Pesantren dan Masa Depan Pendidikan Indonesia


Terbit di Majalah Sarung edisi 1/Januari 2011, disarikan dari wawancara bersama Dr. Phill. Sahiron Syamsuddin, M.A  [Direktur Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren (PSPP) dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, CRCS-ICRS UGM, UNSIQ Wonosobodan ISIF Cirebon

Pesantren dulu, sekarang, dan Mendatang

Pesantren merupakan tempat yang sangat ideal untuk pendidikan anak-anak Indonesia. Ia memiliki tradisi-tradisi baik, yang mendukung proses pembentukan jiwa ilmiyyah sekaligus amaliyyah seorang pelajar (baca: santri). Pesantren mengajarkan ilmu-ilmu praktis Islam, yang lebih bersifat amaliyyah seperti shalat, puasa, baca Alquran, dan sebagainya. Lebih jauh, pesantren juga mengajarkan pendalaman keilmuan keislaman dengan modal bahasa Arab dan pembacaan kitab-kitab turats yang banyak dikenal dengan kitab kuning.

Dulu, kebanyakan pesantren bersifat tradisional. Setiap harinya, para santri mengaji bersama kyai, baik secara sorogan atau tidak, bahkan semenjak selepas subuh. Di siang hari, mereka memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal di luar pesantren. Selanjutnya, selepas kegiatan di sekolah, mereka masih memiliki beberapa kesibukan di pesantren hingga malam harinya. Pola semacam ini juga memberikan nilai positif bagi santri. Ia mendapatkan pendidikan agama yang layak di pesantren, pada saat yang sama ia mendapatkan pendidikan formal seperti anak-anak lainnya.

Sekarang, banyak pesantren yang telah memiliki lembaga pendidikan formalnya sendiri. Beberapa pesantren dilengkapi dengan jenjang pendidikan formal mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Di samping itu, lingkungan pesantren telah di-setting dengan lebih baik dengan adanya masjid, asrama, gedung sekolah, koperasi dan sebagainya. Sebagian pesantren bahkan memiliki badan usaha yang lebih komersial seperti bengkel, barber shop, usaha perkebunan, dan sebagainya. Pesantren telah menjadi tempat hidup yang cocok untuk mengakomodasi 24 jam sehari yang dimiliki santri-santrinya. Dari segi pendidikan, mereka tetap mengenyam tradisi-tradisi khas pesantren, ditambah pendidikan formal, plus kegiatan-kegiatan ekstra lainnya.

Bagaimana dengan pesantren masa datang? Ada beberapa agenda yang seharusnya dicanangkan oleh pesantren untuk masa depan yang lebih baik. Diantaranya adalah pelestarian tradisi-tradisi khas berupa tradisi arabiyyah, ilmu alat, kitab kuning. Kedalaman ilmu Islam yang komprehensif diakses langsung dari sumber primer menggunakan ilmu-ilmu tersebut. Pelajaran nahwu, sharf, balaghah, mantiq, bahkan ‘arudh (ilmu mengenai syair klasik Arab yang sudah mulai punah) sangat perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Itulah ilmu-ilmu yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan apapun selain pesantren.

Akan tetapi, pesantren juga perlu mengikuti ilmu-ilmu yang sedang berkembang pada zaman ini. Supaya tetap eksis dan tidak tertinggal, pesantren perlu mengadopsi kurikulum umum sebagai salah satu kurikulum pembelajarannya, seperti ilmu fisika, biologi, kimia, matematika, sejarah, PKN, dan sebagainya. Teknologi-teknologi mutakhir juga salah satu alat yang harus diinventarisir oleh pesantren. Pesantren mesti memiliki perpustakaan digital, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, dan sebagainya. Semua itu akan semakin menunjang kemajuan pendidikan pesantren sekaligus menjadi “branding” pesantren dalam kompetisi percaturan pendidikan secara luas.

Pembelajaran bahasa adalah agenda penting masa depan pesantren. Pembelajaran bahasa di sini maksudnya pembelajaran secara integral yang mengakomodasi bahasa klasik, tulisan, sekaligus bahasa modern. Mungkin telah banyak pesantren yang memiliki intensitas kebahasaan, bahasa Arab terutama sekali. Akan tetapi, masih terdapat semacam ketimpangan dalam pembelajarannya. Sebagai contoh, Gontor Ponorogo sangat terkenal dengan penguasaan bahasa modern, akan tetapi kurang dalam bahasa klasik yang digunakan dalam pembacaan kitab-kitab kuning, sebaliknya Lirboyo terkenal dengan kemampuan baca kitab kuning, akan tetapi kurang dalam bahasa modern. Untuk itu, perlu diterapkan pembelajaran bahasa asing, baik itu Arab, Inggris, dan bahasa-bahasa lainnya secara integral dan menyeluruh.

Dari segi managerial, pesantren masa depan diharapkan dapat lebih terbuka dengan sistem-sistem managemen modern. Kepemimpinan tunggal-monarki dalam pesantren oleh keluarga kyai sepertinya harus dikonversi menuju managerial yang bersifat kolektif. Prosedur-prosedur yang terstandar dan tepat guna, SOP umpamanya, akan mendongkrak kemajuan pesantren dalam segala hal. Managerial semacam ini akan semakin memperjelas keberadaan pesantren di masyarakat dan dalam percaturan pendidikan nasional.

Bagaimana menggapai semua itu? Pesantren dan pemegang atau pengelolanya perlu memiliki beberapa hal demi tercapainya angan-angan masa depan tersebut. Pertama, pesantren dan pengelolanya harus memiliki keinginan untuk maju, keinginan untuk mencapai agenda-agenda tersebut. Kedua, pesantren mesti menjalani usaha-usaha apapun yang harus ditempuh. Dan ketiga, jiwa kreatif dan enterpreneurship merupakan salah satu modal penting. Ketiga hal tersebut berjalan seiring dan saling mendukung. Oleh sebab itu, pihak pengelola pesantren perlu memiliki dan menjalani paling tidak ketiga hal tersebut.

Pesantren Mengenai Dikhotomi Keilmuan

Setelah sebelumnya membahas agenda yang berkenaan dengan internal pesantren, sekarang mari kita renungkan agenda pesantren dalam ruang lingkup yang lebih luas, pesantren dalam peta pendidikan global Indonesia. Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia adalah sekuler. Hal ini terbukti dengan sikap mereka yang membedakan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum hingga batas yang jauh. Bahkan, pada masa awal, ilmu-ilmu umum, yang mayoritas berasal dari Barat dianggap terlarang. Suasana demikian mungkin tidak ditemui lagi sekarang dalam bentuk yang ekstrim. Hanya saja, bukan berarti dikhotomi keilmuan itu telah terhapuskan. Hingga saat ini pun, pembedaan keilmuan tersebut masih populer di mata masyarakat.

Pemahaman sedemikian, terutama bagi kalangan pesantren, sepertinya berasal dari pembagian keilmuan yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali. Akan tetapi, tidaklah tepat untuk memahami pembagian tersebut secara ekstrim. Pembagian tersebut pada dasarnya hanyalah untuk “memperjelas”, bukan untuk memisahkan. Oleh sebab itu, tidaklah pantas untuk menilai ilmu-ilmu umum sebagai ilmu yang tidak penting, karena ilmu-ilmu Islam juga tidak bisa sempurna tampa ilmu-ilmu tersebut.

Sebagai contoh, ilmu mengenai pakaian. Dalam kacamata ilmu agama, pakaian berkaitan dengan ilmu mengenai menutup aurat yang ditemukan dalam Alquran, Hadis, dan literatur-literatur keagamaan lainnya. Akan tetapi, di samping itu, pakaian juga akan berkaitan dengan ilmu design, style, keterampilan menjahit, dan sebagainya. Dan semua itu penting untuk dikuasai umat muslim. Ilmu mawaris, contoh lainnya, tidak akan pernah terpisah dari ilmu matematika. Pada tahap yang lebih mendalam, dewasa ini banyak perangkat ilmu sosial seperti psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah, ekonomi, geografi dan sebagainya yang menjadi alat bantu untuk memahami Alquran dan Hadis. Artinya, pemahaman mengenai Alquran, Hadis, dan ilmu-ilmu Islam lainnya tidak akan sempurna tanpa adanya ilmu-ilmu umum; ma la yatimmu al-wajibu aw al-mustahabbu aw al-jaizu illa bihi, fahuwa wajibun, aw mustahabbun, aw jaizun! Dari itu, tidaklah pantas untuk memisahkan antara ilmu umum dan agama.

Lantas bagaimana dengan spesialisasi keilmuan? Bukankah lebih baik menguasai satu ilmu secara mendalam, daripada banyak ilmu namun tidak mendalam? Benar! Memang benar, bahwa pada zaman ini seseorang harus menjadi spesialis dalam bidang-bidang tertentu. Akan tetapi, berbicara spesialisasi jangan dari awal. Penerapan spesialisasi keilmuan lebih baik dimulai ketika dewasa, ketika cara berfikir seseorang telah matang. Seorang anak yang dari kecil dispesialkan dalam ilmu umum semata, dan ketika dewasa tidak mengenal agama bukanlah hal yang baik. Begitu juga seabaliknya. Tentu saja figur-figur semacam Ibnu Sina; seorang dokter, faqih, sekaligus filosof, atau al-Khawarizmi; ahli Logaritma dan astronomi, Ibnu Rusyd, al-Farabi, dan al-Ghazali sendiri, merupakan figur ulama multidisiplener yang baik untuk dicontoh.

Dari itu, pesantren perlu secara bertahap mengikis pandangan dikotomis ini. Penanggulangan tersebut sebenarnya telah terlihat ketika telah banyak pesantren dewasa ini yang memiliki kurikulum dan lembaga pendidikan formal  umum. Akan tetapi, penanggulangan tersebut perlu dilanjutkan hingga melemahkan mainstream yang masih memiliki pandangan dikhotomis terhadap ilmu-ilmu.

Minat Tulis-baca

Fakta memprihatinkan lainnya yang dihadapi pesantren dalam pendidikan Indonesia adalah kurangnya minat baca-tulis. Pada banyak sekolah, dari pendidikan dasar hingga menengah, perkembangan ilmu pengetahuan nyaris tidak ada. Jangankan murid, guru-guru pun tidak banyak yang memiliki kesadaran membaca. Mereka hanya memiliki rutinitas mencatatkan pelajaran, memeriksa latihan murid, memberi ujian, tanpa ada perkembangan dengan akses mambaca. Dan sepertinya pesantren tidak banyak berbeda.

Dari itu, beberapa agenda mesti dijalankan pesantren untuk mengembangkan budaya tulis-menulis. Pertama, pengadaan perpustakaan yang mendukung. Perpustakaan merupakan salah satu kekurangan pesantren yang sangat fatal pada era ini. Tidak banyak pesantren yang memiliki perpustakaan yang memadai. Peran pemerintah tentu saja sangat besar dalam hal ini, karena kebanyakan pesantren tidak punya cukup donasi untuk hal ini. Bagi pesantren yang telah memiliki perpustakaan, perlu mendatangkan buku-buku yang baik secara berkala. Pembatasan membaca bagi santri, dengan melarang membaca buku-buku tertentu sepertinya tidak diperlukan. Biarkan santri membaca buku apa saja yang ia inginkan. Yang penting pesantren menyediakan buku yang berimbang. Sebagai contoh buku-buku kalangan modernis perlu diimbangi dengan buku-buku karya kalangan konserfatif. Dengan itu, santri bisa mengakses ilmu lebih mendalam, berimbang, dan mandiri.

Kedua, pesantren harus lebih sering mengadakan training menulis. Peradaban sekarang adalah peradaban tulisan. Seseorang bisa hidup dengan tulisan atau penelitiannya. Dari itu, para santri perlu dididik menulis semenjak dini. Tahap awal bisa diajarkan dengan meringkas kitab-kitab dengan memparafrasekannya. Pada tahap berikut mungkin pelatihan-pelatihan jurnalistik, menulis berita, opini, atau artikel ilmiah perlu diadakan.

Ketiga, sebagai suplemen, sebaiknya pesantren memiliki percetakan sendiri. Dengan itu, pesantren bisa mencetak karya-karya guru maupun santri. Jika pencetakan satu karya saja berhasil dan didistribusikan untuk kalangan sendiri, ia akan menjadi cambuk motivatif bagi yang lainnya untuk terus membaca, dan kemudian menulis. Dengan itu, perkembangan yang lebih pasti berada di ambang pintu untuk pesantren.

Internationally-recognized Scholars

Semua orang mungkin kenal Yusuf al-Qaradhawi, Muhammad Abduh, Nashr Hamid Abu Zayd, Mahmud Syaltut, Thantawi Jawhari, dan sebagainya. Pada masa pertengahan ada nama Ibn Rusyd, al-Ghazali, Imam 4 mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi), dan sebagainya. Mereka adalah tokoh terkemuka yang ahli di bidangnya. Karya-karya maupun kontribusi mereka dalam keilmuan telah menjadikan mereka sebagai Internationally-recognized person (tokoh kelas dunia/tokoh menginternasional). Lantas, manakah tokoh Indonesia sekaliber mereka?

Sepertinya nonsen. Beberapa tokoh kenamaan sebelumnya adalah Nurchalis Madjid dan Abdurrahman Wahid. Mereka adalah tokoh Indonesia-pesantren yang telah memiliki nama besar hingga ke luar negeri, terlepas dari kontroversi dan opini publik terhadap mereka. Hanya saja, (mungkin) mereka belum menginternasional, yang dikaji melalui skripsi, tesis, atau disertasi mahasiswa-mahasiswa di belahan dunia lain.

Akan tetapi, mereka telah berlalu. Sekarang saatnya untuk generasi mendatang; adakah diantara mereka yang lahir menjadi internationally recognized people? Lebih khusus lagi, adakah kalangan pesantren yang tersohor meliputi 360o bundaran bumi? Tentu saja ini pertanyaan yang cukup mudah untuk dijawab, akan tetapi sangat sulit sekali untuk direalisasikan. Untuk menjawab, Direktorat Pndidikan Islam di Kementrian Agama bersikeras untuk mewujudkan impian tersebut dengan cara memberikan beasiswa kepada para santri untuk studi di luar negeri di jenjang pendidikan S1, S2 dan S3, dan juga beasiswa pendidikan untuk mereka yang tertarik melanjutkan pendidikan di beberapa perguruan tinggi ternama di dalam negeri. Beberapa pesantren, seperti Pesantren Nawesea di Yogyakarta, juga sedang berusaha untuk ‘menciptakan’ orang-orang semaca itu di masa mendatang. Hal ini jelas membutuhkan usaha sangat keras dan dukungan seluruh pihak. Jalan di depan sana tidaklah mudah. Semua membutuhkan usaha yang nyata, berkesinambungan, dan keras.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s