Wanita dalam Wacana Dunia dan Agama


Ada suatu pertanyaan klise, mengapa wanita menjadi objek pembahasan tersendiri? Mengapa ada fikih wanita? Mengapa ada studi feminisme? Mengapa dan mengapa yang lainnya? Semua pertanyaan tersebut pada dasarnya mempertanyakan mengapa wanita menempati suatu posisi sebagai entitas yang dipelajari dan dipermasalahkan secara khusus.

Hal ini lebih kurang disebabkan posisi dan keberadaan wanita dalam world view masyarakat dunia yang dilematis. Wanita dari zaman ke zaman sering menempati posisi dan mendapatkan perlakuan yang menyedihkan. Wanita dikungkung oleh relasinya yaitu laki-laki. Beberapa mumi perempuan ditemukan dengan celana dalam besi yang digembok dan bersepatu besi berat untuk membatasi perjalanannya. Peradaban Sasanaia-Zoroaster menyembunyikan perempuan menstruasi di dalam goa-goa gelap, peradaban Hindu membakar perempuan hidup-hidup di samping mayat suaminya. Hal serupa juga terjadi di lingkungan Arab tempat Rasulullah diutus. Peradaban Jahiliyyah memandang wanita sebagai makhluk yang tidak berguna. Wanita lemah dan tidak bisa berperang. Kelahiran anak laki-laki merupakan suatu kebanggaan, sementara kelahiran anak perempuan menjadi hal yang memalukan. Itulah yang menjadi penyebab anak perempuan dikubur hidup-hidup. Sungguh perlakuan yang sangat tidak adil.

Keberadaan wanita yang sedemikian, masih tersisa sampai sekarang. Meskipun tidak begitu jelas, posisi perempuan pada titik subordinat dibandingkan dengan laki-laki sudah menjadi suatu keyakinan berjamaah dalam masyarakat. Tapi tetap, bagi beberapa yang jeli, ketidakadilan yang selama ini dialamatkan kepada kaum wanita terlihat dengan jelas. Ideologi ini telah melahirkan tindakan perendahan perempuan. Human traficking—meskipun dangan redaksi human yang berarti perempuan maupun laki-laki—hanya terjadi pada kaum wanita. Pelecehan seksual jarang sekali yang terjadi pada laki-laki. Bahkan hingga taraf yang paling kecil, semua tentu mengenal istilah ini: “Sama cewek aja masak kalah, malu donk kamu kan cowok!!” atau “Cowok kok nangis?!” atau “Ih dasar banci!!!” dan ungkapan “Perempuan tidak perlu menuntut ilmu tinggi-tinggi, ntar juga kembalinya ke dapur!!!” Secara tersirat dan tersurat, ungkapan tersebut merupakan manifestasi nyata dari ideologi yang merendahkan perempuan dan meng-“agung”-kan laki-laki.

Tidak salah jika sebagian kalangan kemudian menyadari dan merasa prihatin—yang kemudian disebut feminis—dengan kebudayaan seperti ini. Mereka menuntut keadilan secara merata baik untuk laki-laki maupun perempuan. Perempuan adalah manusia, laki-laki adalah manusia. Perempuan makhluk yang rasional, laki-laki juga demikian, perempuan punya dua mata, dua telinga, satu mulut, satu hidung, dua tangan, dua kaki, dan semuanya sama. Hanya sebagian kecil dari wanita berbeda dengan laki-laki—payudara dan kelamin. Lantas, apakah perbedaan kecil ini pantas dibesar-besarkan?

Celakanya lagi, diskriminasi ini dicarikan justifikasinya dari agama. Beberapa ayat dikutip untuk melanggengkan ketidakadilan ini. “Perempuan merupakan pelayan bagi suami, perempuan harus taat kepada suami, dan sebagainya, ini ayatnya, itu hadisnya!!” Tak ayal lagi, para feminis pun menuduh agama sebagai wilayah yang seksis—institusi yang melegalkan ketidakadilan. Bayangkan, betapa bahayanya ungkapan tersebut!! Agama dijadikan landasan suatu ketidakadilan. Bukankah agama mengusungkan semangat keadilan pada setiap penjuru dunia? Jika hal ini tetap dibiarkan, akan berdampak buruk terhadap agama itu sendiri secara keseluruhan. Agama dituduh sebagai pembela ketidakadilan, agama tidak mampu menyelamatkan kaum wanita yang menjadi penganutnya, dan sebagainya. Bukankah ini berbahaya?

Padahal agama sendiri justru mengangkat derajat kaum perempuan dengan risalah Rasulullah SAW. Islam melarang penguburan anak perempuan hidup-hidup. Islam menyuruh bergaul dengan wanita secara baik. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yang menjadi barometer kemuliaan masing-masing hanyalah ketakwaan, bukan jenis kelamin. Jadi, tidak ada alasan untuk menuduh Islam sebagai wilayah yang seksis. Islam adalah agama keadilan.

Lantas, darimana tuduhan-tuduhan tersebut berasal? Jika diteliti lebih lanjut, hal ini berawal dari kepentingan suatu kalangan yang menyalahgunakan ayat dan penafsirannya. Ayat-ayat maupun hadis-hadis yang secara literal menunjukkan superioritas laki-laki, atau inferioritas perempuan diterjemahkan secara sepihak, sehingga menghasilkan pemahaman yang bias. Ayat-ayat maupun hadis tersebut yang bersifat sosiologis dan terikat secara kuat oleh konteks sosio-kultural tempat turunnya diterjemahkan dengan melupakan aspek kontekstualnya. Pandangan tekstual ini dianggap sebagai pandangan Al-Quran dan Sunnah. Padahal ruh nyata dari pesan-pesan tersebut bukan sebagaimana bunyi literalnya. Jika para penafsir klasik menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan penafsiran yang tetap menempatkan laki-laki di atas perempuan, ini merupakan kewajaran karena kondisi sosio-kultural mereka memang begitu. Ini bukan suatu kesalahan. Tetapi, pada realitas sosial yang berbeda, tentunya penafsiran tersebut tidak bisa dipaksakan. Pemaksaan inilah yang akhirnya melahirkan tuduhan bahwa agama mempunyai semangat diskriminasi gender.

Oleh sebab itu, perjuangan-perjuangan Amina Wadud, Ashgar Ali Engineer, Agustina, Rifaat Hasan dan para feminis lainnya perlu diperhatikan. Mereka telah berusaha mendekonstruksi pemahaman diskriminatif gender menuju keadilan. Secara tidak langsung, mereka juga telah menyelamatkan keberadaan agama, karena apabila tuduhan-tuduhan tersebut tidak bisa ditepis, bayangkan bagaimana pandangan masyarakat dunia terhadap agama. Tapi, perlu ditekankan di sini, perjuangan menuju keadilan ini bukanlah sebagai provokasi terhadap perempuan untuk memberontak kepada laki-laki dan meninggalkan tanggung jawab mereka. Yang dituntut di sini adalah kesetaraan hak dan aspek apapun dan menekan angka kekerasan terhadap perempuan, bukan perlawanan.

Iklan

3 pemikiran pada “Wanita dalam Wacana Dunia dan Agama

  1. Saya kurang setuju dengan penilaian itu, karena pernyataan tersebut mengandung generalisasi. Dilihat dari sejarah munculnya gerakan feminis bukan berkaitan dengan agama, apalagi Islam. Dan dalam kaitannya dengan Islam, warna dan perkembangan kajian feminisme itu berbeda dengan feminisme di luar. Jika saya menilai, seorang Quraisy Shihab pun adalah seorang feminis. Tapi, ingat, jangan melakukan generalisasi, karena feminisme itu sendiri memiliki beragam aliran yang berbeda.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s