“Jilboobs” untuk Perempuan Minangkabau?


Opini Padang Ekspres 21 Agustus 2014

Fenomena jilbab kembali menjadi perbincangan hangat. Kali ini istilah baru nan nyentrik mengemuka. Jilboobs, begitulah ia disebut. Istilah ini bahkan bukan sebuah kata. Ia adalah gabungan dari dua hal. Yang pertama adalah jilbab, yaitu pakaian penutup kepala bagi perempuan yang telah biasa kita kenal.

Yang kedua adalah boobs. Ini adalah kata dalam bahasa Inggris yang bermakna payudara perempuan. Artinya, jilboobs adalah model berpakaian yang mempertahankan jilbab, namun tidak menutup atau bahkan memperlihatkan dada.

Mungkin sajakata ini dipilih karena easy listening ketika disandingkan dengan jil- sebagai singkatan dari jilbab. Jilboobs akan menjadi istilah yang ringan sebagai plesetan dari jilbab. Akan tetapi, kemungkinan terbesar adalah pemilihan kata boobs sebagai penyimbolan daya tarik perempuan.

Ada banyak pilihan yang biasa digunakan untuk hal ini, seperti rambut yang panjang, kulit yang bersih, senyum yang manis, dan sebagainya. Jika penyimbolan yang digunakan justru menggunakan kata boobs, maka daya tarik yang dimaksud bukan lagi daya tarik alami, melainkan daya tarik sensual. Ini adalah konotasi yang tidak sehat dalam konteks publik. Ironisnya, dalam makna aslinya, boobs memiliki konotasi negatif.

Kamus bahasa Inggris Encarta Dictionaries menyebut boobs memiliki konotasi offensive atau penghinaan. Selain itu, boob juga memiliki makna lainnya, yaitu bodoh. “Boob is somebody who is regarded as uninteligent and ignorant.” begitulah menurut Encarta Dictionaries. Jika demikian, Anda tentu saja sudah bisa menerjemahkan makna bahasa dari jil-boobs ini.

Fenomena jilboobs sepertinya berawal dari kegamangan sebagian perempuan seputar jilbab. Kegelisahan mereka adalah antara tuntutan untuk berpakaian sopan dengan tata cara tertentu dengan stigma ketinggalan zaman, kuno, kampungan, dan sebagainya.

Asma Nadia, novelis ternama Indonesia, sangat intens mengkampanyekan bahwa perempuan Muslimah tidak perlu risau dengan hal itu dalam beberapa novelnya seperti Gara-gara Jilbabku atau Jilbab Traveller.

Kampanye yang semacam ini beberapa tahun terakhir tampak berhasil. Terbukti dengan maraknya desain-desain jilbab dengan aneka atribut dan mode nan trendi. Banyak perempuan berjilbab yang tertarik. Tidak mengherankan pelaku industri memanfaatkan situasi ini. Modernisasi jilbab yang berawal dari kegamangan perempuan berjilbab bergeser menjadi inovasi dan agresifitas pelaku industri untuk kepentingan pasar.

Di atas itu semua, fenomena jilboobs sangat tidak relevan dengan konteks Sumatera Barat. Ada dua alasan untuk hal ini. Alasan pertama adalah alasan landasan adat Minangkabau yang dikenal dengan sloga Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah.

Dalam konteks pakaian, Syara’ mengajarkan untuk berpakaian sopan. Kata aurat bukan hanya bermakna bagian tertentu dari tubuh yang harus diutup. Selain itu, kata ini juga memiliki konotasi ‘malu’ atau ‘aib’. Dalam kedua makna itulah makanya bagian-bagian tubuh tertentu jika tidak tertutup akan memunculkan rasa malu atau aib. Saya tidak akan berpanjang-panjang dalam hal ini karena sudah sangat jelas.

Alasan kedua adalah alasan sejarah. Minangkabau memiliki sejarah pakaiannya sendiri. Dalam salah satu bukunya, A.A. Navis menyebut bahwa pakaian orang Melayu adalah longgar dan tipis, menyesuaikan dengan kondisi geografis. Deskripsi A.A. Navis memang tidak konkrit, akan tetapi jika kita lihat bentuk baju kuruang maka akan sesuai dengan deskripsi tersebut.

Mari kembali perhatikan lirik lagu Baju Kuruang, kita akan melihat ciri khas pakaian perempuan Minangkabau. Jika tidak, perhatikan juga foto-foto dari figur perempuan Minangkabau seperti Rahmah el-Yunusiah, Rasuna Said, atau Rohana Kudus.

Selain itu, Minangkabau juga memiliki desain jilbab yang khas, yang biasa disebut lilik. Bahasa lainnya adalah mudawarah. Sebagaimana baju kuruang, lilik juga pakaian khas Minangkabau. Suatu ketika saya memperlihatkan foto baju kuruang dan lilik kepada sejumlah teman perempuan dari berbagai daerah. Mereka tidak tahu dengan model tersebut. Rahmah el-Yunusiah dan Rasuna Said diasumsikan sebagai generasi pertama yang menggunakan mudawarah di lingkungan madrasah di Sumatera Barat.

Dalam penelusuran sejarah, istilah jilbab bahkan tidak dikenal di Minangkabau. Perhatikanlah cara berkerudung Rahmah Yunusiah dan Rasuna Said, maka akan terlihat cara berkerudungnya berbeda dengan kerudung yang lazim kita kenal dengan jilbab.

Mahmud Yunus dan Hamka bahkan tidak menggunakan kata ‘jilbab’ untuk menerjemahkan kata khimar dalam Alquran. Kata Jalabib pun juga tidak. Jilbab dalam pengertian Hamka justru memiliki deskripsi yang sama dengan baju kuruang, bukan dengan kerudung.

Jikalau kata jilbab sudah populer ketika itu, tentu saja Mahmud Yunus dan Hamka akan menggunakannya dalam tafsir mereka. Faktanya tidak demikian. Hamka bahkan secara khusus menjadikan selendang Rahmah Yunusiah, yaitu mudawarah, sebagai contoh dari khimar.

Dengan dua alasan di atas, jilboobs bukanlah pakaian yang relevan untuk konteks Minangkabau. Untuk konteks kerudung, Minangkabau memiliki lilik/mudawarah, dan untuk konteks baju ada baju kuruang. Baju kuruang plus Mudawarah sangat jauh dari model jilboobs itu sendiri. Maka, perempuan Minangkabau akan lebih elok jika menggunakannya.

Namun begitu, apakah dengan demikian perempuan Minangkabau harus tampil kuno dan mengabaikan tren? Ada satu kejadian menarik yang akan saya ceritakan berkaitan dengan pertanyaan di atas.

Suatu ketika, adik perempuan saya yang kuliah di salah satu kampus di Yogyakarta memakai jilbab modern pashmina dengan cara pemakaian mudawarah. Sampai di kampus, teman-temannya bertanya, “Ini jilbab apa?, kok bagus?, ajarin dong!” Dari kejadian ini, apakah perempuan Minangkabau harus minder terhadap stigma kuno dan kolot dengan lilik/mudawarah??

Iklan

Satu pemikiran pada ““Jilboobs” untuk Perempuan Minangkabau?

  1. Tulisan yang sangat menginspirasi.

    FYI, mohon maaf sebelumnya bila kurang berkenan. Bila sekiranya tertarik untuk membukukan tulisan-tulisan di blog ini, kami bisa bantu dr mulai proses pengumpulan tulisan, layout, desain kaver buku, pengajuan ISBN (bila diperlukan), cetak, dengan oplag minimal sekalipun (5 eks).
    Untuk informasi selanjutnya silakan hubungi kami: https://heryamedia.wordpress.com/

    Untuk informasi selanjutnya bisa hub kami:
    E. heryamedia@gmail.com
    WA 0877-67866622

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s