Nabung Koin


Saya suka belanja setengah-setengah. Maksudnya bukan beli gula setengah kilo, sendal setengah pasang, baju setengah stel, dan setengah-setengah lainnya. Maksudnya juga bukan nawar setengah harga. Baju harga 120 ribu ditawar 60 ribu. Yang suka ginian biasanya Ibu-ibu, dan saya bener-bener tidak bisa yang beginian. Tapi maksudnya belanja yang total harganya g genap, seperti tiga setengah, empat setengah, lima setengah, dan seterusnya; 3.500, 4.500, dan seterusnya.
Mengapa demikian? Bagian yang menyenangkan adalah setiap belanja dengan harga seperti itu, kita mendapat satu kembalian koin. Lha emang apa istimewanya koin? Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa. Hanya saja, sebagai orang yang susah menabung, koin ini bisa jadi alternatif. Untuk urusan tertentu, tabungan koin bisa sangat bermanfaat, terutama untuk anak-anak kosan seperti saya.
Kebiasaan ini sudah saya mulai semenjak beberapa tahun yang lalu. Ongkos angkot dari Krapyak ke UIN Sunan Kalijaga waktu itu adalah 2.500 rupiah. Artinya, setiap hari paling tidak saya bisa menambah 2 koin selama satu hari. Bahkan, saya benar-benar sengaja berburu koin. Misalnya, di dalam saku saya punya uang 3.500. Untuk bayar angkot, saya punya pilihan memberi uang pas 2.500 atau membayar 3.000 dengan kembalian 500 rupiah. Saya lebih memilih yang kedua. Bahkan, jika saya punya uang 7.500 atau 12.500, saya tetap tidak mau membayar angkot dengan uang pas. Saya lebih memilih membayar dengan pecahan 5.000an atau 10.000an. Begitulah, hanya demi koin 500 rupiah.
Itu baru ulah saya di angkot, belum di warung makan. Jika kita sering makan di tempat yang sama, maka harga-harga makanan di sana tentu saja sudah hafal. Misalnya, beli nasi+telur tiga ribu rupiah, nasi+ayam lima ribu rupiah, dan sebagainya. Untuk harga yang genap tersebut, biasanya saya nambah satu kerupuk yang harganya lima ratus. Praktis, satu koin sudah di tangan.
Koin tersebut dikumpulkan setiap hari. Ibarat kata pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Dan ternyata, saya baru merasakan manfaat yang luar biasa dari aktifitas iseng ini. Suatu ketika, saya keliru memperhitungakan pengeluraran. Setelah beberapa hari sebelumnya beli sejumlah buku, saya beli kacamata. Maklum lah, waktu itu mata udah minta temen, biar rame kerja bareng berempat, g mau berdua aja. Eehh ternyata, kurang dari setengah bulan, jatah beasiswa bulanan ludes. Akhirnya, dengan terpaksa saya hidup dengan koin. Padahal sebelumnya, saya punya komitmen tidak akan membelanjakan koin-koin tersebut. Tapi ya gimana lagi. Hidup menjadi kaku dan tidak bergairah. Makan pagi nunggu burjo keliling, bayar pakai koin. Makan siang, nunggu Mbak Buah, kami memanggilnya demikian, bawa nasi kucing plus beragam buah. Bayar pakai koin lagi. Makan malam, biasanya nitip sama teman, terserah dia mau beli apa. Bayar pakai koin lagi. Pada akhirnya, koin semakin lama semakin tipis. Detak jantung semakin tidak karuan. Menjelang tanggal 30, 31, dan seterusnya. Dan Alhamdulillah, untungnya, ketika koin terakhir berpindah tangan ke Mbak Buah, persis hari itu tanggal 6. Itu artinya, beasiswa bulan ini sudah cair, dan tidak delay. Alhamdulillah…!!!
Senang bercampur sedih. Senang karena tidak perlu deg-deg-an lagi mau beli makan. Tapi sedih karena koin yang selama ini dikumpulkan habis tak tersisa. Maka, semenjak saat itu, kembali petualangan berburu koin dimulai. Hanya saja saya tidak seidealis pertama. Seringkali koin yang masuk ke laci yang disediakan khusus untuk koin setelah beberapa saat keluar lagi. Perburuan saya juga tidak segencar sebelumnya, karena saya sudah sering nebeng ke kampus sama teman yang bawa motor. Hingga akhirnya pada semester lima, saya mendapat reski beli motor bekas untuk lalu-lalang di jogja. Sumber daya koin dari angkot tidak tersentuh lagi. Income koin berkurang drastis. Tapi tunggu dulu, bukan berarti saya berhenti di situ. Kebiasaan mengumpulkan koin masih dilestarikan. Hingga waktu lulus dan pulang kampung, adik saya bilang, “Koinnya emang mau dibawa pulang? Daripada ditahan di bandara gara-gara bawa benda berbahan metal, mending ditinggal untuk saya saja.” Saya tau, dia cuma membujuk. Namanya adik, akhirnya koin-koin tersebut berpindah tangan dari kakak-ke-adik, meskipun saya tau alasan dia g logis juga. Emang koin itu pisau apa harus ditahan di bandara segala.
Sekali lagi, koin saya habis. Tapi belum berhenti di sana. Ketika kembali ke Jogjakarta untuk melanjutkan studi, saya kembali mengumpulkan koin. Awalnya, saya berkompetisi sama teman. Siapa yang koinnya bertahan, dialah yang menang. Berselang beberapa bulan, ternyata koinnya udah habis duluan. Dia g nabung koin lagi. Saya? Alhamdulillah masih lanjut. Paling g, buat nambal-nambal biaya makan di akhir bulan bisa lah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s