Fikr, 2008), hlm. 40.

[2]Andrew Rippin, “Occasions of Revelation” dalam Jame Dammen McAuliffe, Encyclopaedia of the Qur’an (Leiden: Brill, 2003), hlm. 573.

[3]Al-Zarqani,Manahil al-‘Irfan…, hlm. 89; Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 71.

[4]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita: Kisan Nyata Perempuan-perempuan Penyebab Turunnya Wahyu terj. Khalifurrahman Fath (Jakarta: Zaman, 2008), hlm. 10

[5]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita…, hlm. 63-80.

[6]Al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan…, hlm. 90; Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an….,hlm. 75.

[7]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita…, hlm. 30-48.

[8]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita…, hlm. 19-28.

[9]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita…, hlm. 43.

[10]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita…, hlm. 132.

[11]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita…, hlm. 87.

[12]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Ayat-ayat Wanita…, hlm. 11.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s