Arogansi Berdiskusi



Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai debat sebagai pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai satu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Sementara diskusi diterjemahkan sebagai perundingan untuk bertukar pikiran mengenai satu masalah. Kedua kata ini terkesan sama, dan banyak orang menggunakannya secara acak. Ia menggunakan kata debat untuk diskusi atau sebaliknya. Padahal kedua kata ini tidak sama. Mari perhatikan definisi yang diberikan oleh KBBI. Ketika debat memiliki unsur ‘mempertahankan pendapat masing-masing,’ diskusi tidak memiliki unsur itu.  Itu berarti bahwa perdebatan adalah soal menang-kalah, bukan benar-salah. Jika harus menggunakan istilah benar-salah, maka debat adalah tentang siapa yang dianggap benar dan siapa yang dianggap salah.
Saya pribadi lebih menyukai diskusi daripada debat. Bagi saya, diskusi lebih jujur daripada debat. Diskusi adalah tentang mencari kebenaran, tentang menyamakan persepsi atau kesepakatan. Meskipun unsur negosiasi sangat penting, ia tidak mengalahkan pondasi utama, yaitu kebenaran berpikir dan argumen. Itu berarti, dalam diskusi seseorang dituntut untuk mengakui argumen lawannya jika kemudian ia merasa argumennya tidak tepat sementara argumen lawan lebih baik. Jika pada akhirnya mereka sama-sama merasa memiliki argumen yang kuat namun masih belum sepakat, mereka akan sepakat untuk tidak bersepakat.

Akan tetapi, banyak orang yang berdebat dalam diskusi. Banyak orang yang berpikiran ‘yang penting menang’ dari yang seharusnya ‘yang penting mencari jalan keluar.’ Hasilnya, ia akan ngotot dan habis-habisan menolak argumen lawannya, meskipun di hatinya ia diam-diam setuju. Ia merasa gengsi untuk mengakui itu, karena ia tidak mau kalah. Ia lebih memilih menang dalam kesalahan daripada kalah dalam kebenaran.
Tidak jarang, diam-diam setuju ini ditindaklanjuti. Jika pada sesi diskusi sebelumnya dengan seorang teman ia ngotot dan menolak, meskipun diam-diam setuju, pada diskusi berikutnya dengan teman yang berbeda ia justru menggunakan argumen tersebut itu. Pernahkah Anda mengalami ini? Saya rasa pernah, karena kejadian ini bukan barang langka. Salah seorang dosen pernah menceritakan hal ini. Dia kaget dan tersenyum dalam hati ketika lawan diskusinya khutbah jumat, dimana ia adalah salah seorang jamaahnya. Sang lawan ini ternyata menggunakan argumen sang dosen, meskipun sebelumnya ia getol menolaknya. Arogansi? Atau terlalu gengsi? Ya kira-kira begitulah.
Saya rasa arogansi ini adalah ‘iblis’ gaya baru. Meskipun sikap ini dimiliki oleh ustaz atau akademisi agama, ia tidak lantas jauh dari ‘iblis’ ini. Mengapa saya katakan demikian? Karena ia mengingkari kebenaran yang ia sadari dalam hati hanya karena gengsi. Bukankah ini yang dilakukan oleh Iblis ketika menolak sujud kepada Adam? Iblis sadar bahwa Adam mengetahui suatu hal yang tidak ia ketahui namun ia enggan untuk mengakuinya.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ [البقرة : 34]
“Ingatlah ketika Kami berkata kepada malaikat, sujudlah kamu kepada Adam. Semua sujud kecuali Iblis. Mereka ingkar dan angkuh dan olehkarenanya mereka termasuk kepada orang kafir.”
Iklan

2 pemikiran pada “Arogansi Berdiskusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s