Madrasah Sumatera Thawalib Parabek


Majalah Sarung edisi 1/Januari 2011

Satu abad yang lalu, tahun 1910, Syaikh Ibrahim Musa mendirikan sebuah majelis halaqah ilmiyyah di sebuah desa yang bernama Parabek. Masyarakat sekitar mengenal beliau dengan panggilan Inyiak Ibrahim, Inyiak Parabek, atau Inyiak Syiah. Sekarang, satu abad setelah dirintisnya halaqah tersebut, tampaklah sebuah Madrasah yang berdiri megah yang bernama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Dalam umur yang seratus tahun, figur Inyiak Parabek masih terasa segar di benak beberapa murid beliau yang masih hidup, dan sering diceritakan kepada santri-santri Madrasah Sumatera Thawalib itu sendiri. Antusias dan penghargaan setiap santri terhadap figur Inyiak Parabek ini secara perlahan menjadikan beliau identik dengan Madrasah Sumatera Thawalib. Berbicara mengenai MST, tidak bisa terlepas dari Syaikh Ibrahim Musa, dan sebaliknya berbicara mengenai Syaikh Ibrahim Musa tidak bisa lepas dari tema MST. Makam beliau yang bertempat di halaman mesjid tempat semua santri melakukan aktifitasnya tampaknya semakin menambah kesan ini.

Dalam seratus tahun yang berlalu, tentu saja Madrasah Sumatera Thawalib (MST) Parabek mengalami dinamikanya tersendiri. Catatan sejarah senantiasa mengiringi hari demi hari berkembangnya madrasah ini. Jika ditelusuri secara sederhana, semua berawal dari majlis ilmu antara figur Inyiak Syiah dengan beberapa murid beliau selepas kepulangan beliau dari Makkah. Menonjolnya kepribadian, ilmu, dan kelembutan beliau mengundang banyak murid-murid berdatangan dari berbagai wilayah. Kemudian majelis tersebut dinamai dengan muzakarat al-ikhwan. Empat tahun berlalu, Inyiak Syiah berangkat untuk kedua kalinya ke tanah suci Makkah untuk memperdalam ilmu beliau. Satu pesan dari beliau kepada murid-murid supaya halaqah tersebut terus dijalani, jangan sampai berhenti. Pesan beliau ini dijalani dengan baik oleh murid beliau hingga beliau pulang. Konsistensi ini juga terus bertahan bahkan pada masa-masa sulit seperti pada masa penjajahan Jepang, agresi militer Belanda, bahkan hingga saat ini.

Dua tahun kemudian, setelah Inyiak Syiah pulang dari Makkah, beliau kembali memimpin halaqah muzakaratul ikhwan tersebut. Mengikuti dinamika perkembangan pergerakan dan pendidikan Islam regional, pada tahun 1918, muzakaratul ikhwan berganti nama menjadi Sumatera Thawalib. Keterbukaan dan progresifitas yang dimiliki oleh Inyiak Parabek menelorkan perubahan sistem pembelajaran dari sistem halaqah menjadi sistem klasikal. Berbeda dengan sistem klasikal dasar yang satu arah, beliau memodifikasinya dengan tetap melibatkan keaktifan siswa di dalam kelas dengan adanya debating process layaknya halaqah muzakaratul ikhwan. Model klasikal-muzakarah ini melatih kemampuan retorika dan menyampaikan serta mempertahankan argumen santri secara benar.

Lebih jauh, progresifitas ini termanifestasikan dalam dinamika yang dialami MST setiap tahunnya. Beberapa kali perubahan sistem dilakukan. Masa pembelajaran reguler mulai dibentuk. Tahun 1939 para santri belajar selama 10 tahun dengan 3 tahun kelas takhashus. Tahun 1958, beberapa mata pelajaran umum mulai diajarkan dengan lama belajar 4 tahun untuk tahap pertama yang dinamai tingkat Sumatera Thawalib, dan 3 tahun berikut Kulliyatuddiyanah. Tahun 1979, perubahan kembali terjadi. Masa belajar menjadi 6 tahun, 3 tahun pertama merupakan tingkatan Tsanawiyah, dan 3 tahun berikutnya Aliyah. Model seperti ini bertahan hingga sekarang.

Keterbukaan Inyiak Syiah Ibrahim Musa tidak hanya dalam hal teknis belajar semata. Dalam bidang intelektualisme, beliau juga bersifat terbuka dan moderat. Beliau selalu menekankan untuk mempelajari semua mazhab, sehingga mampu menilai kelemahan dan kelebihan masing-masingnya. Beliau bersikap lapang pada hal-hal yang tidak prinsipil. Keterbukaan dan moderasi ini terwarisi secara jelas kepada MST hingga saat ini. MST bersikap moderat, non-affiliated, lepas dari semua praktek politik praktis, meskipun terdapat beberapa tahun MST pengaruh terbawa arus politik bersama PERMI, namun dapat ditarik keluar kembali.

Sekarang, satu abad berlalu, tentu saja wajah MST tidak lagi sebagaimana satu abad silam. Sangat dimungkinkan pada tahun 1910 para murid belajar tanpa penerangan listrik. Mereka datang ke Masjid Jami’ Parabek melewati jalan kecil yang becek jika turun hujan. Mereka mendengarkan Inyiak Syiah atau guru lainnya mengaji tanpa adanya pengeras suara di masjid resmi MST ini. Yang ada adalah semangat yang kental dari semua murid dan guru untuk menuntut ilmu dan tekad memenuhi motto: Liyatafaqqahhu fi al-din.

Sekarang, dengan motto yang sama, sudah tampak bangunan kampus yang megah, meskipun di sana-sini masih terlihat adanya pekerjaan konstruksi. Ya, bantuan dari berbagai pihak berdatangan untuk menyelesaikan pembangunan MST. Kampus utama yang juga terletak di Parabek Nagari Ladang Laweh ini terdiri dari beberapa bangunan. Para santri belajar dalam sedikitnya 20 ruang kelas yang representatif dengan dukungan pengawasan CCTV. Didukung dengan media laboratorium bahasa, IPA, dan Komputer, meskipun sebagiannya masih dalam tahap penyelesaian. Unit Koperasi Pesantren terletak di seberang jalan kampus. Perpustakaan manual dan digital merupakan salah satu kebanggaan MST. Setidaknya terdapat 686/5187 judul/eksemplar buku agama, 699/6515 judul/eksemplar buku umum, dan program-program digital seperti Mausu’ah al-Hadis al-Syarifah Kutub al-Tis’ah, Maktabah al-Syamilah, Encarta, Oxford Learners Thesaurus, dan sebagainya.

Sebagian santri, terutama yang tinggal jauh dari lingkungan pesantren tinggal di asrama. Terdapat asrama putera dan puteri yang terpisah dan dihubungkan dengan mesjid. Selain kegiatan di sekolah dari pagi hingga siang, santri-santri asrama berikutnya juga sibuk dengan kegiatan-kegiatan asrama. Sore hari diberi waktu istirahat dan berolahraga secara bebas. Terdapat lapangan futsal serta basket di sekitar asrama. Beberapa lainnya bermain badminton di halaman madrasah. Kemudian, di malam harinya dijadwal beberapa kegiatan, mulai selepas magrib, shalat isya, hingga waktu tidur santri.

Setidaknya terdapat 64 orang guru dan pegawai lulusan PTN dalam dan luar negeri yang menjadi teman berdiskusi dan berinteraksi para santri. 21 orang diantaranya adalah home-grown atau alumni dari MST sendiri. Penerapan peraturan berbahasa asing merupakan salah satu prioritas. Untuk mendukung berdirinya peraturan tersebut, pada kelas satu, semua santri belajar bahasa Arab 12 jam seminggu sehingga pada kelas dua mereka dapat berbicara dan belajar dengan pengantar bahasa Arab. Selanjutnya, pada kelas dua mereka belajar bahasa Inggris 12 jam seminggu sehingga pada kelas tiga mereka diasumsikan dapat aktif berbahasa Inggris dan mampu belajar dengan pengantar bahasa Inggris. Akan tetapi, tentu saja berbagai macam kendala ditemukan dalam penerapan peraturan ini, tidak jauh berbeda dengan banyak pesantren yang menerapkan peraturan berbahasa lainnya. Selain itu, terdapat beberapa kegiatan ekstra seperti muhadharah, muzakarah, hifz al-Qur’an, dan kegiatan keterampilan seperti pencak silat, keputrian, dan sebagainya.

MST Parabek telah berhasil memproduksi ulama-ulama atau cendikiawan baik untuk tingkat daerah maupun Nasional. “Selang waktu 40 tahun terakhir, lebih kurang 15.000-an alumni yang menamatkan studinya di MST Parabek.” cerita Buya Deswandi, Pimpinan Pondok MST Parabek. Diantara nama-nama besar tersebut adalah Buya Hamka (mantan ketua MUI), Adam Malik (mantan Wakil Presiden RI), Daud Rasyidi Dt. Palimo Kayo (mantan Dubes RI di Iraq), Prof. DR. Ibrahim Bukhari, Prof. DR. Amiur Nuruddin, MA (Guru Besan Ekonomi sekaligus Pimpinan Komite Ekonomi Syariah Sumatera Utara, Rifa`i Batubara (Dewan Mufti Malaysia), Prof. DR. Nifasri, dan sebagainya.

Di samping semua itu, MST Parabek saat ini sedang dan selalu melakukan eveluasi terhadap kendala-kendala internal maupun eksternal sekolah. “Satu hal yang kurang saat ini adalah berkurangnya kedekatan antara guru dan murid.” aku salah seorang guru. Begitu juga dengan hubungan alumni dan sekolah yang belum terikat erat. Menyadari hal itu, pada gelombang acara peringatan Satu Abad MST Parabek september lalu, pihak Madrasah dan Yayasan kembali menggalang kebersamaan antar alumni untuk semua angkatan.

Demikianlah sejarah singkat MST Parabek dari awal berdirinya hingga saat ini. Sejarah adalah sejarah. Ia tak lebih dari sekedar catatan-catatan kenangan masa silam. Yang paling bijak untuk dilakukan adalah menjadikannya sebagai pijakan untuk kemajuan di masa akan datang. Sekarang adalah sekarang. Merupakan persiapan yang harus dipenuhi untuk menempuh masa datang yang semestinya lebih baik. Satu pertanyaan mendasar, setelah satu abad berlalu, bagaimanakah MST parabek saat ini, dan bagaimana ke depannya?


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s