Ritual Seks Gunung Kemungkus Perspektif Living Qur’an



Beberapa ahli telah berusaha memberikandefinisi terhadap Living Qur’an. Living Qur’an merupakan pewujudanAlquran yang begitu nyata dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pemakaan dari LivingQur’an adalah sebagai teks Alquran yan hidup dalam masyarakat. Sebagai teksAlquran yang hidup, ia merupakan respon masyarakat terhadap teks tertentu danhasil penafsiran tertentu dari Alquran. Living Qur’an tersebut terlihat dengan proses memfungsikan Alquran diluar kondisi teksnya. Respon tersebut terwujudkan dalam kehidupan praksis yangtidak jarang justru bertentangan dari nilai yang digariskan Alquran itusendiri.

Sebagaimana yang disampaikan M. Mansur,fenomena ini bermula dari Quran in everyday life. Objek pembahasannyaadalah praktek-praktek tertentu terhadap teks Alquran dalam kehidupan praksis.Pernyataan tersebut menegaskan bahwasanya Living Qur’an telah terjadisemenjak Alquran itu sendiri ada.

Studi Living Qur’an merupakan studisosial dan keragamannya yang berasal dari pemahaman dan respon manusiaterhadapnya. Studi ini merupakan studi ilmiah murni yang berbeda denganstudi-studi yang dilakukan para ulama klasik yang lebih memusatkan kajianmereka kepada aspek internal dari Alquran.

Manusia sebagai makhluk yang kreatif daninovatif selalu berbeda satu sama lainnya. Perbedaan tersebut meliputi segalahal, mulai dari pola fikir, watak, tingkah laku, dialek, kepribadian,kecenderungan, dan sebagainya. Di saat dihadapkan dengan suatu perkara, merekajuga akan menghasilkan respon yang berbeda-beda, terlebih lagi jika telahterkontaminasi oleh pengaruh sosio-kultural masing-masing yang juga berbeda.Begitu juga dengan Alquran, di saat dihadapkan kepada manusia yang beragam akanmenghasilkan respon, penafsiran, dan pemahaman yang berbeda-beda. Seorang ulamamengibaratkan Alquran sebagai sebuah permata dengan banyak sudut. Ia akanmenghasilkan warna dan pantulan cahaya yang berbeda-beda jika dilihat darisudut yang berbeda. Dari proses dialektis antara manusia dan Alquran inilahlahir fenomena Living Qur’an.

Salah satu contoh adalah “Ritual SeksGunung Kemungkus”. Pada dasarnya, ritual tersebut merupakanpenerapan konsep tabarruk dan tawassul yang sebenarnya masih debatable,dibenarkan dan dibolehkan oleh sebagian ulama, dan dilarang menurut sebagianlain. Konsep tabarruk dan tawassul tersebut berdialog dengankehidupan kapitalis manusia, sehingga terlaksanalah berbagai macam kegiatanber-tawassul dan tabarruk seperti ritual gunung Kemungkus ini.

Beberapa proses yang dijalani saatmelaksanakan ritual ini yaitu: (1) Mengambil air dari dua sumber air yang berbeda. Pertama, di SendangOntrowulan yang nantinya  dibawapulang karena dianggap membawa berkah. Kedua, air di Sendang Taruna yangnantinya akan digunakan untuk bersuci setelah melakukan ritual seks.Masing-masing air tersebut dido’akan terlebih dahulu oleh juru kuncimasing-masing sendang. Doa-doatersebut tidak berbeda dengan doa yang lazimnya dibaca selepas shalat atau padakesempatan lainnya yang sudah pasti sebagian besar merupakan teks Alquran. (2) Berdo’a di makam Raden Samudra. Banyak versi ceritayang dapat kita temui tentang kisah Raden Samudra ini. Iaadalah Putra Majapahit atau Putra Demak dalam mitos lainnya yang jatuh cintakepada ibu tirinya sehingga akhirnya terjadinya hubungan seks antara keduanya. Dan (3) Melakukan ritual seks sebagai syaratterkabulnya keinginan. Ritual ini sepertinya berawal dari kisah perselingkuhanRaden Samudra dengan ibu tirinya, sehingga dalam ritual ini, hubungan seks pun harus dilakukan bukandenganpasangan resmi.

Namun, ada suatu kejanggalan dari ritual ini.Menurut sebagian ulama, Islam dan Alquran membolehkan seorang muslim memintaberkah (tabarruk) kepada seorang kyai, syeikh, atau orang yang dipandangalim dan dekat dengan Allah swt serta terjauh dari perbuatan terlarang. Akantetapi faktanya, pada ritual seks gunung Kemungkus ini justru kepada seorangPangeran Samudra, yang konon memiliki hubungan terlarang dengan ibu tirinya.Dan hal ini jelas melanggar aturan doktrin Islam. Tapi hal ini bukanlah suatupermasalahan dalam kajian ilmu antropologi yang tidak mencari justifikasi benaratau salah suatu fenomena.

Sebagaimana modusnya, ritual seks inidiyakini dapat menjawab beberapa kebutuhan manusia, seperti masalah ekonomi,kenaikan pangkat, jodoh, dan sebagainya. Fenomena ini sangat menarik sekali, ia berhasil menjadi suatu asetberharga bagi pemerintah daerah. Banyaknya masyarakat yang meyakini ritual ini,menjadikan wilayah gunung kemungkus ini terlihat ramai pada malam-malamtertentu. Hal ini dimanfaatkan pemerintah setempat untuk dijadikan daerahpariwisata. Wisata ziarah ini menghasilkan aset sebesar 170 juta  pertahunnya bagi daerah. Di samping itu,masyarakat sekitar juga mendapatkan lahan pekerjaan dengan menyediakan segalafasilitas yang dibutuhkan para peziarah, mulai dari kembang-kembang, penginapandan sebagianya guna memberikan kenyamanan para peziarah. Bahkan mucikari danPSK pun dapat tersenyum karenanya.

Begitulah fakta menarik dalam agama Islamseputar pengamalan Alquran. Meskipun telah digariskan konsep baik buruk danmempunyai sistem nilai evaluatif dan afirmatif, tetap dihadapkan kepadapengamalan yang sangat beragam sejalan dengan beragamnya kondisi sosio-kulturaldan pola fikir masyarakat. Dan tidak jarang pengamalan tersebut teraplikasikansebagai suatu hal yang bertentangan dengan ajarannya sekalipun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s