Tafsir al-Kasysyaf ‘an Haqaiq al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil karya Al-Zamakhsyari


Tafsir al-Kasysyaf akan dibedah menggunakan pemetaan metodologi tafsir yang dijabarkan oleh Islah Gusmian, dengan sedikit modifikasi. Ada dua variabel penting, yaitu aspek teknis penulisan dan aspek dalam berupa konstruski hermeneutis yang digunakan sebuah karya tafsir. Secara detil, variabel pertama memuat beberapa bagian: (1) sistematika penyajian tafsir; tartib mushfi/nuzul dan tematik; (2) bentuk penyajian, rinci atau global; dan (3) sumber-sumber yang dijadikan rujukan tafsir. Sementara variabel kedua mencakup: (1) metode penafsiran, antara bi al-ma’sur, bi al-ra’y, atau interteks; dan (2) nuansa penafsiran, seperti fiqh, sufi, bahasa, dan sebagainya.

 Metodologi al-Kasysyaf

Aspek Hermeneutis 1 (Metode penafsiran bi al-ra’y) Metode penafsiran yang digunakan oleh al-Zamakhsyari sangat jelas terlihat, bahwa ia menggunakan tafsir bi al-ra’y. Tafsir bi al-Ra’y biasa didefinisikan dalam dua bentuk. Pertama, tafsir bi al-ra’y adalah penafsiran ayat Alquran dengan bertumpu kepada nalar semata (mujarrad al-ra’y), tanpa cukup bekal atau metode ilmiah yang diakui. Definisi ini diklaim sebagai mazmum. Kedua, tafsir bi al-ra’y adalah tafsir dengan ijtihad dan metode ilmiah yang diakui. Satu hal menarik adalah bahwa al-Zamakhsyari ditempatkan oleh al-Zahabi sebagai tafsir bi al-ra’y mazmum, padahal jika merujuk kepada definisi di atas, sejatinya al-Zamakhsyari memiliki kapasitas yang kuat sebagai seorang mufassir, dan ia menafsirkannya dengan kaidah keilmuan, yaitu ilmu bahasa. Namun sangat bisa dipahami keputusan al-Zahabi jika melihat kecenderungan mazhabis al-Zamakhsyari kepada mu’tazilah, dan ia seringkali menggunakan tafsir untuk menyokong paham rasional mu’tazilah.

Aspek Hermeneutis 2 (Nuansa penafsiran Lughawiyah) Husain al-Zahabi menyebutkan bahwa jika seseorang membuka tafsir al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyari, maka ia akan segera melihat kitab ini dipenuhi oleh analisis-analisis balaghah terhadap kata-kata atau tarkib dalam Alquran. al-Zahabi bahkan menyanjungnya bahwa penjelasan Zamakhsyari dalam hal ini akan susah ditandingi oleh orang Arab. Ketika kita buka semua kitab tafsir dan melihat aspek ini, maka tidak ada satu pun yang menandingi al-Zamakhsyari. Sebagai contoh yang paling sederhana, ada baiknya kita lihat penafsirannya terhadap al-Qiyamah ayat 23: إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ Al-Zamakhsyari menyebut bahwa terjadi taqdim ma haqquh al-ta’khir pada ayat ini. Ini artinya, kata al-Zamakhsyari, hanya kepada Allah lah objek dari naZirah, tidak kepada yang lain. Ia kemudian mencontohkan dengan pola serupa di sejumlah ayat, termasuk di surat al-Qiyamah itu sendiri. Catatan penting terhadap nuansa lughawiyah al-Zamakhsyari adalah ia dinilai sering melakukan pemalingan makna kata jika makna Zahir tidak sesuai dengan pola pikir mazhabnya, yaitu mu’tazilah. Oleh sebab itulah al-Kasysyaf menjadi salah satu tafsir utama abad pertengahan yang mewakili cara pandang afirmatif dengan nalar ideologis bagi Abdul Mustaqim dalam pemetaan sejarah tafsirnya. Contoh yang paling sering dibahas adalah al-Qiyamah: 22-23. وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ Ayat di atas membicarakan di hari akhir manusia dikaruniai kemampuan melihat Allah. Pandangan ini tidak sesuai dengan pandangan rasionalis mu’tazilah yang menolak tajsim lalu kemudian berimplikasi bahwa melihat Tuhan adalah tidak mungkin. Untuk itu, maka kata naZirah yang berarti melihat, ia palingkan maknanya kepada makna lainnya, yaitu al-raja’ (mengharap). Dengan ini, maka ia telah menafsirkan ayat tanpa menyalahi pandangan umum mazhab mu’tazilah. Secara umum, problem ayat-ayat yang bertentangan dengan pandangan umum mu’tazlilah diselesaikan oleh al-Zamakhsyari menggunakan konsep muhkam-mutasyabih, sebagaimana pada Ali Imran ayat 7. Ayat yang bertentangan dengan dengan rasio mu’tazilah akan dianggap mutasyabih, dan pemaknaannya dikembalikan kepada ayat yang muhkam. Untuk contoh al-Qiyamah di atas, ayat yang ia anggap muhkam dan menjadi pusat pemaknaan nazirah adalah al-An’am: 103. لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ  

Aspek Teknis 1 (Sistematika penyajian tafsir) Secara sistematika, al-Kasyaf menggunakan sistematika tartib mushafi. Ia memulai tafsirnya sesuai urutan surat dalam Mushaf Usmani, dibuka dengan al-Fatihah dan ditutup dengan al-Nas.

Aspek Teknis 2 (Bentuk penyajian) Tafsir al-Kasysyaf tergolong kepada tafsir tahlili (rinci). Pertama sekali, ia akan menuliskan ayat yang akan ia tafsirkan. Terkadang ia membahas satu ayat secara independent, namun tidak jarang ia mengelompokkan beberapa ayat lalu kemudian menafsirkannya. Selanjutnya, ia melakukan analisis kebahasaan yang mendalam terhadap kata-kata atau tarkib tertentu. Ia biasa menghabiskan beberapa halaman untuk menjelaskan satu kata.

Aspek Teknis 3( Sumber tafsir) Al-Zamakhsyari menggunakan sejumlah sumber untuk tafsirnya. Pertama sekali tentu saja ra’y sesuai dengan keilmuannya. Selanjutnya, ia juga merujuk kepada qira’at dan hadis. Untuk contoh qira’at misalnya bisa dilihat pada penafsirannya terhadap kata yathurna dan tatahharna pada al-Baqarah 222. Ia menyebut bahwa terdapat variasi bacaan untuk yathurna yang berbunyi yattaharna, yang berkaitan dengan kata berikutnya, tatahharna. Yathurna bermakna suci dalam arti terputusnya darah haid, sementara yattahharna bermakna bersuci dalam arti mandi besar. Untuk contoh ini, al-Zamakhsyari juga merujuk kepada hadis, yaitu beberapa riwayat dari ‘Aisyah. Al-Zamakhsyari juga menjadikan isra’iliyat sebagai sumber tafsirnya, namun tidak pada banyak tempat. Ia biasanya menggunakan tanda dengan istilah ‘ruwiya.’ Contoh untuk ini umpamanya tafsirannya terhadap al-Naml ayat 35; di dalamnya ia mengutip isra’iliyat: روي أنها بعثت خمسمائة غلام عليهم ثياب الجواري وحليهم الأساور والأطواق و الراقطة…

Iklan

Satu pemikiran pada “Tafsir al-Kasysyaf ‘an Haqaiq al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil karya Al-Zamakhsyari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s