Tangki Air Bersih Buat Pengungsi


termuat di Majalah SARUNG edisi Januari 2011

Sabtu pagi, 7 November 2010, ternyata saya harus berangkat ke Muntilan, ke salah satu titik pengungsian korban meletusnya gunung Merapi. Berawal dari komunikasi ketua CSS MORA UIN Sunan Kalijaga, Abdul Qodir, dan ketua CSS Universitas Gadjah Mada, Atno, hasilnya kita harus segera ke lokasi. Letih yang masih baru terasa, dan lapar yang hanya ditutupi dengan burjo, saya dan 17 teman-teman lainnya berangkat ke sekretariat CSS MORA UGM untuk memulai petualangan sosial ini.

Kita didanai Rp 9.000.000,00 dari CSS MORA Nasional, yang baru sehari sebelumnya ditransfer oleh Ti-Je, Koordinator P3M CSS Nasional dari CSS UNAIR. Setelah sedikit pengarahan dari Atno, sebagian kita berangkat berbelanja keperluan yang akan dibawa ke lokasi. Kita membeli barang-barang yang diperlukan pengungsi di sana. Kita belum tau pasti keperluannya apa. Kabarnya, yang paling penting adalah air bersih. Tapi sangat sulit tentunya kita membawa air dalam jumlah yang banyak ke sana. Apalagi, kalaupun kita bisa membawanya, tentu saja air tersebut hanya akan sekali pakai, dan bagaimana selanjutnya? Jadinya, kita belanja barang-barang lainnya, seperti mie instan, pakaian, makanan, dan susu bayi, alat-alat mandi,masker, pembalut wanita, air mineral, dan sebagainya, lebih kurang Rp 2.700.000,00 kita habiskan. Sementara untuk keperluan air bersih itu sendiri, kita masih belum punya gambaran. Jadinya, saat itu kita berangkat dengan niat survey tempat, memperhatikan apa yang mereka butuhkan, dan merancang sebuah rencana untuk membantu mereka.

Selepas Zuhur, kita berangkat. Lebih kurang 31 orang dengan 16 motor berkonvoi melalui jalan Magelang. Belanjaan yang tadi dibeli, dipacking dengan ukuran beragam dan masing-masing motor membawa satu dus atau ada yang lebih. Kita harus berombongan, karena tidak banyak yang mengetahui titik pengungsian yang dimaksud. Setidaknya 2 kali kita berhenti di jalan untuk mengisi bensin dan mengecek kelengkapan anggota yang ikut.

Awalnya, di Jogja, jalanan terasa normal, seperti biasanya. Hujan abu sangat tipis dan hampir tidak terlihat. Untuk antisipasi, saya menggunakan satu masker. Semakin ke sana, hujan abu perlahan-lahan menebal sedikit demi sedikit. Hingga pada satu titik, hujan abu sontak menebal drastis. Satu masker terasa kurang. Beruntung saya menemui sejumlah relawan yang membagikan masker gratis, dan saya pun mengambilnya. Aji, teman saya di belakang, kemudian memasangkan masker tersebut. Hujan abu memaksa saya untuk mengemudi ekstra hati-hati karena jarak pandang sangat terbatas. Seluruh pemandangan hanya memperlihatkan warna putih kecoklat-coklatan, ditambah tembakan dari lampu-lampu kendaraan yang melintasi jalan Megelang.

Rintangan hujan abu pekat selesai. Ups, jangan senang dulu, karena kita menghadapi rintangan yang berbeda, yang lebih berbahaya lagi. Seluruh badan jalan, sepertinya 6 lajur, tiga kanan dan tiga kiri, tertutup abu yang sudah mengeras. Beberapa orang tampak berusaha mencairkan abunya dan membersihkan jalan. Tapi sangat ironis, jumlah abunya terlalu banyak, dan juga terus bertambah. Awalnya, hanya satu lajur yang kelihatan warna aspalnya. Mungkin karena bagian ini yang selalu dijalani kendaraan, sehingga abunya perlahan-lahan menepi, menipis, dan memperlihatkan warna asli aspal. Dan di lajur ini pulalah semua kendaraan berjalan. Hujan yang turun menjadikan jalanan abu becek dan sangat licin. Medan yang sangat berat, terutama untuk sepeda motor. Apalagi, 1 lajur yang tadinya tidak tertutup abu, semakin lama semakin mengecil dan menghilang. Beberapa kilometer perlajanan, saya hanya bisa melaju 20 km/jam, bahkan kurang. Abu jalanan ini tidak rata. Kendaraan-kendaraan yang melewatinya membentuk garis-garis tertentu di tengah-tengah badan jalan, layaknya jalan setapak di desa-desa. Garis ini kemudian diikuti kendaraan-kendaraan di belakangnya, terutama sepeda motor. Garis ini semakin jelas, semakin dalam dan menambah kesan bergelombangnya jalan. Sepeda motor seolah mendapatkan relnya sendiri, tidak bisa beralih ke rel sebelahnya. Siraman air hujan mempertajam kesan ini. Berpindah ke garis lain berarti oleng, dan berpotensi jatuh.

Perjalanan normal sekitar 45 menit, kita tempuh dua kali lebih lama. Setelah beberapa kali berkoordinasi, akhirnya kita sampai di lokasi, POSKO PENGUNGSIAN SMA MARSUDIRINI DAN SMK SANJAYA. Terdapat lebih kurang 1200 pengungsi, dalam areal yang tidak sampai 2 hektar. Gedung dua sekolah yang menyatu ini hanya mempunyai belasan kelas. Setiap kelasnya ditempati jumlah pengungsi yang beragam, dari 30an hingga 96 orang, bahkan aula ditempati 253 orang. Bayangkan!

Jika sebelumnya ada yang bilang alokasi bantuan dan pengelolaan pengungsian di Jogjakarta dan Magelang timpang, sekarang saya melihat persis bagaimana kondisinya. Jika di Jogjakarta banyak bantuan yang berdatangan, di sini masih minim. Jika di Jogja banyak relawan, di sini sangat sedikit. 1200 pengungsi hanya dilayani 7 orang dewan guru dan karyawan sekolah. Relawan yang membantu baru beberapa orang dari Jasa Marga dan PMI. Saya sangat miris melihatnya.

Panitia pengelola pengungsian di sini menerima kita dengan sangat antusias. Saya merasa sangat senang sekali melihat mereka. Betapa tidak, kita datang membawa bantuan, dan mereka yang didatangi sangat membutuhkan bantuan. Sungguh perasaan yang luar biasa ketika kita merasa sangat berarti buat mereka. Setelah mengkomunikasikan maksud kedatangan, kita diberi ruang kosong, tepatnya di ruang kelas 3. Di sana, kita istirahat sambil membicarakan apa yang akan kita lakukan dengan medan seperti ini.

Bhuuhh…! Saya selalu tidak suka rapat. Semua orang punya ide sendiri, punya gagasan yang berbeda. Mendingan keluar melihat anak-anak yang bermain basket. Sebenarnya sih tidak bola basket, hanya bola plastik yang dilempar berebutan ke ring basket. Lucu!! Anak-anak ini sedikit menghibur saya di tengah mirisnya pemandangan di sini. Saya menemui salah satunya. “Sudah berapa lama di sini, dek?” Dia menjawab, “udah lama mas!”, sambil nyengar-nyengir. Mereka memang belum terlalu dewasa untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Dari beberapa pertanyaan, saya melihat adanya keceriaan yang masih mereka rasakan. “Senang ga dapet teman baru?” “Senang, mas!” lebih kurang demikian. Untung ada anak-anak seperti mereka. Jika tidak, tentu saja barak pengungsian ini akan semakin terasa gersang dan menyedihkan.

Keputusan sudah dibulatkan. Hari ini kita tidak melakukan kegiatan apa-apa. Kita hanya menyetor logistik belanjaan tadi dan menanyakan apa kebutuhan posko pengungsian duo sekolah ini yang bisa kita usahakan. Ternyata memang, air bersih merupakan kebutuhan utama. Saya melihat pihak dapur umum bahkan memasak menggunakan air mineral kemasan. Selain air bersih, beberapa hal seputar sistem dan managerial juga masih belum tertata. Sistem pendataan logistik di gudang, logistik masuk, dan keluar masih kacau. Begitu juga dengan sistem-sistem lainnya. Selain itu, satu yang paling penting lagi adalah relawan. Baru ada beberapa relawan dari PMI dan Jasa Marga dengan jumlah belasan.

Akhirnya kita pulang, lebih kurang pukul 17-an. Saya kembali harus menuntun motor dengan ekstra hati-hati. Gerimis yang dari tadi masih terus turun menambah becek dan licin jalanan. Malam yang mulai merayapi menjadikan Muntilan kota mati. Jalanan becek, kiri-kanan yang terlihat hanya pohon-pohon tumbang, bangunan-bangunan yang rusak, tidak ada listrik dan lampu jalanan. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Sesampainya di sekretariat CSS MORA UGM, beberapa dari kita ngumpul dan kembali mengadakan rapat. Saya adalah salah satu dari mereka. Yach, bagaimana lagi, saya dipercaya untuk ini, rapat terpaksa diikuti. Kami membicarakan rencana jangka pendek dua hari ke depan. Kita langsung menentukan PJ tiap bidangnya. Akhirnya kita siap berkomitmen menjadi RELAWAN.

Minggu,  08 November 2010. Hari ini saya berangkat menggunakan bus, tidak seperti kemarin. Memang sih, ada beberapa teman yang tetap menggunakan motor, karena bagaimanapun juga motor tentu juga sangat dibutuhkan di lapangan nanti. Perjalanan kali ini terbilang lebih ringan dari kemarin. Tidak ada hujan, dan artinya tidak becek, hanya debu menjadi relatif lebih tebal. Tapi tak apalah, yang penting kaca jendela bus ditutup rapat, dan selalu siap sedia dengan masker. Tidak tahu bagaimana nasibnya teman-teman yang menggunakan motor. Mestinya mereka juga menggunakan masker.

Sesampainya di lokasi duo sekolah, kita langsung disambut baik oleh panitia. Bapak Teguh, demikianlah ia yang kami kenal, menyatakan bidang-bidang apa saja yang bisa kita kerjakan. Sebenarnya sih formalitas saja, karena kita sebelumnya telah membagi beberapa kelompok: logistik, pemandu, dan sapu-jagad. Saya termasuk bidang logistik. Saya memberi pengarahan kepada cewek yang dari kemarin mengurusi pendataan income dan outcome logistik, tapi sepertinya pendataannya masih belum baik. Beberapa teman lainnya mensortir barang-barang yang ada di gudang, mulai dari makanan, perlengkapan bayi, perlengkapan wanita, tikar, selimut, dan sebagainya. Teman-teman pemandu mulai mengumpulkan anak-anak kecil di bawah 15 tahun dan mengajak mereka bermain dan bergembira. Beragam permainan yang disuguhkan. Satu bidang lainnya, sapu-jagad, memiliki tugas yang paling berat. Mereka harus membersihkan pekarangan supaya nyaman, menutupi lubang-lubang becek di tanah akibat hujan dan dilewati kendaraan secara terus-menerus, menabang pohon, dan sebagainya.

Tak lama di logistik, saya mendapatkan tugas yang lebih mendasar, pengadaan air bersih. Sebelumnya saya melihat mobil pemadam kebaran dan berfikir, kenapa tidak minta tolong ke pihak pemadam saja. Teman lainnya mengusulkan PDAM. Ok, dua opsi ini kita jalani. Saya dan Dimas sebagai salah satu korlap untuk CSS UIN dan UGM, Atno dan Qodir sebagai Ketua CSS UIN dan UGM siap berangkat mengurus apa saja demi adanya air bersih. Di luar sekolah, kita langsung bertemu mobil pemadam kebakaran. Akan tetapi, sayangnya mereka katanya tidak bisa, karena mereka membawa air kotor. Mereka menyarankan ke PDAM saja. Kami, yang terbiasa dengan prosedur organisasi berfikir untuk pengadaan itu kita membutuhkan surat izin, pengantar, tembusan, dan bla bla bla sebagainya. Akan tetapi, kami salah perhitungan, tidak serumit itu. Ketika kita melihat truk PDAM, kita langsung mendatanginya. “Yang penting ada tangki airnya mas, dan hubungi kami!” kata salah seorang petugas PDAM. Oh,, untung kita sudah punya satu tangki, jadi kami langsung saat itu juga membawa mereka ke lokasi.

Tapi, sepertinya satu tangki ini tidak cukup untuk 1200 orang. Kita harus mencari tangki lainnya. Ya, seperti tadi, kita berfikir prosedural dan harus menghadap ke sini ke situ untuk meminta bantuan pengadaan tangki air di lokasi pengungsian. Tapi, lagi-lagi kita salah perhitungan. Di Dukun, pengungsian yang sebelumnya, ada beberap tangki yang tidak terpakai. Beberapa kali kita nyasar, hingga bertemu salah seorang penduduk dan bertanya. “Oh, lurus aja mas ke sini, ra usah menggok, yo sekitar 6 kiloan!” jawabnya. Waw.., 6 kilo! Kita sebelumnya mendengar posisi duo sekolah ini 9 km dari puncak, dan sekarang harus berjalan 6 km ke arah sana. Berarti nyisa 3 km dari puncak. Deg-degan, khawatir, nerveous, semuanya bercampur, namun kita tetap ke sana. Saya mengendarai motor dengan perlahan mengikuti Atno dan Dimas di depan. Diam, tidak ada suara. Hanya Qodir beberapa kali memperingati saya supaya hati-hati. Dia masih sedikit trauma agaknya, beberapa jam sebelumnya ia baru terjatuh dari motor.

Sesampainya di Dukun, kebetulan kami bertemu salah seorang penanggung jawab pengungsian Dukun ini. Kami minta izin dan sebagainya, hingga diizinkan mengambil tangki air yang tidak terpakai lagi di sini. Satu pemandangan lain labih menarik perhatian saya. Puncak gunung terlihat sengat dekat, terus mengeluarkan kepulan asap, gelap, dan menyatu dengan moncong kawah. Rencananya, kita menelpon salah seorang teman di bawah untuk datang ke sini membawa mobil. Sialnya, tidak ada satu pun nomor mereka yang bisa dihubungi. Ups, hujan turun. Ternyata ini hujan susu. Kepulan abu di langit dibawa turun air tampaknya merubah warna air menjadi coklat susu. Kita teringat lahar dingin. Katanya, setiap hujan lahar dingin akan turun dari gunung. Kita merasa ketakutan, dan daripada perjalanan pulang terganggu lahar dingin, kita memilih turun ke duo sekolah. Di sini, kita membawa beberapa orang teman dengan satu mobil. Hujan tidak jadi turun. Kekhawatiran mereda, dan semuanya berangkat lagi ke atas dan siap membawa tengki air ke sini. Demi 1200 pengungsi. Berselang beberapa lama, kita sampai di duo sekolah dan menurunkan tengki kemudian membersihkannya. Tinggal menunggu truk PDAM datang lagi. Sungguh kebanggaan tersendiri, ketika kita berhasil menyediakan apa yang sangat dibutuhkan oleh orang lain.

Oya, ada yang lupa, ternyata hitung-hitungan kita tadi salah. 9 km dari puncak bukanlah jarak dari posko duo sekolah, melainkan dari posko Dukun itu sendiri. Artinya, 6 km ke arah puncak sebenarnya tidak membawa kita ke jarak 3 km, melainkan ke jarak 9 km. Saya tersenyum tipis mengingat kekhawatiran tadi.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s