Keisengan yang Brutal: Refleksi Kasus Video Kekerasan di SD


Video-Kekerasan-Anak-SD-di-Bukittinggi-Berakhir-DamaiMinggu lalu, masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya dikagetkan dengan video kekerasan di salah satu Sekolah Dasar di Bukittinggi. Video tersebut memperlihatkan seorang siswi terpojok di pinggir kelas dipukuli oleh teman-temannya. Beberapa teman lainnya terlihat girang dan menyoraki peristiwa tersebut. Video ini diupload di media sosial youtube pada Sabtu, 11 Oktober 2014 dengan judul “Kekerasan Anak SD.” Meskipun beberapa pihak telah meminta video ini untuk diblokir, ia masih bisa diakses hingga saat ini.

Senin sore, 14 Oktober 2014, salah satu siaran berita di televisi swasta menyiarkan wawancara bersama Kepala Bidang TK dan SD Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi mengenai kejadian itu. Dalam wawancara tersebut ia menyatakan bahwa peristiwa ini merupakan ‘keisengan’ anak-anak. Memuat berita serupa, media online ranahberita.com memberi informasi tambahan bahwa siswi yang dipukul tidak mengalami cidera yang serius, karena pada hari yang sama proses belajar mengajar tetap berlangsung.

Pernyataan Kabid Disdik Bukittinggi ini perlu ditanggapi dengan serius. Masih layakkah peristiwa semacam itu dianggap sebagai keisengan semata? Apa indikator yang ia gunakan untuk itu? Apakah karena cidera yang tidak serius dan si siswi masih bisa mengikuti PBM? Bahkan ini bisa dipertanyakan lebih lanjut. Mengapa siswi bersangkutan masih bisa mengikuti PBM? Apakah pihak sekolah tidak menganggap ini hal serius yang harus ditangani seketika?

Kita harus menggarisbawahi beberapa hal dalam kejadian ini. Kesan pertama tentu saja brutal. Diantara siswa yang terlibat pemukulan memperlihatkan kebengisan dan keangkuhan. Saya yakin tidak ada satu pun dari kita mau melihat anak-anak tumbuh dengan kedua mental ini. Akan jadi apa masa depan dengan kedua mental itu? Apa daya, semua yang telah melihat video tersebut akan setuju, bahwa ‘keisengan’ anak-anak kita ini adalah kebengisan dan keangkuhan.

Kedua, kebengisan dan kebrutalan ini digandeng dengan tipisnya rasa empati. Dalam video tersebut kita mendengar teriakan-teriakan kegirangan dari siswa. “Taruih…taruih…taruih…!!!,” begitulah lebih kurang. Teriakan ini lebih bermakna euforia kepada kebengisan daripada ‘iseng.’ Sudah pasti siswa yang berteriak demikian menyaksikan peristiwa ini secara langsung. Melihat temannya dikeroyok dan menangis, bukannya merasa empati, ia justru girang dan mendukung. Salah seorang siswa bahkan dengan bangga memperlihatkan muka nya ke depan kamera. Kemana pendidikan empati kita?

Ketiga, kita tidak boleh mengabaikan bahwa kejadian ini direkam oleh salah seorang siswa. Jika demikian, kita perlu mempertanyakan apakah ini yang pertama kalinya atau justru telah terulang? Mengapa demikian? Foto dan video adalah budaya pop. Dalam budaya pop, orang-orang cenderung mendokumentasikan segala sesuatu. Ada dua hal yang didokumentasikan, antara hal yang ‘biasa’ atau yang ‘membanggakan.’ Sekarang, anak-anak tersebut merekam peristiwa kekerasan terhadap teman sendiri. Itu berarti, peristiwa ini bagi mereka adalah hal yang biasa, jika tidak, maka membanggakan.

Tiga poin di atas memperlihatkan bahwa kita patut menyayangkan tanggapan dari Kabid Disdik Bukittinggi yang ‘terkesan’ menyepelekan hal ini. Kegelisahan saya bukan tentang penyelesaian kasus. Bahwasanya pihak terkait telah melakukan penyelidikan seputar kasus dan menjalani proses untuk menyelesaikannya adalah tindakan yang sepatutnya dan harus diapresiasi. Akan tetapi, kegelisahan saya lebih mendalam, tentang bagaimana peristiwa ini bisa terjadi. Apa yang kita lupakan sehingga peristiwa semacam ini pantas terjadi pada anak-anak kita?

TV dan sosial media merupakan faktor yang sangat besar dalam pertumbuhan mental anak-anak belakangan ini. Jika kita lihat, tayangan di TV tidak jauh dari unsur kekerasan. Sinetron dan FTV pasti memiliki peran antagonis yang melewati batas. Acara hiburan pun, seperti musik dan komedi, dipenuhi candaan yang sarat bullying. Setiap hari mereka melihat dan mendengar hal-hal semacam itu, tidak mengherankan jika mental yang tumbuh pada anak-anak kita tidak jauh dari bullying dan kekerasan.

Jangan lupakan sosial media. Beberapa bulan yang lalu Yogyakarta dan Bandung secara bergantian digegerkan oleh pelecehan secara terbuka di media sosial. Itu seharusnya semakin membuka mata kita bahwa semua orang bisa menyebarkan apapun melalui media sosial. Faktor-faktor pemantik tumbuhnya mental-mental yang tidak diinginkan juga salah satunya. Kenyataan bahwa video kekerasan di SD ini diupload ke media sosial youtube menguatkan pernyataan ini. Video ini disaksikan ribuan orang termasuk anak-anak. Jangan sampai kejadian serupa terulang di lain tempat oleh anak-anak kita yang lain.

Sekali lagi, kejadian ini patut mendapatkan renungan mendalam oleh semua pihak. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa generasi kita mengalami krisis mental. Berita semacam tragedi terhadap anak-anak bukan yang pertama kali kita dengar beberapa bulan terakhir. Mulai dari kekerasan fisik hingga pelecehan seksual. Bahwa salah satunya terjadi di Bukittinggi, itu berarti bahwa kita harus membuka mata lebar-lebar. Krisis serupa juga terjadi di lingkungan kita, bahkan di dalam rumah kita. Orang tua harus lebih bijak mengontrol tontonan dan aktifitas media sosial anak. Itu juga berarti kontrol yang lebih bijak terhadap kepemilikan HP dan fasilitas jaringan internet. Ibarat penyakit, lebih baik mencegah daripada mengobati. Kotrol sebenarnya bukan setelah dikagetkan kasus, tetapi dari kesigapan dan kebijakan mencegahnya.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s