Naik Haji Cukup Sekali


Musim haji telah datang. Setiap tahun kita lihat animo masyarakat sangat besar terhadap haji. Setiap sudut masyarakat mulai memperbincangkan tetangga atau keluarga yang mendapatkan rezki berangkat tahun ini atau yang belum. Paling tidak ada dua motivasi haji secara umum. Yang terutama tentu saja motivasi agama. Memang, ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Setiap Muslim wajib memiliki cita-cita menunaikan ibadah haji. Namun, tidak bisa dipungkiri motivasi dunia juga sangat dekat. Selain pesona Makkah-Madinah sebagai kota kelahiran Islam dan segudang keutamaan ibadah di Masjid Rasulullah, gelar H. atau Hj. tertulis di depan nama memberikan nilai lebih.  Diterimanya ibadah haji seseorang hanya Allah yang tahu. Akan tetapi, terlepas dari peringkat eksklusif tersebut, jemaah haji mendapatkan peringkat sosial lainnya. Mereka yang berangkat haji akan mendapatkan penghormatan yang otomatis dari masyarakat sekelilingnya.

Ada dua ironi haji di Indonesia saat ini. Pertama antrian keberangkatan. Belakangan kita mungkin sering mendengar pertanyaan, ”Tahun bara barangkek?.” Iya, bulan haji yang hanya sekali setahun membuat rentang antrian berbilang tahun. Tujuh hingga sepuluh tahun adalah angka yang biasa. Bahkan mungkin lebih lama. Jika Anda mendaftar sekarang, jadwal keberangkatan Anda baru sekian tahun yang akan datang. Anehnya, dalam kondisi semacam ini masih saja ada yang bisa menunaikan ibadah haji berkali-kali. Di samping itu, antrian haji yang menumpuk mengindikasikan telah banyak masyarakat Indonesia yang ‘mampu.’ Karena haji hanya diperintah bagi yang mampu. Jika demikian, bukankah seharusnya jumlah antrian haji juga menandai penurunan angka kemiskinan? Tapi kenyataannya? Ini adalah ironi kedua.

Sebenarnya, ada solusi yang dapat mengurangi ironi ini. Solusi itu adalah kesadaran orang-orang kaya untuk menunaikan ibadah haji sekali saja. Mengapa demikian? Alasan sederhananya adalah karena perintah untuk melaksanakan haji hanya sekali. Di samping itu, Rasulullah pun juga hanya sekali menjalankannya. Haji sekali menjadi solusi untuk kedua ironi tersebut dalam dua cara. Pertama, meninggalkan haji berkali-kali akan mengurangi jumlah antrian haji. Dengan demikian, orang yang belum pernah berangkat akan mendapatkan kesempatan yang lebih lapang. Kedua, kelebihan harta yang dimiliki seorang yang telah haji tidak perlu dibelanjakan sebagai ongkos haji untuk kedua kalinya. Ia sebaiknya menafkahkannya dalam bentuk ibadah sosial, seperti zakat, waqaf, sedekah, dan sebagainya. Sederhana bukan, kesadaran haji hanya sekali bisa melapangkan kesempatan orang lain sekaligus berpotensi mengurangi angka kemiskinan?

Namun sayangnya terdapat persepsi yang keliru di tengah masyarakat. Haji seolah menjadi candu. Tidak cukup sekali, dua kali, dan seterusnya. Makkah dan Madinah memang sangat mempesona, ternyata. Sejumlah motivasi bermunculan. Bahkan, ada motivasi ‘biar meninggal di Makkah.’ Menggiurkan bukan? Motivasi dunia? Tentu saja ada. Untuk meningkatkan elektabilitas bagi politisi, meningkatkan popularitas bagi artis, meningkatkan strata sosial bagi masyarakat umum, atau bahkan untuk ‘jalan-jalan’ ke tanah Arab, sekedar melihat gurun pasir, onta, dan kebun korma. Motivasi-motivasi yang sangat berpotensi merusak pahala haji.

Tapi mari kita tiru Rasulullah. Setelah umat Islam semakin bertambah dan semakin kuat, apakah Rasulullah tidak mampu berangkat haji berulang-ulang? Mampu tentu saja. Beliau adalah orang yang paling disegani ketika itu. Siapapun akan mau melayani dan menjadi body guard beliau untuk berhaji. Tapi beliau hanya berhaji sekali saja. Beliau lebih memilih mengurusi umat Islam. Pada sisi lain, ajaran Islam sebenarnya lebih mengutamakan ibadah shalat daripada haji. Hadis Nabi Muhammad secara tegas menyebut bahwa shalat adalah tiang agama. Dalam hadis yang lain, Nabi juga menyampaikan bahwa ibadah yang paling awal dipertimbangkan di akhirat adalah shalat; apabila shalatnya baik, maka ibadah lainnya akan mengikuti dan begitu sebaliknya. Islam juga sama sekali tidak mengabaikan ibadah sosial. Jika kita mau berenung, mengganti haji yang kedua dan seterusnya dengan ibadah sosial tidak akan mengurangi pahala. Waqaf umpamanya, memberikan aliran pahala yang tiada henti. Pahala sedekah atau zakat yang tepat tidak akan kalah dibandingkan dengan haji. Bayangkan jika zakat/sedekah disalurkan dalam bentuk beasiswa. Harta yang diberikan menjadi sebab sejumlah pemuda memiliki ilmu. Tentu saja pahala yang tidak terhingga akan terus mengalir. Bagaimana jika disalurkan dalam bentuk modal usaha. Pengangguran dan kemiskinan akan berkurang. Kriminalitas pada gilirannya juga berkurang. Tidak menutup kemungkinan, bantuan produktif tersebut bermuara pada munculnya beberapa calon jamaah haji lainnya. Sungguh suatu hal yang sangat mulia.

Jadi, ada banyak alasan untuk tidak mengulang berangkat haji. Ini juga berarti tidak ada alasan untuk mengulang berangkat haji untuk kali kedua dan seterusnya. Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, seorang ahli fiqh/ushul fiqh sepertinya sudah layak mendiskusikan hukum pelarangan berangkat haji berulang kali.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s