Lulaby


ditulis oleh: Matahari
imagesRambut hitam perempuan itu melayang rendah, bola matanya menatap penuh kasih. Irama ini, irama yang mengalun lembut dari bibirnya, aku hafal betul. Mataku mulai terasa panas. Air mulai mengalir dari sela dua kelopak mata yang sebenarnya tengah tertutup rapat. Aku tahu, ini hanya mimpi. Namun apa salah jika aku ingin terus melanjutkan mimpi ini. Satu-satunya tempat dimana aku bisa melihat perempuan ini.
‘And, if your love is true everything will be just as wonderful…’perempuan itu tersenyum seraya mengakhiri alunannya. Ah, aku rindu Ibu.
….
“Aida, kau tidak tidurkan!” Risa mengguncang bahuku, memastikan. Memang kini aku tengah menenggelamkan kepalaku diantara tanganku yang kulipat di atas meja. Sejak tadi Risa sudah heboh akan murid baru yang menjadi trend topic siang ini.
“Iya, aku dengar” gumamku agar Risa berhenti menggoyang bahuku.

“Kenapa kau heboh sekali Risa? Wajarkan ada murid baru semester baru begini” tanya Mei juga merasa terganggu dengan temannya yang hyperactive ini.
“Kabarnya, Viona itu anak dari pemilik coffee shop yang baru buka minggu lalu.” jawab Risa semangat.
“Lalu?” tanyaku dan Mei bersamaan.
Risa terlihat kesal dan menyentuh pelan bahuku, tangannya yang satu lagi juga terlihat memegang bahu Mei. Risa menurunkan suaranya dan memberi kode agar kami mendekatkan wajah kami. Tanpa rasa curiga aku mendekatkan telingaku.
“Itu artinya kau punya kesempatan mencari lagu itu disana, Aida. Kudengar coffee shop itu sering memutar lagu-lagu jadul disana” bisik Risa.
“Apa benar?” tanyaku jadi ikut berbisik. Separuh hatiku merasa ingin meloncat girang, aku sudah lama mencari lagu yang selalu didendangkan Ibuku sebelum ia meninggal. Namun separuhnya lagi mulai sarkartis. Sudah lebih lima tahun, namun aku belum juga menemukan lagu itu.
“TENTU SAJA AIDA!” teriak Risa menaikkan suranya tanpa aba-aba.
Aku dan Mei sontak menjauhkan telinga kami dari Risa. Lengkingan suaranya cukup berbahaya bagi gendang telinga.
“Ayo kita pergi kesana sepulang sekolah” ajak Mei.
Aku melirik Risa. Ia mengangguk antusias. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mereka terlihat begitu antusias membantuku, padahal lima tahun bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar. Harusnya akulah yang lebih antusias daripada mereka, aku menyemangati diriku sendiri.
Bel sekolah kembali berbunyi. Ini adalah mata pelajaran terakhir. Setelah beberapa saat seorang guru pengganti memasuki kelas. Guru bahasa indonesiaku masih cuti melahirkan. Guru itu mencatatkan tugas di papan tulis dan langsung pergi begitu saja. Lagi-lagi tugas mengarang. Memang bahasa indonesia tak akan lepas dari sana.
Risa dan Mei sibuk membereskan tas mereka, berbeda denganku yang masih berkutat dengan kertas kosong dihadapanku. Risa terlihat menuliskan sesuatu di kertas, meremukkannya dan melemparnya kearah ku. ‘Ayo cabut!’ tulisan di kertas itu. Aku menatap mereka yang sudah siap dan duduk manis menungguku. Ah, berteman dengan mereka meang sering membuatku jantungan. Apalagi kalau ayahku sampai tahu aku berani cabut saat jam pelajaran.
“Ayo pergi!” Risa menarik tanganku antusias. Beberapa orang tampak menatap kami dengan tatapan biasa saja. Memang banyak murid yang cabut jam terakhir, apalagi hanya diberi tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Tapi tetap beberapa siswa siswi teladan terlihat masih betah di tempat duduk mereka.
Aku terkagum saat melihat sebuah coffee shop kecil di sudut jalan. Coffee shop itu tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman dengan konsep ‘rumah’ yang mungkin dicanangkan oleh si pemilik. Risa langsung mendorong pintu kini menghadapkan papan pada posisi OPEN di bagian luar coffee shop. Dentingan lonceng terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu. Sebuah lonceng memang sengaja diletakkan disana, membuat suara setiap ada yang keluar atau masuk.
Aroma khas kopi langsung menyambar indra penciumanku. Sebuah grand piano putih terletak anggun di tengah ruangan. Namun sebenarnya hanya alat pemutar musik klasik yang memainkan nada yang enak didengar. Kursi dan meja disusun sedemikian rupa, biasanya satu set terdiri dari empat meja dan empat kursi yang disusun bergandengan.
“Selamat datang” ujar seorang perempuan yang terlihat seumuran ayahku dengan celemek yang melampisi terusan coklat yang ia kenakan.
“Wah, jarang sekali ada pengunjung jam segini, apalagi anak sekolahan. Apa kalian tidak belajar?” tanya Ibu itu hangat, sama sekali tidak terkesan menceramahi. Risa hanya tertawa kaku sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Kami langsung mengambil posisi di pojok coffee shop ini. Pertama, tempat ini memang lebih nyaman. Kedua, tempat ini tak terlihat dari luar. Jadi jikalau ada guru yang razia kami tidak akan ketahuan. Dan yang paling penting, , tempat ini lebih dekat ke sebuah pemutar musik tua yang masih menyala, memainkan lagu-lagu klasik yang lebih sering dibilang jadul oleh remaja seusiaku.
“Beethoven: Begatelle no 25. Lebih terkenal dengan judul Fur Elise. Lagu ini kabarnya dipersembahkan Beethoven pada perempuan misterius bernama Elise.” gumamku memejamkan mata, mencoba menikmati dentingan piano yang sudah akrab di telingaku. Nadanya tak ceria, tak pula melankoli. Sederhana menggambarkan perasaan bahagia bertemu dengan seseorang yang disayangi.
“Kau tahu cukup banyak tentang lagu-lagu klasik ya” komentar Ibu itu tiba-tiba sudah berada di dekat kami. Ia meletakkan pesanan masing-masing dan kembali berjalan ke dapur.
“Tunggu, apa Tante sedang sibuk? Kami ingin mengobrol” cerocos Risa. Risa mungkin memang tidak mengenal istilah ‘segan’ di kamusnya.
Ibu itu membalikkan badannya. Yah, memang hanya ada kami disini, dan Ibu itu juga terlihat tak begitu sibuk.
“Baiklah, tapi yang pertama, jangan panggil aku tante! Panggil saja Bibi Vina!” ujar Ibu-ralat Bibi Vina mengambil tempat duduk yang kosong disebelahku.
“Sebenarnya kami tengah mencari sebuah lagu, Bibi” Mei membuka pembicaraan yang lebih sopan, aku setuju. Jika kami membiarkan Risa yang berbicara, mungkin saja pada menit ke-7 kami sudah ditendang keluar dari coffee shop ini. Yah, pengalaman.
“Lagu?” tanya Bibi Vina terlihat mulai penasaran. Mei dan Risa sama-sama diam, seolah mempersilahkanku yang menceritakannya.
Aku tak menceritakan banyak. Hanya tentang Ibuku yang sudah meninggal dan membuatku penasaran akan lagu yang tertaman di hatiku. Peninggalan ibuku.
Bibi Vina terlihat antusias. Dia bahkan memintaku untuk menyanyikan lagu itu. Sebelumnya aku sudah mengatakan pada Bibi Vina bahwa aku tak tahu judul dan pengarang lagu itu. Aku hanya hafal nadanya, serta bait terakhir lagu itu. Bibi Vina sengaja mematikan pemutas musik klasiknya sebentar. Dengan malu-malu aku menyanyikan nada lagu itu, sampai bait terakhir yang kuingat jelas.
“Bagaimana, apa Bibi Vina tahu?” tanya Risa langsung menyambar seusai aku menyanyikan lagu itu.
Bibi Vina tampak berfikir sebentar. Tangannya mengusap pelan dagunya sendiri, mulai menatapku dari atas sampai bawah. Lalu tak lama dia tersenyum, seolah memberi angin segar padaku.
Tiba-tiba saja lonceng yang terletak dipintu itu kembali berbunyi. Serentak kami berempat menolehkan kepala, ingin tahu siapa yang datang. Viona, murid baru dengan seragam yang sama denganku memasuki coffee shop itu malu-malu.
“Apa Ibu yang menyanyi tadi?” tanyanya mendekat.
Bibi Vina menggeleng. Tangannya menunjuk ke arahku. Viona hanya memasang ekspresi owh diwajahnya.
“Apa kau tahu lagu itu, Viona?” tanya Mei membungkam Risa yang terlihat mulai semangat berbicara.
“Rasanya aku pernah mendengar lagu ini. Tapi aku tak ingat” jawab Viona terlihat segan. Mungkin ia tak mau mengecewakan kami bertiga yang memasang wajah penuh harap.
Aku menghela nafasku panjang. Memang dari awal seharusnya aku tak terlalu berharap.
“Tapi aku akan mencoba mengingatnya” ujar Viona.
“Terimakasihh, Viona” ucapku, Risa dan Mei bersamaan.
“Datang lagi ya!” ujar Bibi Vina saat kami membereskan barang-barang kami. Saat kami menuju ke kasir, Bibi Vina hanya menggeleng.”Anggap saja hadiah untuk teman baru anakku” ujarnya. Kami berterimakasih dan meninggalkan coffee shop itu. Sepanjang jalan Mei dan Risa sibuk berceloteh panjang. mereka sama bahagiaya denganku mendapat angin segar akan lagu itu. Mereka benar-benar sahabat yang baik.
Tiba dipersimpangan, aku berpisah dengan Risa dan Mei yang rumahnya tak sejalan denganku. Saat tengah sibuk melamun, sebuah mobil hitam berhenti pas disampingku.
“Ayah! Bukannya Ayah baru pulang besok?” tanyaku tak percaya melihat sosok ayahku kini berada tepat dihadapanku.
“Naiklah” ujarnya singkat. Pandangannya langsung kembali beralih pada lembaran kertas di pangkuannya.
Kak Denny, manager ayahku rangkap supir pribadinya membukakan pintu untukku. Mempersilahkanku duduk di belakang. Senyap langsung menghiasi suasana.
Oh ya, aku belum cerita tentang ayahku. Kalian bingung kenapa aku cukup tahu tentang lagu-lagu klasik? Mungkin kalian sudah menerka jawabannya. Ayahku adalah seorang pianist terkenal yang sering tour keliling kota, bahkan negara. Hanya saja kesuksesan ayahku di bidang musik mungkin tak sesukses keluaganya. Aku ingat, saat Ibu masih hidup, Ayah sering menyempatkan dirinya pergi berlibur dengan kami. Bahkan dulu Ayah sering mendengarkanku berceloteh tentang apa pun. Namun kini, seolah ada tembok pembatas tak terlihat di antara kami. Rasanya selalu canggung saat aku hendak memulai pembicaraan dengan Ayah.
“Kau tahu Aida. Ayahmu sedang tidak ada jadwal sampai lusa. Apa kau mau pergi berlibur dengan ayahmu? Aku akan menolong memesankan tiket dan membuatkanmu surat izin sekolah” Kak Denny memecah sunyi diantara kami. Wajahnya juga jelas terlihat canggung.
Aku tak menjawab. Melirik pada Ayah, semua jawaban tergatung Ayah.
“Mungkin lain kali” jawab Ayahku singkat. Aku kembali menunduk.Kak Denny juga terlihat tak ingin berbicara lebih lanjut. Sejujurnya, ia bahkan membuat suasana tak mengenakkan lebih terasa kental di mobil ini.
Sesampainya dirumah, aku memutuskan untuk langsung memasuki kamarku. Aku melempar tasku sembarang tempat, langsung melompat ke atas tempat tidur. Perasaanku kacau. Aku bahagia karena Viona mau membantuku mencari lagu itu. Namun aku juga merasa cukup tak nyaman karena kini Ayah di rumah, bahkan sampai lusa. Aku sudah tak tahu bagaimana cara menyapa Ayah saat nanti kami bertemu, aku juga tak tahu apa yang akan kubicarakan seusai makan malam. Entahlah. Mungkin aku terlalu sering seorang diri dirumah, mengesampingkan beberapa pembantu dan satpam yang hanya terlihat bagai robot berjalan dimataku.
Mataku mulai berat, aku mengantuk.
….
Dentingan itu terdengar akrab ditelingaku. Terlalu akrab. Bayang perempuan berambut hitam dengan mata teduh kembali mendatangiku. Ibuku kini tersenyum bahagia ke arahku. Tangannya menggenggam erat tangan kecilku, mengajakku berlari di taman rumput. Dari jauh aku bisa melihat Ayah menjempret beberapa kali kameranya ke arah kami. Dadaku sesak. Aku ingat adegan ini. Saat dimana aku dan orang tuaku masih senang berpergian bersama. Ibu melepas tanganku, memberiakanku terpana oleh kupu-kupu cantik berwarna kuning cerah. Ibu berlari kecil ke arah Ayah dan menarik lengannya. Setelah Ayah berdiri, Ibu mendorong Ayah ke arahku. Ayahku tampak canggung, namun ia mulai bercerita tentang kupu-kupu kecil itu. Namanya, jenisnya, bahkan sampai proses evolusinya. Ayahku seperti ensiklopedia berjalan. Waktu itu aku masih tertawa senang. Ibu melambaikan tangnnya padaku dan Ayah. Tanpa sadar waktu itu, aku ikut melambai.
….
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku sudah tak berada di taman itu. Jelas aku kini berada di kamarku sendiri. Namun dentingan piano itu bukan hanya sekedar mimpi. Aku mendengarnya dari luar kamar.
Kakiku melangkah dengan sendirinya ke sumber suara. Semakin lama suara itu semakin keras dan jelas terdengar. Studio musik milik ayah, pintunya terenggang sedikit. Memberikanku akses mengintip.
Ayahku tengah duduk dengan posisi tegap di hadapan piano itu. Tangannya menari lincah disetiap tuts putih yang berserakan di sepanjang jalur. Tak ada buku yang terbentang di depannya. Ayahku benar-benar memainkan lagu itu dipandu hatinya sendiri.
How gentle is the rain, that falls softly on the meadow
[Betapa menyenangkannya hujan yang jatuh lebut di atas rerumputan]
Birds high up the trees, serenade the clouds with their melodies
[Burung-burung di atas pohon menyanyikan melodi mereka tentang awan]
Oh, see there beyond the hills, the bright colors of the rainbow
[Oh lihat disana dibalik bukit, cahaya pelangi yang cerah]
Some magic from above made this day for us just to fall in love
[Beberapa sihir dari langit membuat hari ini bagi kita hanya untuk saling jatuh cinta]
Aku sedikit terkekeh mendengar suara Ayah. Suara laki-laki berumur empat puluh tahunan yang jauh dari kata ‘normal’. Aku bersyukur Ayah memutuskan untuk menjadi seorang pianist, karena jika Ayah memilih menjadi vokalist, maka aku yakin kami tak akan bisa makan hari ini. Aku tertawa kecil, menghindari agar Ayah menyadari kehadiranku disini. Namun nyatanya, air mataku sudah mendahului tawaku, seiring dengan suara Ayah yang semakin cempreng.
Dentingan piano itu terus mengalun. Namun suara ayahku tak lagi terdengar. Beberapa lirik tertinggal dari nada. Aku mengintip dari celah pintu. Ayah sama halnya denganku, sama-sama meneteskan air mata.
Ayah mengambil nafas dalam, sepertinya ingin meneruskan bernyanyi, mengirini suara pianonya yang indah.
Oh, don’t ever make me cry trough long lonely night without us.
[Oh, jangan pernah membiarkanku menangis, meleawi malam panjang sunyi tanpa kita]
Be always true home, keep this day in your heart eternally
[Selalulah menjadi rumah yang sebenarnya, kenanglah hari ini dihatimu selamanya]
Suara Ayah semakin kacau. Nada cemprengnya semakin parah dengan usahanya menahan suara tangisnya. Aku terduduk di depan pintu. Mencoba menghayati setiap nada yang keluar dari mulut ayahku. Setiap lirik yang ia nyanyikan seolah mengingatkanku pada sosok Ibu. Ibu yang hangat dan bagaikan cahaya di tengah malam sunyi.
One day we shall return to this place upon the meadow
[Suatu hari kita akan kembali ke tempat rerumputan ini]
We’ll walk out in the rain, see the birds above singging once again
[Kita akan berjalan dibawah hujan, menyaksikan burung-burung dilangit bernyanyi sekali lagi}
Ayah kembali menelan suaranya. Satu bait lirik kembali tertinggal. Dentingan pianonya semakin melambat. Aku tahu. Maupun nadanya sedikit berbeda dengan nada yang terekam di kepalaku. Tapi aku tahu lanjutan lagu ini. Aku ikut mengambil nafas dalam.
“…And if your love is true, everything will be just as wonderful…” aku serentak menyanyikannya pelan, serentak dengan Ayah. Dengan nada yang sedikit berbeda. Suaraku serak, sama dengan Ayah. Tapi aku merasa begitu menikmatinya.
Aku menghapus air mataku. Ingin sekali rasanya aku mendobrak pintu ini dan memeluk ayahku erat. Namun niat itu kuhentikan saat kembali terdengar dentingan piano. Ayah menyanyikan lagu itu sekali lagi. Aku mendekap lututku, mencari posisi enak. Mendengarkannya sekali lagi, juga bukan pilihan yang buruk bukan? Apa yang sebernarnya kucari, tepat berada di dekatku selama ini.
….
“Padahal ini bukan Hari Minggu, kenapa kalian kesini saat jam pelajaran?” tanya Bibi Vina dengan nada keibuan seperti kemarin, dan seperti kemarin pula Bibi Vina tak mengusir kami dan tetap menghidangkan pesanan kami. Kami yang kumaksud disini tentu saja aku, Risa, Mei dan Viona. Maupun baru mengenal Viona, kami sudah berteman akrab layaknya sudah mengenal seumur hidup.
“Kali ini bukan aku loh provokatornya, Aida yang mengajak kami” ujar Risa membela diri. Mei dan Viona mengangguk menyetujui.
“Ada apa Aida? Apa ada yang mau kau katakan?” tanya Bibi Vina.
“Aku pikir, aku sudah tak perlu mencari lagu itu lagi” jawabku membuat heran seisi coffee shop dengan emblem VV tersebut. Tentu saja, hanya ada kami disini.
“Aida, apa kau menyerah? Apa kau tak ingin tahu lagu yang sering dinyanyikan Ibumu?” tanya Risa mengguncang bahuku. Teriakannya bahkan lebih keras daripada kemarin saat di kelas.
“Jangan menyerah Aida! Kami akan terus membantumu mencarinya!” ujar Mei.
“A-Aku juga akan lebih berusaha mengingat lagu itu. Aku tak ingin kau menyerah!” tambah  Viona
Aku tak bisa menjawab. Mereka terus membombardirku dengan sejuta pertanyaan dan pernyataan. Namun Bibi Vina terlihat tersenyum pengertian padaku.
“Kenapa?” tanya Bibi Vina berhasil membungkam ketiga gadis remaja seumuranku.
Aku menunduk. Aku malu menceritakannya. Menceritakan bagaimana hubunganku dengan Ayah yang sangat kaku dan dingin. Aku juga tak sanggup mengatakan bahwa lagu yang kucari itu, berada sangat dekat denganku. Ayahku sendiri yang memainkannya, maupun aku tak tahu apa judulnya. Namun mendengarkannya sekali lagi benar-benar membuatku senang.
“Apa ayahmu yang memainkannya?” tanya Bibi Vina seolah bisa membaca pikiranku.
“Eh, kenapa Bibi bisa tahu?” tanyaku balik. Bibi Vina malah tertawa.
Bibi Vina mengelus puncak kepalaku. “Tanyakan sendiri pada ayahmu” tukasnya. Aku ingin membantah. Aku tak tahu ingin berkata apa dengan ayahku. Hanya saja tatapan Bibi Vina sanggup menghilangkan seluruh hal yang mengganjal fikiranku.
“Menemukannya sendiri, akan lebih menyenangkan bukan?” tambah Bibi Vina.
Viona, Mei dan Risa cemberut ingin tahu. Namun mereka tetap diam.
“Viona ingin memberikan kejutan untukmu” ujar Bibi Vina. Viona yang mendapat kode dari Ibunya langsung berjalan mendekati grand piano putih itu. Tangan Viona mulai menari licah, jemarinya menekan tuts putih dan hitam itu berirama. Lagu yang dicarinya.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di coffee shop itu. Seorang laki-laki empat puluhan dengan setelah jas hitam formal melangkah memasuki coffee shop itu. Saat pintu dibuka, ia langsung disuguhi lagu yang tak asing di telinganya, serta putrinya yang sepertinya cabut jam sekolah.
“A-Ayah!” ujarku pelan. Mei dan Risa sama-sama bersembunyi dibalik Bibi Vina. Mereka tahu betapa disiplin dan tegasnya ayahku. Sedangkan Viona masih terus melanjutkan lagunya seolah tak terjadi apa pun.
“Selamat datang, Rehan” sapa Bibi Vina. Mungkin itu wajar bagi Bibi Vina untuk tahu nama ayahku, namun aku heran dengan nada bersahabat dari Bibi Vina.
“Kenapa kau disini?” tanya Ayah memandangku.
“Apa kau bahkan ingin mengacuhkanku?” Bibi Vina mulai geram karena tak diacuhkan.
“Vina, aku datang karena kau mengajakku mengobrol siang ini, bukan melihat putriku bolos sekolah” ucap Ayah dengan datar seperti biasa. Namun kupikir ini rekor. Aku belum pernah mendengar ayahku berbicara sepanjang ini. Biasanya hanya ‘ya, tidak, bagaimana kabarmu, baiklah, hati-hati’.
Pembicaraan itu terhenti sepihak. Bibi Vina tak lagi membalas perkataan Ayah. Suara denting piano yang dimainkan Viona menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Bibi Vina menarik tanganku menuju meja yang berada dipojok berlawanan tempat tadi aku dan teman-temanku duduk. Setelah itu Bibi Vina juga sedikit mendorong ayahku menduduki tempat duduk di sebrangku. Meja yang membatasi kami tak sebesar meja makan di rumah, namun aku masih takut menghadapi Ayah.
“Silahkan menikmati waktu anda” ujar Bibi Vina sopan, sedikit menunduk memberi salam. Selepas itu hanya ada aku dan Ayah di meja ini.
Tak benar-benar sepi. Viona terus memainkan lagu itu, maupun ia tak menyanyikannya. Berkali-kali. Ketika lagu itu usai, Viona akan kembali mengulangnya dari awal. Hanya saja, ini sudah ketiga kalinya Viona mengulang lagu itu, dan sama sekali masih belum ada satu kata pun terlontar baik dari bibirku dan Ayah. Sejujurnya aku tak nyaman dengan kondisi ini.
“Lama-lama aku kesal melihat kalian berdua diam layaknya orang mati di coffeee shop ku! Oi, Rehan! Apa kau mau aku yang membuka semua aib tentang percintaanmu ha?!” Bibi Vina datang dengan wajah kesal. Aku terkejut, sosok keibuannya hilang bak ditelan bumi. Kini malah ia terdengar seperti penyanyi rock yang akan pentas.
“Aku tak punya aib apapun, Vina” balas Ayah memangku tangannya di dada.
“Baiklah, kalau begitu biar aku yang menceritakan SEMUANYA pada putrimu” ujar Bibi Vina menekankan kata semuanya itu ketelinga ayahku.
Ayahku tampak marah dibalik wajahnya yang tenang. Mungkin semua pianist memang memiliki wajah datar tak berekspresi seperti ini. Ayahku berdiri dan menarik tanganku, mengajakku pergi dari tempat ini.
Biasanya aku hanya akan menurut dengan segala titah ayahku. Hanya saja kali ini, aku benar-benar ingin tahu. Aku mengeraskan badanku, sedikit menolak saat Ayah menarikku. Kini Ayah resmi melihatku dengan tatapan bingung.
“A-Aku ingin tahu. Semuanya” ujarku terbata-bata.
“Kau dengar itu Rehan! Putrimu sendiri yang memintanya!” Bibi Vina menunjukku.
Ayahku menunduk. Kami kembali duduk. Bibi Vina kini tak lagi pergi. Ia seolah menunggu agar kami mau bicara.
“Jadi, apa yang ingin kau tahu?” tanya Ayah membuka pembicaraan.
“La-lagu itu. Aku ingat dulu Ibu sering menyanyikannya untukku” aku memberanikan diri berbicara.
“Jadi?” tanya Ayah sekali lagi. Kali ini kepala Ayah mulus mendapat pukulan dari Bibi Vina.
“Jawab yang betul Rehan!” maki Bibi Vina. Sepertinya Bibi Vina memang cocok jadi vokalis band rock.
Ayah mengambil nafas dalam. “A-aku juga mendengar kemaren Ayah memainkan lagu itu” tambahku. Wajah Ayah terlihat memerah.
“Lagu itu karyaku. Aku yang membuatnya, untuk ibumu” jawab Ayah akhirnya. Wajah Ayah tertunduk malu. Pantas saja aku tak menemukan lagu itu ke toko kaset mana pun aku pergi.
“Ayahmu romatis juga ya Aida”komentar Bibi Vina.
“Ta-Tapi nadanya berbeda” ujarku.
“Kalau itu, Ibumu memang buta nada sejak dulu” jawab Ayah dan Bibi Vina bersamaan. Setelah itu Bibi Vina kembali tertawa.
“Kupikir setelah menikah dengan ayahmu yang seorang pemusik, dia bisa sedikit lebih peka dengan nada. Namun ia tetap saja mengubah karya orang seenak hatinya” ucap Bibi Vina masih sambil sedikit tertawa. Ayahku juga ikut tersenyum, senyum yang sudah lama hilang dari wajahnya.
Viona menyudahi permainannya, kembali ke sudut ruangan tempat Mei dan Risa menatap kami dengan mata penasaran. Aku menghela nafas. Mereka sama tegangnya denganku.
“Apa Bibi Vina mengenal Ayah dan Ibu?” tanyaku yang heran sedari tadi.
“Tentu saja! Dulu aku satu kuliahan dengan ayahmu. Bisa dibilang kami rival dalam bermain piano. Ibumu, Diana itu sahabatku. Aku yang mengenalkannya dengan ayahmu. Sekali lihat aku bisa tahu kau anak Rehan dan Diana” cerita Bibi Vina.
“Sudahlah, ayo kita pulang” ajak Ayah. Sudah tak bisa ditutupi lagi, wajahnya sempurna merah. Topeng datar Ayah seolah terbuka hanya dengan menyebut nama Ibu.
“Aida, ayahmu itu cuma PEMALU! Desak dia dan dia akan menjawabmu” teriak Bibi Vina tak mengahalang Ayah yang mencoba membawaku ke mobil.
Aku sempat melambaikan tangan pada Mei, Risa dan Vina. Mereka mengepalkan tinju mereka, seolah memberi semangat. Yah, mungkin kali ini aku akan berbicara panjang dengan Ayah di rumah.
Aku menatap dalam wajah Ayah yang berseu merah. Bibi Vina mungkin betul, mungkin saja Ayah hanya kelewat pemalu. Entahlah. Tapi rasanya aku mulai mengerti, mengapa ibuku bisa jatuh hati dengan laki-laki seperti ini.
The End
[A/N] kutipan lagu diambil dari karya ‘The Toys: The Lovers’ Concerto’
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s