Islam Sahabat Perempuan


Banyak feminis yang mengidentifikasi agama, terutama Islam, sebagai salah satu penghambat berkembanganya pemahaman yang egaliter secara gender. Lebih jauh, mereka berpandangan bahwa agama justru melanggengkan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Isu-isu seperti poligami, hak waris, kepemimpinan perempuan, thalak, dan sebagainya menjadi sorotan. Tuduhan kaum feminis ini sepertinya mendapatkan justifikasi dari umat Islam sendiri. Mayoritas menganggap perempuan ya seperti itu adanya dan ditemukan justifikasinya dari teks suci agama.

Benarkah Islam diskriminatif? Benarkah Islam tidak egaliter secara gender? Jawabannya tentu saja ‘sangat’ tidak. Jika dipahami secara lebih mendalam dan menyeluruh, akan ditemukan bahwa Islam adalah penyelamat perempuan. Perempuan harus berbangga dengan adanya Islam, dan perempuan harus bisa menganggap Islam sebagai sahabat yang telah setia memperjuangkannya. Bagaimana Islam menyelamatkan perempuan?

Peradaban pra-Islam sangatlah seksis, diskriminatif, dan tidak adil secara gender. Tidak hanya mendapati posisi sebagai jenis kelamin kedua, lebih ekstrim lagi mereka juga dianggap bukan sebagai manusia, dan juga bukan hewan, melainkan di antara keduanya. Lebih spesifik pada peradaban Arab pra-Islam, melahirkan anak perempuan adalah aib, makanya dikubur. Sementara melahirkan anak laki-laki adalah berkah dan digadang-gadangkan. Dengan datangnya Islam, praktek sosial semacam ini dihapuskan. Perempuan yang diragukan status kemanusiaanya diangkat. Tidak boleh lagi adanya praktek penguburan perempuan. Islam menyelamatkan perempuan.

Bagaimana dengan isu poligami? Ketahuilah, bahwa pada pra-Islam, laki-laki secara bebas boleh menikahi perempuan sejumlah yang ia suka. Menikahi belasan perempuan adalah hal yang lazim. Tentu saja perlakuan yang seimbang diantara istri-istri oleh laki-laki sangat diragukan dengan jumlah yang sedemikian. Tentu saja tekanan sangat dekat dengan perempuan karena kebutuhan mereka tidak bisa dipenuhi suaminya secara merata. Bagaimana Islam menyikapi kasus ini? Tentu saja melawannya secara frontal akan beramasalah. Islam memiliki strategi revolusi yang kontinyu dan berangsur-angsur. Islam pun membatasi jumlah legalitas poligami. Hal ini terbukti ketika ada seseorang yang memiliki 10 istri ingin masuk Islam, dan Rasulullah menyuruh menceraikan istri-istrinya kecuali empat orang. Islam menyelamatkan perempuan.

Begitu juga dengan isu thalaq. Mengapa laki-laki memiliki hak thalaq, dan dibatasi hingga tiga kali? Pada pra-Islam, seorang laki-laki boleh menthalaq istrinya sejumlah yang ia mau. Ketika ia tidak senang kepada salah satu istrinya, ia menthalaqnya. Otomatis, ia tidak menafkahinya baik lahir maupun batin. Menjelang masa iddahnya habis, ia kembali merujuk si perempuan. Tanpa menafkahi, ia kembali menthalaqnya, dan begitu seterusnya. Tentu saja perempuan sangat ditekan dengan hal ini. Untuk menanggulangi kasus ini, Islam membatasi bahwa hanya boleh ada 3 kali thalaq, setelah itu tidak ada lagi rujuk. Lebih dari itu, pada masa iddah pun, laki-laki masih harus menafkahi perempuan. Islam menyelamatkan perempuan.

Bagaimana dengan kasus waris? Bukankah Islam hanya menempatkan status waris perempuan setengah laki-laki? Bukankah ini sebuah ketidakadilan? Pertanyaan balik, benarkah? Secara matematis, memang ada ketimpangan di sana. Tapi, sebelum Islam, perempuan bukan hanya tidak mendapatkan hak waris, justru mendapatkan hak diwariskan. Seorang anak akan menerima waris ‘istri’ dari si bapak jika ia meninggal. Menyikapi ini, Islam justru memberi hak waris untuk perempuan. Mereka tidak boleh lagi diwariskan. Islam menyelamatkan perempuan.

Terlihat jelas, bahwasanya Islam telah memanusiakan perempuan. Islam telah menyelamatkan perempuan. Pemahaman yang sempitlah yang bermuara kepada perlakuan terhadap perempuan dengan tidak adil. Islam telah begitu menghargai perempuan. Oleh sebab itu, jangan paksa pemahaman Anda untuk memperlakukan perempuan secara tidak baik. Karena Islam adalah sahabat perempuan.

Iklan

3 pemikiran pada “Islam Sahabat Perempuan

  1. Benar sekali. Islam adalah sahabat perempuan. Islam sungguh memperlakukan perempuan secara terhormat. Bahkan, surga pun berada di bawah telapak kaki ibu (perempuan). Hmm… senang sekali berkunjung dan membaca-baca di blog ini. Banyak sekali hal yang bermanfaat. Salam kenal dan selamat terus berkarya.

    Suka

  2. Secara pribadi, menurut saya pun sebenarnya tidak ada yang salah dalam Islam terhadap kaum perempuan. Seperti adanya khulu', bahwa perempuan pun berhak membuat keputusan dalam sebuah pernikahan. Hanya saja beragam penafsiran dan orang-orang yang tidak bertanggungjawab menjadikan celah itu sebagai perlindungan nafsunya serta pembenaran atas perilakunya.Terimakasih untuk kunjungannya di ruang saya. (^_^)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s