Semangat Perjuangan Iqra’


Ayat yang paling pertama diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad adalah iqra’. Penggunaan kata ini layak direnungkan. Mengapa Allah memilih istilah iqra’? Secara sederhana, ini dipahami bahwa sejak awal Islam mengajarkan umatnya untuk membaca dan belajar. Namun, jawaban ini belumlah memuaskan. Masih dibutuhkan sudut pandang lain. Al-Quran diturunkan pada masyarakat yang tidak akrab dengan budaya literasi. Al-Qur’an menggunakan kata iqra’ kepada masyarakat seperti ini. Apa maksudnya? Apakah Allah memerintahkan sesuatu yang tidak dijangkau oleh kemampuan manusia? Tentu saja tidak.

Dalam kaidah tafsir, jika Al-Qur’an menggunakan kata kerja dan tidak menuliskan objeknya, maka objeknya adalah segala sesuatu yang pantas menjadi objeknya. Iqra’ adalah kata kerja yang tidak ada objeknya. Lantas, di sini, apa objeknya? Biasanya orang akan segera menjawab Al-Qur’an adalah objeknya, jadi ayat ini adalah perintah untuk membaca Al-Qur’an. Tunggu dulu, benarkah? Al-Qur’an yang mana yang dimaksud? Bukankah Al-Qur’an baru akan diturunkan?

Objek dari kata ini harus kita perluas. Ayat ini bukan perintah membaca Al-Qur’an. Kita harus ingat, Rasulullah uzlah ke Gua Hira’ karena gelisah melihat moralitas kaumnya. Ayat ini merupakan jawaban kegalauan Nabi. Maka, ayat ini merupakan perintah untuk membaca realitas secara aktif. “Bacalah Muhammad, lihatlah kaummu, pelajari mereka! Apa yang bisa kamu lakukan untuk mereka?!” Demikianlah kira-kira. Itu berarti, ayat ini mengajarkan umat Nabi Muhammad untuk ikut secara pro-aktif memperbaiki krisis umat. Ini merupakan pesan kenabian pertama dan paling utama. Meskipun shalat merupakan kunci dari segala amalan, perintah membaca dan memperbaiki umat diturunkan lebih awal.

Bagaimana Rasululullah menanggapi perintah ini? Rasulullah dengan Al-Qur’an melakukan pembebasan terhadap kaumnya. Ia menolak status quo, yang mencerminkan tata sosial yang tidak sehat dengan hegemoni konglomerat kaya pada budak miskin. Alquran menentang sebagian masyarakat yang mengeksploitasi sebagian masyarakat lainnya dan memiliki komitmen untuk mengentaskan kelompok tertindas ini. Alquran menempatkan taqwa sebagai suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari keadilan. Oleh karena itu, taqwa dalam Islam, bukan hanya menjalankan ibadah ritual saja, tapi juga menciptakan keadilan sosial. Islam meletakkan kedamaian sebagai akar sosial dengan menekankan peran ekonomi berbasis kebutuhan dan melarang ekonomi berbasis ketamakan.

Bagaimana dengan konteks Indonesia? Ada banyak problem di Indonesia saat ini. Privatisasi sumber daya alam utama bukan hanya memperlihatkan keangkuhan segolongan manusia untuk memonopoli sumber daya air, umpamanya, tetapi juga melanggar ajaran agama tentang kemerdekaan hak sekaligus Undang-undang Dasar negara. Pembangunan villa-villa dan real-estate di wilayah resapan air menjadi penyebab banjir tahunan di Jakarta. Pembakaran hutan secara liar, sistem pembuangan limbah yang tidak sehat, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, perluasan perkebunan sawit yang bermuara pada kepunahan satwa-satwa dan kerusakan ekosistem serta siklus alam, dan terutama sekali korupsi hanyalah beberapa nama dari sejumlah problem bangsa.

Dengan banyaknya agenda-agenda tersebut, kita harus aktif mengambil perannya meneladani semangat perjuangan iqra’ Nabi Muhammad. kita harus memiliki daya juang dan komitmen yang kuat untuk itu. Selain itu, kita juga harus melatih sensitivitas kita dalam melihat permasalahan-permasalahan di sekitar. Betapa banyaknya kita lihat pemuda-pemudi yang tidak memiliki visi apa-apa terhadap masyarakatnya. Mereka akan senang asalkan sudah punya smartphone dengan kamera layak, ber-selfie ria dan mengupload foto masing-masing di media sosial. Mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan melihat masalah-masalah laten yang sangat banyak ada di sekeliling mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki sensitifitas profetik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s