Bacaan Wajib Calon Khadim li al-Ummah


UN sudah dekat untuk santri tingkat akhir, begitu juga dengan KU untuk santri kelas lima. Khidmatul Ummah (KU) memang suatu tradisi dan program yang terus diagendakan oleh Ponpes Sumatera Thawalib Parabek.Waktu itu, kalau tidak salah program ini dirintis pada angkatannya bg Zaki Munawwar, tahun 2004. Semenjak itu agenda ini bertahan terus setiap tahunnya. Selain ngurangin jatah libur santri kelas V (kasiaan,, hehe) , agenda ini pastinya biar santri belajar langsung hidup di masyarakat. Biar yang udah 5 tahun di asrama terbuka kelopak matanya. Dunia itu bukan asrama, kelas, guru, warnet, hp, trus dihukum. Begitu juga yang tinggal di rumah, biar ngerasain hidup jauh dari orang tua, siapin makan, atur waktu, bangun sendiri, beresin rumah, dll. Selain itu, pastinya buat ‘uji ilmu’. Turun gunung kayak pendekar.

Nah, dalam agenda turun gunung ini, salah satu agenda wajib dalam KU adalah ceramah di Masjid/Mushalla. Selama masa khidmah, seluruh santri diperkirakan mendapatkan paling tidak 2 kali jadwal ceramah. Sebagai konsekuensinya, kemampuan ceramah menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan sekolah.

Suatu hal yang harus kalian ingat, wahai calon pendekar, adalah bahwa masing-masing kalian membawa nama ‘Perguruan silat.’ Ada banyak sekolah, SMA, SMK, Madrasah Aliyah, dan perguruan lainnya. Maka, dalam hal berpidato atau berceramah, satu hal yang harus kalian perhatikan adalah, apakah ceramah kalian nantinya ceramahnya pendekar perguruan Parabek yang gimana gitu, atau kayak ceramahnya siswa Madrasah Aliyah pada umumnya yang g sempat belajar Nahwu-Sharaf, Ushul Fiqh, HIH atau TIT, atau justru seperti ceramahnya siswa SMA/SMK yang kebetulan bisa berpidato? Nah, ini tanggung jawab kalian nanti nih…(Rasain….!!!)

Berikut ini ada beberapa tips untuk mempersiapkan ceramah ala pendekar kawakan, yang beda dari yang lain.

Pertama, mengenai konsep, jangan sekali-kali berpatok kepada one-click-concept (konsep sekali klik) aliyas konsep ceramah dari internet atau konsep pidato yang beredar di buku-buku pidato populer. Apa yang diajarkan oleh guru-guru semenjak kalian kelas 1 Tsanawiyah adalah kumpulan konsep pidato yang sangat banyak. Dalam setiap kumpulan konsep tersebut, terdapat hal-hal khas yang tidak didapatkan di mana pun kecuali di pesantren. Di hadis kalian belajar Arba’in Nawawi, terus Bulughul Maram dan lanjut Subulussalam. Tidak sedikit juga yang diajak akses Syarah Ibn Hajar atau Nawawi. Di Tafsir kalian udah belajar Tafsir Jalalain dan al-Maraghi. di Fiqh udah belajar Matan Taqrib, Fathul Mu’in, sama I’anatuttalibin (jangan salah baca judul). Pake itu semua. Jangan andelin blablabla.com yang g jelas gitu.

Kedua, konsep ceramah yang bagus g usah muluk-muluk. Biar keliatan keren borong dalil seabreg, biar keliatan fasehhhh bacaannya dan menggelegar dan cetar membahana. Cukup satu ayat atau satu hadis aja. Nah, satu ayat ini lah kemudian kalian jelaskan panjang lebar. Pake tu kitab-kitab yang udah kalian pelajarin di atas. Paling tidak biar gampang kalian merujuk ke Tafsir al-Misbah sama al-Azhar aja yang gampang kalau ngaku g bisa baca kitab-kita itu. (Ihh malu dnkk….). Jadi, hindarin tema-tema klise yang udah diulang dimana-mana, banyak ditemuin di internet sama buku pidato, kaya “Ciri-ciri orang yang bertaqwa, Ciri-ciri perbuatan Ikhlas, Perbuatan-perbuatan yang mengantarkan ke surga, dan sebagainya.” Yang gini-gini biasanya jabarannya g detil, klise, udah diulang dimana-mana, sampe-sampe jamaah udah tau dan bosen dengernya, jadi jangan salahin emak-emak tidur dengerin ceramah kalian. Lagian, kalau yg ginian anak TK juga bisa. Toh jaman sekarang mereka udah bisa browsing. Malahan emak-emak justru semangat dengernya kalau yang nyampein anak TK. G malu dikalahin anak TK???

Ketiga, selipkan beberapa analisis khas pesantren, seperti Nahwu, Sharf, Ushul Fiqh, dan Balaghah. Sederhana aja, g usah muluk-muluk, yang penting ngena dan pesannya dapet. Contoh, pada الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. Kalian bisa jelasin kalau alif lam di situ maknanya apa, terus huruf jar li pada lillah itu artinya milik, jadi terjemahannya lebih tepat ‘milik Allah’, bukan bagi Allah. Trus kamu tambahin, kalau itu milik Allah, maka ketika kita g ngasih pujian pun ke Allah, Allah tetap penguasa pujian. Atau pada Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Mengapa maf’ul bih diduluin. Buka lagi catatan balaghahnya. Kalau udah gini, baru dijamin joss…

Jika tiga cara tersebut berhasil dijalanin, maka konsep pidato klian jadi mantep jaya. Konsep kalian adalah konsep yang bagus, konsepnya para pendekar. Kalau udah bisa kamu bahas satu ayat, kayak Alhamdulillah, atau Bismillahirrahmanirrahim, atau Iqra’ bismi rabbika allazi khalaq, dan ngabisin 30 menit, baru dua jempol buat kalian (Kayak Inyiak Imam Muzakkir), tambah dua lagi jempol kaki. Tapi ingat, kalian g akan bisa lakui itu kalau g langsung rujuk ke sumber utama. Tu ke kitab-kitab yang udah disebutin di atas. Udah pada kenal kan kitabnya? Jangan bilang belum lo…

Satu lagi, sebelum lupa. Dalam penyampaian pidato ada banyak gaya. Ada yang tegas berapi-api tapi ada yang santai, ada yang penuh joke-joke jenaka, tapi ada yang serius namun menggelitik. Kamu mau yang mana? Boleh aja semuanya. Terserah pilih yang mana. Yang penting g boleh grogi. Just enjoy the show. Jangan nervous duluan. Anggaplah Kamu sedang berbincang-bincang dengan teman sebangku, sehingga kamu bisa berbicara lepas dan santai.

That’s it! Semoga bermanfaat, dan Good Luck.!!!

Fadhli Lukman
Peserta Khidmatul Ummah tahun 2007

Iklan

2 pemikiran pada “Bacaan Wajib Calon Khadim li al-Ummah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s