Pengadilan


Ditulis oleh: Matahari
“Hakim Agung, alangkah baiknya sidang ini kita mulai sekarang” ujar topeng-topeng penuh warna di ruangan itu. Palu diketuk. Sebuah fase babak awal kebobrokan terbesar di dunia pendidikanpun dimulai.
Aku tak bisa marah.
Entahlah, kuharap ini bukan penyakit kejiwaan. Disaat hatiku menggebu untuk mengumbar umpatan, sebagian dari hatiku yang lain seolah merantainya. Mengingatkan akan rasa rasionalitas. Untuk apa marah? Orang-orang akan membencimu! Dan kau akan berakhir sendiri.
Hahaha….
Kalau begitu, bolehkan aku tertawa. Setidaknya itu akan mengendurkan sedikit otot otot mukaku.
Namun tawa ini tak menghilangkan rasa sesak dadaku. Ia malah mengundang agar air mata ini mau berbagi sakit. Tapi lagi-lagi sebagian hatiku merantainya. Untuk apa menangis? Orang-orang akan menganggapmu lemah! Dan akhirnya kau akan menjadi orang yang tersakiti.
Lalu apa yang harus kulakukan? Kemanapun aku melangkahkan kaki, kecewa ikut memayungi langkahku. Bayang akan rasa sakit itu mengejar, memeluk erat layaknya teman lama. Bisik-bisik wajah tak bermuka menggema di telingaku. Apa yang harus kulakukan?

“Kami belum bisa menyelesaikan tugas ini karena banyak hal Hakim Agung. Namun alangkah baiknya kau tanyakan perihal terperinci pada penanggung jawab tugas kelas ini. aku yakin Guru Penuntut Umum juga menghendaki yang demikian” ujar Topeng Putih membuka alur sidang.
Aku hanya murid biasa. Namun entah kenapa orang-orang mulai mengembankan segalanya padaku. Tugas kelas. Itu kedok yang indah bukan?. Kalian bisa mengatakan bahwa itu tanggungjawab penanggungjawab! Bisa bermain-main dengan kata, dan plak! Tanggungjawab itu bertepuk tangan. Membalikkan semua fakta dan logika.
“Aku sudah menunggu Hakim Agung. ” kumenjawab sekedarnya. Tak perlu banyak bicara. Dari awal pengadilan ini sudah memiliki jalan cerita.
Sudah hampir hitungan jam aku berdiri seorang diri. Menunggu! Dua puluh tujuh orang yang mengembankan ‘tanggung jawab kelas’ itu kutunggu, namun batang hidungnya tak kunjung kelihatan. Hadir mereka digantikan dering ponsel, minta pengunduran hari.
Sederhana? Masalah ini sederhana! Kalian boleh tertawakan aku yang mempermasalahkan hal kecil ini. Namun apakah kalian masih akan tetap dalam pendirian jika kecewa ini kutanggung berkali-kali? Tanpa marah dan menundukkan kepala pada sang guru penuntut umum.
Ah, aku jadi lupa. Bagaimana itu rasa kepercayaan.
Aku masih menyimpan satu titik harap dan rasa percaya. Tetap bersikeras membujuk. Akhirnya seorang datang padaku. Dua puluh tujuh orang, dan satu diantara mereka datang.
“Teman-teman sedang ada keperluan. Mereka titipkan tugasnya padaku” ujarnya.
Aku tersenyum.
“Tapi masih ada yang kurang. Katanya besok saja.”
Aku masih tersenyum.
“Bukankah guru menyuruh menyelesaikan semuanya besok. Ini sudah diambang batas waktu” balasku mencoba menjawab seramah mungkin.
“Entahlah! Malah mereka bilang kau terlalu mendesak mereka. Mereka punya aktifitas pribadi penting. Apalagi ini hari libur. Beberapa bahkan sudah marah-marah”
Hahahaha. Aku tertawa dalam hati.
‘Tanggung jawab kelas’ ini sudah dicanangkan bahkan sebelum ujian semester akhir dimulai. Sudah diminta mengerjakannya sejak MID Semester. Lalu saat mereka tak mengerjakan, tanggungjawablah yang bertepuk tangan.
“Dia tak mengingatkan kami Wahai Hakim Agung” topeng hitam berkata pada hakim agung.
Hakim agung mengangguk-angguk paham. Semua peserta disini bertopeng. Termasuk guru penuntut umum. Aku hanyalah seorang terdakwa yang tak sanggup menyewa pengacara.
Seorang lagi memasuki panggung. Dua puluh tujuh orang yang kutunggu, dan orang kedua datang membawa harap bagiku.
Dia seorang yang tak kusangka kehadirannya. Membawa angin segar. Mencoba berbicara baik dengan anggota kelas lainnya. Namun ia datang dengan wajah kusam. Tak diacuhkan katanya. Aku menghela nafas.
Dua puluh tujuh orang, dan tiga lagi peran memasuki panggung. Setiap dari mereka mencoba menawarkan solusi terbaik bagiku. Namun ada juga yang tetap menyalahkan caraku.
“Untuk apa dikumpulkan hari ini? Semua orang sibuk. Pasti tak akan ada yang datang”
Aku tersenyum.
Tak ada rasa percaya dari awal di hati mereka. Mungkin ini alasan terbesar mengapa aku merasa kecewa. Aku pernah percaya.
“Yang ada saja dulu kerjakan” balasku.
Aku masih tersenyum. Namun aku yakin gurat kesal dan kecewa sudah mulai menjadi make up ku hari ini.
Aku merasa salah tingkah. Aku tak ingin membuat orang-orang kesal dengan sikapku. Aku terlalu takut memicu konflik apa pun. Aku takut pada akhirnya aku akan menyesal pernah berkata dan berbuat kasar. Lebih baik aku menyimpannya rapat-rapat.
“Apa pembelaanmu, anak muda?” tanya Hakim Agung menoleh padaku yang tetap memasang wajah diam.
“Tidak ada pembelaan Hakim Agung” jawabku.
Topeng hitam tersenyum. Tanggungjawab bertepuk tangan meriah. Sedangkan topeng putih tetap dengan putihnya. Tak memihak siapa pun.
Apa lanjutan kisah ini? Aku tak tahu. Aku memutuskan untuk tak menyelesaikannya. Aku memutuskan untuk tak melakukan pembelaan apa pun.
Yang aku tahu, dari awal tak ada rasa percaya disini. Semuanya saling membebani. Saling mengoper ‘bola panas’ satu sama lain. Apa pun pembelaannya, apa pun kebenarannya, tanggungjawab tak akan berhenti bertepuk tangan. Semua kebobrokan ini masih akan terus berlanjut.
Hanya saja ada satu tokoh yang tak bisa ditebak perannya.
Hakim Agung mengangkat palunya. Dengan suara beratnya nan berwibawa, aku mulai merenung.
“Apa tuntutanmu Guru Penuntut Umum?” tanya Hakim Agung.
“Aku ingin tugas ini selesai secepatnya, atau aku tak akan memasukkan nilai tugas ini” jawab Guru Penuntut Umum membacakan beberapa pasal.
Topeng hitam mulai berkeringat dingin. Pada awalnya, mereka memang tak berniat membuat tugas. Bukan masalah waktu yang mendesak hakikatnya. Topeng putih mulai tersenyum, dia memang masih mengenal apa yang kita panggil i’tkad baik itu. Tanggungjawab yang tadi bertepuk tangan riuh kini mulai menguap. Pengadilan ini sudah tak menarik baginya.
“Dengan ini, aku menyatakan bahwa semua pihak bersalah dan harus mengerjakan tugasnya sendiri-sendiri”
Semua yang ada dipanggung bertepuk tangan. Bagaimana pun mereka menghormati Hakim Agung. Pengadilan berakhir.
Aku tersenyum. Apa kalian tahu siapa itu Hakim Agung? Dia bukan kebijaksanaan. Bukan pula toleransi dan tenggang rasa. Hakim Agung itu tidak diperankan oleh ketulusan dan rasa rela berkorban untuk sesama. Kalian tahu siapa itu Hakim Agung? Dia adalah keegoisan.
~END~
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s