“Gengsi” Bahasa Arab?


cuitan-ustadz-yusuf-mansur-di-media-sosial-twitter-_141105013814-126Suatu ketika paman saya berkata, “Jika ada sobekan kertas tertulis tulisan Arab berserakan, ia menjadi gemetar.” Saya tidak tau apakah yang ia lihat memang sobekan Alquran atau tidak. Tapi intinya, ketika itu yang ia ingat adalah Alquran. Secara sederhana terlihat jelas ia mengidentikkan bahasa/tulisan Arab dengan Alquran. Sebagai muslim yang dianugerahi kitab suci, Alquran, sangat wajar jika ia bergetar melihat sobekan ‘Alquran’ berserakan.

Ketika itu saya menjawab, “Tidak mesti begitu, Alquran memang berbahasa Arab, namun bukan hanya Alquran yang menggunakan bahasa Arab. Orang Arab juga menggunakan bahasa Arab untuk segala aktifitas tulisan mereka, seperti iklan, atau mungkin surat cinta untuk muda-mudi.” Memang begitu bukan? Orang Arab juga memiliki aktifitas hidup sendiri. Itu berarti mereka juga menggunakan bahasa mereka untuk aktifitas itu. Mereka menggunakan bahasa Arab untuk kebaikan bahkan juga keburukan. Jika mereka khutbah keagamaan, mereka menggunakan bahasa Arab dan mengutip Alquran. Jika mereka ingin menipu dan membual, yang mereka gunakan juga bahasa Arab. Itu berarti, bahasa Arab tidak identik dengan Alquran, meskipun Alquran menggunakan bahasa Arab.

Tapi siapa sangka beliau menjawab, “Saya g mau tau, ketika saya baca Alquran saya melihat huruf Arab. Ketika saya lihat sobekan kertas di lantai berhuruf Arab, maka itu seperti Alquran bagi saya.”

Apa yang kita lihat dari peristiwa ini? Ini adalah sebuah wujud keberagamaan. Ini merupakan wujud keyakinan Muslim yang membumi. Adalah suatu hal yang sangat baik bahwa beliau, dan sepertinya banyak Muslim lainnya, sangat menghormati Alquran. Maka dari itu, ini adalah aspek keyakinan. Akan tetapi, kejadian di atas memperlihatkan terkadang ‘keyakinan’ melebih-lebihkan hal yang sepele. Dari itu, peran ilmu menjadi penting. Seorang dengan ilmu yang cukup bisa melihat bahwa sebuah coretan berbahasa Arab tidak mesti Alquran.

Ilmu dan keyakinan terkadang bertentangan, seperti contoh sederhana di atas. Ketika ini terjadi, keyakinan lebih diunggulkan, meskipun semestinya keyakinan berdiri di atas ilmu. Tidak kalah lucunya, jika kesimpulan ilmu yang ‘aneh’ dan ‘lucu’ namun sesuai dengan keyakinan, secara mendadak kesimpulan tersebut diklaim benar dan menopang keyakinan. Hal ini kabarnya terjadi ketika salah seorang teman saya, Muhammad Makmun, mendiskusikan perihal Borobudur dan Nabi Sulayman versi Fahmi Basya.

Begitu juga yang terjadi dalam kasus bahasa Arab ini. Belakangan Ustaz Yusuf Mansur menganjurkan belajar bahasa Arab. Beliau menyebut bahwa semua bahasa nanti akan musnah, kecuali bahasa Arab. Ia bahkan menyebut ‘siapa tau dengan belajar bahasa Alquran, yaitu bahasa Arab, bisa membawamu ke surga.’ Anjuran Ustaz Yusuf Mansur sangat baik dan perlu diikuti. Menguasai bahasa Asing memiliki manfaat yang banyak, termasuk juga membawa ke surga, adalah hal yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, berkaitan dengan ‘membawa ke surga’ itu bukan karena bahasa Arabnya. Itu tergantung kepada bagaimana bahasa tersebut digunakan, apakah untuk menopang jalan hidup yang baik dan direstui garis Alquran atau tidak.

Memang ada sebuah hadis yang familiar dengan klaim ini. Dalam Tafsir al-Qurtubi disebut sebuah hadis, “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal: karena saya orang Arab, karena Alquran berbahasa Arab, dan karena bahasa Surga adalah bahasa Arab.” Sayangnya, hadis ini menurut catatan muhaqqiq termasuk kepada hadis yang lemah sekali atau bahkan palsu.

Ada cerita menarik lain dari teman saya, namanya Icep. Katanya suatu ketika seorang Syaikh ngotot menyatakan bahwa bahasa Surga adalah bahasa Arab. Lantas ia bertanya, bagaimana dengan bahasa neraka, apakah bahasa Arab juga? Pertanyaan itu urung dijawab.

Memang ada kecenderungan bahwa karena Alquran berbahasa Arab, maka bahasa Arab memiliki derajat yang lebih tinggi dari bahasa lain. Bahkan ada klaim kesucian terhadap bahasa ini. Inilah yang mungkin pertanyaan di atas tidak dijawab. Ditakutkan jika bahasa neraka dikaitkan dengan bahasa Arab, lantas nilai gengsi nya menjadi turun. Yang terjadi di sini adalah yang tadi, pertemuan pernyataan ilmu dengan keyakinan. Ketika pernyataan ilmu ‘terlihat’ sesuai dengan keyakinan, maka ia secara mendadak benar dan anti kritik, meskipun relevansinya jauh, seperti antara bahasa Arab dan Alquran ini. Karena, sebagaimana disampaikan di muka, Alquran berbahasa Arab, tapi bahasa Arab tidak identik dengan Alquran.

Lantas, bahasa apakah yang digunakan di surga maupun neraka?

فيها ما لا عين رأت ولا اذن سمعت ولا خطر علي قلب بشر

“Surga benar-benar lepas dari pengalaman manusia, jadi ia tidak akan bisa dibayangkan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s