Pesantren Sebagai Kekuatan Ekonomi Syariah Bangsa


Terbit di Majalah Sarung edisi 1/Januari 2011

Pesantren dapat menjadi kekuatan ekonomi bangsa ketika ia berhasil menjadi miniatur kehidupan berekonomi yang nyata. Di sana ada produsen yang mampu meningkatkan daya jual sebuah komoditi, ada distributor, dan tentu saja produsen. Hubungan eksternal pesantren dengan masyarakat sekitar mampu menumbuhkembangkan perekonomian masyarakat sekitar. Akhirnya, jika banyak pesantren yang mampu melakukannya, secara otomatis akan memperkuat tatanan ekonomi bangsa

Salah satu tantangan yang harus dihadapi bangsa masa ini dan mendatang adalah masalah ekonomi. Pada lingkup yang lebih kecil, sebuah lembaga, sebutlah Pesantren, juga menghadapi beban yang sama. Setiap saat, pondok pesantren berhadapan dengan permasalahan-permasalahan pendanaan pembangunan, gaji tenaga pengajar, pengadaan sarana, maintenance, dan sebagainya. Seleksi alam merupakan hal yang mutlak dalam kasus ini.  Pondok Pesantren yang tidak dapat menghadapi tantangan tersebut dengan cerdas dan bijak akan mati. Yang bertahan dan terus eksis adalah yang mampu melaksanakan managerial ekonomi yang bijak. Pada akhirnya, pesantren yang tetap eksis tersebut mampu menjadi penopang kekuatan ekonomi bangsa.

“Mengusung Madrasah Sumatera Thawalib sebagai motor ekonomi Syari’ah”. Setidaknya begitulah tema sebuah seminar yang diadakan di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek pada tanggal 16 September 2010 lalu. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian acara haflah peringatan 1 abad Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Bagi beberapa kalangan tema demikian terkesan aneh. Mengapa tidak? Belum banyak pesantren yang telah memiliki mata pelajaran ekonomi syari’ah dalam kurikulumnya. Jadi, bagaimana pesantren bisa menjadi motor perkembangan perbankan syari’ah. Artinya, belum banyak yang bisa dilakukan oleh pesantren untuk menjadi sebuah motor berjalannya ekonomi syari’ah. Faktanya, pembelajaran ekonomi syari’ah baru digalakkan pada tingkatan perguruan tinggi.  Di sana lah dikaji banyak hal mengenai perbankan dan ekonomi syari’ah.

Akan tetapi, penggalangan ponpes sebagai motor ekonomi syari’ah yang dimaksud di luar semua itu. Kajian-kajian mengenai ekonomi syariah memang bersarang di perguruan tinggi. Akan tetapi, sebenarnya banyak hal yang ada dalam lingkungan pesantren yang telah mengacu kepada praktek ekonomi syariah. Dalam lingkungan ponpes, telah terjadi beragam kegiatan ekonomi/bisnis baik pada bagian produksi, distribusi, dan juga konsumsi. Secara sederhana, praktek ekonomi syariah yang ada di pesantren bisa dilirik dari praktek ini.

DR. Romeo Rissal Pandjialam secara panjang lebar menjelaskan beberapa poin yang mengindikasikan kepada kesiapan pondok pesantren lebih khusus Madrasah Sumatera Thawalib, untuk menjalani peran sebagai motor berkembangnya ekonomi syariah, terutama untuk wilayah Sumatera Barat. Sebagai pembicara, Direktur Bank Indonesia bagian Sumbar, Jambi, Riau dan Kepri ini menjelaskan indikator-indikator yang dimaksud dalam beberapa poin: nama besar pesantren, peran sebagai pemberi fatwa, ruh ekonomi syariah santri, relasi pesantren dan masyarakat, dan persatuan dan keterbukaan.

Pertama, nama besar yang telah dimiliki oleh pesantren. Dalam ilmu manajemen modern, branding strategy merupakan aspek yang sangat penting dalam pengembangan suatu kegiatan. Pesantren! Siapa lagi orang Indonesia yang tidak mendengar “pesantren”. Pesantren telah memiliki branding yang kuat. Pesantren telah menorehkan jejaknya sejak lama di Indonesia. Sejarah modernisasi pendidikan Islam tidak akan terlepas dari pembicaraan mengenai pesantren. Sejarah perjuangan kemerdekaan juga tidak sedikit melibatkan peran pesantren. Sungguh branding yang luar biasa. Terlebih beberapa pesantren yang karena sejarah dan peranan yang baik memiliki branding yang menonjol. Sebutlah Gontor di Ponorogo, al-Zaitun Daruttauhid, Tambak Beras di Jombang, Tebo Ireng, Sumatera Thawalib, Almunawwir dan Ali Maksum di Yogyakarta, Pandanaran di Yogyakarta, dan sebagainya.

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam. Oleh sebab itu, ia merupakan lembaga yang membentuk umat. Dalam orientasi ini, pondok pesantren menyadarinya dengan menekankan kedalam ilmu bagi para santri. Para santri harus menguasai beragam perangkat ilmu untuk memahami ajaran Alquran dan Hadis. Pembentukan masyarakat tersebut salah satunya dijalankan dengan fatwa. Di sinilah kekuatan kedua pondok pesantren. Melalui fatwa, perbangkan yang cenderung ia sebut ekonomi Rasulullah dapat dikembangkan secara objektif. Inilah poin kedua.

Akan tetapi, sebagaimana ditekankan oleh Romeo Rissal, fatwa tidak semata penetapan dan penjelasan hukum, akan tetapi ia terutama sekali adalah pembentuk masyarakat. Sebagai contoh, permasalahan mandeg-nya perjalanan ekonomi syariah di Sumatera Barat menurutnya berawal dari fatwa yang salah kaprah. Masyarakat Sumatera Barat adalah masyarakat yang rasional. Jadi, strategi penekanan keharaman bunga karena disamakan dengan riba secara emosional untuk memanggil mereka menuju perbankan syariah tidak memberi hasil yang signifikan. Mereka perlu dituntun secara rasional mengenai kelebihan dan kekuatan perbangkan syariah, bukan dengan menumbangkan perbankan konvensional secara emosional. “Jika ingin selamat, tinggalkan bunga, datanglah kepada kami!” iklan-iklan emotif yang berbau fatwa tersebut, umpamanya, dinilai tendensius bagi mereka, bukan ajakan objektif yang nyata. Oleh sebab itu, fatwa tersebut harus dikeluarkan dengan segala kehati-hatian setelah pembahasan mendalam. “Hal ini kemudian terbukti ketika banyak bank yang merubah strategi promosi, perbankan syariah di Sumatera Barat mangalami kemajuan pesat dan mencatat perkembangan paling baik di Indonesia dalam satu tahun terkhir.” tambahnya.

Poin ketiga adalah ruh ekonomi syariah santri. Yang dimaksudkan di sini adalah beberapa aspek moral yang menjadi tiang prinsipil dalam pembangunan sebuah system ekonomi. Pesantren sejak lama telah mengajarkan dan menanamkan kejujuran, kemandirian, tanggung jawab, dan kepemimpinan yang didasarkan kepada akidah yang kuat dan akhlak yang mulia. Karakter-karakter ini, jika benar-benar tertanam dalam lingkungan pesantren, dan tentu saja akan berimpas ke luar, akan menghindari Indonesia dari praktek-praktek ekonomi yang tidak sehat seperti suap-menyuap, mark-up anggaran, penipuan, dan sebagainya.

Pada kesempatan yang berbeda, Nuruddin M. Ali, MA, MSc, seorang praktisi ekonomi syariah dari STEI TAZKIA, berbagi pengalaman kepada kami mengenai masa kecilnya di pesantren yang kemudian membangun jiwa kewirausahaan santri. Sebelumnya ia menyampaikan sebuah teori bahwa jiwa kewirausahaan dibentuk semenjak dini. “Many great man starts as newspapers boys” sebuah pepatah Inggris ia cantumkan. Ekonom lulusan sebuah universitas ternama di Inggris ini bercerita, bahwa dulu, sebelum masa pelajar-pelajar “manja” ini, ia dan teman-teman santri telah berusaha secara mandiri. “Setiap Sabtu, hari libur Madrasah, beberapa dari kami berangkat ke pasar Padang Lua sambil membawa gerobak untuk menjadi kuli angkat.” kenangnya. Selain itu, masyarakat sekitar pesantren yang turut kami wawancarai menambahkan bahwa selain menjadi kuli angkat di pasar, sebagian santri membantu para petani di sawah dan mendapat upah dari kerja mereka. Praktek-praktek semacam inilah yang kemudian disyukuri oleh Nuruddin M. Ali, MA, MSc yang menurutnya membentuk jiwa kemandirian dan wirausaha bagi dirinya, teman-teman, dan kakak-kakak kelasnya. Ia kemudian menegaskan bahwa seorang santri, apakah ia pintar atau bodoh, akan selamat dalam hidupnya. Yang pintar akan melanjutkan studi mereka lalu kemudian menjadi praktisi di berbagai bidang akademik, dan yang tidak akan terlibat dalam perdagangan yang kemudian dapat mereka kembangkan dengan modal kemandirian, kemampuan negosiasi, keterampilan mencari link, dan sebagainya. Semua itu telah mereka dapatkan, baik mereka sadari atau tidak, dari kehidupan mandiri mereka di Pesantren.

Kemudian, ia membandingkan dengan pendidikan lainnya seperti SMA. Menurutnya, nuansa pembangunan karakter kemandirian di pesantren jauh berbeda dengan di SMA. Kehidupan di asrama jauh dari orang tua menjadi nilai tersendiri bagi santri. Hubungan erat dengan teman yang mereka temui 24 jam melatih mereka membaca kepribadian dengan baik. Hal ini penting untuk menilai rekan bisnis yang sesuai. Rasa takut dan gamang berhadapan dengan orang banyak terkikis. Sementara di SMA, meskipun hal demikian ditemukan, namun tidak begitu menonjol. Itulah yang ia sebutkan bahwa jiwa kewirausahaan dibentuk semenjak kecil, dan pesantren merupakan lapangan yang paling baik untuk itu.

Poin keempat yang merupakan gagasan utama bagi DR. Rome Rissal berkaitan erat dengan poin ketiga, pesantren memiliki peran membentuk masyarakat. Pembentukan tersebut tidak hanya secara moril yang lebih bersifat normatif, melainkan juga pada tataran praksis. Ia menjelaskannya dengan istilah ”Islamic Village”. Sebagai contoh, yang dilakukan oleh Pesantren Darul Falah di Bogor. Pesantren ini berperan membentuk Kampung Pertanian. Pesantren ini mendirikan kemampuan ekonomi masyarakat sekitarnya melalui pertanian. Mereka menjadi tumpuan kelancaran pertanian di sana. Mereka memberdayakan petani-petani di desa tersebut. Selain itu, mereka juga menjadi pemasok gula utama di lingkungannya.

Bayangkan jika banyak pesantren yang telah berhasil melaksanakan semisal yang dilakukan oleh pesantren Darul Falah dengan model yang berbeda. Ketika itu, mereka menjalin hubungan ekonomi satu sama lainnya, antara satu pesantren dengan pesantren lainnya. Jumlah pesantren yang ribuan di Indonesia dapat diasumsikan telah menutup seluruh wilayah Indonesia. Dengan persatuan pesantren-pesantren tersebut, yang dalam hal ini pada bidang ekonomi, akan memberikan pemberdayaan yang luar biasa bagi masyarakat sekitar mereka masing-masing. Tentu saja, dengan banyaknya masyarakat yang diberdayakan, bangsa akan mendapatkan hasil manisnya. Pesantren menjadi kekuatan ekonomi bangsa. Inilah poin kelima.

Mengenai Islamic Village yang digagas oleh DR. Rome Rissal, sepertinya perlu diperhatikan terlebih dahulu pembentukan perekonomian pesantren secara internal. Berkenaan dengan hal ini, pembelajaran ekonomi syariah dasar penting didaftarkan sebagai salah satu kurikulum di pesantren. Menurut Nuruddin M. Ali, MA, MSc, beberapa pesantren telah menerapkan hal ini. Mereka telah mengajarkan beberapa konsep mendasar dalam ekonomi syariah secara otonom. Banyak pesantren lainnya biasanya menjadikannya menyatu dalam pelajaran fiqh, seperti pada bab buyu’ dan tema-tema lainnya dalam fiqh mu’amalah.

Satu hal yang tidak kalah penting, praktek langsung berekonomi perlu diajarkan kepada santri. Pesantren-pesantren kerap dan semestinya mempunyai kegiatan-kegiatan ekstra yang berorientasi ekonomi. Sebutlah Koperasi Pesantren, keterampilan menjahit, perbengkelan, barber shop, dan sebagainya. Dalam praktek-praktek semacam itu, santri belajar secara langsung bagaimana mengembangkan sebuah usaha dengan baik.

Pesantren, seharusnya mengambil alih perputaran uang di pesantren tersebut. Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti di atas, pesantren dapat mengelola keuangan internal mereka dengan baik tanpa banyak bergantung kepada bantuan pemerintah dan donatur lainnya. Koperasi perlu dioptimalkan dan dioperasikan layaknya koperasi. Karena tidak jarang koperasi pesantren hanya berperan sebagai kantin atau waserba. Selain itu, santri juga harus dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan. Bagi mereka yang tidak berminat mengelola koperasi, bisa dijadikan sebagai anggota. Koperasi yang optimal, adanya unit usaha yang melibatkan santri, secara otomatis akan menciptakan perputaran uang yang baik di pesantren.

Sebagai contoh, sebuah pesantren di Sidogiri Jawa Tengah. Keberhasilan mereka dalam mengelola ekonomi mereka secara internal dan eksternal kepada masyarakat sekitar, telah mengundang bank sekelas Bank Central Asia (BCA) untuk membuka cabang di pesantren tersebut. Perlu digaris bawahi, bahwasanya sebuah bank mau membuka cabang di suatu wilayah tentu saja memiliki alasan-alasan rasional seperti perputaran uang di wilayah tersebut harus mencapai nominal tertentu, dan tentu saja tidak sedikit!

Pada kesimpulannya, pesantren dapat menjadi kekuatan ekonomi bangsa ketika ia berhasil menjadi miniatur kehidupan berekonomi yang nyata. Di sana ada produsen yang mampu meningkatkan daya jual sebuah komoditi, ada distributor, dan tentu saja produsen. Hubungan eksternal pesantren dengan masyarakat sekitar mampu menumbuhkembangkan perekonomian masyarakat sekitar. Akhirnya, jika banyak pesantren yang mampu melakukannya, secara otomatis akan memperkuat tatanan ekonomi bangsa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s