Diferensiasi Wahyu, Alquran, dan Mushaf Utsmani


Judul Buku     : (1) Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, dan (2) Arah Baru Studi Ulum al-Qur’an

Penulis             : Dr. Aksin Wijaya, SH., M.Ag
Penerbit           : (1) Yogyakarta: Safiria Insania Press ; (2) Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Cetakan          : (1) Cetakan I, 2004; (2) Cetakan 1, 2009

Pembaca akan terkaget-kaget membaca judul yang pertama, terutama yang memiliki sensifitas tinggi terhadap keagungan dan kesucian Alquran. Dengan tegas otentisitas wahyu Tuhan, Alquran, digugat oleh penulis, Dr. Aksin Wijaya. Akan tetapi, jangan terburu-buru. Coba pelajari lebih dalam, apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh penulis. Jika tidak mengerti namun mengkritik dan menolak secara apriori, kritikan tersebut tidak ada nilainya dan si penulis tidak akan menggubrisnya.

Jadi, apakah isi buku tersebut? Sebelum mambahasnya lebih lanjut, perlu digarisbawahi, bahwa kedua buku ini saling berkaitan. Buku kedua secara sederhana mereview beberapa aspek penting pada buku pertama untuk kemudian ditindaklanjuti. Jadi, buku pertama adalah pondasi untuk buku kedua.

Dari kedua buku tersebut, DR. Aksin Wijaya, kembali mengajak pembaca untuk merefleksi ulang pemahaman masyarakat Islam secara umum mengenai kitab suci, Alquran. Pertanyaan yang beliau kemukakan adalah, apakah apa yang kita sebut sebagai Alquran selama ini otentik sebagaimana aslinya, sebagaimana yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad? Pertanyaan ini ia ungkapkan supaya masyarakat muslim kembali meresapi tradisi-tradisi dan keilmuan Islam yang sudah lama berkembang pada satu sisi, dan dikultuskan mayoritas pada sisi lainnya; sisi kedua inilah yang menjadi sasaran kajiannya. Sebagaimana diakui sendiri oleh penulis, ia mengajak pembaca untuk meresapi ini semua kembali supaya tidak terburu-buru mengkultuskan dan mensakralkan ilmu dan apa yang sebenarnya tidak sacral. Lebih lanjut, kalimat demi kalimat dalam setiap sekuen bab kedua buku ini mengindikasikan pandangannya bahwa jangan segan-segan menggunakan pendekatan sekuler dan dari luar untuk membaca Alquran.

Sebagai jawabannya, ia menetapkan suatu teori deferensiasi terhadap kitab suci menjadi wahyu, Alquran, dan Mushaf Utsmani. Deferensiasi ini merupakan hasil dari operasi metode linguistic strukturalis Saussure. Ia menekankan bahwa yang kita lihat, pegang, dan baca selama ini tidaklah identik dengan wahyu. Bentuk kasar dari Alquran yang bisa dipegang, diperjual-belikan, dan dipindah-tempatkan menempati posisi sebagai mushaf Utsmani. Alquran, menurutnya, adalah naturalisasi dari hasil komunikasi Rasulullah dengan Tuhan menjadi bahasa Arab. Apa ditransmisikan dari Rasulullah kepada sahabat secara oral lah dia sebut sebagai Alquran. Sementara wahyu itu sendiri adalah pesan Tuhan yang sesungguhnya, yang Dia sampaikan secara langsung kepada Nabi Muhammad.

Bagaimana konstruksi pemahaman seperti ini? Ia menjelaskan bahwa Tuhan adalah alam supranatural, berbahasa dan berkomunikasi secara supranatural. Kalam Tuhan tidak berhuruf, tidak beri’rab, tidak bersuara, karena ia bersifat supranatural. Sementara Nabi Muhammad adalah manusia yang menempati alam natural, berbahasa Arab, dan berkomunikasi dengan bahasa manusia. Jadi eksistensi Tuhan dan Nabi Muhammad berbeda, dan seusia metode strukturalis yang digunakan, komunikasi dalam model seperti ini tidak akan berhasil. Ibaratnya, orang Jawa dengan bahasa Jawa berkomunikasi dengan orang Sumatra yang berbahasa Sumatera. Bagaimana supaya komunikasi mereka berjalan, harus ada penyesuaian. Mereka harus menyamakan bahasa mereka terlebih dahulu.

Begitulah kira-kira, dan begitu juga yang dilakukan Allah dan Nabi Muhammad, menurut penulis. Bagaimana Allah dan Nabi Muhammad menyamakan eksistensi? Di sini, Aksin Wijaya menggunakan teori Lahut dan Nasut; Lahut adalah alam supranatural, yang merupakan eksistensi Tuhan, dan Nasut adalah alam natural tempatnya manusia, termasuk Nabi Muhammad. Untuk menyamakan eksistensinya, Tuhan harus keluar dari alam Lahut-Nya menujut Nasut, dan Nabi Muhammad sebaliknya. Menurutnya, dengan ini komunikasi antara Tuhan dan Nabi Muhammad berjalan lancar.

Setelah menyamakan eksistensi, komunikasi Tuhan berjalan dengan Nabi Muhammad dengan pesan yang bersifat supranatural. Inilah yang penulis sebut wahyu, dan bagian ini bersifat otentik dan sakral. Selanjutnya, Nabi Muhammad menemukan masalah untuk menyampaikan pesan Tuhan yang bersifat supranatural tadi. Ia butuh menyampaikan pesan tersebut kepada sahabat, sehingga mau tidak mau, Nabi Muhammad melakukan naturalisasi pesan Tuhan dengan menggunakan bahasa Arab. Di sini, terdapat beberapa reduksi, tidak semua pesan Tuhan bisa diakomodasi oleh bahasa manusia, sehingga makna dan kandungan pesan Tuhan terpenjara dalam bahasa Arab. Hasil transmisi naturalis Nabi Muhammad kepada Sahabat secara meluas menyebar kepada masyarakat secara oral. Inilah Alquran. Untuk lebih menekankan, jika pesan Tuhan dalm posisi wahyu dikalkulasikan 100%, maka ketika sudah terpenjara dalam bahasa manusia, tereduksi dan hanya tersisa 50% saja.

Selanjutnya, pesan yang secara oral telah tersebar luas ke masyarakat, bahkan mencapai masyarakat non-Arab sebagai hasil ekspansi Islam, mulai diterima oleh pemilik bahasa non-Arab. Di sisi lain, Alquran oral memiliki keragaman-keragaman qiraah. Dua alas an ini cukup member konflik pada masanya. Sebagai antisipasinya, Utsman b. Affan, sebagai khalifah, menginstrusikan penulisan dan kodifikasi Alquran. Proses penting yang terjadi adalah perpindahan dimensi oralitas Alquran menjadi dimensi tulisan. Menurut Aksin Wijaya, ketika proses ini terjadi, banyak keragaman-keragaman qiraat yang tidak terakomodasi, padahal pada banyak kasus, qiraat itu justru memiliki dan mengandung alternatif makna sendiri. Artinya, kanonisasi ini kembali mereduksi pesan Alquran yang sebelumnya juga telah tereduksi. Inilah yang ia sebut Mushaf Utsmani, dan ia hanya mengandung kira-kira 30% dari pesan Tuhan yang sebenarnya.

Setelah diferensiasi itu semua, ia menyatakan bahwa Mushaf Utsmani, dengan segala reduksi yang ia lalui, tidak lagi otentik sebagaimana “wahyu”, dan kandungannya tidak lagi identik dengan “wahyu”. Artinya, untuk menangkap pesan Tuhan, kita harus mengungkap makna di belakang teks mushaf Utsmani tersebut, bukan makna litaralnya. Pada buku pertama, ia menjelaskan beberapa kasus, dari kepemimpinan perempuan, waris, hingga nikah beda Agama. Dalam waris, contohnya, meskipun teks menyatakan bahwa jatah perempuan ½ laki-laki, akan tetapi, pesan Tuhan yang sebenarnya bukan angka-angka itu. Pesan Tuhan yang sebenanrya adalah pengangkatan derajat kaum perempuan. Pada masa itu, perempuan tidak mendapatkan waris, dan justru menjadi objek atau benda yang diwariskan. Dan Islam, dating mengangakat derajat kaum perempuan, dan strateginya adalah dengan memberinya hak waris.

Jika pada buku pertama teori diferensiasi itu ditindaklanjuti dengan kasus, berbeda dengan buku kedua. Pada buku Arah Baru Studi Ulum al-Qur’an ini, beliau member metode-metode alternative untuk menangkap pesan Tuhan yang sebenarnya, yang ada di belakang teks Mushaf Utsmani. Di sini, ia merekonstruksi teori Makkiyah dan Madaniyyah, Naskh-Mansukh, dan mengajukan metode hermeneutika sebagai mitra Ulum al-Qur’an. Lebih lanjut ia menerangkan beberapa metode hermeneutika yang bisa digunakan, mulai dari Fazlurrahman, Farid Esack, Nashr Hamid, Khalid Abou al-Fadhl, dan sebagainya.

Dari pembahasan demi pembahasan yang ia paparkan, tampak bahwa Aksin Wijaya sangat berani keluar dari mainstream, dan menawarkan model pemahaman baru. Ia membaca literature Tafsir secara kritis. Ia juga menjelaskannya dengan sangat baik. Akan tetapi, di luar sikap kritis yang mendalam itu, teori dan penjelasannya juga mengandung beberapa kelemahan. Paling tidak, saya mencatat empat kelemahan teori yang dibangun dalam dua buku ini.

Pertama, Aksin Wijaya keliru menyatakan bahwa Tuhan dan Nabi Muhammad telah mengalami penyamaan eksistensi dengan penjelasan Lahut dan Nasut-nya. Ia menyatakan bahwa Allah keluar dari alam Lahut menuju alam Nasut, sementara Nabi Muhammad sebaliknya. Artinya, baik Allah maupun Nabi Muhammad saling berpindah eksistensi. Dan ingat, hanya berpidah, bukan menyamakan, karena tetap saja, dengan logika itu, Nabi Muhammad kemudian menempati alat Lahut, sementara Allah di alam Nasut. Jadi, tentu saja eksistensi keduanya tidak jadi sama, dan artinya komunikasinya tetap tidak bisa berjalan.

Kedua, Aksin Wijaya menyatakan bahwa ia menggunakan teori Linguistik Struktural Ferdinand d. Sausurre. Akan tetapi, ia tidak secara total menggunakan teori itu, melainkan hanya pada titik kecil saja. Ia hanya menggunakannya pada penjelasan komunikasi Tuhan dan Nabi Muhammad. Sementara pada sebagian besar bahasan lainnya, ia sama sekali tidak menggunakan metode ini.

Ketiga, ia masih menyisakan satu permasalahan yang sangat fundamental. Mengenai kasus waris, ia menyatakan bahwa pesan Tuhan bukan pada angka-angka dan mekanisme pembagiannya, akan tetapi pada semangat pengangkatan derjat perempuan. Dengan menggunakan logika Aksin Wijaya sendiri, bahwasanya bunyi teks pada Mushaf Utsmani telah mengalami dua kali penyaringan/reduksi, bagaimana bisa Rasulullah melakukan naturalisasi pesan Tuhan yang lebih kurang berbunyi “angkatlah derajat kaum perempuan” menjadi mekanisme dan angka dalam pewarisan. Ketika ia menyatakan ada reduksi dari pesan Tuhan, artinya tidak akan ada perubahan eksistensi dan aksidensi dari pesan itu sendiri. Diibaratkan dalam sebuah game pesan berantai, pesan dari orang pertama kepada orang terakhir yang disampaikan dengan berbisik tidak akan mengubah bentuk pesan secara fundamental. Kemungkinan terbesar hanya kehilangan beberapa kata, susunan yang tidak lagi seperti sedia kala, tapi tidak merubah bentuk pesan itu sendiri. Jadi sangat mustahil jika pesan Tuhan yang sebenarnya, dalam koteks wahyu adalah “angkatlah derajat perempuan” atau “ Islam mengangkat derajat perempuan” setelah mengalami reduksi menjadi “lizzakari mitslu hazhi al-unstayaiyn” (untuk laki-laki seukuran dengan dua perempuan).

Dan keempat, tidak kalah fundamental, tawaran Aksin Wijaya kepada metode hermeneutika mengindikasikan sebuah inkonsistensi. Ketika sebelumnya ia melakukan deferensiasi Wahyu, Alquran, dan Mushaf Utsmani, ia menekankan bahwa makna yang harus digapai adalah makna yang sebenarnya, yang tentu saja berada di posisi wahyu. Akan tetapi, ia justru menawarkan metode hermeneutika yang notabene berkaitan dengan teks. Artinya, bagaimanapun juga, hermeneutika tetap menghadap Mushaf Utsmani, bukan wahyu itu sendiri. Lebih lanjut, Hasan Hanafi, pelopor hermeneutika Alquran, menegaskan bahwa hermeneutika tidak berkaitan dengan hubungan transenden antara manusia, kitab suci, dengan Tuhan, akan tetapi hanya berkaitan dengan teks kitab suci dengan sejarah masanya, dan manusia. Lebih menarik lagi, ketika hermeneutika Nashr Hamid juga dijadikan tawaran metodologis, padahal Nashr Hamid sendiri belakangan merevisi teorinya terdahulu menjadi mirip dengan penekanan Hasan Hanafi di muka. Artinya, tawaran yang disampaikan Aksin Wijaya sebagai tindak lanjut dari diferensiasnya tidak singkron dan support dengan teori deferensiasi itu sendiri.[]

Iklan

3 pemikiran pada “Diferensiasi Wahyu, Alquran, dan Mushaf Utsmani

  1. Saya sangat salut sama penulis buku ini. Otaknya sangat brlian dengan disertai analisis yang tajam, siapa pun yang membacanya akan angkat jempol. Jaman sekarang ini, jaman yang serba maju, otak pun bisa mengkritik tergantung yang punya otak. Bahkan Tuhan pun yang Maha Pencipta tak luput dari kritikan. Memang orang jaman sekarang ini dah keblinger. Kalau penulis mengatakan wahyu Tuhan yang tadinya 100 % setelah diterima Muhammad Saw menjadi 50 %, dari mana tahu? Sumbernya mana kok ngandai-ngandai?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s