Tafsir Mafatih al-Gaib karya Fakhr al-Din al-Razi


Pendahuluan

Kitab ini terdiri dari delapan jilid. Kitab ini ditulis oleh al-Razi, namun bukan dia yang menyelesaikannya. Oleh sebab itu, ada dua pertanyaan yang muncul: siapakah yang menyelesaikannya dan hingga batas apakah yang ditulis oleh al-Razi? Terdapat perbedaan pendapat seputar ini. Ada dua nama yang disebutkan mengenai siapa yang menyelesaikan tafsir ini. Ibn Hajar menyebut Najm al-Din al-Qamuli dan penulis Kasyf al-Zunun menyebut nama Syihab al-Din al-Khuwaini. Namun menurut al-Zahabi, keduanya terlibat dalam penyelesaian Mafatih al-Gaib. Mengenai hingga batas mana yang ditulis al-Razi juga diperdebatkan. Ada yang menyebut hingga al-Anbiya’. Hanya saja, digarisbawahi oleh al-Zahabi, kedua hal ini bukanlah masalah, karena meskipun ia tidak ditulis secara penuh oleh al-Razi, keutuhan Mafatih al-Gaib tetap tidak memperlihatkan perubahan. Semua sisi dari kitab ini, dari awal sampai akhir, konsisten pada metode dan warna yang sama.

Metodologi Mafatih al-Gaib

Tafsir Mafatih al-Gaib karya al-Razi akan dijelaskan metodologinya menggunakan pemetaan tafsir Islah Gusmian, dengan sedikit modifikasi. Ada dua variabel penting, yaitu aspek teknis penulisan dan aspek dalam berupa konstruski hermeneutis yang digunakan sebuah karya tafsir. Secara detil, variabel pertama, aspek hermeneutis mencakup: (1) metode penafsiran, antara bi al-ma’sur, bi al-ra’y, atau interteks; dan (2) nuansa penafsiran, seperti fiqh, sufi, bahasa, dan sebagainya; dan variable kedua, aspek teknis memuat beberapa bagian: (1) sistematika penyajian tafsir; tartib mushfi/nuzul dan tematik; (2) bentuk penyajian, rinci atau global; dan (3) sumber-sumber yang dijadikan rujukan tafsir.

Aspek Hermeneutis 1 (Metode penafsiran bi al-ra’y)

Mafatih al-Gaib adalah tafsir bi al-ra’y. Jika kita buka tafsirnya, kita akan melihat elaborasinya yang sangat panjang namun tidak banyak menggunakan riwayat. Ia menjelaskan dengan keilmuan yang ia kuasai, yaitu kalam, filsafat, tabi’iyyah, dan sebagainya.

Tidak seperti al-Kasysyaf, al-Zahabi menggolongkan al-Razi kepada ra’y mahmud meskipun secara definisi tafsir bi al-ra’y, keduanya sama-sama menafsirkan Alquran menggunakan kepakaran masing-masing dalam ilmu masing-masing. Hanya saja perbedaannya, jika al-Zamakhsyari menopang mu’tazilah dengan al-Kasysyaf, al-Razi menentangnya dengan Mafatih al-Gaib. Inilah mungkin yang membuat al-Zahabi menempatkan al-Razi di ra’y mahmud dan al-Zamakhsyari di ra’y mazmum.

Aspek Hermeneutis 2 (Nuansa penafsiran Kalamiyah)

Husain al-Zahabi menyebutkan bahwa tafsir ini merupakan mawsu’ah fi ‘Ulum al-Kalam. Namun begitu, karena Alquran juga mengandung ayat-ayat hukum, tentu saja ia sama sekali tidak melupakan unsur fiqh, dan dalam hal ini ia adalah pendukung mazhab Syafi’i.

Aspek Teknis 1 (Sistematika penyajian tafsir)

Secara sistematika, Mafatih al-Gaib menggunakan sistematika tartib mushafi. Ia memulai tafsirnya sesuai urutan surat dalam Mushaf Usmani, dibuka dengan al-Fatihah dan ditutup dengan al-Nas.

Aspek Teknis 1 (Bentuk penyajian)

Pertama sekali, ia menyampaikan ayat yang akan di bahas. Kemudian, penafsirannya terhadap ayat terkait ia kelompokkan kepada beberapa masalah. Pada setiap masalah ia akan memberikan penjelasan panjang dengan menyebutkan perbedaan sejumlah pendapat. Sebagai contoh, al-Baqarah ayat 35 (waqulna ya Adamu uskun anta wa zawjuka al-janna…) ia jelaskan hingga sembilan masalah (al-mas’alah al-tasi’ah). Masalah ketujuh ternyata ia bagi lagi kepada kelompok yang lebih kecil yang ia sebut dengan bahs. Ia menjelaskan adalah 2 bahasan (bahsani) dalam mas’alah al-sabi’ah tersebut.

Aspek Teknis 1 (Sumber tafsir)

Rujukan tafsir yang digunakan oleh al-Razi berasal dari riwayat tafsir seperti Ibn Abbas atau Tabi’in seperti al-Kalbi, qira’at, sya’ir Arab, dan asbab nuzul.

Selain itu, ia juga merujuk kepada literatur-literatur keilmuan seperti kodifikasi tafsir, bahasa, dan sebagainya. Karangan tafsir yang ia rujuk diantaranya Muqatil bin Sulayman, Abu Ishaq al-Sa’alabi, al-Tabari, dan sebagainya. Dalam aspek bahasa, rujukannya adalah Asma’i, Abu Ubaydah, al-Farra’, al-Zujaj, dan al-Mibrad.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s