Namaku Langit


ditulis oleh: Matahari
imagesNamaku Langit. Sungguh, nama itu bahkan sudah ditetapkan oleh orang tuaku sebelum aku mengerjapkan mata di dunia ini. Kalian bingung kenapa namaku Langit? Baiklah, kali ini aku tak akan keberatan menceritakannya. Mungkin juga cerita ini akan jadi cerita penutupku dimuka bumi. Cerita tentang namaku. Tentang betapa aku menyukai namaku.
Kampung halamanku adalah sebuah desa kecil di lereng bukit. Di sebelah baratnya terdapat pantai berpasir putih. Sepanjang lereng bukit berjejer rumah-rumah kecil dengan perapian hangat. Mobil? Hahaha. Aku lahir jauh sebelum teknologi itu ditemukan. Namun aku bisa mengatakannya dengan bangga, bahwa aku mencintai kampung halamanku. Aku bahagia terlahir disana.

Masa-masa kecilku kuhabiskan dengan Raven, anak laki-laki yang usianya dua tahun diatasku. Dimana ada Raven, disitu ada aku. Begitu pula sebaliknya, dimana aku berada, Raven juga ada disana. Waktu itu kami tak memusingkan dipanggil apa hubungan kami ini, entah pertemanan atau persahabatan. Yang kutahu, aku nyaman bersamanya, dan ia tak kelihatan keberatan bersama denganku.
“Langit, apa kau penasaran kenapa langit berwarna biru disiang hari, jingga disore hari, dan gelap dimalam hari?” tanya Raven saat kami tengah menikmati angin sepoi-sepoi di bibir pantai. Aku yang awalnya sibuk menggurat kayu yang kutemukan di atas pasir tak menolehkan wajahku.
“Apa kau juga ingin ikut mengejek namaku?” balasku berusaha agar terdengar bernada sebal.
“Aku tidak mengejek. Aku seorang pencari sejati, haus akan ilmu. Aku dilahirkan untuk menjadi ilmuan” ujar Raven meletakkan tangannya di dada. Memang ia selalu bangga akan dirinya sendiri.
Akhirnya aku memalingkan wajahku pada Raven. Rambut hitam pendeknya melayang rendah ditiup angin. Bola mata Raven segelap rambutnya. Hitam pekat. Dan saat kau menatap dalam kepadanya, kau seolah bisa tersedot oleh sebetapa misteriusnya iris mata itu. Iris mata yang jarang ditemui di kampung halamanku. Rata-rata penduduk disini berambut coklat kepirangan dengan bola mata biru jernih, sepertiku.
Ah benar juga. Kami selalu mengahabiskan waktu berdua. Tanpa ada tambahan siapa pun. Apa kalian sudah bisa menebak alasannya? Raven adalah penduduk dari suku luar. Hal itu saja sudah membuat anak sebaya kami menjauhinya, ditambahlagi Raven sering berceloteh tentang mimpinya menjadi ilmuan layaknya Galileo Galilei. Dia cerewet dan selalu ingin menang sendiri. Tapi aku tidak keberatan. Malah sebaliknya, aku penasaran akan semua hal tentang dirinya. Aku? Namaku aneh, itu mengapa anak sebaya kami sering mengolok-olokku. Bahkan waktu itu, aku hampir membenci namaku.
Hari-hari kami berjalan mulus. Hanya saja takdir dunia tak berjalan semulus itu. Tepat ketika usiaku yang kelima belas tahun, bencana itu menimpa kampung halaman kami.
Awalnya hanya seperti penyakit musiman. Semua orang batuk flu. Dari para petani dan pekerja pasar, hingga bangsawan elit. Anak-anak, dewasa. Baik laki-laki atau pun perempuan. Namun setelah beberapa hari, batuk flu tadi semakin parah. Mereka yang terjangkit mulai panas tinggi dan tak bisa bangun dari tempat tidur. dr.Smith satu-satunya dokter di kampung halamanku mulai panik. Apalagi setelah penyakit mulai memasuki hitungan minggu, bercak-bercak merah mulai keluar di sepanjang kulit yang terjangkit. Basah, bernanah, dan mulai berdarah. Membusuk hingga akhir nafas dihela.
Pendemik. Orang-orang menyebutnya itu.
Waktu itu, hampir dari setengah penduduk di lereng bukit itu terpaksa ditutup kain putih. Tubuh mereka tak boleh dikubur seperti biasa. Mereka dibakar, api menyala di sekujur tubuh. dr.Smith berkeras bahwa itu demi mencegah penyakit ini menular.
Rumahku dan Raven yang terletak agak menjorok ke pantai dengan jarak cukup jauh dengan pusat aktifitas belum terjangkit saat itu. Aku masih tinggal cukup nyaman dengan nenekku. Orang tuaku memang sudah lama meninggal, meninggalkan warisan nama itu untukku. Raven tinggal bersama orang tuanya di sebelah rumahku.
Namun sayangnya, aku mulai sadar bahwa Nenek terlihat sering menahan batuknya di dekatku. Bahkan saat terjaga malam, suara batuk tak putus-putusnya terdengar dari kamar Nenek. Aku membujuk Nenek untuk segera menemui dr.Smith. Namun Nenek hanya menggeleng, mengatakan bahwa ia baik-baik saja, dan tak ada yang perlu dicemaskan. Bahkan Nenek tetap bersikeras, maupun aku telah meminta bantuan Ayah dan Ibu Raven untuk membujuk Nenek.
“Nenek sudah tua. Wajar kalau Nenek sakit-sakitan” ujar Nenek setiap kali dibujuk.
Hari menyedihkan itu datang tak bisa diundur. Nenek terbaring lemah di tempat tidur. dr.Smith hanya menggeleng saat melihat kondisi Nenek. Aku terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa.
“Langit, apa kau ada disana?” tanya Nenek lemah. Api lilin bergoyak tertiup angin. Usia Nenek sudah tak lama lagi, bercak merah darah itu sudah mulai membusuk. Gurat kematian mulai membayang di pelupuk matanya yang juga memang sudah lanjut usia. Keluarga kecil Raven menunggu di ruang tamu, memberikanku kebebasan didetik-detik terakhirku bersama Nenek.
“Langit” ujar Nenek sekali lagi. Aku menghapus sisa air mataku, menggenggam erat tangan Nenek. Namun Nenek menepisnya. Ia takut aku ikut tertular penyakit itu. Dadaku sesak. Aku ingin memeluk sosok yang telah menjagaku sejak kepergian orang tuaku. Namun itu semu, aku bahkan tak bisa menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat.
“Langit, kamu harus kuat. Walaupun sepergi Nenek, kau tak sendiri. Raven dan keluarganya akan selalu ada untukmu. Nenek dan orang tuamu juga akan selalu menyertaimu Cucuku! Kau harus hidup bahagia” suara Nenek putus-putus. Ia terlihat berusaha mengerahkan seluruh sisa-sisa kehidupannya demi menyampaikan itu padaku. Namun aku hanya terdiam, tak menangis barang sedetikpun. Bahkan saat akhirnya nyawa itu bernjak kembali ke tempat sejatinya, diiringi tangis Ibu Raven dan desahan panjang Ayah Raven dan dr.Smith. Aku hanya terdiam, tak sadar Raven tak lepas memandangiku.
Mayat itu langsung dibakar malam itu jua. Beberapa warga baik hati menolong. Mungkin juga karena mereka takut tertular. Namun yang susah itu bukanlah kematian, yang susah itu melanjutkan hidup setelah menyaksikan kematian orang yang kau sayangi.
Dadaku sakit. Namun aku tak bisa menangis. Hatiku hancur. Namun tak satu pun desahan nafas panjang dan berat yang kuhela. Tubuhku mati rasa. Aku ingin menghilang.
Satu persatu pengunjung mulai meninggalkan abu sisa pembakaran manusia itu. Tak perlu hitungan jam, hanya tinggal aku yang masih berdiri dengan tatapan kosong. Ada seseorang yang berdiri tak jauh dibelakangku, aku tak melihat wajahnya, namun aku yakin, itu Raven.
Lima menit berlalu hening…
Sepuluh menit berlalu, suara guruh dan langit yang berat mendominasi. Memang tak ada percakapan yang keluar dari mulut keduanya, sama sekali tidak.
Lima belas menit terlewati begitu saja, rintik hujan mulai turun satu per satu. Aku masih terpaku. Pesan Nenek kembali mengiang begitu saja ditelingaku, tak kuharapkkan, tak ku undang. Aku harus hidup bahagia? Aku tak bisa bahagia dengan ini. aku kehilangan seluruh keluargaku. Bagaimana aku akan berbahagia?
Detik terus berlanjut. Hujan sempurna mengguyur kota kecil ini. Hujan seperti ingin menolong langitnya ini untuk berduka. Menggantikan air mata sang gadis yang belum hiasi pipinya, sama sekali. Suasana kota itu mendung, semua orang berduka. Tak sedikit yang kehilangan keluarganya hari itu.
Tiga puluh menit sudah. Tubuhku sempurna basah. Kepalaku menengadah ke langit. Namaku Langit, namun aku tak pernah menatap langit selama ini seumur hidupku. Tanganku menggapai pelan. Tak ada matahari yang biasanya gagah bertahta, atau pun bulan gemintang nan tersenyum sendu. Hanya ada mendung, sama dengan hatiku saat ini.
Lima belas menit kembali berlalu. Kali ini tangan itu menggenggam erat bahuku.
“Kenapa kau hanya diam?” tanya Raven, suaranya serak.
“Katakan sesuatu, Langit!” Raven mulai berteriak. Aku hanya membisu.
Tangis Raven tumpah seiring tumpahnya air langit. Aku tak tahu mengapa Raven menangis. Bukankah yang seharusnya menangis itu aku?
“Aku mohon katakan sesuatu Langit! Kau bukan mayat hidup. Bicaralah padaku. Menangislah!” ujarnya kini memeluk erat tubuhku. Badannya sudah jauh lebih besar dariku. Sudah tak sama dengan Raven kecil yang dulu pacu lari denganku di bibir pantai.
Kata-kata itu mulai dibisikkannya di telingaku. Air mataku akhirnya menetes. Aku tak pernah sadar akan arti namaku. Aku tak pernah sadar bahwa ia begitu indah. Aku juga tak tahu, bahwa penerimaan akan jalan kehidupan itu begitu indah. Sekejab aku merasa kembali menemukan tempatku berpijak, Raven.
Suaraku masih terkecal. Aku tak tahu harus mengatakan apa! Hatiku sakit. Dadaku sesak. Semuanya terasa salah. Segala sesuatu terlihat menyedihkan.
“Raven~” akhirnya suara itu yang keluar dari mulutku. Namanya. Berulang-ulang, kata yang sama. Raven. Tangisku pecah.
Setelah itu aku mulai tinggal di rumah keluarga Raven. Ayah dan Ibunya amat ramah padaku. Dan dalam waktu singkat, hubunganku dengan Raven semakin jelas. Bukan lagi hubungan anak sebaya yang sama-sama tak mendapat teman. Hubungan itu lebih dalam, kalian memanggilnya cinta. Namun waktu itu aku tak peduli, yang kutahu, aku nyaman bersamanya, dan ia tak kelihatan keberatan bersama denganku.
Hitungan bulan, pendemik itu pun hilang layak ditelan bumi. Sayangnya, duka yang ia sebabkan tak ikut menghilang raib dengannya.
Seusai bencana menyedihkan itu, aku mulai menata kembali hidupku. Aku merawat kebun yang diwariskan keluargaku. Raven memutuskan untuk belajar ke negri seberang, pusat ilmu pengetahuan. Hari terus berlanjut. Umurku waktu itu genap dua puluh tahun, saat Raven pulang dan mengajakku untuk menghabiskan hidup bersamanya.  Itu adalah kebahagiaan besar dalam hidupku.
Raven telah mendapatkan pekerjaan sebagai peneliti di negri seberang. Bahkan ia telah membeli sebuah rumah kecil di dekat pantai. Ia menjanjikanku sebuah kehidupan baru yang menyenangkan. Tanpa perlu berfikir panjang, aku menerima ajakan Ravens.
Ia selalu membisikkan kata-kata yang membuatku jatuh cinta pada namaku, pada diriku sendiri, dan kata-kata yang membuatku jatuh cinta lagi dan lagi padanya. Hidupku tak pernah membosankan. Puluhan tahun kami jalani layaknya seharian bermain di tepi pantai sewaktu kecil dulu. Ia mengatakan bahwa aku adalah sebuah rumah baginya, tempat untuk pulang.
Selanjutnya adalah kebahagiaan yang kurasakan dalam hidupku. Dua tahun setelah itu, kami memiliki putra pertama. Selang dua tahun, kami dianugrahi sepasang putri kembar. Duka bekas kehilangan itu hilang. Sempurna hilang.
Hingga kini, bahkan saat aku hendak menjemput ajal. Aku hidup bahagia dengan Raven dan keluarga kecilku. Di tepi ranjang, putra putri dan cucu-cucuku memegangi tanganku. Aku begitu bahagia.
“Langit, apa kau tak apa?” tanya Sarah, cucuku yang paling kecil. Umurnya baru berbilang tiga tahun, kurasa ia belum kenal arti dari kematian. Ia tampak menggemaskan, maupun sorot matanya melihatkan kekhawatiran. Aku tersenyum. Kematian bukanlah hal yang kutakuti lagi.
“Sarah, panggil Nenek Langit dengan sopan” Joy menegur anaknya.
Aku tersenyum. Aku sudah menghabiskan waktu yang cukup panjang di dunia ini. Umurku sudah hampir memasuki bilangan delapan puluh. Malah menurutku terlalu lama, apalagi Raven telah menduluiku saat umur kami menginjak kepala tujuh.
“Tak apa Joy. Aku senang dipanggil Langit. Tanpa embel-embel apa pun. Hanya Langit” kata yang hanya tertahan sampai tenggorokanku. Aku sudah tak sanggup bicara. Bayang malaikat maut sudah berada tepat di hadapanku.
Jadi, apa kalian masih penasaran mengapa aku menyukai namaku? Tentu saja bagian terbaik dari sebuah cerita selalu muncul terakhir bukan?
Diantara deras hujan di pemakaman malam itu, angin dingin riuh ingin berbagi salam. Namun pelukan erat dari laki-laki dibelakangku membuat aku melupakan seluruh alam. Seolah aku tak bisa mendengar rintik air yang membasahi tanah. Hanya ada suaranya yang terdengar di belah telingaku.
“Apa kau ingin tahu, kenapa namamu Langit?” ucap Ravens. Itu bukan pertanyaan. Ia tahu aku tak dalam kondisi dimana ia bisa bermain tebak-tebakkan denganku.
“Di daerah timur, ada sebuah kepercayaan leluhur yang berkembang. Ketika seseorang meninggal, ia akan menjadi bintang di langit. Tak selalu terlihat, tapi selalu ada. Namamu Langit, tempat mereka pulang. Ayah, Ibu dan Nenekmu akan selalu ada didekatmu, karena kamu langit, Langit. Kamu selalu menjadi tempat bagi mereka, dan bagiku untuk pulang!” bisik Raven tepat ditelingaku.
Aku tersenyum. Namaku Langit, tempat pulang.
Seusai cerita ini, aku sempurna pergi. Menyusul orang-orang yang kusayangi.
END
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s