Feminisme Pragmatis


Belakangan, banyak kaum muda yang terinspirasi gerakan feminisme dari Barat untuk menjalankan gerakan dan perjuangan yang sama. Gerakan tersebut memimpikan adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan menghapuskan kekerasan dan penindasan perempuan yang masih terus ada.

Sebagai bentuk nyata pergerakan ini adalah berjalannya strategi-strategi propagandis yang menyerukan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan terhadap perempuan. Sekolah-sekolah feminisme dijalankan, media yang berideologi feminis dikembangkan, aksi-aksi jalanan juga tidak ketinggalan. Propaganda feminisme telah menyusup ke semua kalangan masyarakat, melalui pendidikan untuk kaum terpelajar, dan media rakyat untuk rakyat secara luas.

Akan tetapi, feminisme semacam apakah yang diinginkan? Perlu disadari bahwa Indonesia memiliki kultur yang jauh berbeda dengan kultur Barat. Latar belakang lahirnya gerakan feminisme Barat juga berbeda denganIndonesia. Oleh sebab itu, tidaklah cerdas untuk mengadopsi model dan aliran feminisme ala Barat secara taken for granted.

Lahirnya gerakan feminisme di Barat berawal dari konflik fisik dan penindasan yang kasat mata terhadap perempuan, semenjak beberapa abad yang lalu. Perkembagannya memperlihatkan bahwa feminisme ala Barat dan Eropa mengingkan kebebasan mutlak untuk perempuan. “Kalau perempuan ingin telanjang di sini pun (dalam forum) bukanlah menjadi masalah sebenarnya, dan itu tidak akan berakhir kepada pemerkosaan. Di Prancis, ada pantai tempat telanjang semua pendatang, namun tidak ada pemerkosaan di sana!” lebih kurang demikian gambarannya.

Akan tetapi, apa yang diindikasikan sebagai penindasan kepada perempuan di Indonesia tidak hanya bersifat fisik dan konflik yang kasat mata. Coba Anda perhatikan beragam prosesi-prosesi kebudayaan yang menyimbolkan kehidupan perempuan Indonesia. Prosesi wijik di Jawa memperlihatkan seorang calon istri membersihkan kaki calon suaminya sebagai bentuk ketundukan dan kesediaan melayani suami kelak. Wijik sebagai salah satu contoh, dianggap perendahan martabat perempuan bagi sebagian orang akan tetapi adalah hal yang fine untuk perempuan Jawa sendiri, karena memang kultur mereka seperti itu. Lantas, apakah kultur ini bermasalah?

Sepertinya tidak dewasa untuk menghukumi suatu prosesi kebudayaan tertentu yang kental dengan simbol kehidupan masyarakat sebagai praktek yang melanggengkan penindasan pada perempuan. Karena, definisi gender itu sendiri berkaitan dengan konstruksi sosial yang bersifat lokal, sehingga tidak layak untuk menghukumi budaya lokal tertentu dengan sudut pandang budaya lainnya.

Untuk itu, bagaimana menjembatani bentrokan antara arus feminisme yang berkembang di Indonesia dengan budaya lokal? Solusinya sepertinya adalah apa yang saya sebut dengan Feminisme Pragmatis. Pada dasarnya, gerakan feminisme menghendaki kebebasan perempuan dari keterkungkungan, menginginkan keaktifan perempuan, kemerdekaan perempuan, dan kesetaraan dengan laki-laki. Oleh sebab itu, perlu ditetapkan tujuan-tujuan tersebut sebagai sebuah cita-cita yang ingin dicapai. Dan cita-cita tersebut harus dicapai tanpa mengganggu dan merusak karakterk kebudayaan Indonesia.

Sebagai contoh, untuk tujuan pendidikan, perempuan harus didorong untuk menjalani pendidikan setinggi mungkin sama halnya dengan laki-laki. Untuk tujuan politik, perempuan harus ikut berperan aktif memegang posisi-posisi strategis dalam pemegang kebijakan. Dan selama prosesi wijik, kepatuhan kepada suami, pengayoman laki-laki kepada perempuan, dan sebagainya tidak membatasi tujuan-tujuan di atas ya monggo dilanjutkan. Dan sebagai kompensasinya, segala usaha-usaha yang tidak merusak budaya juga harus menjadi pilihan. Tidak perlu ada propaganda kebebasan mutlak untuk aborsi, bertelanjang, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan karakter dasar kebudayaan Indonesia. Dengan itu, akan ada dialog yang akomodatif antara feminisme dan budaya lokal Indonesia, dan cita-cita feminisme dapat tercapai tanpa merusak karakter dasar budaya Indonesia.

Iklan

Satu pemikiran pada “Feminisme Pragmatis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s