Iman pada Rasulullah Mesti Tanpa Bertemu


Takdipungkiri lagi, iman memang hal yang begitu determinan dalam Islam. Jika ranahperpolitikan suatu negara memiliki trias poelitica yang menentukan arahberlangsungnya kehidupan suatu negara, Islam juga mempunyai trilogi yangmendasari status keislaman seseorang; Ihsan, Iman, dan Islam. Keterkaitanketiga unsur ini satu sama lainnya menjadikan seorang mukmin, menjadi hambayang sempurna di sisi Allah.
Salahsatu komponen iman dalam Islam adalah mengimani nabi dan rasul. Tentunya,Rasulullah saw merupakan figur penting dalam poin ini. Seorang muslim wajibmengimani beliau. Harus diyakini dengan benar, bahwa Muhammad saw adalah rasuldan nabi Allah yang tidak pernah sekalipun berbuat syirik kepada Allah. Beliauadalah penutup para nabi dan rasul—tidak ada nubuwwah lagi setelahbeliau. Rasulullah juga imam para muttaqin. Beliau merupakan sosok yangmenjadi teladan dalam segala aktifitas menuju ketaqwaan. Habibullah adalahgelarnya. Beliau diimani dengan segal mu’jizat yang dikaruniakan Allahkepadanya.[1]

Imankepada Rasulullah saw sudah lahir semenjak zaman kerasulan beliau. Bahkan,sebelum menjadi Rasul, beliau sudah menjadi orang  yang dipercaya dengan gelar al-Amin. Prestasibesar sudah beliau capai pada usia yang relatif muda berupa mencegah terjadinyaperang lantaran perebutan kehormatan untuk memindahkan Hajar al-Aswad ketempat semula setelah renovasi ka’bah. Memang Nabi Muhammad saw, figur yangdisegani oleh semua kalangan.

Terbuktinyata dengan banyaknya sahabat yang setia kepada Beliau. Abu Bakar, teman dekatBeliau, yang selalu mendampingi dalam setiap da’wah. Umar bin al-Khattab yangmenjadikan Islam cukup disegani dengan power yang dia miliki. Hamzah, yangsyahid di peperangan Uhud. Khadijah, istri tercinta yang memberi dukungan penuhriil maupun materil. Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zaid bi Tsabit,Bilal bin Rabbah, Anas bin Malik, Abdullah bin Mas’ud, para tentara yang ikutbersama Beliau perang fi sabilillah, dan sangat banyak sekali yang tidakbisa disebutkan satu per satu.

Keimanandan kecintaan kepada beliau tidak putus meskipun setelah dijemput oleh Allahmenuju haribaan-Nya. Para Tabi’in, Tabi’ tabi’in, dan seluruh generasiberikutnya tetap mengagungkan nama Beliau. Bahkan, hingga sekarang pun, hal itumasih terjaga dengan baik. Beliau diimani orang yang bertemu maupun yang samasekali tidak pernah menjumpai Beliau.

Satuhal yang sangat menarik pada titik ini, Rasulullah saw tetap diimani meskipunoleh orang-orang yang sama sekali tidak menjumpai beliau, dan tidak mengetahuiapa-apa kecuali hanya sebatas nama dan gambaran-gambaran lain yang dijelaskanliteratur-literatur Islam. Jika para sahabat begitu menghormati dan mencintaiRasulullah saw, hal yang sangat wajar. Namun, mereka yang tidak sekalipunbertemu Rasulullah, mengimani beliau sebagaimana para sahabat, merupakan halyang sangat luar biasa. Hal ini lah yang akan menjadi kajian tulisan ini secarakhusus melalui perspektif sunnah.

 Hakikat Iman

Secaraetimologis, iman berasal dari kata آمن – يؤمن – ايمانا yang berarti tashdiq dan tahzib. Kesepakatanpara ahli lughah, iman berarti tashdiq, pembenaran. Hal iniberkenaan dengan firman Allah:

قَالَتِ الأَعْرَابُ آمَنَّاقُلْ لَمْ تُؤْمِنُوْا وَلَكِنْ قُوْلُوْا أَسْلَمْنَا (الحجرات 14)

Artinya    : Orang-orang Arab Badui berkata, “Kamitelah beriman.” Katakanlah, “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kamu telahtunduk (islam),…

Pada poin ini, pentinglahuntuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan antara mukmin dan muslim. Islamadalah menunjukkan kepatuhan terhadap ajaran yang disampaikan Rasulullah saw.Apabila kepatuhan dalam memperlihatkan kepatuhan tersebut dibarengi denganpembenaran dalam hati, maka saat itu lah ia disebut iman. Seseorang dikatakanmukmin dengan sebenarnya apabila ia mengimani Allah dan Rasul-Nya tanpa sedikitkeraguan dalam hatinya.[2]Pernyataan ini berdasarkan firman Allah swt pada ayat berikutnya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَالَّذِينَ آَمَنُوْا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْابِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ(الحجرات 15)

Artinya : Sesungguhnya orang mukmin yang sebenarnyaadalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidakragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Merekaitu lah orang yang benar.

Dariayat ini, dapat dilihat bahwa iman yang sesungguhnya adalah iman yang konsistendan tidak bercampur keraguan sedikitpun. Tak sebatas itu, ia menuntut adanyaaplikasi perbuatan dengan sarana fisik manusia.[3]

Jikaditarik kepada pembahasan beriman kepada para Rasul Allah, berarti mengimanibahwa mereka memang utusan Allah. Mereka membawa syariat untuk kaumnya dan memberikabar gembira bagi yang benar dan ancaman bagi yang salah. Mereka itu sangatbanyak sekali, diantaranya yang diberitakan oleh Allah maupun yang tidak.Mereka adalah hamba Allah yang mulia. Namun begitu, mereka tetaplah manusiabiasa. Tidak memberikan bekas berupa manfaat dan mudharat, karena semua ituberasal dari Allah. Selain itu, seorang mukmin mestilah melaksanakan ajaranyang beliau sampaikan. Karena iman yang sejati menuntut amalan dan pembenaran. Muslimdituntut mengimani mereka semuanya. Siapa yang mengingkari satu saja, berartiia telah mengingkari semua rasul. Banyak redaksi Al-Qur’an yang menjelaskan halini, seperti la nufarriqu baina ahadin min rusulih atau minhum dalamredaksi lainnya.[4]

Danapabila diteruskan kepada ranah yang lebih sempit lagi—beriman kepada NabiMuhammad saw—paling tidak meliputi beberapa aspek. Pertama, mengimanibahwa Muhammad saw adalah hamba sekaligus utusan Allah swt. ia adalah penutupsekaligus penghulu para nabi, yang mengajarkan syari’at Islam. Ia orang yangbegitu amanah bahkan semenjak usia yang begitu dini, dan berjuang sekuat tenagadi jalan Allah. Kedua, mengimani segala sesuatu yang disampaikannya,dalam artian syari’at Islam yang dibawanya. Lebih dari itu, juga meneladanisegala tindak-tanduk beliau dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, menjadikanRasulullah saw orang yang lebih dicintai daripada orang tua dan anak sekalipun.Rasa cinta ini dibuktikan dengan mengikuti sunnah beliau. Dan keempat, menerimaajaran yang kita terima dari beliau.[5]

 Figur Rasulullah

Rasulullah Muhammad saw lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal 570 M di kota Mekkah—bagian selatan Jazirah Arabia. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim. Beliau telah menjadi anak yatim-piatu pada umur enam tahun, dibesarkan dalam kehidupan yang sederhana dan rendah hati oleh kakeknya, namun tak berapa lama kakeknya pun meninggal dunia. Akhirnya beliau dipelihara oleh pamannya yang bernama Ali bin Abi Thalib. Nabi Muhammad tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa yang memiliki postur tubuh yang hampir sempurna. Paras mukanya manis dan  indah. Perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek. Bentuk kepala yang besar, berambut hitam sekali antara keriting dan lurus. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung lebat dan bertaut. Sepasang matanya lebar dan hitam. Di tepi-tepi putih matanya agak kemerah-merahan. Pandangan matanya tajam, dengan bulu-mata yang hitam pekat. Hidungnya halus dan merata dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebar sekali, berleher panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya yang tebal. Bila berjalan badannya agak condong   kedepan, melangkah cepat-cepat dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan, membuat orang patuh kepadanya. Disamping itu, beliau dikenal sebagai pemuda yang baik dan memiliki kehalusan akhlak.Sifat amanahnya telah menjadikannya karyawan kepercayaan Khadijah, seorang janda kaya yang terhormat. Akhirnya, pada usia 25 tahun beliau menikah dengan Khadijah. Status sosial yang tiba-tiba meningkat—yang pada waktu itu harta menjadi tolok ukurnya—tidak mengurangi pergaulannya dengan mereka.  Partisipasinya tetap seperti sediakala, bahkan ia lebih dihormati. Sifatnya yang sangat rendah hati lebih kentara. Bila ada yang mengajaknya bicara ia mendengarkan hati-hati sekali tanpa menoleh kepada orang lain. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bila bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi tetap tidak melupakan humor dan senda-gurau. Namun begitu, yang  dikatakannya  itu  selalu  yang  sebenarnya.Beliau tidak terlarut dalam tertawa sebagaimana juga tidak larut pada marah. Semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada,  berkemauan  baik  dan menghargai  orang  lain.  Begitu bijaksana, murah hati dan mudah bergaul. Tapi  ia  mempunyai  tujuan  pasti,  berkemauan keras,   tegas  dan  tak  pernah  ragu-ragu  dalam  tujuannya. Sifat-sifat   ini   berpadu   dalam   dirinya dan meninggalkan pengaruh yang sangat dalam pada orang-orang yang bergaul dengannya. Rasa hormat akan timbul pada pertemuan pertama, dan bagi yang bergaul dengannya akan timbul rasa cinta.Beliau diangkat menjadi Rasul untuk menyebarkan risalah Allah kepada umat manusia secara kaffah pada umur 40 tahun. Dan selama tiga tahun pertama Nabi Muhammad saw hanya menyebar agama secara sirr, terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Setelah itu, kira-kira tahun 613 M, beliau mulai tampil di depan publik. Ajarannya yang bertentangan dengan keyakinan bangsa Arab pada waktu itu, apalagi dengan ambisi kapitalis mereka, menjadikan penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya. Hambatan pun mulai dihadapi. Beliau mengalami berbagai intimidasi yang keras dari kalangan kafir Quraisy, diusir dari negerinya dan bahkan diperangi. Tidak jauh berbeda dengan da’wah yang disampaikan di Thaif, beliau justru disambut dengan lemparan-lemparan batu yang membuat beliau terluka cukup parah. Dan yang paling menarik, saat malaikat menawarkan untuk menimpakan bukit Thaif kepada mereka, Rasulullah justru memintakan ampunan kepada mereka. Betapa mulia dan sucinya hati beliau.Masih banyak kisah kehidupan Rasulullah dalam berda’wah yang menjelaskan betapa beliau amat mencintai umatnya dan amat merasa sedih dengan kesesatan mereka dalam kehidupan. Beliau amat menginginkan manusia memahami dan meyakini nilai-nilai iman. Untuk itu beliau mengajak manusia dengan penuh hikmah ke dalam Islam.[6]

 Iman Kepada Rasul Meski tidak Bertemu Beliau

Dariuraian ringkas di atas, sedikit bayaknya telah diungkap sepenggal kehidupanRasulullah yang begitu agung. Apabila salah satu unsur iman kepada beliauadalah meyakini bahwa beliau adalah benar-benar rasul Allah dan penutupsekalian rasul, sekarang dapat diusahakan. Jika unsur lainnya menjadikan beliausebagai uswah al-hasanah, juga bisa dimulai. Begitu juga dengan meyakiniajaran yang beliau bawa, Islam, bisa dipedomani dari Al-Qur’an dan sunnah.Namun, bagaimanapun juga, sekarang bukanlah zaman Rasulullah, sekarang bukanlahabad VI, dan akal sehat menjamin tidak satu pun yang bertemu dengan Rasulullahsaw saat ini. Bagaimanapun juga, keimanan kepada beliau adalah hal yang mutlak,apakah dengan bertemu maupun dengan tidak. Berikut ini, sebagaimana contentutama tulisan ini, dikutip hadis Rasulullah saw yang berkenaan dengan keimananseorang mukmin yang tidak bertemu Rasulullah. Setelah diteliti, ternyata, hadistersebut hanya terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hambal, namun dengan beberapavariasi:

o    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا حَسَنٌ قَالَسَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ لَهِيعَةَ قَالَ حَدَّثَنَا دَرَّاجٌ أَبُو السَّمْحِأَنَّ أَبَا الْهَيْثَمِ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنْ رَسُولِاللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنَّ رَجُلاً قَالَ لَهُ يَا رَسُولَاللهِ طُوبَى لِمَنْ رَآكَ وَآمَنَ بِكَ. قَالَ « طُوبَى لِمَنْ رَآنِى وَآمَنَبِى ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى ثُمَّ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِى وَلَمْ يَرَنِى ».قَالَ لَهُ رَجُلٌ وَمَا طُوبَى قَالَ « شَجَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ مَسِيرَةُمِائَةِ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا ».[7]

Artinya:Berkata kepada kami Abdullah, berkata kepadaku bapakku, berkata kepada kamiHasan, ia berkata: saya mendengar Abdullah bin Lahi’ah berkata, berkatakepadaku Darraj Abu al-Samh, sesungguhnya Abu al-Haitsam berkata kepadanya dariSaid al-Khudri dari Rasulullah saw sesungguhnya seseorang berkata kepadanya:Wahai Rasulullah, ‘thuba’ bagi orang yang menjumpai Engkau dan mengimaniEngkau. Rasulullah berkata: ‘thuba’ bagi siapa yang menjumpaiku danmengimaniku, dan kemudian ‘thuba’, dan ‘thuba’, dan ‘thuba’ bagi siapa yangmengimaniku meskipun tidak melihatku. Maka seseorang berkata kepadanya: Lantas,apakah thuba itu? Rasulullah menjawab: sebuah pohon di surga seukuran 100 tahun

o    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُالْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا جَسْرٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- « طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِى وَرَآنِىمَرَّةً وَطُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِى وَلَمْ يَرَنِى سَبْعَ مِرَارٍ »[8]

Artinya: Berkatakepada kami Abdullah, berkata kepadaku bapakku, berkata  kepada kami  Hasyim bin Qasim, ia berkata: berkatakepada kami Jasrun dari Tsabit dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda:beruntunglah bagi orang yang beriman denganku dan melihatku satu kali, danberuntunglah orang yang beriman kepadaku meskipun ia tidak menlihatku tujuhkali.

o    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُعُبَيْدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ – يَعْنِى ابْنَ إِسْحَاقَ – حَدَّثَنِى يَزِيدُبْنُ أَبِى حَبِيبٍ عَنْ مَرْثَدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْيَزَنِىِّ عَنْ أَبِىعَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُهَنِىِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ -صلىالله عليه وسلم- إِذْ طَلَعَ رَاكِبَانِ فَلَمَّا رَآهُمَا قَالَ « كِنْدِيَّانِمَذْحِجِيَّانِ ». حَتَّى أَتَيَاهُ فَإِذَا رِجَالٌ مِنْ مَذْحِجٍ. قَالَ فَدَنَاإِلَيْهِ أَحَدُهُمَا لِيُبَايِعَهُ. قَالَ فَلَمَّا أَخَذَ بِيَدِهِ قَالَ يَارَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ مَنْ رَآكَ فَآمَنَ بِكَ وَصَدَّقَكَ وَاتَّبَعَكَمَاذَا لَهُ قَالَ « طُوبَى لَهُ ». قَالَ فَمَسَحَ عَلَى يَدِهِ فَانْصَرَفَثُمَّ أَقْبَلَ الآخَرُ حَتَّى أَخَذَ بِيَدِهِ لِيُبَايِعَهُ قَالَ يَا رَسُولَاللَّهِ أَرَأَيْتَ مَنْ آمَنَ بِكَ وَصَدَّقَكَ وَاتَّبَعَكَ وَلَمْ يَرَكَ قَالَ« طُوبَى لَهُ ثُمَّ طُوبَى لَهُ ثُمَّ طُوبَى لَهُ ». قَالَ فَمَسَحَ عَلَىيَدِهِ فَانْصَرَفَ.[9]

Artinya:Berkata kepada kami Abdullah, berkata kepadaku bapakku, berkata kepada kamiMuhammad bin Ubaid, berkata kepada kami Muhammad (yaitu Ibnu Ishaq), berkatakepadaku Yazid bin Habib dari Martsad bin Abdillah al-Yazanni, dari AbiAbdirrahman al-Juhanni, ia berkata di saat kami berkumpul bersama Rasulullahsaw: tatkala datang dua orang pejalan dan ia melihatnya, ia berkata:

o    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُدَاوُدَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَيْمَنَ عَنْ أَبِى أُمَامَةَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « طُوبَى لِمَنْ رَآنِى وَآمَنَبِى وَطُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِى وَلَمْ يَرَنِى سَبْعَ مِرَارٍ »[10]

Artinya:Berkata kepada kami Abdullah, berkata kepadaku bapakku, berkata kepada kamiMusa bin Dawud, berkata kepada kami Hammam dari Qatadah dari Aiman dari AbiUmamah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: beruntunglah bagi siapa yangmelihatku dan beriman kepadaku dan beruntunglah bagi siapa yang berrimankepadaku meskipun tidak melihatku tujuh kali.

o    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُهَارُونَ أَنْبَأَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَيْمَنَ عَنْأَبِى أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « طُوبَىلِمَنْ رَآنِى وَآمَنَ بِى وَطُوبَى سَبْعَ مَرَّاتٍ لِمَنْ لَمْ يَرَنِى وَآمَنَبِى ».[11]

Artinya:Berkata kepada kami Abdullah, berkata kepadaku Bapakku, berkata kepada kamiYazid bin Harun, mengabarkan kepada kami Hammam bin Yahya dari Qatadah dariAiman dari Abi Umamah sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: beruntunglah bagisiapa yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntunglah tujuh kali bagiorang yang tidak melihatku dan melihatku.

o    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا عَبْدُالصَّمَدِ وَعَفَّانُ قَالاَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْأَيْمَنَ عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ« طُوبَى لِمَنْ رَآنِى وَطُوبَى سَبْعَ مِرَارٍ لِمَنْ آمَنَ بِى وَلَمْ يَرَنِى ».[12]

Artinya:Berkata kepada kami Abdullah, berkata kepadaku bapakku, berkata kepada kamiAbd al-Shamad dan ‘Affan berkata keduanya, berkata kepada kami Hammam, berkatakepada kami Qatadah dan Aiman dari Abi Umamah sesungguhnya Rasulullah sawbersabda: beruntunglah bagi orang yang melihatku dan beruntunglah tujuh kali bagiorang yang tidak meliahatku dan beriman kepadaku.

Hadisini memberikan penghargaan bagi muslim yang meskipun tidak berjumpa dan melihatRasulullah, namun tetap mengimani beliau. Hal ini, menurut Mauqi’ Ya’sub, karenaposisi Rasulullah bagi mereka sebagai hal yang “ghaib”. Akan tetapi,bukan berarti mencap Rasulullah sebagai makhluk ghaib, hanya saja posisiRasulullah bagi manusia zaman sekarang tidak lagi konkrit, melain telahbergeser, menjadi abstrak. Begitu juga dengan umat muslim pada zaman Rasulullahyang tinggal di daerah yang relatif jauh dengan Rasulullah sehingga merekatidak sempat bertemu muka dengan Rasulullah. Mereka hanya mendapatkan informasisemata mengenai Rasulullah. Berarti, Rasulullah tidak tampil ke hadapan merekasecara kongkrit. Rasulullah menempati posisi yang “ghaib” bagi mereka.Tapi sekali lagi, bukan berarti Rasulullah makhluk ghaib.

Sementarabagi para sahabat, mereka mengimani Rasulullah yang mereka saksikan dengan matakepala mereka sendiri. Mereka melihat langsung bagaimana mu’jizat Rasulullah,kebaikan, dan keagungan akhlak beliau. Sementara tidak demikian dengangenerasi-generasi sesudah mereka. Rasulullah menjadi hal yang “ghaib” dimata mereka. Oleh sebab itulah Allah dan Rasul-Nya menghargai dan memuji imanmereka.[13]

Zahirnya,sepertinya terdapat segi kontradiksi antara hadis ini dengan hadis yangmenyatakan bahwa generasi terbaik adalah generasi Rasulullah, kemudian setelahbeliau, dan kemudian setelahnya lagi. Namun, ternyata kedua hadis ini dapatdikompromikan. Hadis yang menjelaskan generasi terbaik, sebagaimana di atas,memaksudkan kepada jama’ah. Berarti, mereka itu kaum terbaik dalamkonteks kolektif, bukan individu. Hal ini karena kondisi mereka yang saat ituminoritas, mendapatkan ancaman, tantangan, dan siksaan dari kaum mayoritas,yang dalam hal ini kafir Quraisy. Namun begitu, mereka tetap berpegang teguhdengan agama Islam. Sementara yang dimaksudkan hadis-hadis di atas adalah dalamkonteks individu. Jadi seseorang yang beriman dengan Rasulullah dengan tidakmelihat beliau, dipuji dan dihargai keimanannya oleh Allah dan rasul-Nya.Begitulah kira-kira pendapat Ibnu Abdul Barr. Namun begitu, bagi Ibnu Hajar,ukuran kemuliaan generasi tersebut tidak hanya dengan tolok ukur menyaksikanNabi saja, melainkan karena mereka terlibat langsung dalam pengembangan Islam, tasyri’al-ahkam, dan berpartisipasi penuh, serta memiliki kontribusi yang tidakkecil terhadap perkembangan Islam.[14]

Redaksihadis yang menyampaikan “beruntunglah sebanyak tujuh kali” tidaklah memberi maksudbatasan. Ia bukan berarti beruntunglah mereka sebanyak tujuh kali. Namun, yangdimaksudkan di sini adalah ungkapan taksir. Hadis menjelaskan bahwamereka itu benar-benar beruntung jika memang benar-benar mengimani Rasulullahdalam posisi yang ghaib bagi mereka.[15]

 Kesimpulan

Iman merupaka hal yang krusial dalam Islam. Iasalah satu poin kunci. Dalam iman, terdapat berbagai komponen, salah satunyamengimani Rasul Allah. Nabi Muhammad, sebagai Rasulullah, sudah pasti menjadisalah satu objek yang diimani dalam hal ini.

Beliau merupakan manusia agung yang memilikiakhlak yang luar biasa. Semenjak dini beliau sudah menjadi orang kepercayaandan digelari al-Amin. Apalagi setelah menjadi Rasul. Wibawa yang begitubesar menjadikannya dihormati kawan maupun lawan. Beliau merupakan penghulupara Rasul dan imam para muttaqin. Begitu banyak hal yang patut danseharusnya diteladani dari sikap beliau.

Iman kepada Rasul, bagi sahabat adalah hal yangsangat lazim. Mereka menyaksikan bagaimana kehidupan Rasulullah, bagaimanada’wah, akhlak, perawakan, kelembutan, bahkan mu’jizat beliau. Bagi mereka,Rasulullah merupakan sosok yang kongrit. Jadi, sangat wajar mereka begitumenimani dan bahkan mencintai beliau.

Sementara generasi penerus yang dibatasi waktuyang cukup panjang tetap mengimani beliau. Mereka ini diberi penghargaan olehAllah dan Rasul-Nya. Hal ini karena posisi beliau yang ghaib di matamereka. Mereka tidak menyaksikan Rasulullah secara langsung, sementara merekatetap punya iman. Karena itulah Nabi Muhammad saw memberikan apresiasi yangbaik terhadap mereka.

Beruntunglah kita yang beriman kepadaRasulullah meskipun tidak menjumpai beliau!!!


 

[1] Muhammad Na’imYasin, al-Imanu, Arkanuhu, Haqiqatuhu, Nawaqidhuhu terj. Abu Fahmi, (Jakarta:Gema Insani Press, 1990), hlm. 91-95.

[2] Ibnu Manzhur, Lisanal-Arab Juz 13 hlm. 21, CD al-Maktabah al-Syamilah cetakan kedua,Pustaka Ridwana. 2008.

[3] Abdul MajidAz-Zandani dkk, al-Iman terj. Yudian Wahyudi Asmin (Jakarta: PustakaAl-Kautsar, 1997), hlm. 20.

[4] Muhammad binAbdullah bin Shaleh as-Sahim, Al-Islamu; Ushuluhu wa Mabadi’uhu hlm.188-191, CD al-Maktabah al-Syamilah cetakan kedua, Pustaka Ridwana.2008.

[5] Abdul ‘Azizbin Muhammad Ali Abdul Latif, Al-Tauhidu li al-Nasyiati wa al-Mubtadi’inahlm. 63-64, CD al-Maktabah al-Syamilah cetakan kedua, PustakaRidwana. 2008.

[6] www.google.com, diaksestanggal 25 Maret 2009

[7] MusnadAhmad, Juz 25 hlm. 23

[8] MusnadAhmad, Juz 26 hlm. 447

[9] MusnadAhmad, Juz 37 hlm. 342

[10] MusnadAhmad, Juz 48 hlm. 243

[11] MusnadAhmad, Juz 48 hlm. 321

[12] MusnadAhmad, Juz 48 hlm. 387

[13] Mauqi’ Ya’sub,Faidh al-Qadir Juz 4 hlm. 369. CD al-Maktabah al-Syamilah cetakankedua, Pustaka Ridwana. 2008.

[14] Ibid

[15] Al-Mala’ alaal-Qari, Al-Kitab Murqatu al-Mafatih Syahru Musykati al-Mashabih, CD al-Maktabahal-Syamilah cetakan kedua, Pustaka Ridwana. 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s