al-Wujuh wa al-Nazhair


A. Pendahuluan

Alquran merupakan mu’jizat terbesar Rasulullah SAW. Ia merupakan kalam Allah SWT yang secara otentik sampai ke hadapan kita. Tidak ada kitab-kitab lain yang mampu bertahan selama berabad-abad dalam kondisi  sebagaimana aslinya, melainkan Alquran. Karena, memang Allah telah menjamin penjagaan Alquran itu sendiri hingga akhir zaman.

Banyak hal yang menjaga otentisitas Alquran ini. Seperti adanya faktor eksternal yaitu para huffaz yang sangat banyak bertebaran. Memang suatu keistimewaan tersendiri, Alquran bisa dihafal oleh orang non Arab sekalipun yang notabene bahasa Arab bukanlah bahasa mereka. Akan tetapi tidak ada yang bisa menghafal buku atau koran lokal dengan bahasa mereka masing-masing. Begitu juga dengan ilmuan yang dengan telitinya menghitung ayat, kata, bahkan huruf dalam Alquran.

Tak kalah penting—dan sangat penting sekali—unsur-unsur internal Alquran yang memberikan andil yang sangat besar dalam otentisitas ini. Hal ini berupa keajaiban-keajaiban yang tiada terkira sebelumnya, seperti halnya keajaiban angka sembilan belas yang ada dalam Alquran. Nilai sastra yang terkandung dalam kalimat demi kalimat pada setiap ayat demi ayat dan surat dari awal hingga akhir mencapai batas yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia untuk membuat karya yang menyamainya.

Namun begitu, tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar permasalah tersebut. nantinya, permasalahan yang dibahas dalam makalah ini berkenaan dengan salah satunya saja, yaitu dari segi al-wujuh wa al-nazhair dalam Alquran. Dalam Alquran sering ditemukan pengulangan kata-kata yang sama. Pada setiap tempatnya, kata-kata tersebut memiliki tunjukan makna yang berbeda. Pada ayat setiap ayatnya lain kata tersebut mengalami pergeseran makna sesuai dengan konteksnya. Pergeseran makna tersebut tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam penafsiran Alquran. Bahkan, dengan adanya pergeseran tersebut dapat menuju pada standar untuk memperoleh makna Alquran yang sebenarnya dalam kondisi objektif teks dan firman Allah SWT. Salah satu metode untuk bisa memahami isi Alquran seorang mufasir harus bisa menguasai makna asli dan makna ‘aridly dan perlu mempelajari ilmu wujuh dan nazhair sebagai pembuka makna-makna ayat yang tersembunyi. Seseorang tidak dikatakan sebagai ahli tafsir apabila belum bisa menguasai wujuh dan nazhair dalam Alquran.

B. Wujuh dan Nazhair

Karangan Seputar Wujuh dan Nazhair

Pembahasan mengenai wujuh dan nazhair tergolong kepada pembahasan yang sangat tua. Ia telah ada sebelum terkodifikasinya ilmu-ilmu Islam dan masing-masing diskursusnya terpisah satu sama lainnya. Karangan mengenai wujuh dan nazhair telah ada semenjak abad kedua Hijriah, yaitu karangan Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H). Disamping itu, juga terdapat karangan-karangan yang tidak sampai kepada kita secara kongkrit, melainkan hanya dalam bentuk informasi, yaitu karangan ‘Ikrimah Maula Ibn ‘Abbas (w. 105 H) dan La’la bin Abi Thalhah (w. 143).[1] Tentunya, dengan perkembangan waktu dan ilmu pengetahuan, karangan-karangan terkait hal ini semakin bertambah, seperti pada buku-buku ulum al-Qur’an.

Akan tetapi, hal ini bukanlah rintisan dari wujuh itu sendiri. Karena, sebelumnya pun telah muncul kata itu pada Ali bin Abi Thalib tatkala ia mengutus Ibnu ‘Abbas ke kaum Khawarij. Ali berkata:

“اذهب اليهم فخصامهم ولا تحاجهم بالقرآن فإنهم حمال ذو وجوه ولكن خاصمهم باسنة”[2]

Dalam kitabnya, Muqatil menuliskan sebuah hadis marfu’:

لا يكون الرجل فقيها كل الفقه حتى يرى للقرآن وجوها كثيرة[3]

Artinya: Seseorang tidak akan benar-benar paham Alquran sebelum ia mengetahui makna yang beragam dalam Alquran.

Berarti, wujuh jika dibicarakan dalam konteks tafsir Alquran—pada masa ini—merupakan salah satu bagian penting yang menjadi media penafsiran dan penemuan makna Alquran baik secara lafzhiy atau tarkibiy pada masa sahabat dan tabi’in. Kemudian, pembahasan ini berkembang seiring berkembangnya tafsir. Karangan-karangan seputar wujuh pun tampil dalam bentuknya yang independent—tidak lagi terkodifikasi menyatu dalam totalitas tafsir.[4]

Salwa Muhammad al-‘Awwa, seorang sarjana yang meneliti wujuh dan nazhair, menyatakan bahwa beberapa kitab-kitab yang ia temukan dan ia teliti diantaranya karangan Maqatil ibn Sulaiman al-Bukhli yang berjudul al-Wujuh wa al-Nazha’ir fi al-Qur’an al-Karim, karya Harun ibn Musa dengan judul yang sama, Yahya bin Sallam dengan judul al-Tasharif, al-Hakim al-Turmudzi, dan sebagainya.[5] Sementara dalam Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, selain karangan Maqatil ibn Sulaiman juga dipaparkan beberapa sarjana lainnya seperti Ibn Za’wani, Abu al-Farj bin Al-Jauzi, al-Damighani al-Wa’iz, dan Abu Husain ibn Faris.[6]

Di antara kitab-kita wujuh wa nazhair yang ditemukan tersebut tidak dibahas permasalahan ini dengan panjang lebar. Ulama-ulama klasik (mutaqaddimun) menuliskan karya mereka dengan metode inventarisasi kata-kata yang digunakan dalam beberapa tempat dalam Alquran, yang masing-masing tempat penggunaannya mempunyai arti yang berbeda dengan lainnya.

Definisi Wujuh dan Nazhair

Sebagaimana disampaikan di muka, kata wujuh dicetuskan oleh ungkapan yang disampaikan Ali bin Thalib. Kata ini juga telah terpakai dalam sebuah hadis yang marfu’. Ini merupakan ungkapan pertama yang menggunakan kata wujuh terkait dengan nash Alquran. Lantas, apakah maksud dari kata itu dalam bahasa Arab?

Wajh pada dasarnya merujuk kepada makna sesuatu yang di depan. Wajh al-bait merupakan bagian depan rumah yang mempunyai pintu. Wajh al-faras adalah bagian depan dari kepalanya. Wajh al-nahar merupakan permulaan siang, begitu juga dengan wajh al-dahr, berarti permulaan tahun. Wajh al-najm adalah bagian bintang yang terlihat oleh manusia. Wajh al-kalam merupakan inti pembicaraan yang mangandung maksud yang dituju pembicara. Dari makna dasar ini, dan dari pemakaian kata wajh oleh Ali bin Abi Thalib, dipakaikanlah redaksi wujuh sebagai suatu nama dari diskursus tertentu dalam Ulum Al-Qur’an yang membahas lafaz-lafaz Alquran yang memiliki beragam tunjukan makna.[7]

Ibnu Jauzi mendefinisikan al-wujuh wa al-nazhair, sebagaimana dikutip oleh Salwa Muhammad, sebagai:

“Adanya suatu kata yang disebutkan dalam tempat tertentu dalam Alquran dengan suatu lafaz dan harkat tertentu, dan dimaksudkan untuk makna yang berbeda dengan tempat lainnya. Maka, kata yang disebutkan pada suatu tempat, sama dengan yang disebutkan pada tempat lainnya. Dan penafsiran makna setiap katanya berbeda pada setiap tempatnya disebut wujuh, Jadi nazhair sebutan untuk lafaz dan nazhair sebutan untuk makna yang beragam.”[8]

Oleh sebab itu, kata yang berbeda—seperti bait, faras, dan rajul, atau kata yang hanya disebutkan sekali dalam Alquran—seperti kata sijjil, atau kata yang disebutkan di beberapa tempat dalam Alquran namun memiliki satu tunjukan makna tidak bisa disebut sebagai wujuh wa nazhair.[9] Untuk lebih jelasnya, bisa diperhatikan grafik berikut:

Jadi, sederhanany wajh merupakan pemahaman mufassir terhadap suatu kata dalam tempat tertentu dengan makna tertentu. Dan wajh lainnya adalah pemahaman mufassir terhadap kata yang sama pada tempat lainnya dengan makna yang berbeda dengan pemahaman pertama. Sementara nazhair, sebagaimana definisi Ibn Jauzi, sebutan bagi lafaz, maka kata yang disebutkan pada suatu tempat, sama (nazhirun) dengan yang disebutkan pada tempat lainnya. Berarti, kata-kata yang terulang dalam beberapa tempat dalam Alquran tersebut, bukanlah mengalami pengulangan kata itu sendiri (lais huwa nafsuhu), melainkan kata yang sama (nazhiruhu).[10] Jadi, kata kitab misalnya, yang terdapat di banyak tempat dalam Alquran, pada dasarnya tidak disebutkan berulang, hanya saja disampaikan kata yang sama dengannya (nazhiruhu). Kitab yang disebutkan pada tempat A, bukanlah kitab yang disebutkan pada tempat B.

Di samping itu, Imam Al-Shuyuti menjelaskan pengertian definitif wujuh dan nazhair:

Wujuh adalah lafaz musytarak yang digunakan dalam beberapa ragam maknanya, seperti lafaz ‘ummah’. Dan nazhair adalah seperti lafaz-lafaz yang bersesuaian (alfaz al-mutawathi’ah).[11]

Akan tetapi, Salwa Muhammad mengkritik definisi ini. Menurutnya, pada definisi ini terjadi pencampuradukan antara sudut pandang bahasa Alquran dengan sudut pandang bahasa Arab. Memang Alquran berbahasa Arab, namun bahasa Alquran lebih khas dari bahasa Arab sehingga bahasa Arab merupakan alat bantu untuk memahami bahasa Alquran.

Salwa Muhammad mempertanyakan redaksi “musytarak” dalam definisi di atas. Pada dasarnya, musytarak merupakan suatu terminologi dalam ilmu bahasa Arab. Ia menyatakan bahwa Al-Shuyuti tidak menjelaskan apakah yang dimaksud dengan musytarak di sana lafaz-lafaz yang memiliki banyak makna terkhusus bagi Alquran ataukah dalam penggunaan bahasa secara umum, atau keduanya sama saja. akan tetapi, menurut Salwa Muhammad, hal itu berbeda. Karena mungkin saja ada lafaz yang musytarak secara bahasa, namun tidak terdapat dalam Alquran, atau lafaz musytarak tersebut dalam Alquran hanya mempunyai satu tunjukan makna saja, atau mungkin juga musytarak-nya suatu lafaz hanya pada Alquran saja, dalam artian, orang Arab sendiri baru mengetahui bahwa lafaz itu musytarak semenjak ditunjukkan oleh Alquran.[12] Akan tetapi, sayangnya Ia tidak mencantumkan kemungkinan-kemungkinan yang disuguhkannya.

C. Wajh dan Nazhair dalam Al-Qur’an

Para mufassir telah meneliti bahwa tidak sedikit kata-kata dalam Alquran yang keluar beberapa kali, dan setiap kali kata itu digunakan pada suatu tempat (kalimat/ayat), akan bermakna berbeda dengan penggunaannya pada tempat lain.[13]

Dalam al-Itsqan, setelah dipelajari, terdapat sepuluh kata yang mempunyai banyak makna. Kata-kata tersebut adalah: (1) huda, yang mempunyai tujuh belas[14] makna, (2) al-su’u yang mempunyai sebelas arti yang berbeda, (3) al-shalah yang mempunyai sembilan makna, (4) al-rahmah yang mempunyai empat belas makna, (5) al-fitnah yang mempunyai lima belas makna, (6) al-ruh dengan sembilan makna, (7) al-qadha dengan lima belas arti, (8) al-zikru yang mempunyai tujuh belas makna, (9) al-du’a yang mempunyai enam makna, dan (10) al-ihshan dengan tiga makna. Selanjutnya, juga disampaikan kata-kata yang mempunyai makna seragam dengan satu pengecualian, seperti kata al-asaf yang berarti “kesedihan”, dalam satu ayat ia jadi bermakna menjadikan marah.[15]

Berikut ini akan dipaparkan secara rinci berikut contoh ayat dari satu kata saja dengan berbagai perbedaan maknanya, yaitu al-Huda. Sebagaimana disampaikan di muka, kata al-huda yang mempunyai beragam makna dalam al-Qur’an, yaitu:

Al-tsabat (tetapkan)

اهدنا الصراط المستقيم  (الفاتحة 6)

Artinya: Teguhkanlah kami pada jalan yang lurus (Al-Fatihah: 6)

Al-bayan (petunjuk)

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (البقرة 5)

Artinya: Merekalah yang berada dalam penjelasan Tuhan dan mereka akan berhasil (Al-Baqarah: 5)

Al-din (agama)

قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (آلـ عمران 73)

Artinya: Katakanlah, “Agama yang benar ialah agama Allah: (takutlah kamu) supaya tidak ada yang akan diturunkan kepada orang lain seperti yang telah diturunkan kepada kamu atau mereka (yang menerima wahyu demikian) akan membantah kamu di depan Tuhanmu?” Katakanlah, “Segala karunia di tangan Allah, diberikan kepada yang Ia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Tahu” (Ali Imran: 73)

Al-Iman

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا (مريم 76)

Artinya: Dan Allah akan menamabah keimanan kepada mereka yang telah dikaruniakan iman dan amal kebaikan kekal, dalam pandangan Tuhanmu itulah yang terbaik sebagai pahala dan yang terbaik sebagai tempat kembali (Maryam: 76)

Al-da’i (penyeru)

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آَيَةٌ مِنْ رَبِّهِ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ (الرعد 7)

Artinya: Dan orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya sebuah ayat dari Tuhannya?” Tetapi engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan pada setiap golongan ada seorang penyeru (Al-Ra’d: 7)

Al-rasul dan al-kitab

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (البقرة 38)

Artinya: Kami berfirman, “Turunlah kamu sekalian dari sini, maka apabila datang kepadamu rasul dan kitab Aku, siapa pun mengikuti rasul dan kitab-Ku tak perlu khawatir, tak perlu bersedih (Al-Baqarah: 38)

Al-ma’rifah (pengetahuan)

…وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ (النجم 16)

Artinya: Dan rambu-rambu dan dengan bintang-bintang mereka mengetahui. (Al-Najm: 16)

Nabi SAW

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ (البقرة 159)

Artinya: Mereka yang menyembunyikan segala keterangan (ayat-ayat) dan Nabi yang Kami turunkan setelah dijelaskan dalam kitab kepada manusia, mereka mendapat laknat Allah, dan laknat mereka yang berhak melaknat (Al-Baqarah: 159)

Al-Qur’an

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (النجم 23)

Artinya: Itu hanya nama-nama yang kamu buat-buat sendiri-sendiri, kamu dan moyang kamu, Allah tidak memberi kekuasaan itu. Apa yang mereka ikuti hanyalah dugaan dan yang menyenangkan nafsu sendiri! Padahal Al-Qur’an dari Tuhan sudah sampai kepada mereka (Al-Najm: 23)

Al-Taurat

وَلَقَدْ آَتَيْنَا مُوسَى الْهُدَى وَأَوْرَثْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ (المؤمن 53)

Artinya: Dahulu telah Kami berikan kepada Musa Taurat, dan kamu wariskan kitab itu kepada Bani Israil (Al-Mukmin: 53)

Al-Istirja’ (permohonan perlindungan)

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (البقرة 157)

Artinya: Mereka itulah yang mendapatkan karunia dan rahmat dari Tuhan dan mereka itulah yang memohon perlindungan (Al-Baqarah: 157)

Al-Hujjah (alasan)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آَتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (البقرة 258)

Artinya: Tidakkah tergambar olehmu orang yang berdebat dengan Ibrahim tentang Tuhannya karena ia telah diberi kekuasaan? Ibrahim berkata, “Tuhanku Yang menghidupkan dan Yang mematikan.” Ia berkata, “Akulah yang menjadikan hidup dan membuat mati,” Ibrahim berkata, “Tapi Allah yang menyebabkan matahari terbit di timur, terbitkanlah kalau begitu dari barat.” Orang yang ingkar itu terkejut. Allah tidak memberikan alasan kepada orang-orang yang zalim (Al-Baqarah: 258)

Al-Tauhid (ajaran keesaan)

وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آَمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (القصص 57)

Artinya: Mereka berkata, “Maka akan mengikuti ajaran keesaan bersamamu, tentulah kami akan diusir dari tanah kami.” Bukankah Kami sudah menetapkan bagi mereka tempat yang suci dan aman? Ke sana didatangkan segala macam buah-buahan sebagai rezki pemberian Kami. Tetapi kebanyakan mereka tidak tahu. (Al-Qashash: 57)

Al-Sunnah (pedoman perilaku)

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ (الزخرف 22)

Artinya:Bahkan mereka berkata, “Kami sudah melihat leluhur kami sudah menganut suatu agama, dan kami berpedoman kepada mereka (Al-Zukhruf: 22)

Al-Ishlah (pembenaran)

ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ (يوسف 52)

Artinya: Itulah supaya ia tahu bahwa aku tidak mengkhianatinya ketika ia tidak ada, dan Allah tidak membiarkan tipu muslihat para pengkhianat (Yusuf: 52)

Al-Ilham (ilham)

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى (طه 50)

Artinya: Ia berkata, “Tuhan kamilah yang memberikan segala sesuatu bentuk dan kodratnya, kemudian mengilhaminya. (Thaha: 50)

Al-Taubah (taubat)

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (الأعراف 157)

Artinya: Dan tetapkanlah untuk kami kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat. Sungguh, kami bertaubat kepada-Mu.” Ia berfirman, “Azab-Ku akan menimpa siapa-siapa yang Ku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Dan akan Kutetapkan (rahmat-Ku) untuk mereka yang bertakwa dan yang mengeluarkan zakat serta mereka yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 157)

Al-Irsyad (petunjuk)[16]

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (القصص 22)

Artinya: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk (membimbingku) ke jalan yang benar. (Al-Qashash: 22)

D. Simpulan

Alquran merupakan mu’jizat yang paling besar bagi Rasulullah SAW. Ia terjaga dari awal hingga akhir zaman nanti. Penjagaan tersebut salah satunya disebabkan unsur sastra yang sangat mendalam dalam Alquran. Wujuh dan Nazhair merupakan salah satu darinya, sehingga para kibar al-mufassirin menggolongkannya ke dalam mu’jizat Alquran.[17]

Di dalam Alquran, terdapat banyak kata yang mempunyai beragam tunjukan makna. Pembahasan mengenai ini dibahas dalam Qawa’id al-Tafsir sebagai al-wujuh wa al-nazhair. Sejauh ini, dalam makalah ini disampaikan dua persepsi yang berbeda mengenai maksud dari al-wujuh wa al-nazhair ini. Satu sisi, al-wujuh wa al-nazhair dipahami seolah-olah hal yang terpisah. Wujuh merupakan kata dalam Alquran yang digunakan dalam berbagai tempat dan memiliki tunjukan makna yang sama. Sementara nazhair adalah lafaz yang mempunyai satu makna tertentu yang tetap sekalipun digunakan dalam berbagai tempat. Di sisi lain, al-wujuh wa al-nazhair dipahami sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan, hanya saja ia dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Suatu kata dalam Alquran yang terdapat pada beberapa tempat yang beragam merujuk kepada makna yang berbeda. Maka, perbedaan makna itu merupakan wujuh, sementara kata itu sendiri—yang tetap sama pada berbagai tempat—merupakan nazhair.

Wallahu a’lamu bi al-shawwab!

 

DAFTAR PUSTAKA

al-‘Awwal, Salwa Muhammad. al-Wujuh wa al-Nazhair fi al-Qur’an al-Karim. Kairo: Dar el-Syuruq. 1998.

al-Maliki, Muhammad Ibn ‘Alawi. Samudra Ilmu-ilmu Al-Quran

al-Qur’an al-Karim

AlShuyuti, Jalaluddin. Al-Itsqan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 164. Maktabah al-Syamilah. Pustaka Ridwana. 2008

AlZarkasyi. Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 102. Maktabah al-Syamilah. Pustaka Ridwana. 2008.

Chirzin, Muhammad. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa, 2003), hlm. 207.

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: UPBIK Pondok Pesantren Krapyak.


[1] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair fi al-Qur’an al-Karim (Kairo: Dar el-Syuruq, 1998), hlm. 19.

[2] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair…, hlm. 19.

[3] AlZarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 102. Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[4] Perkembagan tafsir melahirkan beberapa konsentrasi yang masing-masingnya terpisah, namun tetap menjadi bagian dari totalitas tafsir itu sendiri. Pada masa kontemporer ini, masing-masing konsentrasi tampil dengan ciri khasnya masing-masing, sehingga terkodifikasi menjadi suatu diskursus tertentu. Lihat.. Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 20.

[5] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 24.

[6] AlZarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 102. Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[7] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 41.

[8] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 42.

[9] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 42.

[10] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 42.

[11] AlShuyuti, Al-Itsqan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 164. Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwana, 2008.

[12] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 44.

[13] Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair …, hlm. 41.

[14] Setelah dihitung, ternyata kitab ini justru menuliskan delapan belas tunjukan dari kata al-huda. Sementara jika dibandingkan dengan al-Burhan karya Imam Zarkasyi kata ini memiliki tujuh belas makna. Perbedaannya pada makna al-tsabat yang tidak ada pada al-Burhan dan terdapat pada al-Itsqan. Pada ringkasan Kitab al-Itsqan sendiri, yaitu Samudra Ilmu-ilmu Al-Quran, kata huda hanya memiliki tujuh belas makna, namun Muhammad Ibn ‘Alawi al-Maliki (penyusun) meninggalkan makna kata itu yang merujuk kepada Nabi Muhammad SAW. Pada kata-kata berikutnya terdapat perbedaan lainnya, seperti kata al-su’ yang hanya memiliki tujuh makna dalam Samudra Ilmu-ilmu Al-Quran, ternyata pada kitab aslinya, Al-Itsqan justru memiliki sebelas makna. Begitu juga dengan buku Al-Qur’an dan Ulum Qur’an hanya menuliskan tujuh belas tunjukan dari kata al-huda, tanpa ada makna al-irsyad.

[15] Kata-kata yang termasuk kategori wujuh tidak mesti memiliki makna yang dekat antara makna pada suatu tempat dengan pemakaiannya pada tempat lain. Pemaknaannya tergantung kepada konteks dan kalimat-kalimat yang menjadi relasinya dalam membentuk suatu totalitas pesan yang memiliki makna tertentu. Ia juga berbeda dengan pembahasan lafz al-musytarak, karena wujuh belum tentu musytarak dan mustarak belum tentu wujuh. Keduanya berbeda. Jalaluddin al-Shuyuti, Al-Itsqan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 164-166.

[16] Jalaluddin al-Shuyuti, Al-Itsqan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 164-166; lihat juga AlZarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 102-104.

[17] AlZarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an Juz 1 hlm. 102.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s