Sinetron Masuk Pesantren: Positif-Negatif


Pesantren dan Rock n Roll menambah sederet sinetron yang sebelumnya telah menggunakan simbol-simbol kepesantrenan. Berbeda dengan Ketika Cinta Bertasbih, sinetron ini bahkan menggunakan terma ‘pesantren’ sebagai judul dan secara eksklusif memperlihatkan konflik-konflik yang berkaitan erat dengan budaya dan kehidupan internal pesantren dengan segala unsurnya: santri, ustaz, dan kyai. Sementara Ketika Cinta Bertasbih sepertinya menggunakan pesantren hanya sebatas latar/setting terjadinya adegan, sementara esensi dan adegan terkait lebih menyoroti kasus-kasus keluarga tokoh, bukan pesantren itu sendiri. Di samping kedua judul tersebut, masih ada beberapa sinetron lainnya yang berkaitan dengan pesantren atau Islam secara umum. Sebutlah judul-judul Astaghfirullah, Rubiah, Tuhan Ada Dimana-mana, dan sebagainya.

Jika diperhatikan, kecenderungan dunia sinetron saat ini kepada simbol-simbol kepesantrenan merupakan lanjutan dari mata rantai kecenderungan ide utama sinetron di Indonesia. Pada era 1990-an, sinetron-sinetron Indonesia didominasi oleh simbol-simbol mistis seperti Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, Jinny oh Jinny, dan sebagainya. Selanjutnya, nuansa percintaan remaja dengan segala remontismenya, kehidupan hedonisme, dan egoisme mulai merambak. Setelah para penonton mulai bosan dengan hal itu, sinetron yang kental dengan nilai-nilai keislaman menemukan masanya. Mempertimbangakan pesantren merupakan entitias yang sangat penting dalam keberadaan Islam di Indonesia, tak ayal simbol-simbol kepesantrenan tidak luput dari teropong para pemrakarsa sinetron di Indonesia. Banyaknya novel-novel yang booming dalam spektrum ini semakin memberi jalan maraknya eksistensi sinetron kepesantren-pesantrenan, sebutlah sebuah karya terkenal Habiburrahman el-Syirazi yang kemudian diangkat ke dalam layar lebar Ketika Cinta Bertasbih dan dilanjutkan ke dalam beberapa episode sinetron dengan judul yang sama.

Apakah gerangan yang bisa dijadikan alasan untuk fenomena ini? Paling tidak ada beberapa poin yang dapat menjelaskannya. Pertama, sinetron-sinetron tersebut dalam kontennya memperlihatkan nuansa dakwah Islam. Ajaran Islam secara mendasar mengajarkan kebaikan akhlak, ketulusan, kejujuran, dan sikap-sikap mulia lainnya. Nilai-nilai tersebut digandrungi para penonton sebagai antitesis terhadap sinetron-sinetron sebelumnya yang memperlihatkan penindasan kaum kaya dengan egoisme tingkat tinggi, percintaan dan romantisme remaja, dan sebagainya. Sinetron bukannya membentuk moral yang mulia penonton, justru menanamkan nilai-nilai yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu, nilai-nilai dakwah menjadi pilihan yang tepat untuk dikembangkan lebih lanjut.

Alasan kedua berkaitan dengan pasar. Selera baru penonton setia sinetron menjadi sasaran empuk para sutradara sinetron. Sudut pandang ekonomi menarik mereka untuk merancang sinetron yang ditunggu-tunggu oleh penonton dan berakhir dengan kucuran laba yang besar bagi sang sutradara dan teman-temannya. Motif ini semakin menjanjikan menimbang mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Hal yang meyakinkan untuk memutar sinetron bernuansa Islam tentu saja.

Selain itu, fenomena ini dapat dilihat sebagai sisa dari eurofia Ramadhan. Sudah lazim, pada setiap momen-momen tertentu, media elektronik Indonesia bermetamorfosis dan merubah tampilannya sesuai dengan momen terkait. Natal disemarakkan dengan pohon Natal dengan kelip-kelip lampunya, Imlek dengan Barongsai, dan Ramadhan serta Lebaran tentunya dengan pakaian, musik, dan tayangan Islami lainnya. Sinetron juga menjadi salah satu pilihannya. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap Ramadhan selalu bermunculan sinetron-sinetron Ramadhan seperti Hikmah, Doaku Harapanku, Muslimah, dan terakhir Ketika Cinta Bertasbih. Judul terakhir ini menarik banyak perhatian penonton dan dilanjutkan beberapa episode selepas Ramadhan. Sepertinya, atmosfir semarak Ramadhan ini masih tersisa meskipun bulan penuh berkah tersebut telah berlalu. Dan tayangan sinetron kepesantren-pesantrenan juga masih sangat layak untuk ditampilkan.

Maraknya genre baru dunia sinetron Indonesia ini menjadikan diskusi efek dan pengaruhnya sangat menarik untuk dibahas. Jam tayang sinetron yang mendominasi beberapa stasiun televisi favorit di Indonesia yang telah memukau banyak penonton, menjadikan aspek penonton merupakan salah satu poin penilaian. Instansi pesantren khususnya dan Islam umumnya sebagai unsur penting dalam sinetron terkait juga membawanya kepada poin lainnya. Kedua poin inilah yang dijadikan sudut pandang dalam membahas efek dari penayangan sinetron kepesantren-pesantrenan ini.

Interaksi penonton dengan tema-tema dakwah Islam yang membawa kebaikan akhlak, kejujuran, kehidupan yang seimbang antara nuansa diniawi dan ukhrawi, dan sebagainya dengan intens tentu saja memberikan efektifitas yang baik dalam pembentukan moral penonton. Setiap hari mereka diperlihatkan kisah-kisah menggugah yang sarat nasihat. Kemudian, apa yang mereka lihat, langsung ataupun tidak, disadari maupun tidak, akan diinternalisasi ke dalam hati dan pikiran mereka. Lebih lanjut, mereka akan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, Islam menjadi semakin dekat dengan masyarakat. Artinya, poin penonton sekaligus Islam mendapatkan keuntungan dengan adanya sinetron genre ini.

Di samping konten yang ditayangkan, baik berupa nilai maupun narasinya, penonton juga mendapatkan pengetahuan lebih mengenai pesantren, terutama sekali pesantren yang secara langsung dipromosikan. Memang pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia. Akan tetapi, tidak semua masyarakat melihat dan mengetahui bagaimana pesantren dari dalam. Bahkan, tidak jarang juga yang memiliki pemahaman yang salah. Sebagian masyarakat berpandangan bahwa pesantren adalah tempat penggodokan anak-anak yang nakal supaya menjadi baik dan patuh kepada orang tua daripada sebagai tempat pendidikan layaknya sekolah. Artinya, selain sebagai hiburan tentu saja, sinetron telah memberikan pengetahuan lebih kepada penonton mengenai pesantren dan Islam.

Bagaimana jika dilihat dari sudut pandang pesantren dan Islam itu sendiri? Pertanyaan lainnya yang harus diutarakan adalah benarkah sinetron menggambarkan kehidupan pesantren apa adanya atau tidak. Untuk menjawab hal ini, ada baiknya memperlakukan sinetron secara umum keluar dari konteks khusus pesantren. Benarkah sinetron telah menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia secara objektif dan apa adanya? Sepertinya kebenarannya perlu dipertimbangakan. Pada faktanya, sinetron lebih mengutamakan alur-alur yang menggambarkan beberapa kasus atau peristiwa kasuistik yang tidak dapat mewakili kehidupan masyarakat Indonesia. Kasus yang sama beberapa kali diulang dengan plot dan setting yang berbeda dalam judul sinetron yang berbeda. Sebutlah kasus pertukaran nasab anak kepada keluarga yang tidak semestinya, persaingan cinta muda-mudi, krisis kasih sayang dalam keluarga, dan sebagainya. Sebagai bumbu, kasus-kasus tersebut dikemas dengan beberapa komedi. Permasalahan mendasar seperti ekonomi dan moral tak berbeda dengan komedi, hanya sebagai pelengkap. Oleh sebab itu, menilai bahwa sinetron tidak berhasil mewakili kehidupan masyarakat Indonesia tidaklah berlebihan.

Sekarang, coba pola fikir di atas dimasukkan kepada pesantren. Dari segi konten, tema-tema dan kasus yang diperlihatkan oleh sinetron ketika masuk pesantren pun tidak berbeda. Artinya, pesantren juga tidak lebih hanya menempati posisi ‘bumbu’ dalam sajian utama alur cerita dengan kasus-kasus yang diulang-ulang. Pesantren dan Rock n’ Roll menjadi contoh yang paling dekat saat ini. Hanya saja, saat ini setting yang digunakan lebih berbau moral dan agamis. Oleh sebab itu, pesantren hanya dimanfaatkan oleh sinetron untuk menarik penonton lebih banyak. Akibatnya, banyak unsur-unsur ekstra-pesantren yang ditarik ke dalam tubuh pesantren itu sendiri. Pesantren mulai dimasuki dengan kisah cinta muda-mudi, kecengengan perempuan, persaingan gengsi, dan sebagainya.

Sinetron juga berperan sebagai pencipta opini publik. Masyarakat desa yang tidak pernah melihat kehidupan kota pasti akan memiliki opini bahwa kehidupan kota persis sebagaimana yang ditampilkan sinetron. Jika ditarik ke konsep pesantren, masyarakat yang tidak begitu memahami pesantren dan Islam, tentu akan memiliki pandangan mengenai keduanya sebagaimana yang digambarkan oleh sinetron terkait. Artinya, sinetron potensial untuk menciptakan pencitraan yang keliru. Apalagi dengan adanya problem sebagaiman di atas. Masyarakat akan memandang bahwa pesantren dekat dengan isu persaingan cinta muda-mudi, sebagai contoh. Tentu saja mereka tidak banyak yang berpikir, benarkah atau tepatkah yang ditampilkan oleh sinetron. Yang mereka tahu mereka mendapatkan pengetahuan baru mengenai pesantren. Sementara untuk pesantren tentu saja ini adalah masalah. Distrosi yang potensial lahir dari tayangan-tayangan yang dikonsumsi publik akan merugikan pesantren itu sendiri.

Begitu juga dengan pandangan masyarakat mengenai Islam. Penonton tidak mengetahui dan tidak mempermasalahkan kebenaran nilai yang disampaikan oleh sinetron. Yang mereka tahu adalah sinetron ini mengandung unsur dakwah dan harus ditiru. Terkesan baik, memang! Tapi, bagaimana jika nilai-nilai yang didakwahkan tersebut berasal dari pemahaman mengenai Islam yang dangkal. Lebih bermasalah lagi ketika kedangkalan pemahaman tersebut bermuara kepada penyelewengan maksud dan tujuan dari syariat Islam itu sendiri. Tentu saja yang menjadi pertanyaan di sini adalah apakah ada tokoh ekspert mengenai Islam yang dijadikan konsultan. Dan sepertinya perlu dibedakan antara ulama Islam yang ekspert dengan ulama yang komersil. Yang layak sebagai konsultan tentu saja yang pertama. Hanya saja, sekali lagi, adakah? Diragukan tentu saja.

Figur Islami, sebagai contoh, digambarkan dengan pakaian, nada berbicara, dan karakter yang serba baik tanpa cela. Pada beberapa adegan, karakter sempurna tersebut digambarkan pasrah menerima kenyataan dengan ide tawakkal. Kenyataannya, tawakkal tidaklah sesederhana itu. Pada sisi lain, figur antagonis digambarkan dengan kesombongan tingkat tinggi, egoisme, pamrih, dan karakter yang serba buruk. Faktanya kehidupan dan ciri seorang yang Islami juga tidak sesederhana itu. Tidak menutup kemungkinan seorang yang menggunakan atribut-atribut ‘Islami’, berperawakan tenang, berbicara sopan, tidak lebih Islami daripada seorang yang gondrong, bersuara keras, dan kasar.

Contoh lainnya adalah ucapan salam. Banyak adegan sinetron yang menampilkan ucapan salam ketika bertemu dan menjelang berpisah. Ini adalah pilihan yang tepat, karena memang ucapan salah adalah salah satu ajaran Islam. Bermakna keselamatan, bernilai sebuah doa dan usaha untuk memberikan keselamatan dan kenyamanan kepada lawan bicara. Sayangnya, dalam banyak adegan, salam hanya dipahami sebagai ungkapan formal nir makna. Terbukti ketika umpatan dan cacian lah yang justru mengiringinya. Tentu saja ini adalah kesempitan dalam memahami konsep salam itu sendiri.

Kesimpulannya, penonton memang mendapatkan beragam informasi baru mengenai pesantren, bahkan hingga ke dalam. Akan tetapi, mereka tidak akan mempertanyakan kebenaran dan keabsahan informasi terkait. Sementara untuk pesantren sendiri, konsentrasi sinetron terhadap alur dan kisah yang relatif sama dan diulang-ulang memaksa unsur eksra masuk ke dalam pesantren. Sinetron dalam perannya membentuk opini masyarakat akan menanamkan pencitraan yang keliru mengenai pesantren. Tentu saja pesantren dirugikan dalam hal ini. Untuk ajaran Islam, sinetron juga kerap hanya menayangkan ajaran Islam dengan kedangkalannya. Hal ini berpeluang untuk menyebarkan pemahaman yang keliru mengenai Islam.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s