Hadd Zina Ghairu Muhsan


Terdapat banyak hadis yang bercerita seputar hadd bagi pezina gair muhsan. Diantaranya adalah hadis:

حدثنا محمد بن المثنى وابن بشار جميعا عن عبد الأعلى قال ابن المثنى حدثنا عبد الأعلى حدثنا سعيد عن قتادة عن الحسن عن حطان بن عبد الله الرقاشي عن عبادة بن الصامت قال كان نبي الله صلى الله عليه وسلم إذا أنزل عليه كرب لذلك وتربد له وجهه قال فأنزل عليه ذات يوم فلقي كذلك فلما سري عنه قال خذوا عني فقد جعل الله لهن سبيلا الثيب بالثيب والبكر بالبكر الثيب جلد مائة ثم رجم بالحجارة والبكر جلد مائة ثم نفي سنة[1]

أخبرنا قتيبة قال حدثنا سفيان عن الزهري عن عبيد الله بن عبد الله عن أبي هريرة وزيد بن خالد وشبل قالوا كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فقام إليه رجل فقال أنشدك بالله إلا ما قضيت بيننا بكتاب الله فقام خصمه وكان أفقه منه فقال صدق اقض بيننا بكتاب الله قال قل قال إن ابني كان عسيفا على هذا فزنى بامرأته فافتديت منه بمائة شاة وخادم وكأنه أخبر أن على ابنه الرجم فافتدى منه ثم سألت رجالا من أهل العلم فأخبروني أن على ابني جلد مائة وتغريب عام فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم والذي نفسي بيده لأقضين بينكما بكتاب الله عز وجل أما المائة شاة والخادم فرد عليك وعلى ابنك جلد مائة وتغريب عام اغد يا أنيس على امرأة هذا فإن اعترفت فارجمها فغدا عليها فاعترفت فرجمها[2]

حدثنا يحيى بن بكير حدثنا الليث عن عقيل عن ابن شهاب عن عبيد الله بن عبد الله عن زيد بن خالد رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه أمر فيمن زنى ولم يحصن بجلد مائة وتغريب عام[3]

A. Aspek Kualitas

Setelah melakukan takhrij, hadis ini tertulis di 39 tempat di seluruh kutub al- tis’ah. Hal ini terasa wajar menimbang zina adalah salah satu hal penting yang digariskan oleh Islam sehingga cukup menarik atensi para ulama untuk membahasnya. Secara garis besar, hadis-hadis tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, tiap kelompoknya mewakili satu peristiwa terucapnya hadis. Dari pengutipan di atas, kelompok pertama adalah hadis pertama dan kelompok kedua adalah hadis kedua dan ketiga.

Hadis pertama tertulis pada sembilan tempat di empat dari kutub al-tis’ah. Semua hadis tersebut hanya memiliki satu perawi pertama, yaitu Ubadah ibn Samad. Semantara sisanya adalah hadis kelompok kedua. Hadis-hadis kelompok kedua ini didengarkan oleh beberapa orang sahabat, yaitu Abdurrahman, Zaid ibn Khalid, Abu Hurairah, dan Syibl. Secara garis besar, kelompok ini terbagi lagi menjadi dua model: riwayat yang menjelaskan sabab al-wurud dan riwayat yang hanya melaporkan tindakan atau respon dari Rasulullah terhadap kejadian tersebut. Model kedua memiliki enam jalur sanad dan yang lainnya adalah model pertama.

Seputar sanad, perawi hadis pertama diawali oleh Muhammad ibn Mutsanna. Dari jalur ini, sanadnya dinilai muttasil karena semua periwayatnya memiliki hubungan guru dan murid.[4] Dari segi jarh wa ta’dil sendiri, semua perawi dalam jalur sanad ini mendapatkan predikat yang menjadikan hadis mereka diterima (maqbul).[5] Begitu juga dengan hadis kedua dan ketiga, semua perawi dalam jalur sanadnya memiliki hubungan guru dan murid.[6] Dari segi jarh wa ta’dil, perawi-perawi dari jalur ini dapat diterima hadis mereka,[7] hanya saja terdapat permasalahan pada Yahya ibn Bukair. Nama aslinya adalah Yahya ibn ‘Abdullah ibn Bukair. Sebagaimana yang disampaikan al-Zahabi, ulama berbeda pendapat terhadapnya. Abu Hatim al-Razi yang menilainya la yuhtajju bihi sementarai Nasa’i menilainya dha’if. Akan tetapi, al-Zahabi sendiri menilainya Shaduq wasi’ al-‘ilmi muftiyan.[8] Yahya ibn Sufyan menilainya siqah.[9] Sementara dalam Mausu’ah al-Hadis al-Syarif sendiri dituliskan beberapa ulama menilainya siqah, saduq, dan asbat al-nas fi al-laits. Ternyata, Nasa’i dalam kitabnya tidak menjelaskan alasan claim-nya terhadap perawi yang satu ini sebagai dhaif. Dia hanya menilainya dhaif, tanpa keterangan lain.[10] Artinya, ketika berpegang kepada kaidah “iza ta’aradha al-jarihu wa al-mu’addilu fa al-hukmu li al-mu’addili illa iza sabata al-jarh al-mufassar,”[11] maka pada kasus ini penilaian ta’dil lebih diunggulkan daripada jarih. Akan tetapi, terlepas dari itu, penilaian telah diberikan ulama terhadap hadis ini adalah hasan shahih, seperti hadis Turmuzi 1354 (sama dengan hadis pertama) dan beberapa jalur lainnya.

Sebagaimana telah disebutkan di awal, hadis ini terdapat di beberapa tempat dalam kutub al-tis’ah dengan berbagai variasinya. Untuk hadis pertama, setelah memperhatikan segala variannya, tidak terdapat perbedaan redaksional yang mencolok hingga tingkatan tashif tahrif atau idraj. Perbedaan-perbedaan tersebut hanya berupa perbedaan wajar yang tidak berpengaruh kepada makna hadis, karena memang hadis ini diriwayatkan bi al-ma’na. Perbedaan-perbedaan tersebut hanyalah seperti mendahulukan penjelasan hukum rajm untuk saib di beberapa hadis daripada hukum jild untuk bikr, dan sebaliknya di hadis-hadis lainnya. Tentu saja ini bukanlah perbedaan yang berarti.

Begitu juga untuk hadis kedua. Pada kelompok pertama hanya terdapat perbedaan-perbedaan kecil seputar diksi kata seperti pada kata al-ganam dan al-syah dan kata al-jariah, al-walidah, dan al-khadim. Dari berbagai literatur bahasa dan syarah hadis dijelaskan bahwasanya kata-kata tersebut memiliki tunjukan makna yang sama.

B. Aspek Bahasa

Untuk lebih rincinya, demi pemahaman hadis, berikut ini dijelaskan secara ringkat makna atau maksud dari beberapa kata kunci dalam hadis terkait:

خذوا عني

Kata ini mengisyaratkan kepada al-Nisa’ [4]: 15. Pada ayat terdapat ungkapan au yaj’alallahu lahunna sabila. Maka, hadis ini adalah penjelasan dari ungkapan tersebut.  Ayat ini merupakan penjelasan had zina sebelum turunnya surat al-Nur—al-zaniyatu wa al-zani fajlidu kulla wahidin minhuma miata jildatin. Artinya, hukum pada ayat ini berlaku hingga turunnya surat al-Nur dan hadis ini. Penjelasan lebih rinci mengenai hal ini akan dibahas pada aspek historis.

الثيب atau المحصن (يحصن pada hadis kedua)

Kata ini berasosiasi kepada perempuan yang telah menikah, dan dengan pasti ia telah disentuh suaminya.[12] Sementara Ibnu Manzhur menambahkan keterang faraqat zaujaha bi ayi wajhin kana.[13] Artinya, berdasarkan pemaknaan ini, saib adalah perempuan yang telah menikah, telah bersetubuh dengan suaminya, dan telah bercerai. Kata ini, dalam kasus zina, juga diungkapkan dengan ‘muhsan.’[14] Kata muhsan berasal dari hasana. Dari beberapa kemungkinan makna yang tersedia, yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah kawin seperti pada ahsana al-rajulu atau suci dari perbuatan tercela, atau kokoh.[15] Begitu juga dengan beberapa penjelasan dari kamus-kamus lainnya seperti al-‘Ain[16] dan Lisan al-‘Arab.[17] Makna-makna tersebut terlihat relevan, ketika seorang wanita atau suami yang telah menikah dengan sah (ahsana) atau seseorang yang semestinya mampu dan memiliki penjagaan yang kokoh terhadap harga dirinya karena telah menikah, ternyata justru berzina, sehingga perzinaan oleh orang-orang semacam ini dikelompokkan kepada zina muhsan. Dan perzinaan oleh orang-orang selain mereka disebut gair muhsan, yang disebut bikr dalam hadis di atas.

Akan tetapi, terdapat permasalahan dengan pemaknaan dari Ibnu Manzur di atas, dimana ia memberikan salah satu kriteria saib adalah telah bercerai atau ditalak suaminya. Artinya, ketika seorang suami atau istri berzina dengan pasangan yang tidak sah, dan mereka masih dalam ikatan pernikahan, maka mereka bukanlah saib. Akan tetapi, sepertinya kriteria ini bukanlah sebuah kemestian, dalam artian seseorang baik telah bercerai atau belum jika telah menikah dan berhubungan intim, dalam konteks ini disebut saib atau muhsan. Hal ini sepertinya telah diisyaratkan oleh al-Nisa’ [4]: 15 yang menyebutkan wallati ya’tina al-fahisyata min nisa’ikum. Kalimat tersebut menjelaskan bahwasanya yang ditunjuk oleh ayat tersebut adalah ‘perempuan kamu’ atau ‘istri kamu’. Hal ini tentunya menandakan tiadanya perceraian, karena kalau telah bercerai tentu tidak disebut istri lagi, dan kalaupun tetap ingin menyebut istri atau suami, tentunya harus dibarengi kata ‘mantan’. Oleh sebab itu, tepatlah ketika Nawawi memaknai saib dengan seorang yang telah berhubungan intim dengan nikah yang sah.[18]

البكر

Kata al-bikr ketika berkaitan dengan unta (ibil) bermakna ma lam yabzul (yang belum tumbuh gigi taringnya). Apabila taring tersebut telah tumbuh, maka ia disebut jamal atau naqah.[19] Ketika berbicara tentang manusia, al-bikr bersinonim dengan ‘azriyyu (plural: ‘uzara’). Keduanya bermakna perawan. Jika dalam bahasa Indonesia, perawan lebih identik kepada perempuan, akan tetapi al-bikr menunjuk kepada keduanya, laki-laki dan perempuan.[20] Berangkat dari pemaknaan di atas, artinya al-bikr pada hadis ini menunjuk kepada makna pelaku zina yang masih perawan, yang belum menikah.[21]

جلد

Dalam bahasa Indonesia, jild berarti mencambuk atau mendera.[22] Kitab Shahah fi al-Lugah menyebutkan bahwa jaladahu al-hadda jaldan bermakna dharabahu wa ashaba jildahu (memukul dengan mengenai kulitnya). Sementara dalam taj al-urus dimaknai dengan dharbun alimun bisabtin yal’aj al-jilda (pukulan keras dengan cambuk yang menyakitkan kulit). Artinya, penerjemahan jild dalam bahasa Arab kepada bahasa Indonesia sebagai mencambuk bukanlah suatu permasalahan.

رجم

Disebutkan dalam beberapa referensi bahasa, rajm sepadan dengan qatl, hanya saja rajm memiliki cara yang khas. Rajm dilakukan dengan melempar batu hingga korban lemparan meninggal. Akan tetapi, tidak jarang pembunuhan disebut dengan rajm.[23] Sementara, dalam bahasa Indonesia sendiri, kata ini diterjemahkan menjadi melempar dengan batu atau melaknati, disamping makna-makna lainnya.[24] Penerjemahan seperti ini tidak berbeda dengan istilah rajm itu sendiri yang digunakan oleh fiqh.

نفي  atau تغريب

Dalam Tuhfat al-Ahwazi disebutkan makna dari tagrib ini adalah mengeluarkannya dari kampung halaman. Dari beberapa referensi syarah lainnya, tidak ada perbedaan pendapat seputar pemaknaan kata ini. Semuanya memaknainya seragam yaitu sebagai pengusiran dari kampung halaman.

C. Aspek Historis

Sebagaimana disinggung di atas, bahwasanya pada awalnya had untuk pezina adalah sebagaimana yang disebutkan oleh surat al-Nisa’ [4]: 15 dan 16. Pada ayat tersebut dijelaskan bahwasanya pezina perempuan dihukum dengan “pemenjaraan” di dalam rumah hingga ia meninggal dunia atau ‘Allah menjadikan baginya jalan lainnya’. Akan tetapi, ayat tersebut menjelaskan tentang peluang berubahnya hukum terhadap pelaku fahisyah, yang diungkapkan dengan au yaj’alallahu lahunna sabila. Hadis ini lah yang menjelaskan sabil yang disebutkan ayat tersebut. Hadd zina dari surat al-Nisa [4]: 15 berubah menjadi hadd yang dijelaskan oleh hadis pertama yang disebutkan di atas. Selain itu, surat awal surat al-Nur [24] juga dinyatakan sebagai pengganti dari hukum al-Nisa [4]: 15 tersebut. Artinya, setelah itu hukumnya berubah menjadi di­-jild atau rajm.[25] Penjelasan ini sebelumnya juga telah ditegaskan oleh Ibn ‘Abbas, ia berkata bahwasanya hukumnya sebagaimana yang dijelaskan ayat hingga turunnya surat al-Nur [24].

Mengenai hadis kedua, tidak terlihat hubungan asbab al-wurud-nya secara langsung dengan al-Nisa [4]: 15 atau an-Nur [24]. Hadis ini merupakan respon Rasulullah setelah ditanyai oleh seseorang A’rabi. Pertanyaan tersebut berasal dari perselisihan yang terjadi antara dua orang (lebih simpel disebut dengan A dan B). mereka berselisih mengenai anak laki-laki si A dan istri si B yang telah berzina. Anak tersebut adalah buruh si B, dan ia berzina dengan istri majikannya. Ada yang berkata kepada mereka bahwa mereka akan dirajam. Akan tetapi, A tidak berfikiran demikian, ia menebusnya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan. Menghadapi perbedaan pendapat mengenai hukum ini, mereka mendatangi Rasulullah dan meminta Rasulullah untuk menghukumnya. Lalu Rasulullah bersabda, “Demi Zat yang menguasai diriku, aku akan menghukum kalian dengan kitab Allah. Adapun kambing dan budak perempuanmu dikembalikan kepadamu. Dan untuk anakmu hukuman jild seratus kali dan pengusiran dari kampung halamannya selama setahun.” Kemudian Rasulullah memerintahkan Unais untuk menanyakan perihal perempuan tersebut. Seandainya ia mengaku, maka ia dirajam. Ternyata ia mengaku dan Unais merajamnya.

Sebenarnya, ada satu poin penting yang penting untuk diperhatikan dalam kasus ini, yaitu kondisi sosio-kultural masyarakat pada saat surat al-Nisa [4]: 15 dan awal surat al-Nur [24] serta hadis-hadis tersebut turun. Kedua ayat tersebut menerangkan model hadd yang berbeda satu sama lainnya, dan oleh sebab itu lah ulama menyebutkan bahwa al-Nisa [4]: 15 telah dinasakh oleh awal al-Nur [24]. Dan tentunya perubahan hukum ini tidak terjadi begitu saja tanpa ada alasan yang menjelaskannya, yang diharapkan terlihat dari kondisi sosio-kultural masyarakat muslim pada saat itu. Akan tetapi, tidak ditemukan informasi yang menjelaskan hal tersebut. Informasi yang didapatkan hanya sebatas penjelasan bahwasanya kedua ayat tersebut adalah madaniyah. Informasi ini relevan dengan hadis-hadis di atas, bahwasanya keterlibatan sahabat Anshar sebagai perawi pertam menandakan bahwa hadis ini juga turun di Madinah.

Sedikit spekulatif, perubahan hukum ini kiranya sesuai dengan kasus tadrij al-tasyri’ pada khamr. Islam tidak secara tiba-tiba mengharamkannya secara mutlak, akan tetapi ditempuh by process hingga mencapai titik kelayakan untuk diharamkan secara mutlak. Sepertinya, pada awalnya Alquran hanya menetapkan hukum penjara dan hinaan bagi para pezina mempertimbangkan penerimaan Islam bagi masyarakat itu sendiri. Data sejarah menyebutkan bahwa pada zaman Jahiliyyah bahkan pada awal Islam, zina adalah hal yang sangat lumrah bagi mereka. Mereka juga mengenal pernikahan tanpa batas. Mereka juga dengan tanpa beban menjamu tamu dengan istri mereka, atau barter istri bersama rekannya. Oleh sebab itu, jika Alquran dengan tiba-tiba dan revolusioner menetapkan keharaman dan hukuman yang keras bagi pezina, tentunya akan memberikan pandangan yang tidak baik bagi masyarakat, dan mereka justru takut untuk masuk Islam. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, berubahnya realitas, dan berkembangnya Islam baik dari aspek kualitas maupun kuantitas, akhirnya Islam menegaskan hukuman yang berat bagi pezina.

Akan tetapi, masih ada satu permasalahan lagi seputar kasus ini, yaitu pada status hukum tagrib atau nafy. Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagiannya menetapkan bahwa hukum ini dilakukan mengiringi hukum jild, sementara lainnya hanya menghukum dengan jild. Adapun perbedaan ini berasal dari perbedaan pandangan terhadap ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa hadis ini telah menasakh al-Nisa [4]: 15, lalu ia dinasakh kembali oleh al-Nur [24], [26] sehingga mereka menghilangkan hadd tagrib itu sendiri. Semantara yang lainnya tidak berpendapat demikian, mereka memahami hadis-hadis ini dalam satu ide dengan al-Nur [24].

D. Kesimpulan

Terdapat banyak hadis yang membahas permasalahan zina serta haddnya. Terkhusus untuk hadd zina bikr, juga terdapat beragam variasi sanad dan matan. Akan tetapi, dari beberapa variasi hadis yang disampaikan di atas, tidak ada permasalahan dalam kualitas sanad maupun matannya. Beberapa perbedaan redaksional tidak ada yang mengganggu status hadis terkait.

Dari segi bahasa, hadis ini juga disampaikan secara lugas. Dari beberapa kata kunci yang telah dijelaskan, dapat dipahami bahwa hadis tersebut dengan jelas menerangkan bahwa pezina bikr dihukum jild dan nafy sanah atau dalam beberapa varian disebut tagrib.

Sementara dari sisi historis, terlihat konsep tajrid al-tasyri’ dalam penetapan hukum bagi pezina ini. Awalnya, hukumannya adalah dengan pemenjaraan di dalam rumah dan penghinaan atau cacian. Setelah itu, setelah masyarakat Islam menjadi siap secara mental untuk menerima hukuman yang lebih berat, barulah ditetapkan hukum jild atau rajm. Proses ini dapat dipahami dari kronologis turunnya surat al-Nisa [4]: 15, awal al-Nur [24], dan hadis-hadis di atas.


[1] Muslim, no. 3200.  Ini merupakan potongan hadis, namun yang tidak dicantumkan adalah jalur sanad lainnya. Redaksi lengkap hadis Muslim no. 3200 ini dalam kesatuannya mencantumkan tiga jalur sanad dengan satu matan, dan penulis sengaja mencantumkan satu jalur saja.

[2] Bukhari, 5316.

[3] Bukhari, no. 2455.

[4] Hubungan masing-masing perawi tersebut dapat dilihat di Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal Jilid 14 (Beirut: Muassasah al-Risala, 1988), cet. I, hlm. 184; Jilid 6, hlm. 562 dan101; Jilid 23, hlm. 504; Jilid 16, hlm. 360-361.

[5] Al-Zahabi, al-Kasyif fi Ma’rifati man lahu Riwayah fi al-Kutub al-Sittah Juz 1, (Jeddah: Mua’ssasah ‘Ulum al-Qur’an, t.th), hlm. 340; 324; 441; 611; dan Juz 2 hlm, 134; 214.

[6] Lihat Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal… Jilid 10, hlm. 64; Jilid 19, hlm. 74; Jilid 20, hlm. 242-243; Jilid 31, hlm. 401-402.

[7] Al-Zahabi, al-Kasyif… Juz 1, hlm. 32, 682; Juz 2, hlm. 151, 219.

[8] Al-Zahabi, al-Kasyif… Juz 2, hlm. 369.

[9] Abu Ma’athi al-Nauri dkk., al-Jami’ fi al-jarh wa al-ta’dil (Beirut: al-Mazra’ah binayat al-Iman, 1992), hlm. 294.

[10] Nasa’i, al-Dhu’afa wa al-Matrukin (Beirut: Mu’assasah al-Kutub al-Saqafiyah, 1985), hlm. 248.

[11] Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadis (Yogyakarta: Madani Pustaka Hikmah, 2003), hlm. 40.

[12] Al-Khalil ibn Ahmad, al-‘Ain Juz 2, hlm 168.

[13] Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab Juz 1, hlm. 248.

[14] Nawawi, Syarh Nawawi ‘Ali Shahih Muslim juz 11, hlm. 189.

[15] Al-Munawwir, Kamus al-Munawwir, hlm. 272.

[16] Al-Khalil ibn Ahmad, al-‘Ain Juz 1, hlm 192.

[17] Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab Juz 13, hlm. 119.

[18] Nawawi, Syarh Nawawi ‘Ali Shahih Muslim juz 11, hlm. 190.

[19] Azhari, Tahzib al-Lugah Juz 3, hlm. 371.

[20] Al-Jauhari, Sahah fi al-Lugah Juz 1, hlm. 50.

[21] Nawawi, Syarh Nawawi ‘Ali Shahih Muslim juz 11, hlm. 190.

[22] Munawwir, Kamus al-Munawwir, hlm. 201.

[23] Lisan ‘Arab, Lisan al-‘Arab Juz 12, hlm. 226; Al-Khalil ibn Ahmad, al-‘Ain Juz 1, hlm 479; Azhari, Tahzib al-Lugah Juz 4, hlm. 7.

[24] Munawwir, Kamus al-Munawwir, hlm. 479.

[25] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, hlm. 79.

[26] Badruddin al-‘Aini al-Hanafiy, ‘Umdat al-Qari Syarh Bukhari juz 20, hlm. 264

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s