Membaca Kematian Olga


“Apakah Indonesia lebih butuh komedian?”

Olga Syahputra meninggal dunia pada Jumat sore, 27 Maret 2015. Artis multitalenta, begitulah media menyebutnya. Dia telah berkiprah hampir di semua bidang dalam dunia selebritis. Bermain di layar lebar, sinetron, tarik suara, dan terutama sekali komedian dan presenter yang menjadi gawean utamanya. Dia merupakan salah satu selebritis paling top, yang muncul hampir di semua channel TV dan hampir setiap hari. Itu semua membuatnya dikenal oleh banyak orang; menyebut dia hampir dikenal seluruh orang Indonesia mungkin tidak akan terlalu berlebihan.

Bukan hanya itu, di belakang layar, Olga juga dikenal sebagai orang yang rendah hati dan dermawan. Dia salah satu orang sukses yang merangkak dari bawah. Inilah yang menjauhkannya dari sifat sombong. Ini pula lah yang menjadikannya dermawan. Pengalaman hidup sulit di masa lalu meringankan tangannya untuk berbagi pada siapapun. Jadilah dia, Olga Syahputra, sosok yang sempurna, di depan layar sebagai entertainer kawakan, dan individu mulia di belakang layar.

Maka, ketika ia meninggal, semua orang meratapinya. Semua stasiun televisi memberitakannya. Pemakamannya ditayangkan live report. Kenangan dan testimoni dari para sahabat dikumpulkan. Perjuangan fans menuju pemakamannya diekspos. Beberapa episode film, sinetron, atau acara yang ia bawa diputar ulang. Mungkin saja, ekspos media terhadap meninggalnya mantan presiden Indonesia, Soeharto atau Gusdur, belum setingkat dengan apa yang mereka lakukan pada entertainer ini.

Kita bisa saja membaca fenomena ini dari sudut pandang kapitalisme. Olga dengan jutaan fans dan simpang siur pemberitaan semenjak ia sakit adalah lahan basah bagi perusahaan media. Tak ayal, meninggalnya Olga menjadi salah satu berita paling panas. Bad news is good news. Media bahkan menjadikannya worst news, maka rating beritanya menjadi best news. Melalui lapak berjenis kelamin infotainment, media memoles dan mendramatisir peristiwa ini seolah menjadi musibah nasional untuk mendulang emas lewat ‘bisnis empati’. Mereka menjadikan iring-iringan ambulan megah di tengah kota menjadi layak tonton bak film aksi yang menampilkan adegan kejar-kejaran mobil yang menegangkan.

Akan tetapi, sudut pandang itu tidak (atau belum) pantas pada suasana ‘duka nasional’ ini. Perspektif miring nan sarkastik ini hanya memperkeruh dan memancing emosi fans. Maka, sudut pandang yang tak kalah menarik saat ini adalah dari sisi peran dunia hiburan bagi Indonesia saat ini.

Jika kita perhatikan tayangan TV akhir-akhir ini, tayangan humor menjadi favorit. Semua acara televisi mengandung unsur humor. Bahkan kita tidak bisa lagi membedakan apakah program ceramah pagi di TV itu nasihat agama berbalut humor atau humor berbalut nasihat agama. Perhatikan juga acara-acara ajang pencarian bakat. Mereka lebih memilih juri yang memiliki rekam kontroversi berkolaburasi dengan MC dengan bakat humor untuk saling bullying yang katanya lucu-lucuan. Sinetron? Para pembaca pasti tahu tidak ada sinetron yang tidak menyelipkan humor. Program humor yang pernah di banned atau telah ditutup diputar ulang dan masih memiliki penonton. Maka, setiap kita gonta-ganti channel televisi, yang ditemui adalah humor nan menghibur.

Ada apa dengan Indonesia? Sebegitu besarkah kebutuhan Indonesia terhadap hiburan? Iya, kita bisa katakan demikian. Masyarakat Indonesia sudah terlanjur jenuh dengan kondisi negara yang semrawut ini. Mereka sudah terlanjur pusing melihat rupiah melemah dan harga tak menentu. Mereka sumpek menghadapi bapak-bapak berdasi yang ditokohi secara terang-terangan berkelahi memperebutkan nasi tumpeng. Mereka jenuh menghadapi berita-berita pelecehan seksual terhadap anak di setiap sudut. Mereka lelah melihat berita begal dihakimi di sana-sini. Semua itu menambah ruwetnya pikiran orang Indonesia. Setelah pusing memikirkan makan esok hari dan masa depan anak-anak, mereka kembali dihadapkan dengan kondisi-kondisi semacam itu.

Tidak mengherankan jika kemudian mereka mencari pelarian yang segar, yaitu humor. Hanya humor yang bisa memunculkan secuil senyum di bibir mereka. Hanya humor yang bisa meringankan sedikit beban pikiran mereka, membuat mereka lupa akan kerasnya hidup meskipun sesaat. Maka, dalam kondisi ini, sangat wajar jika orang seperti Olga Syahputra tampil dengan segala ciri khasnya dan menjadi sosok yang lebih didengar. Nasihat yang ia sampaikan terasa lebih mengena dibandingkan dengan yang disampaikan oleh para bapak berdasi. Jika Olga mendermakan hartanya kepada orang miskin atau menangis tersedu karena empati melihat beratnya hidup seorang nenek tua, ini terasa lebih inspiratif daripada Ustaz di TV ceramah tentang sedekah. Hingga akhirnya, ketika Olga meninggal dunia, ini terasa lebih pahit daripada tertangkapnya pejabat pemerintah atas kasus korupsi.

Begitulah kondisi Indonesia saat ini. Komedian menjadi lebih dibutuhkan daripada bupati, gubernur, presiden, menteri, anggota dewan, dan sebagainya. Tidak mengherankan jika kita lihat ironi ini. Singapura meratapi meninggalnya Lee Yauw Kuan yang telah berhasil membawa Singapura menjadi salah satu negara top di dunia, masyarakat Indonesia justru menangisi berpulangnya seorang komedian nasional yang bisa memberi secarcah senyum bagi penonton Indonesia yang jenuh dengan kesemrawutan negaranya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Membaca Kematian Olga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s