Bahasa Agama


Bahasa agama banyakmenggunakan ungkapan simbolik dan metaforis. Maka, jika hanya difahami secaralitaral saja, maka kesalahpahaman dalam menangkap pesan dasarnya akan mudahterjadi. Komaruddin Hidayat dalam tulisannya “Memahami Bahasa Agama: SebuahKajian Hermeneutik” memberikan tiga cakupan dari objek kajian bahasa agamatersebut. Pertama, bahasa agama sebagai ungkapan yang digunakan untukmenjelaskan objek pemikiran yang bersifat metafisis, terutama tentang Tuhan.Yang menjadi permasalahan adalah mengenai kapabilitas pikiran manusia yangterikat pengalaman empiris-historis mengenali Tuhan yang tranhistoris danimmateri. Kedua, kitab suci (al-Quran) yang pada hakikatnya merupakanbahasa Tuhan yang metafisis dan terwujud menjadi bahasa manusia sebagai makhlukhistoris yang terikat kebudayaan. Dan ketiga, bahasa ritual. Dalamkonteks ini, bahasa tidak hanya sebatas percakapan semata, melainkan melibatkan geture dan ekspresi tubuh.

Merumuskan definisibahasa agama bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, digunakanlah dua pendekatanyang menonjol dalam kajian ini, theo-oriented dan antro-oriented. Padapendekatan pertama, bahasa agama adalah kalam Tuhan yang terabadikan dalamkitab suci, sehingga pengertian paling mendasar dari bahasa agama denganpendekatan ini adalah bahasa kitab suci. Melalui antro-oriented, bahasaagama merupakan perilaku keagamaan dari seorang penganut agama. Pada pendekatanini, lebih dipentingkan wujud wacana beragama atau wujud hidupnya agama dalammasyarakat sosial. Theo-oriented pada akhirnya juga mengarah kepadawacana keagamaan dengan penafsiran-penafsiran kitab suci yang lahir berikutnya,sehingga tampaklah batas yang samar antara kedua pendekatan tersebut. Sebagaijalan tengah, dibuatlah beberapa karakter dari bahasa agama: pertama, objekbahasa agama adalah metafisis, kedua, sebagai implikasinya materi pokoknarasi keagamaan adalah kitab suci, dan ketiga, bahasa agama mencakupekspresi keagamaan pemeluknya baik indivudual maupun sosial.

Akan tetapi, padadasarnya bahasa agama merupakan bahasa manusia secara historis-antropologis,dan bahasa Tuhan yang transhistoris, secara teologis. Pemahaman ini berangkatdari keyakinan bahwa Tuhan merupakan objek yang abstrak, yang sama sekalikeluar dari kemampuan pikiran manusia. Namun, untuk menggambarkan ketuhanan,atau menafsirkan bahasa kitab suci yang mengungkapkan ketuhanan, tidak dapattidak menggunkakan ungkapan yang familiar dengan indra manusia.

Secara sederhana,terdapat dua kategori bahasa agama: preskriptif dan deskriptif. Padakategori preskriptif, bahasa agama berwujud sebagai ungkapan persuasifyang tertuang dalam bentuk teks yang berisikan perintah dan larangan.Namun, sebagai petunjuk, sebuah kitab suci juga menungkapkan sesuatu dengankarakter deskriptif yang lebih bersifat demokratis dengan melibatkanmanusia sebagai makhluk historis untuk mendiskusikan persoalan. Hal ini karenasuatu petunjuk tersebut tidaklah mesti dengan perintah dan larangan semata.Oleh karenanya, pesan Tuhan dalam kitab suci kerap kali dituangkan dalam bentukdeskriptif dan meteforis, simbolik, dan ikonik. Bahasa yang metaforismemiliki potensi untuk pemahaman baru yang menjadikan kitab suci akanselalu eksis dalam setiap kondisi dan waktu. Namun, negatifnya juga dapatmenimbulkan spekulasi dan relativisme pemahaman. Namun, gaya bahasa—apakahmetaforis, simbolis, maupun ikonik—bukanlah aspek fundamental dalam kitab suci(al-Quran). Aspek yang palin penting padanya adalah ketegasan dan kejelasanmaknanya, dan bunga-bunga pengungkapan tersebut hanyalah sebagian aspek saja.

Bahasa agamamendapatkan tantangan dari corak bahasa iptek. Bahasa iptek lebih bersifatdeskriptif dan demokratis dan akibatnya dapat dirasaka secara langsung. Ia selalumenuntut presisi dan siap diuji kebenaran teorinya. Berbeda dengan agama yangmasih berupa janji yang pemenuhannya setelah kematian. Dengan demikian, secaraempiris proposisi dan teori ilmu pengetahuan lebih mudah diterima. pertumbuhan ilmupengetahuan selalu mengasumsikan sikap rasional dan pendekatan empirikal.Tetapi akan mengakibatkan kekeringan pandangan hidup keagamaan karenapengalaman keberagamaan yang terdalam, yaitu pengelaman kehadiran Tuhan padadiri seseorang terwadahi dalam bahasa mistis yang di dalamnya penuh misteri danmetafor.

Bahasa primer sebuahagama adalah bahasa lisan. Dibuktikan dengan penurunan wahyu kepada NabiMuhammad dan juga nabi-nabi sebelumnya adalah dalam bentuk lisan, bukan tulisan,sehingga pesan agama tersebut lebih terasa dan melekat di hati para rasul danjuga pengikutnya. Para linguistik ternama secara tidak langsung juga mendukunghal ini. Mereka menyatakan bahwa ujuaran atau pembicaraan lebih primer daritulisan. Bahasa lisan memiliki kelebihan tersendiri. Pada suatu bahasakomunikasi (oral), terkumpullah beberapa aspek seperti psikologis, tempat,suasana, gaya, emosi, dan sebagainya. Ia memiliki kekuatan emosional untukmemlihara solidaritas antar sesama dan memelihara atmosfir keberagamaan yanghangat. Makanya, salah satu ciri bahasa agama terletak pada retorikanya yangmudah membangkitkan emosi.

Al-Quran mempunyaiakuransi pembacaan dan penghafalan dan kuatnya mata rantai transmisi darigenerasi Rasulullah hingga generasi selanjutnya, yang hal ini tidak dimilikioleh kitab lainnya. Sebagai implikasinya, penekanannya akan lebih kuat padahati dan kesadaran moral. Namun pada perjalanannya, akhirnya ia menjelmamenjadi bahasa tulisan.

Bahasa lisan lebih efektif daripada bahasa tulisan,karena dengan bahasa tulisan aspek-aspek psikologis, tempat, suasana, gaya,emosi dan sebagainya tersebut lenyap. Hal ini juga akan mengakibatkan mudahnyaterjadi penyelewengan maknanya dari makna aslinya. Implikasi konseptual lainnyaadalah sebuah kitab suci dipandang sebagai sebuha bentuk fisikal dan visualyang tidak berbeda dengan buku-buku lainnya yang dicetak dan disusun di rakbuku. Keberadaan dan kesuciannya tergantung kepada manusia yang meresponnya. Disamping itu, juga terjadi pergeseran relasi antara pembaca dan kitab suci. Padaawalnya, kitab suci diwahyukan kepada Nabi yang mana beliau adalah objek danTuhan sebagai objeknya. Namun berikutnya, di saat kitab suci telah menjadibahasa tulisan/teks, ia berubah menjadi objek dan manusia yang meresponnyamenjadi subjek. Hal inilah yang menjadikan kedudukan kitab suci tergantungkepada manusia yang meresponnya. Berarti, suatu kitab suci dianggap berhargadan memiliki nilai yang sangat tinggi bagi suatu umat, namun bagi umat lainmungkin saja itu hanyalah kumpulan dongeng belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s