Generasi Televisi



Diakui atau tidak, televisi adalah salah satu elemen yang berperan pada perkembangan mental dan karakter anak-anak pada masa ini. Banyak orang tua yang tidak melakukan penjagaan ketat terhadap tontonan anak-anak. Tidak asing lagi, ibu-ibu yang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga mendudukkan bayinya di depan televisi supaya ia tidak mengganggu, sementara si bapak nongkrong di warung atau sekedar baca koran di rumah. Tidak jarang juga ibu-ibu yang menggunakan televisi untuk menenangkan anaknya ketika disuapi makan supaya tidak rewel. Semenjak umur yang masih sangat dini, generasi Indonesia dibentuk oleh televisi,  baik pola pikir maupun pola tindak mereka.

Anak-anak memang belum mampu mencerna sepenuhnya apa yang ia tonton. Akan tetapi, balita dikenal sebagai peniru paling aktif. Ia akan menirukan adegan-adegan yang mereka temui sehari-hari. Dengan waktu menonton televisi yang padat, maka adegan-adegan televisi akan menjadi bahan paling utama yang mereka tirukan. Oleh sebab itu, tidak asing jika anak-anak sudah sangat hafal dengan lagu oplosan, kereta malam, dan lagu langganan televisi lainnya. Tidak mengherankan juga jika anak-anak bisa menirukan joged Cesar, Goyang Bang Jali, dan joged-joged populer lainnya. Anak-anak juga seringkali menirukan candaan-candaan yang mereka dapatkan dalam televisi meskipun terkesan kasar dan tidak sopan.
Semua itu bukanlah kebetulan. Studi tentang perkembangan otak balita menjelaskan bahwa otak anak-anak usia tiga sampai sembilan tahun menggunakan lebih banyak energi dibandingkan masa lainnya dalam hidup. Pada masa ini, otak manusia membentuk miliaran neuron  yang mengirim dan menerima informasi. Informasi-informasi ini kemudian menjadi bahan baku untuk mengontrol pikiran, tingkah laku, dan gerakan. Sepatutnya setiap orang tua berhati-hati memilah dan memilih lingkungan terbaik bagi anak supaya sel otak mereka merekam hal-hal yang positif pada masa-masa ini.
Akan tetapi, jika sel otak anak-anak pada masa ini lebih disibukkan dengan informasi-informasi dari televisi, perkembangan mental generasi mendatang sudah bisa diramalkan. Perhatikan saja konten-konten yang selalu mereka konsumsi. Normalnya, jam kumpul keluarga adalah selepas magrib hingga waktu untuk tidur. Pada waktu-waktu ini tayangan televisi didominasi oleh tayangan komedi. Komedi Indonesia saat ini sangat tidak sehat. Mereka mempertontonkan adegan saling pukul dan saling hina. Bagi orang tua semua itu tentu dianggap komedi biasa. Akan tetapi, bagi anak, mereka sedang melakukan penyimpanan-penyimpanan data yang kemudian akan membentuk pola pikir dan pola tindak mereka. Oleh sebab itu, tulisan peringatan ‘adegan ini hanya akting’ atau ‘adegan ini tidak menggunakan alat yang berbahaya,’ akan menjadi sia-sia.
Indonesia dikenal sebagai negara yang ramah. Para turis selalu bilang, “Indonesians are humble and friendly!” Akan tetapi kesan itu akan segera berubah ketika para turis memahami bahasa Indonesia dan menonton TV. Mereka akan melihat adegan-adegan tidak sopan dan mendengar ungkapan kasar dalam tayangan lawakan yang sedang populer di televisi. Untungnya saat ini tidak banyak turis yang bisa berbahasa Indonesia. Indonesia terselamatkan, paling tidak untuk beberapa tahun ke depan.
Belasan tahun yang akan datang, kita pesimis apakah generasi Indonesia masih memiliki moralitas yang sama. Kita tidak yakin apakah para turis masih akan mendapatkan kesan yang sama. Bukan karena ketika itu mereka sudah bisa berbahasa Indonesia akan tetapi karena mereka menghadapi generasi yang saat ini dibesarkan oleh tayangan televisi. Generasi yang setiap hari dipertontonkan dengan adegan saling caci dan saling hina. Setiap tontonan yang mereka dapatkan akan mempengaruhi pertumbuhan mental dan karakter mereka. Akibatnya tanpa perlu memahami bahasa Indonesia, turis masa datang akan mendapati bahwa “Indonesians are not that humble any more!”  Orang Indonesia tidak sesopan yang dikenal.
Selain mempengarui aspek moralitas generasi mendatang, tontonan komedi yang sangat intens juga bisa berimplikasi pada aspek mentalitas anak-anak. Tontonan komedi secara massif menampilkan bahwa kampanye mengenai tata cara hidup yang santai dengan budaya hiburan lebih mendominasi daripada kampanye cara hidup yang sederhana, tekun, dan telaten. Bangsa Indonesia saat ini adalah bentukan para pendahulu. Informasi-informasi sejarah telah memperlihatkan bagaimana beratnya perjuangan para pejuang menggapai kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, problem NKRI tidak lantas selesai. Setumpuk permasalahan berat lainnya masih menghinggapi. Perjuangan berat para pendahulu lah yang mengantarkan kita pada keadaan seperti sekarang. Akan tetapi, tontonan komedi yang berlebihan akan bermuara pada cara hidup yang pemalas, manja dan lemah. Generasi mendatang akan menjadi generasi yang tidak tahan banting. Mereka generasi yang bermental kerupuk. Sedikit menghadapi permasalahan dan tekanan, mereka akan mencari kompensasi melalui hiburan. Mereka tidak akan mampu menghadapi masalah-masalah yang besar. Generasi semacam ini tidak akan mengantarkan negara pada keadaan yang lebih baik, atau justru sebaliknya.
Kedua aspek moralitas dan mentalitas ini adalah aspek yang sangat penting dalam membangun bangsa. Kita telah melihat bagaimana merosotnya negara Indonesia saat ini dalam banyak bidang. Dibutuhkan generasi yang lebih tangguh untuk menyelamatkan Indonesia dari lembah keterpurukan. Generasi yang tahan banting, kreatif, namun tetap menjaga segala sisi moralitas yang baik. Generasi seperti itulah yang harusnya diidamkan oleh setiap orang tua. Akan tetapi, tayangan televisi berpotensi merusak cita-cita tersebut. Setiap orang tua harus segera sadar. Perhatikan perkembangan anaknya hingga aspek paling kecil. Hindari mereka dari informasi-informasi yang tidak baik selama masih kecil, karena informasi-informasi tersebutlah yang akan ia gunakan sebagai bahan baku untuk berpikir dan berbuat pada masa dewasanya. Selamatkan Indonesia dari generasi televisi, generasi pesakitan!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s