Aku dan Hujan


ditulis oleh: Matahari
hujanRibuan, bahkan mungkin jutaan air yang merembesi langit turun menghiasi bumi. Beberapa rintiknya masuk ke sela serat pakaianku, sedang beberapa lainnya menghiasi kulit, lalu perlahan turun, seolah tak betah lama-lama bersinggah.
Langit terlihat berat. Beberapa orang yang mungkin sedang menghadapi beratnya cobaan hidup akan berfikir bahwa saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menangis. Dimana mereka bisa menyamarkan air mata akan nama hujan. Tapi aku memutuskan untuk tersenyum dibawahnya, merentangkan tangan dan mencoba menikmati dingin yang menyapa indra perabaku.
Beberapa orang melihat aneh. Kulihat mereka berdesak-desakan. Di emperan toko, di bawah pohon, bahkan di bawah payung sekalipun. Beberapa masih memandangiku aneh, seorang perempuan dengan jas rapi yang terlihat menikmati bulir-bulir hujan. Sedang beberapa yang lain mulai terlihat tak peduli, sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.

“Kau dan hujan, memang sama misterius ya” ujar sebuah suara yang sudah sangat akrab ditelingaku. Suara hujan tertahan menggantikan dinginnya tetes hujan yang tadi mengenai kulitku. Laki-laki ini, kini ia tengah berbagi payungnya dengan tubuhku yang sudah sempurna basah sedari tadi. Namun aku dan dia sama-sama tersenyum. Ini bukan masalah basah atau tidak. Bukan pula masalah percuma ataupun tidak. Ini tentang bagaimana bahagianya perasaanku, merasa bahwa ia kini tengah berbagi perlindungannya, aku merasa dilindungi.
“Kau tahu aku tak suka pernyataan klise seperti itu bukan?” balasku menggembungkan pipi, mencoba membuat ia berfikir bahwa aku tak menyukai kehadirannya yang tiba-tiba. Apalagi perkataan yang terlalu sering diucapkannya padaku. Namun nyatanya ia hanya tertawa ringan sambil menyodorkan sebuah handuk kecil.
Mataku mulai menerawang. Sebuah senyum singkat kulemparkan padanya. Bayangan akan masa lalu memang selalu sulit untuk dilupakan. Tidak, kini aku sama sekali tak berniat untuk mencoba melupakannya. Aku ingin mencoba memahami akan makna penerimaan yang baik, peneriman yang sejati.
“Kalau kau menangis sekarang, kau tak akan bisa berdalih lagi bahwa ini air hujan, Risa” ujarnya mengusap pelan puncak kepalaku.
Ah, benar juga. Saat itu hari juga hujan seperti saat ini. Saat itu orang-orang juga memandang aneh padaku. Dan saat itu, lelaki ini juga datang dengan sebuah payung ditangan kanannya.
.
.
.
Bulan Desember, tepat dipenghujung tahun yang telah menorehkan banyak gurat dalam kanvas kehidupanku. Beberapa negara kini sedang menghadapi puncak musim dinginnya, berbeda dengan negara tempatku yang tiada diguyur salju, melainkan ribuan butir rintik hujan yang turun hampir dua kali sehari.
Aku merapatkan jaket yang melampisi seragamku. Seharusnya kini langit tengah menjingga sempurna, meninggalkan jejak sang surya yang pamit undur diri, memenuhi tugasnya untuk menyinari bumi bagian lain. Seharusnya kini anak-anak burung telah kembali ke sarang, dan para kelelawar telah bangun guna mencari rezki hari ini.
Seharusnya, aku sudah tiada lagi disini.
Langit gelap dan berat menggantikan langit yang ‘seharusnya’ indah bertahtakan jingga. Penghujung tahun telah membuat beberapa hal berubah. Namun aku masih sedikit tersenyum, masih ada yang belum berubah. Layaknya sekelompok orang yang berada dihadapanku.
Tiga orang santri yang bersarung dan masih berpeci itu sibuk saling menangkis bulu reket dengan reket di tangan masing-masing. Salah seorang yang merasa lebih hebat dari dua lainnya gagah bermain satu lawan dua. Sedang yang dua merasa tak keberatan berbagi lapangan.
Langit memang berat. Tapi alam cukup berbaik hati menahan rintik hujan dan angin kencang yang akan mengganggu permainan santri itu. Lagak pemain professional, salah seorang memasukkan ujung telunjuknya ke dalam mulut, lalu mengeluarkannya dan menggantungkannya di udara. Ah, aku ingat. Dulu anak seumuranku sering melakukan itu. Dengan alasan ingin mengukur arah dan pergerakan angin, tingkah kekanakan itu ternyata masih menjadi tradisi sampai sekarang.
Bulu reket itu masih setia membumbung udara. Belum terjatuh di arena salah satu dari dua tim pemain yang tak seimbang jumlahnya itu. Seorang santri berkaos putih berperawakan gembul dan agak congak mengangkat sebelah tangannya sambil bersorak.
Sempat terlihat perbincangan singkat antara ketiga santri yang sudah bermain sedari tadi. Dengan anggukan kecil dan permainan itu pun berlanjut seimbang. Dua lawan dua.
Si Gembul jadi starter. Sayang permainannya tak secongak penampilannya. Pukulan pertama langsung out. Entah karena terlalu semangat atau hendak unjuk stamina. Tapi tetap saja ada garis-garis putih sekeliling arena yang menjadi batasan bagi para pemain. Tak peduli sekuat apa pun pukulannya. Tak peduli sehebat apa pun triknya. Maupun jatuh tak elit, maka tetap dihitung poin. Dan sepertinya Si Gembul tak ingat akan hal satu ini.
Dua santri tim lawan langsung memandang cemooh. Sedang rekan setim Si Gembul hanya bisa mengusap wajah. Si Gembul memasang senyum terbaiknya. Seolah berkata bahwa barusan hanya pemanasan.
Beberapa tim lain mulai ikut bermain di lapangan sebelah. Memang lapangan sekolah- mungkin lebih tepat disebut Madrasah- ini cukup luas. Memungkinkan puluhan santrinya bermain buku tangkis dengan nyaman tanpa kesulitan lahan. Tapi perhatianku masih terpaku dengan permainan Si Gembul dan kawan-kawannya.
Seorang santri bertubuh lebih kecil berdiri dihadapanku, membelakangi. Ia terlihat antusias dengan permainan Si Gembul dan kawan-kawan, mungkin kakak kelas bagi si kurus. Namun kehadiran Si Kurus rupanya bukan tak membawa ricuh. Berkali-kali ia membujuk agar salah seorang mau membiarkannya bermain sebentar. Tapi Si Gembul terlihat belum mau meminjakan. Pasalnya ia masih kesal karena nilainya masih tertinggal dengan tim lawan.
Aku melirik pergelangan tanganku. Jam tangan kesayanganku bertengger manis menunjukkan arah jarum yang saling membelakangi. Jam tanganku sedikit unik. Dilingkarannya terdapat sebuah lingkaran kecil, serta dua buah garis melintang yang membagi lingkaran itu menjadi empat bagian sama besar. Disetiap pembagiannya terdapat angka romawi yang menjadi pelambangan dari waktu yang ditunjukkan. III, VI, IX dan XII. Dan di setiap angka romawi juga terlihat tulisan alphabetik. Three, six, nine, dan uniknya ‘tweive’. Entah salah cetak atau apa sebabnya, namun tetap menjadi sebuah keunikan tersendiri dari jam tangan ini. Ah, aku lupa. Aku seharusnya lebih terpaku pada angka yang kini ditunjukkannya.
“Sudah jam 6. Balik asrama!” teriak salah seorang santri yang tadinya bermain di lapangan terjauh dari tempatku berdiri sekarang.
Si Gembul dan Si Kurus sama terlihat frustasi. Si Gembul masih belum memenangkan permainnannya, dan Si Kurus belum juga dapat jatah bermain. Namun jam 6 sore merupakan batas akhir, dimana selanjutnya para santri disuruh bersiap-siap untuk shalat maghrib di masjid.
Teman bermain Si Gembul langsung membereskan net yang tadi mereka gunakan untuk bermain. Melipatnya dan mulai berjalan ke arahku. Aku tahu tujuannya. Kantor tepat disebelah tempatku berdiri menyandari dinding sekarang.
Ia sedikit tersenyum dan meenundukkan kepalanya- sekilas seolah gerakan mengangguk, menyapa. Aku balas tersenyum.
“Ustadz, ini netnya. Kami balik ke asrama dulu Ustadz” ujar si santri sopan. Lalu kembali tersenyum kepadaku sebelum berlari ke asrama, takut ditinggal teman-temannya.
Aku menghela nafas panjang. tontonan yang sedari tadi menghiburku telah usai. Aku mencoba mengintip, mencuri-curi pandang akan apa yang terjadi di dalam. Seorang laki-laki paruh baya berjas necis dengan seorang perempuan yang terlihat sedikit lebih muda dengan polesan make up tipis bertema ‘fun orange’ sedang bercakap-cakap dengan dua orang guru yang biasa dipanggil ustadz disini.
Akan lebih baik jika jejak jingga terpancar jelas sore ini. Mungkin juga akan lebih baik jika tadinya aku memberikan beberapa lembar uang pada Si Gembul ataupun Si Kurus untuk berteriak-teriak di lapangan ini menyerukan bahwa sekarang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Tinggal beberapa saat lagi sebelum siang berganti dengan malam. Berteriak mengingatkan pada orang-orang didalam sana bahwasanya hari sudah larut, dan mereka sudah terlalu lama membincangkan hal yang seharusnya dipermudah saja dari tadi.
Dan sepertinya doaku sempat didengar Tuhan. Laki-laki paruh baya dan wanita itu berdiri, saling bersalaman dengan sang guru dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Mereka berdua tersenyum padaku. Aku hanya membalas dengan tatapan datar.
“Surat pemindahanmu sudah selesai, besok kamu sudah bisa berangkat dengan Ayahmu” ujar si wanita mengelus puncak kepalaku.
“Ayah yakin Risa akan dapat teman baru sesampainya disana nanti” lanjut laki-laki paruh baya itu menggenggam tanganku, tapi aku menepis pelan.
Keduanya tersenyum penuh arti padaku.
Mereka pun berjalan ke arah parkiran. Dengan langkah antara mau tak mau aku mengikut. Kulihat beberapa orang yang kukenal tersenyum padaku. Bahkan ada yang sempat bersalam dan memelukku singkat. Mengucapkan banyak hal lazim tentang perpisahan. Ya, perpisahan. Aku akan segera pindah dengan ayahku.
Dua orang yang merupakan orang tua biologisku saling menaiki mobil yang berbeda. Aku yakin mendatangi kantor madrasah dan duduk bersama mengurus kepindahanku merupakan ujian tersendiri bagi mereka. Mereka kini bukan lagi sepasang kekasih, bukan lagi pasangan orang tua. Mereka kini nyatanya seorang individu. Tak lagi terikat, kecuali dengan kehadiranku yang kini entah masih diharapkan atau tidak.
“Aku, akan pulang sendiri” ujarku pelan.
Ayah dan Ibu- entah masih pantas panggilan itu- sama melihatku dan batal memasuki mobil mereka. Seolah dengan mendekatiku dan menyentuh lenganku akan membujuk hatiku.
“Hari sudah malam, Nak!” ujar Ibu tetap tak terima dengan keputusanku.
Aku menggeleng. “Hari ini hari terakhir Risa mengenakan seragam ini. Risa ingin pergi ke asrama sebentar, berpamitan dengan teman-teman. Nanti sehabis Isya biar Risa telfon minta Pak Rudi yang jemput” lanjutku. Aku lebih suka jika supir tua hangat itu yang menjemput, daripada orang tua sendiri yang mengundang sunyi dan canggung. Dan sepertinya mereka berdua menerima alasan satu ini.
Tak lama dua mobil itu sudah beranjak pergi. Yang satu sengaja mengambil jalan memutar, tak ingin membuat kontak lebih lama lagi. Entah apa yang ada di pikiran mereka saat memutuskan untuk bersama, dan entah apa pula yang ada di pikiran mereka saat memutuskan untuk kembali berpisah. Nyatanya hubungan manusia, bahkan yang sudah terikat akan kelahiran seorang anak tetaplah hanya diikat sebuah benang tipis. Sangat mudah baginya untuk putus.
Satu tetes hujan tepat mengenai batang hidungku. Dan langsung disusul oleh ratusan tetes lainnya, saling susul menyusul, saling sersautan beradu dengan bumi.
Beberapa orang melihat aneh kepadaku yang setia berdiri dibawah langit. Kulihat mereka berdesak-desakan. Di pelataran masjid, di bawah pohon, bahkan di bawah payung sekalipun. Beberapa masih memandangiku aneh, seorang santriwati berseragam lengkap yang terlihat menikmati bulir-bulir hujan. Sedang beberapa yang lain mulai terlihat tak peduli, sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
Aku membiarkan air itu membasahi tubuhku. Dingin. Hatiku dingin! Sedang mataku memanas, ingin menumpahkan beban yang sedari tadi mengganjal dada, memberontak ingin keluar. Kubiarkan aliran air mataku ikut membaur dengan air hujan. Aku tak ingin ada seorang pun yang tahu bahwa aku menangis.
Sayang, entah malah sebaliknya. Suara hujan tertahan menggantikan dinginnya tetes hujan yang tadi mengenai kulitku. Seorang laki-laki dengan wajah asing berdiri tepat dihadapanku. Payung coklatnya terbentang, cukup melindungi dirinya dan diriku dari guyur hujan, tetap dalam batas jarak aman.
“Kau, santri yang mulai pindah besok ya?” tanyanya membuyarkan lamun yang sempat bertengger di benakku.
“Dan kau, santri yang kabarnya mulai masuk besok?” balasku ragu-ragu. Memang ada kabar burung mengenai murid pindahan.
Dia tertawa. Entah apa lucunya perkataanku barusan. Namun entah kenapa aku ikut tertawa ringan.
“Kalau kau berbicara seperti itu, aku akan terlihat seperti seorang penjahat yang akan mengambil tempatmu disini!” ujarnya disela tawanya.
“Maaf” balasku, dan sepertinya itu semakin memancing tawanya.
“Jangan minta maaf. Aku hanya bercanda.” ujarnya tersenyum ramah.
Lama kami sama terdiam. Hanya suara hujan yang meredam segala bebunyian lain. Dan lama pula ia terlihat memperhatikanku.
“Apa kau menangis?” tanyanya memecah sunyi.
“I-Ini hanya air hujan” dalihku memalingkan wajah. Aku melangkah, hendak pergi. Yang pertama, aku tak nyaman dengan pertanyaan ini. Dan aku juga mulai merasa tak nyaman dengan posisiku dengan laki-laki ini. Berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahram bukanlah hal baik. Namun langkahku terhenti saat ia menahan tasku. Sepertinya ia cukup tahu sopan santun untuk tidak asal memegang seorang perempuan.
“Kau tahu, beberapa orang yang mungkin sedang menghadapi beratnya cobaan hidup akan berfikir bahwa saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menangis. Dimana mereka bisa menyamarkan air mata akan nama hujan. Mungkin kau juga termasuk.” ucapnya.
Aku merasa tersindir. Apa menangis ditengah hujan seperti ini benar-benar memalukan? Apa salah jika aku menangisi hal yang kini telah jadi hal umum, perceraian. Terpaksa memilih akan dua orang yang sama kucintai. Terpaksa pergi jauh karena salah seorangnya tak sanggup hidup di tempat yang sama. Orang tua juga manusia, dan mereka juga sama ingin bahagia. Tak ada manusia yang bisa egois meminta untuk dimengerti.
“Aku tak tahu apa masalahmu. Sejujurnya aku bahkan juga pernah menangis sendiri di tengah hujan. Tapi, aku lebih menyukai tersenyum dibawahnya” lanjut laki-laki itu menyerahkan payungnya, lebih tepatnya ia mengangkutkannya ke tas sandangku.
Aku terpaku. Laki-laki itu perlahan beranjak pergi. Terlihat mulai menikmati saat rintik hujan mengenai tubuhnya. Dan saat itu, sekilas aku bisa melihat siluet senja yang telah lama kunanti dibalik wajah senyumnya.
“Kalau kau masih ingin menangis, berarti kau lebih membutuhkan payung ini daripadaku!” ucapnya setengah berteriak, menyaingi deru suara hujan,
Laki-laki itu melambaikan badannya tanpa berbalik menatapku. Aku tersenyum, mungkin terlihat aneh karena kontras dengan wajah menangisku beberapa menit yang lalu. Dasar sok keren! Aku mengalihkan pandanganku, menatap langit yang masih menitikkan airnya. Mungkin suram memang waktu yang tepat untuk bersedih, namun akan lebih indah jika tersenyum dibawah suram itu sendiri.
Aku mencoba untuk mencari siluet laki-laki itu. Namun sudah tiada lagi seorang pun yang kutemui sepanjang edaran mata.
Aku menyentuh payung itu, menggenggamnya erat. Kapan ya aku kembali kesini? Lima tahun? Sepuluh tahun? Aku benar-benar ingin kembali lagi ketempat ini. Aku ingin mencoba tersenyum dibawah langit mendung yang suram ini. Dan aku ingin bertemu dengannya, laki-laki itu sekali lagi.
.
.
.
“Hoi Risa!” panggil laki-laki itu membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan langsung mengambil handuk kecil yang disodorkannya padaku.
“Ma-maaf” ujarku
“Kebiasaan melamunmu seharusnya diubah sejak dulu. Aku tak tahan terlihat seolah berbicara sendiri” lanjutnya sedikit menggerutu lucu.
Dia menatapku lama. Ada raut sedih terpancar disana. Memang saat ini hujan turun rintik, dan ada alasan untuk menangis.
“Maaf aku terlambat. Seharusnya aku ikut dibarisan terdepan pemakaman Ayah” ujarnya.
“Tidak. Kabar ini juga sangat mengejutkan. Bahkan aku tidak sempat mengganti baju kerjaku.” Balasku sedikit menunjukkan jas basahku yang kini ku pegang, menyisakan kemeja putih sebagai pembalut tubuhku.
“Kupikir kau adalah orang paling lama yang akan berdiri di kuburan Ayah” lanjutnya.
“Aku berencana untuk seperti itu. Hanya saja ada beberapa hal tak terduga di dunia ini” balasku tak mau kalah.
Masih jelas dalam kepalaku saat beberapa jam yang lalu gundukan merah, rumah persinggahan abadi sampai akhir masa bagi Ayahku baru saja ditebari bunga. Baru beberapa jam yang lalu aku mendapat kabar dan langsung berangkat dari tempat kerjaku. Aku kini sudah tak tinggal di kota yang sama dengan Ayah, tak sama pula dengan Ibu. Namun tak begitu jauh. Hanya butuh waktu 3 sampai 4 jam. Ketika mendapat kabar, aku langsung menghubungi muhrimku, meminta izin. Ia pun mengizinkan dan menjanji akan langsung menyusul seketika rapat rutinnya selesai. Dan masih jelas dalam kepalaku. Saat pemakaman itu telah beranjak sepi, dan hujan menaungi bumi, saat satu per satu kepala mulai melangkah menjauh, seorang wanita dengan make up terbaiknya, berbalut setelah hitam kasual masih setia berdiri menatapi nama yang terpampang di nisan.
Aku yang menatap dari kejauhan memutuskan untuk tak mendekat. Membiarkan mereka yang dulunya sepasang kekasih, yang dulunya sepasang orang tua itu saling melepas salam perpisahan abadi. Ikatan antar manusia itu memang sangat misterius. Saat ia terputus dan terjauhkan oleh jarak dan waktu, justru saat itulah ia mulai terjalin serat-serat halusnya untuk kembali berikatan. Dan sayangnya takdir kejam memanggil salah satu menghadap pencipta sebelum simpul tadi sempurna kembali terikat. Tapi jejak ikatan itu membayang dari penampilan Ibu saat ini, berdandan cantik, seolah inilah saat terakhir ia bisa berdandan bagi Ayah.
Aku pun memutuskan melangkah menjauh, meninggalkan sepasang manusia itu dengan cerita hidupnya sendiri. Cerita hidup yang akan mereka pertanggungjawakan di hari pembalasan nanti.
“Risa, kau bermenung lagi!” ujar laki-laki itu.
“Eh, maaf” balasku. Ia terlihat menghela nafas.
“Aku tahu kau sedih. Tapi kau harus ingat, kau tak hanya membawa satu nyawa saat ini Risa!” laki-laki itu menyentuh kedua bahuku. Aku tersenyum lembut. Refleks tangan kananku beralih menyentuh perut yang masih datar ini.
Saat seseorang pergi, mungkin akan ada jiwa lain yang terlahir ke bumi ini. Membawa cerita lain yang tak kalah indah, skenario Tuhan yang khusus diciptakan untuknya.
“Apa kau tak ingin mengantarkanku ke tempat Ayah?” tanyanya.
“Kupikir kita harus menginap malam ini. Hari ini adalah hari untuknya bersama Ayah. Sebaiknya kita baru berkunjung besok” jawabku menarik tangan lelaki itu. Ia terlihat bingung, Namun tak banyak tanya. Ini salah satu hal yang kusukai darinya.
Sepanjang jalan kami menikmati sunyi. Sunyi yang nyaman, sama sekali tak canggung. Kadang aku masih berfikir, bagaimana jika Ayah dan Ibu mersakan sunyi yang kurasakan saat ini, apa perceraian akan tetap jadi pilihan mereka?
Kini aku berada di kota yang sama. Musim hujan yang sama. Kota tempat aku menyukai hujan untuk pertamakalinya. Tempat dimana aku memutuskan untuk mencoba tersenyum dibawah rintik hujan. Tempat dimana aku kembali bertemu dengannya setelah tahun demi tahun berlalu. Sebuah kisah yang merangkai sinkronisasi antara aku dan hujan.
“Rihan, bagaimana kalau kita ke madrasah sebentar? Aku ingin shalat disana!” pintaku. Laki-laki itu, Rihan tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya.
“Ya, aku juga sudah rindu tempat pertama kita bertemu”.
END
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s