Demi Kebangkitan Nasional, Masih Perlukah UN?


Tahun lalu, 20 Mei 2014 sebuah acara Talks Show di televisi swasta dengan tema Kebangkitan Pendidikan Indonesia mengundang seorang siswa SMA peserta Ujian Nasional (UN) yang mengirimkan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan terkait kecurangan di UN. Dalam acara tersebut, Nurmillaty, begitu nama siswa terkait, menyebut beberapa hal yang aneh selama UN, yaitu problem bobot soal, soal yang sama persis dengan soal di luar negeri, dan joki UN. Bahkan, bintang tamu lainnya dari Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia, Ibu Retno, memberikan kesaksian bahwa setiap tahun mereka menerima laporan kecurangan dalam UN. Menurut ibu Retno, ‘jual-beli’ kunci jawaban sudah mendapatkan pola yang baku, dari koorditor kelas hingga koordinator sekolah dengan harga beragam pada setiap kota. Masih Ibu Retno, hal ini lah yang diabaikan oleh Kementrian Pendidikan meskipun sudah banyak siswa maupun orang tua yang memberikan kesaksian tentang hal ini.

Kesaksian di atas memperlihatkan bagaimana cerminan perjalanan UN di Indonesia. Meskipun UN membawa beberapa parameter, seperti standar kelulusan, penerimaan di perguruan tinggi, dan prestasi sekolah, semua itu pada dasarnya tergantung kepada satu hal, yaitu nilai. Ketiga parameter sangat bergantung kepada nilai berapa yang dicapai siswa atau sekolah ketika menjawab soal-soal UN. Akan tetapi, sangat disayangkan sekali, nilai angka-angka tersebut mencerabut nilai yang semestinya didapatkan siswa melalui pendidikan, yaitu nilai moral dan karakter.

Apa sajakah nilai moral yang harus ditanamkan pada siswa di sekolahnya? Sejatinya elemen-elemen pendidikan yang ditemukan di sekolah bermuara kepada sejumlah nilai moral yang bisa diteladani siswa. Jam sekolah yang teratur berarti kedisiplinan. Materi-materi ajar dengan tingkat kesulitan beragam bermakna etos kerja. Interaksi guru dan murid baik di dalam maupun di luar kelas mengajarkan sikap empati. Kreatifitas siswa yang terus dipupuk berarti inovasi. Disiplin, etos kerja, empati, dan inovasi hanyalah beberapa dari setumpuk nilai moral yang harus ditanamkan di sekolah, bukan sekedar diajarkan. Jika sekolah tidak menularkan kesadaran time schedule dengan jadwal sekolah teratur, empati sesama dalam interaksi, kerja keras dalam setiap tugas, dan hanya menekankan ponten ujian, maka pendidikan telah salah kaprah.

Apakah nilai moral yang dihasilkan oleh UN? Mari kita perhatikan sejumlah fakta-fakta dalam pelaksanaan UN. Dalam rangka menyambut UN, sekolah-sekolah memogramkan sejumlah cara. Jadwal sekolah sore ditambah, try out setiap bulan, hingga out bond sekedar untuk mengurangi stress mereka. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan nyata di depan mata, untuk memenuhi syarat kelulusan. Ini kemudian akan menanamkan nilai pragmatisme. Meskipun mereka saat itu tidak menyadari nilai pragmatisme, atau justru mereka belum tau arti dari pragmatisme, UN mengajarkan cara pikir pragmatis. Bukan hanya kepada siswa secara individu, UN menumbuhkan sikap pragmatis skala nasional, secara struktural melalui kelembagaan sekolah, dan secara kultural melalui para siswa dan wali murid. Siswa bersikap pragmatis untuk lulus UN, orang tua untuk bisa membanggakan si anak atau sekedar tidak malu dari tetangga, sementara sekolah bersikap sama untuk menjaga gengsi: Sekolah terbaik lulus UN 100%.

Pragmatisme belum akan menjadi masalah besar jika semuanya dilakukan dengan jujur dan sehat. Hanya saja, setiap tahun selalu terjadi berbagai macam kecurangan dalam pelaksanaan UN. Dalam hal itu, dikenal istilah joki ujian. Meskipun soal ujian disegel dan rahasia Negara, kunci jawaban beredar dan diperjual-belikan di bawah tangan dengan beragam harga. Artinya, pragmatisme telah mengorbankan kejujuran. Ketika itu terjadi, semua nasihat verbal kepada anak mengenai kejujuran, ketekunan, kedisiplinan akan runtuh seketika. Anak kemudian akan berpikiran “untuk apa belajar susah-susah nanti menjelang ujian kita bisa beli kunci jawaban?!”

Manipulasi juga nilai lainnya yang berkembang dalam UN. Adalah rahasia umum bahwa setiap siswa ketika ujian memiliki strategi-strategi tertentu untuk membagi jawabannya kepada teman-teman. Mulai dari simbol jari, garuk-garuk kepada, dan sebagainya. Lebih hebat lagi, guru juga tidak jarang terlibat dalam manipulasi ini, baik secara aktif maupun pasif. Aktif dalam arti mereka menyebar kunci jawaban, misalnya. Pasif dalam arti mereka memberikan toleransi ketika mengetahui siswa saling melakukan manipulasi dalam ujian. Kedua hal ini sama bahayanya. Meskipun tidak disampaikan secara verbal, pada kenyataannya kejadian-kejadian seperti inilah yang lebih efektif membentuk watak dan kepribadian siswa yang bermental manipulatif.

Ketidakjujuran, menghalalkan segala cara, dan manipulatif adalah beberapa gelintir nilai yang saling terkait satu sama lainnya. Ketiga nilai tersebut secara konstan meruntuhkan nilai-nilai murni pendidikan. Disiplin, etos kerja, empati, dan inovasi yang setiap hari dinasihatkan tinggal bayang-bayang. Dari sudut pandang jangka panjang, Indonesia pada akhirnya akan dipimpin oleh generasi yang tidak jujur, menghalalkan segala cara, dan manipulatif. Tidak heran jika kemudian praktik korupsi bukan hanya menjamur tapi mengakar di Indonesia. Pada gilirannya, mereka kemudian akan melahirkan kebijakan dan sistem-sistem yang sama tidak sehatnya. Nilai-nilai ini menjadi siklus. Nilai-nilai luhur semakin tercerabut, pada sisi lain nilai tidak luhur semakin menguat. Oleh sebab itu, demi Kebangkitan Pendidikan Indonesia, UN sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan, dibutuhkan alternatif yang lebih sehat.

Iklan

3 pemikiran pada “Demi Kebangkitan Nasional, Masih Perlukah UN?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s