Menggagas Jurnalisme Pesantren


Mana Tradisi Menulisnya

Prof. K. Yudian Wahyudi, Phd pernah berkata, “Biar ada santri yang nulis disertasi bahasa Inggris di Harvard gitu lho!” Ungkapan profokatif ini merupakan salah satu dari sederet motivasi beliau untuk pengembangan pesantren. Dari beberapa kesempatan, terlihat jelas bahwa pengasuh English Pesantren Nawesea ini memiliki impian luar biasa untuk menjadikan pesantren sebagai lembaga intelektual terkemuka hingga taraf internasional. Beliau juga menyatakan bahwa salah satu kelemahan terbesar pesantren saat ini adalah kurangnya tradisi tulis-menulis. Kalangan pesantren dari masa ke masa membanggakan tradisi kitab kuning. Brand image pesantren ini bahkan diperlombakan antar santri pesantren untuk menguji pesantren manakah yang terbaik dalam urusan bergengsi ini. Akan tetapi, santri hanya disibukkan untuk membaca. Kitab gundul yang memiliki kesulitan luar biasa dikonsumsi secara intensif oleh santri, sehingga kesulitan demi kesulitan bisa ditanggulangi, dan hasilnya mereka terbiasa dan mampu membaca dengan baik. Lantas, tradisi menulisnya mana?!

Saya yakin setiap santri dan keluarga besar pesantren menyadari bahwa kitab-kitab klasik tersebut merupakan hasil karya ‘santri’ terdahulu yang dengan giat menulis ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari ‘kyai’ mereka.  Akan tetapi, saya tidak begitu yakin jika kebanyakan mereka ‘sempat’ berpikir bahwa santri seabad atau dua abad ke depan akan membaca kitab-kitab magnum opus karya santri generasi ini. Jangankan untuk menulis sebuah karya besar layaknya Imam al-Syafi’i,  al-Ghazali, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan sebagainya, untuk menulis artikel, essay, atau risalah-risalah kecil saja masih sangat minim di kalangan pesantren. Padahal, peradaban saat ini adalah peradaban tulisan. Nama seorang penulis akan terus diingat melewati masa yang panjang dengan tulisan yang bermutu, dibaca dari generasi ke generasi, meskipun jasadnya di liang lahat tidak menyisakan apa-apa lagi! Dan tulisan seorang santri akan terus mengalirkan pahala bagi penulisnya, selama tulisan tersebut terus dibaca, dipahami, dan diresapi santri generasi mendatang!
Jurnalisme Pesantren Jadi Solusi
Jurnalistik, sepertinya sangat layak untuk menjadi alternatif terbaik! M. Abduh dan Rasyid Ridho adalah wartawan. Hasan Hanafi dikenal dunia luas dengan tulisan-tulisannya di berbagai media masa. Untuk Indonesia, Buya Hamka juga seorang jurnalis. Istana Negara mencium talenta Denny Indrayana, staff ahli SBY, melalui tulisan-tulisannya yang sering muncul di Kedaulatan Rakyat. Artinya, jurnalistik dapat memberikan dua manfaat besar bagi pesantren. Pertama, jurnalistik dan dunia tulis-menulis melatih pribadi intelektual yang kompeten, karena karir seorang sarjana ditentukan oleh tulisan-tulisan yang ia produksi. Tentu saja santri bisa ambil bagian dalam bidang ini. Hal ini diamini oleh Dr. Phil Sahiron Syamsuddin, seorang santri yang telah melalangbuana melintasi 3 benua. Direktur Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren (PSPP) sekaligus Editor in Chief International Journal of Pesantren ini menegaskan bahwa supaya ada tokoh pesantren (santri) yang kompeten di bidangnya dan dirujuk oleh para pelajar sedunia layaknya Ibn Hajar, al-Ghazali, dan sebagainya ia harus terus berlatih dan berlatih, membaca dan menulis. Kedua, jurnalistik bisa mengangkat popularitas pesantren ke dunia luas. Popularitas adalah hal yang sangat penting bagi pesantren. Pesantren harus tetap menjalani perannya sebagai lembaga pendidikan Islam khas di Indonesia, dan pesantren harus bersaing dalam popularitas dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Tentu saja jurnalistik yang intensif akan menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kiprah pesantren ke dunia luas.
Sepertinya, pesantren tidak perlu berpikir lebih panjang untuk bertindak dan menyeret dunia jurnalistik masuk ke dalam pesantren. Lebih lanjut, pesantren semestinya harus mampu menciptakan satu aliran jurnalistik tersendiri, sebutlah jurnalisme pesantren. Jika sebelumnya ada jurnalisme  publik, jurnalisme hitam, jurnalisme rakyat, dan sebagainya, sekarang waktunya satu aliran baru bernama jurnalisme pesantren.
Bagaimana suatu kegiatan jurnalistik bisa dianggap sebagai aliran jurnalistik tersendiri? Tentu saja santri dan keluarga pesantren lainnya harus terlibat proaktif dalam kegiatan jurnalistik secara massal dan konsisten. Ketika kegiatan jurnalistik di Indonesia telah diwarnai oleh santri-santri dan pesantren-pesantren dan memperlihatkan ciri khasnya sendiri, maka sudah bisa dipertimbangkan sebagai aliran jurnalistik tersendiri. Di samping itu, ideologi juga hal yang penting. Sebuah aliran jurnalistik (jurnalisme) memiliki ideologinya tertentu yang senantiasa dijunjung, baik dalam pemberitaan, sudut pandang, dan sebagainya. Artinya, para jurnalis pesantren harus memiliki suatu core tertentu yang disepakati bersama dan dipatuhi untuk kepentingan pesantren itu sendiri.
Dengan jurnalisme pesantren, jurnalis akan membaca realitas berdasarkan sudut pandang kepesantrenannya. Penempatan sudut pandang yang jelas menjadi sangat penting untuk era ini. Pertempuran antar media dengan ideologi masing-masing semakin jelas. Mereka saling berlomba memperjuangkan kepentingan masing-masing dan menciptakan pencitraan yang diinginkan. Jika pesantren tidak menentukan sikap jurnalistiknya sendiri, pesantren hanya akan terombang-ambing membaca pemberitaan yang sarat kepentingan medianya. Lebih buruk, pesantren bisa terjerumus kepada ketidakseragaman pandangan terhadap suatu realitas yang diberitakan dan berujung kepada retaknya persatuan.
Atmosfirnya akan berbeda jika pesantren terlibat aktif. Jika pesantren membaca realitas berdasarkan sudut pandang dan ideologi jurnalismenya sendiri, pesantren bisa membendung pengaruh dari pertempuran ideologi antar media yang ada. Pesantren bisa bersikap netral tanpa mengikuti media tertentu. Pesantren bisa mengeluarkan dirinya dari kepentingan media luar, justru bisa memperjuangkan kepentingannya sendiri. Ending point-nya adalah perkumpulan pesantren Indonesia harus memiliki harian sendiri, stasiun televisi sendiri, sehingga pesantren bisa membaca realitas dengan caranya sendiri, dan tidak harus terombang-ambing dengan pemberitaan jurnalisme lain.
Selain itu, dengan jurnalisme pesantren, pesantren bisa melakukan sosialisasi budaya pesantren dengan tepat. Sosialisasi pesantren seharusnya diambil alih oleh pesantren itu sendiri. Dengan itu, informasi-informasi yang disebarluaskan kepada khalayak bisa terjamin dan terhindar dari distorsi. Ketika pesantren justru disosialisasikan oleh pihak luar, yang bersifat komersil apalagi, semacam sinetron, yang ada hanyalah distorsi nilai-nilai pesantren. Ujungnya tentu saja kerugian untuk pesantren itu sendiri.
Tidak kalah penting, jurnalisme pesantren bisa menjadi sarana dakwah Islam yang tepat. Tidak dipungkiri, bahwa Islam Indonesia adalah Islam pesantren. Hidupnya Islam di Indonesia berakar dari pesantren. Oleh sebab itu, keluarga pesantren tentu saja lebih memahami bagaimana nilai keislaman yang mengindonesia atau Islam keindonesiaan. Konsekuensinya, Keluarga pesantrenlah yang paling tepat untuk mendakwahkan Islam kepada khalayak. Dan jurnalisme pesantren, bisa menjadi media yang sangat efektif.
Mulai dari Santri
Untuk mewujudkan eksistensi jurnalisme pesantren, usaha yang konsisten dan terus-menerus adalah suatu kemestian. Keluarga pesantren harus mengagendakan beberapa hal demi memulai langkah ini. Pertama, pesantren harus memperkenalkan dunia jurnalistik kepada santrinya. Pesantren harus mengadakan pelatihan atau workshop seputar jurnalistik. Selain itu, pesantren juga semestinya memiliki kelas menulis sebagai kegiatan ekstra. Santri dibiasakan untuk menulis, mulai dari hal yang paling kecil hingga yang paling besar yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Pada tingkat lanjutan, santri diperkenalkan dengan berbagai jenis tulisan dengan ciri khasnya masing-masing seperti berita, esai, opini, dan sebagainya.
Keterbiasaan santri untuk menulis perlu diakomodasi supaya mereka merasa kegiatan mereka ada hasilnya dan semangat mereka tidak pudar. Mulailah dengan majalah dinding (mading). Mading sepertinya bukan hal yang asing lagi bagi banyak pesantren. Akan tetapi, perlu ada peningkatan. Lanjutkan dengan media bulletin yang diterbitkan secara berkala. Bulletin bisa lebih merangsang kepekaan dan daya kritis santri untuk membaca dan menulis fenomena yang ia lalui.
Tentu saja daya kritis adalah unsur yang sangat penting dalam membangun sebuah media bulletin. Oleh sebab itu, pesantren harus bijak dan tepat untuk terus memacu daya kritis santri dan menghindari kebijakan-kebijakan yang menghambatnya. Tidak dipungkiri, suatu saat daya kritis santri dimungkinkan akan memancing kontroversi dalam tubuh pesantren. Suatu saat mereka mungkin saja membuat polling ustaz favorit, memberitakan guru yang ditegur pengasuh, mengkritisi salah satu peraturan, dan sebagainya. Di sini, dituntut kebijaksanaan pesantren dalam menyikapinya. Karena, sekali salah kaprah, daya kritis santri terancam pudar, bulletin mereka terbengkalai, lebih buruk lagi, cita-cita menuju jurnalisme pesantren menjadi kosong.
Jika sudah memiliki media internal yang baik dan konsisten, perlu kiranya dikembangkan dengan media eksternal. Bekal dan skill santri yang sudah terlatih dengan kegiatan jurnalistik mereka dari dan untuk pesantren bisa dikembangkan dengan kegiatan jurnalistik dari pesantren untuk masyarakat. Pesantren bisa memproduksi bulletin dengan kuantitas halaman dan eksemplar yang lebih banyak. Sedikit merenovasi karakter dan ciri khas pemberitaan, dan mulai merambah masyarakat sekitar. Paling tidak, masyarakat desa sekitar pesantren, sebagai langkah awal tentu saja. Bayangkan jika semua pesantren di Indonesia telah mencanangkan ini, tentu saja semua desa yang memiliki pesantren telah diwarnai dengan kegiatan jurnalistik pesantren. Dengan ciri khas dan gayanya sendiri, kegiatan jurnalistik pesantren telah melahirkan sebuah aliran dengan ideologi baru, jurnalisme pesantren.
Aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah perpustakaan. Menurut Dr. Phil Sahiron Syamsuddin, MA, minimnya fasilitas perpustakaan adalah kelemahan paling fatal pesantren saat ini. Peran pemerintah menjadi sangat penting dalam hal ini, karena tidak semua pesantren mempunyai cukup donasi demi pengadaan perpustakaan yang representatif. Bagaimana perpustakaan memegang peran penting? Ya, menulis tidak akan maksimal tanpa membaca. Seorang jurnalis memerlukan wawasan yang luas untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas. Di samping itu, intensitas membaca akan terus menerus meng-upgrade kemampuan dan pola pikir sang jurnalis. Jika santri-jurnalis memiliki intensitas membaca yang tinggi, setiap saat kemampuan menulisnya akan semakin berkembang. Perkembangan kemampuan ini adalah modal yang penting dalam perkembangan jurnalisme pesantren.
Demikian pentingnya kegiatan tulis-menulis untuk zaman ini. Dengan jurnalistik, apalagi ketika sudah eksis dan menjadi aliran jurnalisme pesantren, santri dan pesantren mendapatkan keuntungan lebih dari sekedar tradisi menulis. Lebih dari itu, pesantren bisa menemukan polanya dalam menyikapi realitas yang semakin rumit.[]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s