Mari Kurangi Potensi Korupsi Dana Haji!


Kamis sore 22 Mei 2014, KPK secara resmi mengumumkan Menteri Agama, Surya Darma Ali sebagai tersangka korupsi terkait pengelolaan haji tahun 2012-2013. Ketua Umum PPP ini dijerat dengan pasal memperkaya diri sendiri atau orang lain dan penyalahgunaan wewenang. Meskipun begitu, KPK belum memastikan bahwa SDA sebagai pelaku tunggal. Melalui juru bicaranya, Johan Budi, menyebut bahwa masih ada kemungkinan aliran dana kepada pihak rekanan dari SDA.

Dana Haji memang sangat potensial terhadap kasus korupsi. Sebelumnya Sayyid Agil Munawwar juga pernah tersandung kasus serupa. Akan tetapi, jika kita berani untuk menyadari, potensi korupsi dalam penyelenggaraan haji berkait-kelindan dengan persepsi Muslim Indonesia terhadap ibadah haji. Secara normatif, ajaran Islam sebenarnya lebih mengutamakan ibadah shalat daripada haji. Hadis Nabi Muhammad secara tegas menyebut bahwa shalat adalah tiang agama. Dalam hadis yang lain, Nabi juga menyampaikan bahwa ibadah yang paling awal dipertimbangkan di akhirat adalah shalat; apabila shalatnya baik, maka ibadah lainnya akan mengikuti dan begitu sebaliknya. Akan tetapi, pada faktanya di Indonesia ibadah haji jauh lebih populer daripada shalat. Seorang yang dikenal rajin shalat tidak akan memiliki strata sosial sebaik orang yang tiba-tiba berangkat haji meskipun kualitas shalatnya tidak diketahui secara pasti.

Apa kiranya yang menyebabkan popularitas dan saklaritas shalat dan ibadah lainnya dikalahkan oleh haji bagi masyarakat Indonesia? Alasan pertama mungkin saja berkaitan dengan faktor geografis yang berimbas kepada faktor finansial. Jarak Indonesia dan Makkah yang jauh menuntut persiapan finansial yang besar. Tidak sedikit orang-orang Indonesia yang menabung bertahun-tahun demi cita-cita mengunjungi tanah Haram, Makkah-Madinah. Bahkan, tidak jarang yang rela berangkat haji dengan dana pinjaman. Meskipun sejumlah fatwa telah diputuskan seputar haji dengan dana utang, keberangkatan jamaah haji dari utang masih saja terjadi.

Jika ditilik secara historis, persepsi Muslim Indonesia terhadap haji memang sudah tertanam sejak lama. Semenjak awal, masyarakat Indonesia menghormati jemaah haji. Sejumlah Ulama kharismatik berhasil melakukan reformasi di Indonesia sepulang haji. Sebutlah nama-nama K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan H. Abdul Karim Amrullah, H. Piobang, H. Miskin, H. Sulayman al-Rasuli, dan sejumlah nama besar lainnya untuk konteks Sumatera Barat berhasil melakukan pembaharuan di wilayah masing-masing setelah pulang dari haji. Setelah belajar beberapa tahun di Mekkah, mereka pulang dan berhasil memberikan pengaruh besar. Nama besar ini juga berperan membentuk persepsi masyarakat tentang haji.

Selain itu, persepsi haji Muslim Indonesia saat ini juga berkaitan dengan kebijakan penjajah Belanda terhadap Islam. Snouck Horgronje pernah menyarankan pemerintah Belanda tentang bagaimana sebaiknya menanggapi Muslim Indonesia. Ia mengkritik pemerintah yang menekan agama Islam, sehingga Belanda kesulitan menanamkan pengaruhnya di Indonesia. Ia menyarankan pemerintah untuk membiarkan Muslim Indonesia untuk serius dengan ibadah selama mereka tidak terlibat dalam kegiatan politik. Bahkan, ia menyarankan pemerintah Belanda untuk memberi fasilitas kapal-kapal untuk berangkat haji dan menyematkan gelar H. di depan nama-nama mereka.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika seorang Haji atau Hajjah memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat. Status sosial ini pula yang kemudian menjadikan haji lebih populer daripada shalat. Pada sisi lain, popularitas haji semakin lama semakin meningkat dengan prosesi-proses kultural lainnya. Beberapa wilayah memiliki tradisi syukuran baik sebelum atau sepulang dari haji. Keberangkatan mereka diiringi oleh arak-arakan sejumlah bus. Haji menjadi ibadah dengan nuansa festival yang besar.

Empat alasan di atas adalah alasan geografis, sejarah, politik penjajah, dan kultural. Tidak satu pun alasan di atas yang berasal dari alasan agama. Popularitas dan sakralitas haji bagi Muslim Indonesia bukanlah karena ajaran normatif Islam. Jika dilihat dalam ajaran agama, haji hanyalah seperti ibadah lainnya. Haji tidak berbeda dengan ibadah puasa, zakat, dan sebagainya. Bahkan, kewajiban haji justru lebih rendah dibandingkan dengan kewajiban puasa. Kewajiban haji memiliki kualifikasi tertentu, yaitu hanya bagi orang yang mampu. Puasa dan shalat, secara prinsip juga memiliki keringanan bagi yang tidak mampu. Akan tetapi, dari kelima rukun Islam, hanya haji yang secara tegas menyelipkan kalimat ‘bagi yang mampu.’

Lantas bagaimana solusinya? Pertama sekali, saya mengajak semua pembaca untuk merenungi kembali motivasi apa yang sebenarnya melandasi cita-cita berangkat haji. Secara verbal tentu saja pertanyaan ini akan dijawab, ‘alasan ibadah tentu saja!’ Akan tetapi, semua itu akan kembali kepada naluri paling dalam dari masing-masing kita yang bermimpi untuk berangkat haji. Kedua, para muballigh, ustaz, dan guru agama untuk tidak melebih-lebihkan ceramah tentang haji. Dramatisasi terhadap haji hanya akan menimbulkan cita-cita palsu tentang haji. Selanjutnya, bagi orang-orang yang sudah pernah berangkat haji, jangan sekali-kali memiliki cita-cita untuk mengulanginya. Dalam ajaran agama, keberangkatan haji kali kedua dan seterusnya tidak akan menambah kemuliaan ukhrawi. Rasulullah hanya haji sekali dan kewajiban haji juga hanya sekali. Oleh sebab itu, lebih baik menyalurkan rezki yang ada dalam bentuk zakat atau kegiatan sosial lainnya daripada bercita-cita berangkat haji untuk kesekian kalinya. Dengan tiga solusi ini, secara langsung dan tidak langsung, angka pendaftar haji tidak akan selalu membengkak. Jika demikian, masyarakat Indonesia telah berperan membantu untuk mengurangi potensi penyelewengan dan haji oleh pemerintah sehingga kita tidak melihat berita-berita menyedihkan ini di masa yang akan datang.

Iklan

Satu pemikiran pada “Mari Kurangi Potensi Korupsi Dana Haji!

  1. Ya ini yang sering ditemui, kebanyakan oleh2 orang pulang haji, cerita tentang pengalaman spiritual selama berada di sana, lantas harapan yang mumcul kemudian, adalah semoga bisa datang ke sana untuk kedua kalinya, ketiga dan untuk seterusnya. Melihat antrean berangkat haji pun akhirya membuat kelabakan banyak orang yang belum dan ingin menunaikannya. Rentang waktu 17 tahun menjadikan haji semakim menjadi sesuatu yang benar2 dinantikan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s