Kata dan Kalimat


Tips ini sebenarnya lebih berkaitan dengan bagaimana membuat kalimat yang benar. Jika Kamu sering membaca buku, koran, majalah, dan sebagainya, Kamu akan menemukan banyak kekeliruan dalam penuliskan kalimat. Padahal, sebuah buku, majalah, koran, dan media-media tulis lainnya mempersyaratkan kemampuan menulis kalimat dengan benar. Tentu saja, kemampuan ini merupakan kemampuan yang sangat dasar yang harus dimiliki seorang penulis. Ironis bukan?
Ya sudah, biarkan mereka seperti itu. Yang penting sekarang, bagaimana Kamu bisa menghindari kesalahan-kesalahan tersebut. Untuk itu, ayo perhatikan tips singkat berikut ini.

Pertama, Kamu harus bisa membedakan antara kata, frasa, klausa, dan kalimat. Akan tetapi, pada posting ini, akan dibahas mengenai kata dan kalimat dulu, supaya penjelasannya tidak terlalu panjang. Saya tidak akan merujuk kepada satu buku bahasa pun untuk menjelaskannya. Penjelasan di buku-buku seperti itu cenderung lebih rumit. Akan tetapi, kali ini saya akan menyampaikannya sesederhana mungkin. Pada beberapa tempat saya akan membandingkannya dengan hal-hal yang familiar. Tentu saja supaya penjelasan saya bisa lebih dipahami oleh semua kalangan pembaca.
Apa itu kata? Ya, kata adalah kata. Setiap yang kita ucapkan adalah kata. Oh, tapi tunggu dulu. Apakah “Zzztst “ sebuah kata. Benar, kita terkadang mengucapkan bunyi seperti itu. Tapi itu bukanlah sebuah kata. Kata adalah setiap sesuatu yang kita ucapkan, namun ia harus memiliki makna. ‘Buku’ adalah kata, dan kita tahu apa maknanya. Kita tahu jika seseorang menyebut ‘buku’ maka bendanya adalah yang seperti ini dan seperti ini. Begitu juga dengan pena, komputer, menulis, membaca, saya, dia, kamu, dan lain-lain.
Kemudian, apa itu kalimat? Kalimat adalah susunan dari beberapa kata, dan lagi, harus memiliki makna. “buku kipas angin mengalir botol saya majalah tidur” merupakan gabungan beberapa kata. Akan tetapi itu tidak bisa disebut sebagai sebuah kalimat, karena tidak ada makna yang dikandungnya. “Saya menulis.” Singkat, hanya terdiri dari dua kata, akan tetapi ia adalah sebuah kalimat. Pertama, karena ia tersusun dari kata-kata, meskipun hanya dua. Kemudian ia memiliki makna. Itulah kalimat.
Bagaimanakah kalimat yang benar? Kalimat yang benar ibaratkan sebuah keluarga. Dalam keluarga yang sempurna, terdapat bapak, ibu, dan anak. Namun begitu, jika hanya ada bapak dan ibu, ia sah disebut keluarga yang sempurna. Akan tetapi, jika hanya ada bapak saja, ibu saja, anak saja, bapak dan anak, atau ibu dan anak, maka ia tidak pantas disebut sebagai keluarga yang sempurna.
Sekarang, sebagaimana keluarga, kalimat juga mempunya struktur. Ada subjek (S), prediket (P), objek (O), keterangan (ket), atau pelengkap lainnya. Anggaplah subjek sebagai bapak, prediket sebagai ibu, dan objek, keterangan, pelengkap dan lain-lain sebagai anak. Maka, S+P+O+K adalah sebuah kalimat, dan S+P+O juga sebuah kalimat, bahkan S+P pun juga merupakan kalimat. Sebagaimana bapak dan ibu, sebuah kalimat harus mempunyai S+P. Kedua unsur ini tidak boleh tidak ada dalam sebuah kalimat. Selain itu, pola S+P ini cukup untuk menguji apakah sebuah kalimat sudah tepat atau tidak.
Perhatikan contoh berikut ini:
Saya menulis.
Nadia membaca tulisan saya.
Pimpinan sidang telah memutuskan bahwa ia dihukum penjara selama 5 tahun.
Ade Namnung, seorang komedian Indonesia yang mengalami obesitas, pada akhirnya meninggal dunia dalam usia yang baru 34 tahun.
Keempat contoh di atas merupakan kalimat, dan mereka adalah kalimat yang benar. Bagaimana menentukannya? Sangat mudah, yaitu hanya dengan mendeteksi subjek dan prediket.
Pada dasarnya subjek adalah siapa, dan prediket adalah apa, bagaimana, atau ngapain si subjek tersebut. Jadi, pada kalimat pertama, subjek adalah ‘saya’. Saya sedang ngapain? Sedang menulis. Maka prediketnya adalah menulis. Jika demikian, Saya menulis adalah kalimat yang sempurna, meskipun hanya dengan 2 kata.
Bagaimana dengan contoh kedua? Kalimat ini sedikit lebih panjang. Akan tetapi, kamu tidak perlu khawatir, sepanjang apapun kalimatnya, hanya perhatikan subjek dan prediketnya saja. Siapa yang dibahas kalimat tersebut? Jawabannya adalah Nadia. Di sedang apa? Jawabannya adalah membaca. Jadi Nadia adalah subjek, dan membaca adalah prediket. Selanjutnya, bagaimana dengan ‘tulisan saya’? Kedua kata tersebut menempati posisi sebagai objek dari kata membaca. Akan tetapi, sekali lagi, cukup perhatikan subjek dan prediket saja, untuk tahap awal ini tentu saja. Jika ada subjek dan prediket, maka ia adalah kalimat yang sempurna. Adapun objek, merupakan perangkat tambahan, yang tergantung pada jenis kata kerjanya, apakah ia butuh pada objek atau tidak.
Begitu juga dengan kalimat yang ketiga dan keempat. Sepanjang apapun kalimatnya, fokuskan perhatian pada subjek dan prediket. Siapa yang dibicarakan pada kalimat ketiga? Jawabannya adalah pimpinan sidang. Ia melakukan apa? Ia telah memutuskan perkara. Maka, pimpinan sidang adalah subjek, dan memutuskan adalah prediket. Sekali lagi, apa yang ia putuskan adalah urusan belakangan. Sementara untuk kalimat keempat, yang dibicarakan adalah Ade Namnung. Dalam kalimat tersebut, Ade diberitakan apa? Ia diberitakan meninggal. Maka, subjeknya adalah Ade Namnung, dan meninggal adalah prediket. Sementara itu, ‘seorang komedian Indonesia yang mengalami obesitas’ hanyalah sifat tambahan bagi si Ade. Ia bukan informasi utama yang disampaikan kalimat tersebut. Oleh sebab itu, jangan perhatikan, perhatikan saja apa informasi utama yang disampaikannya, yaitu bahwasanya ia meninggal dunia.
Jadi, sederhananya, sepanjang apapun kalimat yang dibuat, perhatikan subjek dan prediketnya
Gampang bukan? Iya, terlihat gampang. Akan tetapi, jika kamu belum terbiasa menulis, maka kamu akan tetap merasakan kesulitan. Sebagai contoh, banyak yang menulis kalimat seperti ini:
“Dalam menulis sebuah kalimat, tidak bisa menulis dengan sembarangan.”
Kalmat di atas bukanlah kalimat yang bagus. Mengapa? Karena ia tidak memiliki subjek. Siapa yang dibicarakan di sana? Tidak jelas. Apa yang dibicarakan, ya memang ada, yaitu tidak bisa menulis dengan sembarangan. Pada dasarnya ia bisa dianggap sebagai prediket. Akan tetapi, kalimatnya tidak mempunya subjek. Seharusnya, kalimatnya ditulis: Dalam menulis sebuah kalimat, kita tidak bisa menulisnya dengan sembarangan.”
Dipahami bukan? Jika demikian, silahkan bahas kalimat berikut ini:

“Percaturan politik di Indonesia, yang semakin lama semakin semrawut dan tidak menentu, menuntut masyarakat Indonesia untuk cerdas dan bijaksana dalam menanggapi setiap pemberitaan dalam media.”

Iklan

Satu pemikiran pada “Kata dan Kalimat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s