Antara Hukum dan Nilai


Suatu ketika seorang santri remaja yg masih di masa puber bertanya, “Pak, apakah hukumnya pacaran?” Saya lupa bagaimana menjawabnya ketika itu. Yang pasti, saya tdk menjawab dg boleh/tdk boleh/haram atau tidak.
Setelah beberapa saat saya menyadari suatu hal. Terkadang seseorang bertanya bukan untuk mendengarkan kebenaran. Tidak sedikit yg bertanya untuk mendengarkan apa yg ingin ia dengarkan. Ia bertanya sekedar untuk mencari justifikasi. Hal ini terlihat umpamanya dari cara dia memilih org yg ingin ditanyai. Ia menanyai saya yg notabene masih muda, bujangan, dan tdk terlalu keras kepada para santri. Dia bertanya sambil berharap saya bilang hukumnya tidak dilarang.
Ini gambaran cara beragama kita sejauh ini. Kita melihat agama lebih kepada tata hukum daripada tata nilai. Pertanyaan spt di atas sangat akrab di telinga kita. Apa hukumnya shalat menggunakan baju keringatan setelah olahraga? Apa hukumnya beli jualan nenek tua dg niat sedekah? Apa hukumnya ini itu, bolehkah ini itu, dan sebagainya.
Hukum semestinya bukanlah tujuan akhir dari beragama. Ia hanya alat untuk menanamkan nilai-nilai tertentu. Kita beragama terlalu hukum oriented. Model ini tdk jarang menepikan nilai. Mungkin saya akan membahasakannya dg fiqh dan tasawuf. Fiqh membicarakan batas-batas sah/tdk sah ibadah. Sangat jarang ia berbicara kesempurnaan kualitas. Umpamanya, secara fiqh salat bertelanjang dada, hanya menggunakan sarung yg menutup pusar hingga lutut adalah sah secara fiqh. Padahal Al-Quran jg mengajarkan menggunakan pakaian terbaik. Ibaratnya, jika nilai kelulusan di angka 6, maka fiqh lbh banyak berbicara bagaimana untuk menggapai angka itu. Terlalu fokus pada itu, banyak yg lupa upaya mencapai angka 10 yg biasa kita dapatkan di ranah tasawuf. Dg demikian, banyak yg shalat hanya untuk melunasi kewajiban hukum, dan lupa bahwa ia merupakan komitmen untuk meninggalkan kekejian dan kemungkaran. Wajar jika kemudian shalat sering gagal menghindari seseorang dari perbuatan keji dan mungkar,syukur gagal menambah nikmat, doa gagal membahagiakan, dan sebagainya. Lucunya, ketika itu terjadi, daripada refleksi diri ke dalam, sebagian justru menyalahkan Tuhan. “Kita sudah shalat, taat, dan bersyukur, kok masih miskin?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s