Textual Criticism (versi Bahasa Indonesia)


Tulisan ini merupakan terjemahan dari Textual Criticism 
dengan beberapa penambahan materi dan juga pengurangan

 

Textual criticism hanya berkaitan dengan teks, jadi tidak bisa dikaitkan dengan musik, atau kesenian. Pada dasarnya, tekstual criticism biasa didifinisikan sebagai ilmu (science) untuk menemukan kekeliruan-kekeliruan di dalam teks untuk kemudian diperbaiki. Akan tetapi, diskursus ini bukanlah termasuk ke dalam ilmu pasti, sehingga menurut A. E. Housman lebih tepat didifinikan sebagai seni untuk menemukan kekeliruan di dalam teks dan seni untuk memperbaikinya. Dalam kaitannya dengan Alquran, kajian ini tidak banyak mendapatkan perhatian para sarjana, baik muslim maupun non muslim, tanpa mengabaikan beberapa pengecualian tentu saja.

Pada dasarnya, sarjana klasik membagi proses tekstual criticism kepada tiga proses: recension (resensi), examination (pengujian), dan emendation (pengoreksian). Pada fase pertama, seorang analist harus meneliti teks dasar terlebih dahulu. Selanjutnya, pada fase kedua dia harus meneliti apakah teks-teks tersebut mengandung beberapa kekeliruan dan kemudian  diperbaiki pada fase ketiga. Ketika ketiga fase ini telah dijalani, maka hasilnya haruslah edisi revisi dari teks terkait, dan layak untuk diklaim lebih mendekati kebenaran, sesuai dengan versi asli si penulis.

Fase pertama tidak memberikan kontribusi yang cukup banyak dalam konteks Alquran, karena edisi standard Alquran, cetakan resmi Mesir, cukup baik. Hanya saja, dalam hal ini, kajian banyak diarahkan oleh para sarjana kepada manuskrip Alquran. Landasan berpikirnya adalah bahwa Alquran memiliki beberapa variasi qira’ah. Beberapa ahli qira’ah memiliki manuskrip versi mereka masing-masing. Pada sisi lain, Alquran telah menjalani masa yang panjang dalam sejarahnya, dimana pembukuannya baru dimulai pada masa Abu Bakar dan baru disatukan pada masa Utsman ibn Affan.

Kekeliruan yang akan ditengarai pada fase kedua, examination phase, dapat diidentifikasi pada beberapa kondisi: (1) adanya kesan tidak masuk akal dalam teks atau adanya banyak pandangan sarjana mengenai teks terkait, (2) teks terkait ditransmisikan dalam beragam bentuk, dan (3) salah satu kata dalam teks dianggap aneh/asing.

Hasil dari emendation baru bisa diterima apabila memenuhi empat persyaratan: (1) lebih memberikan kesan masuk akal daripada teks yang awal, (2) harus sesuai dengan style dan karakter teks Alquran, (3) harus bisa diterima secara paleografis, dan (4) harus memperlihatkan dari sisi mana kekeliruannya dan bagaimana pengoreksiannya. Akan tetapi, di atas semua itu, yang terpenting adalah kriteria dan kesesuaian semantis dalam hasil ketiga proses tersebut.

Menurut Arthur Bellamy, sebenarnya ulama klasik Islam telah pernah melakukan fase-fase textual criticism pada masanya. Hal ini terlihat dari kesadaran sebagian mereka, bahwa ada beberapa titik dalam mushaf Utsmani yang mengalami kekeliruan. Menghadapi permasalahan ini, resepsi sarjana Muslim dapat dibagi tiga: (1) beberapa secara langsung mengoreksinya, (2) sebagian lainnya membiarkan teks apa adanya, namun membacanya sesuai dengan bacaan yang benar, dan (3) membiarkan teks apa adanya dan membacanya apa adanya. Sebagai contoh, ada sebuah ungkapan dalam Alquran yang berbunyi “Inna Hazaini Lasahiran”. Tentu saja ada beberapa contoh lainnya.

Berikut ini akan ditampilkan beberapa contoh textual criticism yang pernah dilakukan oleh para orientalis. J. Barth  berusaha untuk mengoreksi hubungan langsung antar ayat/surat dengan kemungkinan ada kekeliruannya. Ia mendasari karya dengan alasan bahwasanya teks Alquran telah mengalami kesalahan dalam penyusunan, sehingga banyak kata, ayat, maupun surat yang menempati posisi yang tidak semestinya. Sebagai contoh hasil koreksi dia adalah susunan baru terhadap QS. 97: 4-5 menjadi biizni rabbihim hatta mathla’i al-fajr; salamun hiya min kulli amr. Akan tetapi, kajian semacam ini, yang memindahkan satu bagian dari teks dari satu tempat ke tempat yang lainnya yang juga dilakukan oleh Blachere tidak dapat memenuhi syarat keempat dari textual criticism yang dapat diterima. Sarjana lainnya adalah Christoph Luxemburg yang dengan rinci mengkaji setiap satu kata dan menyimpulkan bahwa pada dasarnya Alquran lebih dekat kepada bahasa Syria, bukan Arab.

Contoh sederhana lainnya adalah pada phrase sab’ min al-masani. Terdapat beberapa keanehan dalam phrase ini. Kemudian al-masani diubah menjadi matali (sesuatu yang bisa dibaca). Menurut si pengkaji, ada kesalahan pada huruf lam dan ternyata ia seharusnya adalah nun, karena perbedaan keduanya sangat kecil. Untuk sab’u ditengarai bahwa aslinya adalah syai’. Jadi, hasil akhirnya adalah walaqad ataynaka syai’a min al-matali wa al-Qur’an al-‘azim.

Contoh lainnya yang cukup menarik adalah penggunakan kata ‘Isa dalam Alquran, dimana umat Kristen menyebutnya Yesus. Pertanyaannya adalah, mengapa Alquran menggunakan redaksi Isa, padahal umat Kristiani menyebutnya Yasu’ atau Iso. Dan kata Isa itu sendiri tidak pernah muncul sebelumnya di kitab manapun, dan tidak ada penjelasan detivatif yang memuaskan untuknnya. Hasilnya, para analyst menganggap kata ini sebagai sebuah kesalahan. Untuk menyelesaikan permasalahannya, Bellamy membandingkan kata ini dengan Masiyya (kata messias namun tanpa tanda singular s) dan Masih (tanpa alif lam). Mim diganti dengan ‘ain, ya menjadi ha, dan empat lekukan kecil adalah huruf ya dan sin, jadinya ‘Isa.

Permasalahan yang digarisbawahi oleh mereka adalah mengapa Muhammad menolak penggunaan Yasu’ sebagai salah satu pilihan. Bellamy menyatakan bahwa kata aswa’a, sa’a dan yasu’a berasosiasi kepada dua lendir yang menyemburkan cairan ketika distimulasi secara seksual, jadi Muhammad merasa jengkel jika kata tersebut disematkan sebagai nama seorang rasul.

Abban: makanan hewan/ ternak, rumput-rumputan, Q 80:31 (‘Abasa: 31) dibaca lubban: “biji-bijian”. Abb di sini tidak bermakna tetapi lubb lebih cocok yakni yang bermakna berkah-berkah. Kesalahannya berasal dari terputusnya aliran tinta ketika seorang pencatat menuliskan hubungan antara huruf lam dan ba, sehingga seolah terlihat alif dan ba.

Illā amāniyya: kecuali keinginan. Dibaca amāliyya “perintah”. Q 2:78. wa-minhum ummiyyūna (ketidaktahuan orang-orang yang tidak tahu kitab Injil, melihat ketidaktahuan, ummi, kitab Injil dan al-Qur’an) lā ya’lamūnal-kitāba illā amāniyya wa-in hum illā yadzunnūna, “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga”. Penafsiran tidak puas mengenai amāniyya, dan mencoba untuk mendefinisikan lagi. Tabarī (Tafsīr, i, 297f.) lebih suka mengartikan “bohong, kebohongan” tapi usulan terbaik datang dari al-Zajjājī (d. 311⁄923) yang mengatakan dengan terus terang “Mereka tidak tahu bukunya kecuali dengan hafalan”.

Dari contoh-contoh di atas, terlihat bahwasanya kajian-kajian orientalis di atas menggunakan fakta sejarah bahwasanya pada awalnya huruf hija’iyyah dalam Alquran tidak memiliki titik dan tanda harakat sehingga mungkin dibaca banyak variasi. Lebih lanjut mereka mereka-reka apa yang menurut mereka salah dengan landasan ini. Selain itu, mereka juga memiliki suatu pemikiran bahwa Alquran adalah jiplakan dari kitab sebelumnya, sehingga apa yang tertulis di dalam Alquran pada dasarnya harus dirujuk kepada Injil atau Taurat, terlihat dari contoh Isa.

Iklan

Satu pemikiran pada “Textual Criticism (versi Bahasa Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s