Lilik: Jilbab Urang Minang



Tulisan ini membahas ‘jilbab’ yang pernah menjadi identitas orang Minang. Meskipun pada kenyataannya pakaian yang dimaksud memiliki nama lain, istilah ‘jilbab’ dipilih berdasarkan penamaan umum masyarakat. Tulisan ini adalah survey sederhana dengan kesimpulan tentatif dari keterbatasan referensi yang ada. Hal ini disebabkan karena pembicaraan mengenai jilbab lebih didominasi aspek normativitasnya sebagai ajaran agama. Adapun tulisan ini lebih melihat aspek kesejarahannya di Minangkabau semenjak awal abad XX.

Apakah yang disebut dengan jilbab? Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut jilbab adalah kerudung yang dipakai wanita untuk menutupi kepala, sebagian muka, dan dada. Jika ditanya kepada masyarakat umum, jawaban mereka tidak akan berbeda; jilbab adalah seperti yang terlihat dikenakan perempuan Muslim saat ini. Jika pertanyaannya dilanjutkan, mengapa mereka menggunakan jilbab, maka jawabannya adalah karena jilbab adalah ajaran Islam mengenai etika berpakaian bagi perempuan. Jawaban ini problematis, sebenarnya. Karena, jilbab dalam bahasa Alquran bukanlah pakaian penutup kepala, sebagian muka, dan dada, melainkan pakaian secara utuh yang menutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Sementara pakaian yang menutup kepala hingga dada dalam bahasa Alquran disebut khimar. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, sejak kapankah orang Indonesia memaknai jilbab sebagaimana yang mereka pahami sekarang?

Istilah jilbab pada dasarnya tidak populer di Indonesia hingga zaman Orde Baru. Jikalau istilah jilbab sudah populer, Buya Hamka dan Mahmud Yunus tentu akan menggunakannya dalam menerjemahkan kata khimar pada Q.S. al-Nur: 31. Mahmud Yunus justru menerjemahkannya kudung sementara Hamka menggunakan kata selendang. Kudung (kerudung) atau selendang memang kata yang sudah populer sejak lama di Indonesia dan Melayu, sehingga tidak mengherankan Hamka dan Mahmud Yunus menggunakannya. Bukan hanya dalam tafsirnya, Hamka juga menyebut istilah selendang dalam karya sastranya seperti pada Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Akan tetapi, di Minangkabau sebenarnya dikenal istilah lainnya yang khas, yaitu mudawarah atau lilik.

Lilik: Jilbab Urang MinangSejarah mengenai pakaian di Minangkabau memang cenderung terpinggirkan. A.A. Navis menjelaskan bahwa pakaian laki-laki di Minangkabau cenderung dinamis sementara pakaian perempuan statis. Hal ini sepertinya sebagai dampak dari pola matrilineal Minangkabau yang cenderung menempatkan perempuan di ranah domestik sementara laki-laki di ranah publik. Sebagai akibatnya, laki-laki lebih berkembang dalam banyak hal, termasuk mengenai pakaian. Pada awal abad ke-20 hingga akhir Perang Dunia Kedua, para ulama Minangkabau mengenakan pakaian yang beragam. Ulama dalam negeri mengenakan sarung dan peci, ulama keluaran Makkah menggunakan jubah dan sorban, sementara ulama yang belajar di Mesir menggunakan celana, jas, dasi, serta kopiah. Murid Madrasah juga demikian, laki-laki menggunakan sarung dan kopiah. Pada perguruan tinggi, laki-laki meninggalkan sarung dan menggunakan pentalon (celana panjang). Pada sisi lain, orang yang berpendidikan Barat memilih bergaya Eropa. Paska kemerdekaan, pakaian kembali berubah. Mereka mulai menggunakan pakaian nasional, yaitu jas, dasi, dan kopiah hitam.

Bagaimana dengan pakaian perempuan? Keterbatasan aktifitas publik perempuan Minangkabau tempo dulu menjadikan modelnya cenderung statis. Satu-satunya jalan untuk mengidentifikasi bentuk pakaian perempuan Minangkabau tempo dulu adalah dengan melihat pakaian adat Minangbakau yang masih bertahan saat ini. Akan tetapi, reformasi pendidikan Islam di Minangkabau mencatat model baru dalam pakaian perempuan. Jika di Yogyakarta K.H. Ahmad Dahlan berperan dengan menyarankan perempuan-perempuan untuk juga melilitkan selendang mereka ke kepala, di Minangkabau peran tersebut harus dilihat dari figur Rahmah Yunusiah dan Rasuna Said. Keduanya merupakan tokoh perempuan yang terlibat aktif dalam reformasi pendidikan Islam Sumatera Barat. Jika dilihat foto-foto kedua tokoh ini, terlihat mereka menggunakan baju kurang dan lilik. Baju Kuruang adalah baju khas Minangkabau yang longgar. Penggambaran bentuk baju ini bisa dilihat dari lirik lagu daerah Minangkabau yang berjudul sama, Baju Kuruang. Sementara lilik adalah pakaian penutup kepala bagi perempuan yang terlibat di Madrasah pada masa reformasi pendidikan Islam. Ia berbeda dengan jilbab yang populer di masyarakat. Dari segi ukuran, jilbab memiliki panjang dan lebar kira-kira 60×60 cm, sementara lilik lebih lebar dengan ukuran 150×60 cm. Cara menggunakan juga berbeda, lilik cenderung lebih rumit daripada jilbab. Model lilik ini masih bertahan hingga saat ini di sejumlah Madrasah yang muncul pada masa reformasi pendidikan Islam semenjak awal abad XX.

Lilik inilah yang menjadi pakaian identitas penutup kepala bagi perempuan di Minangkabau. Melalui pengaruh semua sekolah yang menyatu di bawah payung Sumatera Thawalib, pakaian ini menjadi populer di Sumatera Barat. Sebuah literatur menyebutkan bahwa dalam rentang 1920-1928 telah menyebar seribuan lulusan Sumatera Thawalib di seluruh penjuru Sumatera Barat. Sementara kepopuleran jilbab bisa dikaitkan dengan refolusi Iran. Penggulingan Shah Reza Pahlevi oleh Ayatullah Khomeini salah satunya menggunakan simbol jilbab. Ketika itu di Indonesia pemerintahan Orde Baru sedang dalam masa antagonistik terhadap gerakan-gerakan beragama. Menurut Hamka, jemaah haji Indonesia mulai menggunakan jilbab ketika mereka pulang dari tanah Haram. Pada beberapa kesempatan, jilbab mulai digunakan sebagai simbol protes terhadap pemerintahan Orde Baru. Puncaknya, pada tahun 1982, pemerintah secara resmi melarang penggunakan jilbab bagi para pelajar di sekolah. Mengiringi protes dan kontroversi seputar peraturan ini, jilbab semakin lama semakin populer di Indonesia dan Minangkabau dalam bentuk yang sekarang ini. Terutama ketika jilbab dijadikan seragam resmi sekolah-sekolah di kota Padang pada tahun 2005. Hasilnya, kepopuleran jilbab perlahan-lahan menyamarkan eksistensi lilik. Tidak banyak lagi perempuan Minangkabau yang mengetahui lilik. Lilik telah menjadi pakaian terbatas bagi para pelajar perempuan di Madrasah yang mengawal reformasi pendidikan Islam Sumatera Barat. Ia tidak lagi menjadi identitas Muslimah Minangkabau, melainkan seragam resmi sekolah semata.

Iklan

7 pemikiran pada “Lilik: Jilbab Urang Minang

  1. JILBAB MENURUT BUYA HAMKA (Pendiri/Ketua MUI ke-1, Tokoh Ulama Besar Muhammadiyah), yang ditentukan oleh agama adalah Pakaian yang Sopan dan menghindari ‘Tabarruj’

    berikut adalah kutipan Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA (Tafsir Al-Azhar, Jilid 6, Hal. 295, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015), selengkapnya lebih jelas dan tegas dapat dibaca pada Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31

    ‘Nabi kita Muhammad saw. Telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq demikian,

    “Hai Asma! Sesungguhnya Perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangannya)!”

    Bagaimana yang lain? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat.

    Kesopanan Iman

    Sekarang timbullah pertanyaan, Tidakkah Al-Qur’an memberi petunjuk bagaimana hendaknya gunting pakaian?

    Apakah pakaian yang dipakai di waktu sekarang oleh perempuan Mekah itu telah menuruti petunjuk Al-Qur’an, yaitu yang hanya matanya saja kelihatan?

    Al-Qur’an bukan buku mode!

    Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan, dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan.

    Tidaklah seluruh pakaian Barat itu ditolak oleh Islam, dan tidak pula seluruh pakaian negeri kita dapat menerimanya.

    Baju kurung cara-cara Minang yang guntingnya sengaja disempitkan sehingga jelas segala bentuk badan laksana ular melilit, pun ditolak oleh Islam.’

    MENGENAL (KEMBALI) BUYA HAMKA

    Ketua Majelis Ulama Indonesia: Buya HAMKA

    “paling konsisten memperjuangkan Syariat Islam menjadi dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya, HAMKA mengusulkan agar dalam Sila Pertama Pancasila dimasukkan kembali kalimat tentang ‘kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya’, sebagaimana yang termaktub dalam Piagam Jakarta.”

    mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html

    “Buya HAMKA adalah tokoh dan sosok yang sangat populer di Malaysia. Buku-buku beliau dicetak ulang di Malaysia. Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA merupakan bacaan wajib.”

    disdik.agamkab.go.id/berita/34-berita/1545-seminar-internasional-prinsip-buya-hamka-cermin-kekayaan-minangkabau

    “HAMKA lebih dikenal di Malaysia, Brunei, Singapura, dan dunia Islam lainnya, dibanding di Indonesia sendiri. Karya-karya beliau masih menjadi rujukan utama hingga saat ini.”

    HAMKA: Hilang Belum Berganti
    hidayatullah.com/artikel/opini/read/2010/01/29/3145/hamka-hilang-belum-berganti.html

    “Sebab itu, menjadi pilihan pribadi masing-masing Muslimah mengikuti salah satu pendapat jumhur ulama: memakai, atau tidak memakai jilbab.” nu.or.id

    “Antara Syari’ah dan Fiqh

    (a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash qat’i dan ini Syari’ah)
    (b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (ini fiqh)

    Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak, adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat.”

    *Nadirsyah Hosen, Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

    luk.staff.ugm.ac.id/kmi/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html

    Terdapat tiga MUSIBAH BESAR yang melanda umat islam saat ini:
    1. Menganggap wajib perkara-perkara sunnah.
    2. Menganggap pasti (Qhat’i) perkara-perkara yang masih menjadi perkiraan (Zhann).
    3. Mengklaim konsensus (Ijma) dalam hal yang dipertentangkan (Khilafiyah).

    *Syeikh Amru Wardani. Majlis Kitab al-Asybah wa al-Nadzair. Hari Senin, 16 September 2013

    http://www.suaraalazhar.com/2015/05/tiga-permasalahan-utama-umat-saat-ini.html

    *bila kelak ada yang berkata atau menuduh dan fitnah Buya HAMKA: Sesat dan menyesatkan, Syiah, Liberal, JIL, JIN, SEPILIS atau tuduhan serta fitnah keji lainnya (hanya karena ijtihad Beliau mungkin tidak sesuai dengan trend/tradisi saat ini), maka ketahuilah dan ada baiknya cukupkan wawasan terlebih dahulu, bahwa dulu Beliau sudah pernah dituduh sebagai SALAFI WAHABI (yang notabene identik dengan Arab Saudi). “Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor: Sebuah Polemik Agama” #HAMKA #MenolakLupa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s