Sisi I’tizalat dalam Tafsir al-Baidhawi


Sebagai pusat keilmuan dalam Islam, Alquran telah banyak mendapatkan respon dari cendikiawan muslim di sepanjang masa. Semenjak awal, pada masa formatif, Alquran telah dijelaskan (baca: ditafsirkan) oleh Rasulullah sendiri. setelah beliau wafat, otoritas penafsiran dipegang oleh sahabat. Pertalian ini berlanjut hingga sekarang.

Perlu dicatat, bahwa pada perkembangannya penafsiran mengalami suatu dinamika tersendiri. Dari masa ke masa terdapat perbedaan epistemologis dalam hal penafsiran.Al-Baiḍāwi hidup pada era berkembangnya tafsir ideologis. Artinya, penafisiran yang semacam itu tentu saja sedikit banyaknya mempengaruhi banyak hal dalam tafsirnya. Sebutlah aspek teologis. Umumnya, penafsiran yang ideologis menempati posisi sebagai partisan terhadap ideologi yang dia anut. Al-Kasysyāf contohnya, dimana dalam penafsirannya, muallif seringkali menopang pemahaman mazhabnya, dan menjatuhkan pemahaman yang lain.

Akan tetapi, terdapat fenomena yang menarik, paling tidak menurut penulis, dalam kasus al-Baiḍāwi. Ia yang notabene sunni justru meringkas tafsir karya al-Zamakhsyari yang kental dengan nuansa mu’tazili[1], meskipun dikemas dengan analisis bahasa yang luar biasa. Pernyataan ini penulis dapatkan dari pernyataan al-Zahabi dalam bukunya al-Tafsir wa al-Mufassirun. Lebih menarik lagi, ketika al-Zahabi menyatakan bahwa al-Baiḍāwimeringkas al-Kasysyāf, dan ia meninggalkan segi ke-mu’tazilah-an al-Zamakhsyari, meskipun pada beberapa kasus ia tetap mengutipnya. Berpijak dari pernyataan al-Zahabi ini, penulis membatasi tulisan ini kepada pembuktian kesimpulannya tersebut, benarkah al-Baiḍāwimeninggalkan i’tizālāt al-Zamakhsyari dan terkadang tetap mengutipnya?

Al-Baiḍāwi dan Kitab Tafsirnya

Al-Baiḍāwi dilahirkan di Baida’, sebuah daerah yang berdekatan dengan kota Syiraz di Iran Selatan. Di kota inilah beliau tumbuh dan berkembang menempa ilmu. Ia juga pernah belajar di Bagdad hingga kemudian menjadi hakim agung di Syiraz (Azarbaijan)—suatu daulah yang berdiri sendiri namun tetap berkiblat kepada Daulah Abbasiyah—mengikuti jejak ayahnya.[2]Abdullāh ibn Umar bin Muhammad bin Alīal-Baiḍāwi al-Syafi’iyang merupakan nama lengkap dari al-Baiḍāwi adalah seorang ulama multidisipliner dalam  ilmu pengetahuan. Ia adalah ahli dalam bidang tafsir, bahasa arab, fiqh, ushul fiqh, teologi, dan mantiq.[3]Iapun merupakan sosok yang pandai berdebat dan sangat menguasai etika berdiskusi, sehingga pantaslah ia mendapatkan gelar naẓẓār atau mutabaḥḥir fi maida fursan al-kalam.[4]Al-Baiḍāwimerupakan salah satu pengikut madzhab Syafi’idalam bidang fiqh dan ushul fiqh serta menganut konsep teologi Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah.

Sesuai dengan jabatan dan keahliannya dalam berbagai bidang keilmuan, al-Baiḍāwi dapat disebut sebagai sosok yang unggul dalam masyarakatnya. Salah satu bukti kepandaiannya adalah pujian yang diteriama beliau, yaitu Naṣir al-Dīn(penolong agama). Al-Baiḍāwi hidup dalam keadaan politik yang tidak menentu. Sultan Abu Bakar yang memegang tampuk kekuasaan pada saat itu tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membangun tatanan masyarakat yang baik. Bukan hanya supremasi keadilan yang lemah, namun juga sikap hedonis dan boros dari para pejabat yang berkuasa. Nampaknya hal inilah yang melatarbelakangi pengunduran diri al-Baiḍāwi dari jabatan hakim agung. Intervensi dari penguasa terhadap lembaga peradilan yang begitu kuat membuat kekhawatiran tersendiri bagi banyak fuqahā’, termasuk al-Baiḍāwi. Mereka khawatir jika diperintah untuk mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan syari’at Islam. Keputusan al-Baiḍāwi ini juga dipengaruhi oleh nasihat yang diberikan oleh pembimbing spiritualnya,Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Khata’i agar al-Baiḍāwi tidak lagi bersentuhan dengan lembaga hukum.[5]

Setelah melepaskan jabatannya sebagai hakim di daerahSyiraz, al-Baiḍāwi mengembara ke Tabriz dan berguru pada ulama setempat. Ia singgah di sebuah majlīs al-dars bagi para pembesar setempat. Karena kehebatan beliau, banyak diantara pembesar setempat memujinya. Dikota inilah beliau mengarang kitab tafsir yang berjudul Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl. Beliau menetap di kota ini hingga ajal menjemputnya. Ada perbedaan diantara ulama tentang tahun wafat beliau, antara lain al-Subki dan Asnawi menyatakan bahwa al-Baiḍāwi wafat pada tahun 691 M, sedangkan Ibnu Kaṡīr menyatakan bahwa beliau wafat tahun 685 M.[6]

Sebagai seorang ulama yang terkemuka, al-Baiḍāwi telah menghasilkan banyak karya tulis diberbagai bidang keilmuan. Karya-karya tesebut antara lain Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl(tafsir), Syarh al-Maṣābih (hadis), Tawāli al-Anwār, al-Miṣbāh fi Ushūl al-Dīn (teologi), Syarh al-Mahṣūl, Minhāj al-Wusūl ila ‘Ilm al-Usūl (ushul fiqh), Syarh al-Tanbīh (fiqh), al-Lubb fi al-Nahwu (nahwu), Kitāb Al-Mantiq (mantiq), al-Tahzīb wa al-Akhlāq(tasawuf), Niẓām al-Tawārikh (sejarah), dll.[7]

Kitab Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīlmerupakan masterpieceal-Baiḍāwi yang cukup dikenal oleh umat islam. Alasan al-Baiḍāwi menulis kitab ini adalah sebagaimana yang beliau tuliskan dalam muqadimah kitab bahwa ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling tinggi derajatnya. Tafsir merupakan pemimpin, pondasi, dan dasar bagi ilmu-ilmu agama yang lainnya.[8] Tentunya perkataan al-Baiḍāwi ini dapat dilihat sebagai bentuk ketertarikannya atas keunggulan dan signifikasi ilmu tafsir, karena dengan peranannya sebagai pondasi bagi ilmu-ilmu keagamaan, tafsir turut ikut andil dalam menentukan eksistensi ilmu-ilmu tersebut.

Dengan latar belakang itulah, al-Baiḍāwi berniat membuat karya di bidang tafsir secara maksimal yang mencakup penafsiran-penafsiran terpilih dari generasi sebelumnya dan juga penafsiran al-Baiḍāwi sendiri.[9] Kesadaran al-Baiḍāwi ini nampaknya dilandaskan pada keyakinan beliau atas keunggulan dan kemu’jizatan Alquran. Dalam rangka penulisan kitabnya, beliau mendapat bimbingan dari gurunya, al-Khata’i yang menyarankan kepada Al-Baiḍāwi untuk mundur dari jabatan hakim sebagaimana paparan penulis di muka.

Bentuk dan sistematika penafsiran

Kitab tafsir ini merupakan salah satu kitab tafsir yang mencoba memadukan penafsiran bi al-ma’ṡūr dengan bi al-ra’y sekaligus. Dalam hal ini, al-Baiḍāwi tidak hanya memasukkan riwayat-riwayat dari Nabi yang menjadi ciri khas penafsiran bi al-ma’ṡūr, tapi juga menggunakan ijtihad untuk memperjelas analisisnya ataupun argumentasinya.[10] Model seperti ini dinilai dapat mempermudah pemahaman dan pengamalan akan petunjuk kitab suci tersebut,[11] karena mufasir tidak hanya mengutip pendapat ulama terdahulu, melainkan juga menggunakan tinjauan dari pengetahuannya sendiri.[12]

Menurut catatan al-Zahabi, sebagaimana disebutkan di muka, kitab ini merupakan kitab hasil ringkasan dari tafsir al-Kasysyāf dengan meninggalkan unsur-unsur ke-mu’tazilah-an yang terdapat dalam kitab al- Kasysyāf. Selain bertolak pada kitab ini, al-Baiḍāwi juga menggunakan kitab tafsir al-Rāzy dan juga al-Ashfahāni.[13]Lebih lanjut sebagaimana yang al-Zahabi kutib dari al-Kasyf al-Ẓunūn bahwa Al-Baiḍāwi dalam menulis tafsirnya merujuk pada al-Zamakhsyari dalam hal I’rāb, Ma’āni, dan Bayān, al-Rāzydalam hal filsafat dan kalam, pun pada al-Ashfahānidalam hal asal-usul kata.[14]

Terlepas dari pendapat al-Zahabidan Haji Khalifah tersebut, dalam muqadimahnya, al-Baiḍāwi menyebutkan bahwa ada dua macam sumber yang dijadikan rujukan dalam menulis tafsirnya. Pertama, berdasarkan qaul para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama salaf. Kedua, qaul yang terdapat kitab tafsir sebelumnya. Beliau menerapkan hal ini memang  sebagai salah satu upaya untuk mensarikan pendapat ulama-ulama sebelumnya. Disamping itu, beliau juga memberikan pandangannya sendiri dalam menafsirkan ayat Alquran sehingga pantaslah beliau menyatakan bahwa karyanya adalah langkah independen dari hasil istinbāṭ yang beliau lakukan sendiri.[15]

Dari segi sistematika penyusunannya, kitab tafsir yang terdiri dari dua jilid ini diawali dengan menyebutkan basmalah, tahmid, penjelasan tentang kemu’jizatan Alquran, signifikasi ilmu tafsir, latar belakang penulisan kitab, baru kemudian uraian penafsiran ayat-ayat Alquran dengan metodeal-Baiḍāwi tersendiri. Di akhir kitabnya,al-Baiḍāwi menjelaskan tentang keunggulan kitab karyanya, mengungkapkan harapan agar kitab ini bisa dimanfaatkan oleh pelajar. Bacaan tahmid dan shalawat menjadi penutup dari kitab ini.[16]

Metode penafsiran

Sebagaimana kebanyakan kitab-kitab tafsir saat itu, tafsir al-Baiḍāwi ini menggunakan metodologi tahlīli (analitis) yang berupaya menafsirkan ayat-ayat Alquran berdasarkan urutan urutan mushaf Usmani, dari surat ke surat, dan dari ayat ke ayat, mulai dari al-Fātihah sampai al-Nās.[17] Dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran, beliau menggunakan berbagai sumber, antara lain ayat Alquran, hadis Nabi, pendapat para sahabat dan tabi’in, dan pandangan ulama sebelumnya. Selain itu, penggunaan tata bahasa dan qira’at juga menjadi suplemen utama guna penguatan analisis dan penafsiran al-Baiḍāwi. Pun keberadaan cerita-cerita israiliyat dapat ditemukan walau penggunaanya diminimalisir oleh al-Baiḍāwi.

Adapun langkah operasional penafsiran al-Baiḍāwi dalam kitabnya ialah mula-mula menyebutkan tempat turun surat (makki atau madani) beserta jumlah ayat yang menjadi obyek. Penjelasan makna ayat baik menggunakan analisis kebahasaan, hadis nabi, maupun qira’ah menjadi langkah selanjutnya yang diterapkannya.Pada bagian akhir surah, beliau menyertakan hadis-hadis yang menerangkan tentang keutamaan surat yang sedang ditafsirkan.Lebih lanjut, al-Baiḍāwi juga menggunakan metode munāsabah ayat (hubungan internal) antara suatu ayat dengan ayat lain. Penggunaan term munasabah ini tampak sangat kentara dalam tafsir al-Baiḍāwi.[18] Secara keseluruhan, bahasa yang digunakan beliau dalam penafsirannya cukup ringkas dan tidak bertele-tele. Hal ini salah satunya dapat ditunjukkan dengan jumlah jilid yang hanya terdiri dari dua buah.

I’tizalat dalam Tafsir al-Baidhawi

Sebagaimana disampaikan di pendahuluan, bahwa makalah ini ditujukan untuk membuktikan tesis yang disampaikan oleh Husain al-Zahabi bahwa al-Baiḍāwimeninggalkan sisi i’tizālāt dalam penafiran al-Zamakhsyari. Namun begitu, pada beberapa kasus ia tetap mengutipnya. I’tizālāt yang penulis pahami di sini adalah pemahaman kalamiah al-Zamakhsyari yang berlandaskan logika mu’tazilah. Dalam rangka pembuktian itu, dicantumkanlah beberapa contoh yang berkenaan dengan hal itu.

 Azab Kubur (QS. Ghafir[40]: 46)

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ [غافر/46]

Artinya: “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“.

Al-Baiḍāwi, dalam tafsirnya menjelaskan:

” وذكر الوقتين تحتمل التخصيص والتأييد ، وفيه دليل على بقاء النفس وعذاب القبر . { وَيَوْمَ تَقُومُ الساعة } أي هذا ما دامت الدنيا فإذا قامت الساعة قيل لهم : { أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ } يا آل فرعون . { أَشَدَّ العذاب } عذاب جهنم فإنه أشد مما كانوا فيه ، أو أشد عذاب جهنم[19]

“Adapun penyebutan dua waktu, pagi dan petang, kecenderungan adanya pengkhususan waktu dan penguatan terjadinya fenomena ini. Sehingga hal ini menjadi dalil tetapnya ruh dan siksa kubur. Fenomena ini terjadi selama dunia masih utuh. Adapun setelah datangnya hari kiamat dikatakan kepada para malaikat: “ masukkanlah kaum Firaun dalam sikasaan yang sangat keras, yaitu siksaan neraka Jahanam. Karena sesungguhnya siksaan bagi mereka dalam neraka Jahannam adalah level siksaan yang paling keras.

Al-Zamakhsyari menjelaskan dalam tafsirnya:

“ويجوز أن يكون { غُدُوّاً وَعَشِيّاً } : عبارة عن الدوام ، هذا ما دامت الدنيا ، فإذا قامت الساعة قيل لهم : { أَدْخِلُواْ } يا { ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ } عذاب جهنم”[20]

“Sangat dimungkinkan adanya pengunaan kata ghuduwwan dan ‘asyiyyan merupakan ungkapan tentang kelangsungan ditampakkannya neraka pada pagi dan petang. Dan fenomena ini terjadi selama dunia masih ada. Kemudian jika datang hari kiyamat maka dikatakan kepada para Malaikat: masukkanlah kaum firaun ke dalam siksaan neraka jahannam yang sangat keras.”

Kemudian pengarang mengakhiri penjelasannya dengan pernyataan:

ويستدلّ بهذه الآية على إثبات عذاب القبر .

Dari kedua penafsiran di atas masing-masing menggunakan penjelasan yang lugas. Dan alur penafsiran pun tidak jauh berbeda. Akan tetapi Al-Zamakhsyari memberi statement adanya siksa kubur di akhir penjelasan.

 Kedatangan Tuhan pada Hari Kiamat(Al-Fajr [89]: 22)

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا [الفجر/22]

Artinya:“Dan datanglah Tuhanmu; sedang Malidaikat berbaris-baris.”

Mengenai datangnya Allah pada hari kiamat baik al-Baiḍāwimaupun al-Zamakhsyari tidak menjelaskan ayat Alquran secara tekstual. Keduanya mencoba melakukan penafsiran alegoris (ta’wīl) bagaimana makna kata jª`a jika dikaitkan dengan Allah. Al-Baiḍāwimemberi penafsiran:

أي ظهرت آيات قدرته وآثار قهره مثل ذلك بما يظهر عند حضور السلطان من آثار هيبته وسياسته

Maksud Allah datang adalah pada saat itu tampak tanda kekuasaan Allah dan pengaruh keperkasaanNya, hal iti diumpamakan sebagaimana datangnya seorang penguasa yang tampak darinya pengaruh harisma dan kekuasaannya.

Sedangkan al-Zamakhsyari memberi penafsiran sbb:

هو تمثيل لظهور آيات اقتداره وتبين آثار قهره وسلطانه : مثلت حاله في ذلك بحال الملك إذا حضر بنفسه ظهر بحضوره من آثار الهيبة والسياسة ما لا يظهر بحضور عساكره كلها ووزرائه [21]

Datang tersebut sebagai perumpamaan karena tampaknya tanda-tanda kekuasaan dan menjelaskan keperkasaan dan kerajaanNya. Hal ini diumpamakan ketika datangnya seorang raja tampa dari padanya sisi-sisi kewibaan dan kekuasaan yang berbeda ketika datangnya prajurit dan para mentri.

Substansi pemikiran kedua mufassir di atas terlihat sama-sama ingin membebaskan Allah dari sifat-sifat makhluk. Karena dalam ungkapan bahasa makhluk datang berarti menggunakan kaki merupakan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.

Kasus Fatrah

وَمَا كُنَّا مُعَذّبِينَ حتى نَبْعَثَ رَسُولاً

Al-Zamakhsyari menjelaskan ayat ini menyatakan bahwa mengazab suatu kaum merupakah perkara yang tidak layak sebelum diutusnya rasul kepada mereka yang membawa hujjah kepada mereka. Akan tetapi, ia tidak mengidentikkan hujjah dengan rasul saja. Dalam artinya, hujjah tidak hanya bersumber dari rasul. Terdapat media lainnya, sebutlah akal.

Menurut al-Zamakhsyari, hujjah telah ada sebelum diutusnya rasul, karena manusia memiliki adillah berupa akal. Karena akal memiliki kemampuan untuk mengetahui Allah. menurutnya, manusia memiliki akal yang mampu untuk bernalar, akan tetapi manusia sering lalai untuk menggunakan akalnya. Oleh sebab itu, pengutusan rasul menjalani posisi tanbih, supaya manusia keluar dari kelalaian dan ingat bahwa mereka memiliki akal.[22]

Sementara al-Baiḍāwimenafsirkan ayat ini dengan sangat singkat. Menurutnya, rasul diutus untuk memberikan hujjah kepada manusia. Ayat ini merupakan landasan bahwa tidak ada hukum sebelum diturunkannya rasul.[23]

Terlihat perbedaan yang cukup signifikan antara kedua tokoh ini. Al-Zamakhsyari mengaitkan hujjah dengan akal, sementara tidak demikian dengan al-Baiḍāwi. Pernyataan al-Zamakhsyari ini berimplikasi kepada pernyataan hisab bagi mereka yang belum disentuh dakwah rasul. Biasanya ayat ini diperdebatkan dalam ruang pembahasan zaman fatrah. Jika mengikuti logika al-Zamakhsyari, berarti mereka tetap diazab dengan keburukan yang mereka kerjakan, dan mendapat pahala dengan kebaikan yang telah mereka perbuat. Singkatnya, mereka dihisab di akhirat. Akan tetapi, jika mengikuti logika al-Baiḍāwi, artinya mereka tidak demikian. Hal ini lantaran hujjah didapatkan dari wahyu, sementara mereka yang tidak mendapatkan wahyu tidak diazab.

Kesimpulan

Memperhatikan beberapa contoh yang dikemukakan di atas, ternyata pada beberapa kasus, al-Baiḍāwiberpendapat sama dengan al-Zamakhsyari. Pada sisi lain tidak demikian, ia meninggalkan pendapat al-Zamakhsyari dan menafsirkan dengan penjelasan yang berbeda. Oleh sebab itu, pada titik ini dapat disimpulkan bahwa ternyata memang benar pernyataan yang disampaikan oleh al-Zahabi, bahwa al-Baiḍāwipada beberapa kasus dalam koridor i’tizalat setuju dengan al-Zamakhsyari, dalam artian beliau mengutipnya tanpa menanggapi sama sekali.

DAFTAR PUSTAKA

al-Baidlawi.Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. CD ROM Maktabah Syamilah 2

al-Baidawi.Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil.Jeddah: Harramayn. tth

al-Zahabi, Husain.Tafsir wa al-Mufassirun. t.t: Maktabah Mush’ab bin Amir al-Islamiyah. 2004

al-Zamakhsyari.al-Kasysyaf. CD ROM Maktabah Syamilah 2

Jalal, Abdul.Urgensi Tafsir Maudhu’i pada Masa Kini. Jakarta: Kalam Mulia. 1990

Khalifah, Haji.Kasyf al-Zunun. Beirut: Dar al-Fikr. 1994

Muhammad, Syamsuddin.Tabaqat al-Mufassirin Juz I. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. 1983

Yusuf, Muhammad (dkk.).Studi Kitab Tafsir; Menyuarakan Teks yang Bisu. Yogyakarta: Teras. 2004


[1] Husain al-Zahabi, Tafsir wa al-Mufassirun. (t.t: Maktabah Mush’ab bin Amir al-Islamiyah, 2004), hlm. 211.

[2]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir; Menyuarakan Teks yang Bisu, (Yogyakarta: Teras, 2004), hlm. 114-115.

[3]Syamsuddin Muhammad, Tabaqat al-Mufassirin Juz I, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1983), hlm. 248.

[4]Haji Khalifah, Kasyf al-Zunun, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), hlm. 197.

[5]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir…, hlm. 115. Lihat pula: Haji Khalifah, Kasyf al-Zunun, hlm. 197.

[6]Husain al-Dzahabi, AlTafsir wa al-Mufassirun, hlm. 211.

[7]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir…, hlm. 116.

[8]Al-Baidawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, (Jeddah: Harramayn, tth), hlm. 3-6.

[9]Al-Baidawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, hlm. 3.

[10]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir…, hlm. 121.

[11]Abdul Jalal, Urgensi Tafsir Maudhu’i pada Masa Kini (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), hlm. 68.

[12]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir…, hlm. 121.

[13]Husain al-Dzahabi, AlTafsir wal Mufassirun, hlm. 211-212.

[14]Husain al-Dzahabi, AlTafsir wal Mufassirun, hlm. 214. Lihat pula: Haji Khalifah, Kasyf al-Zunun Juz III, hlm. 157.

[15]Al-Baidawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wiljilid I, hlm. 2.

[16]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir…, hlm. 122

[17]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir…, hlm. 122.

[18]Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir…, hlm. 122-124.

[19]Al Baidlawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, Juz 5, hlm.130 CD ROM Maktabah Syamilah 2

[20]Al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, Juz 6, hlm. 116. CD ROM Maktabah Syamilah 2

[21]Al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, Juz 7, hlm. 289. CD ROM Maktabah Syamilah 2

[22]AlZamakhsyari, al-Kasyaf, Juz3, hlm. 425. CD ROM Maktabah Syamilah 2

[23]Al-Baidhawi, Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl Juz 3, hlm. 410. CD ROM Maktabah Syamilah 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s