Emang Lulus UN Prestasi???


Waktu itu saya posting Sapu Tangan Untuk UN. Setelah itu, saya kefikiran untuk nulis tentang tradisi corat-coret baju sehabis pengumuman kelulusan UN. Tapi waktu itu urung dikerjakan, kan masih lama pengumuman kelulusannya. Tapi siapa sangka, waktu itu sempat liat berita, di Medan kalau tidak salah, acara corat-coretnya dimajuin. Bukan habis pengumuman kelulusan, tapi habis UN. Mereka udah ndak sabaran ternyata.

Kemarin, saya baca judul berita di Twitter. Kira-kira begini, “Ahok: Pesta Bikini, itu kelewatan.” Saya sih udah terlanjur g percayaan sama berita di media sosial. Diklik ntar nyesel, isi beritanya g penting banget. Kayak berita-berita yang judulnya dikasih “Heboh”, “Gawat”, dan semacamnya. Tapi, seharian berita gituan banyak muncul. Dan ketika tahu isinya, saya langsung merasa tua. Ternyata itu acara, pesta bikini, buat anak SMU. Waduh, seumur-umur saya belum pernah ikut gituan, sekarang adik-adik SMU yang biasanya ngaku unyu dan kiut udah mau pesta bikini? Kok waktu saya lulus dulu ndak ada ya?

Akhirnya, saya terangsang, bukan bikininya, tapi untuk melanjutkan cita-cita nulis tentang euforia kelulusan UN. Iya, euforia, entah apalah itu arti sebenarnya, yang menjadi penyebab semua itu. Apakah itu corat-coret baju atau kayak sekarang ini, lepas baju. Kalau kita dengar Bapak-Ibu atau Guru-guru waktu merespon berita euforia corat-coret baju, mesti mereka bilang ‘mubazir.’ Apalagi kalau yang nanggapin Ustaz/ustazah. Langsung bacain ayat, Inna al-mubazzirina kanu ikhwana al-syayatin. “Tidak baik mubajir anak-anak, mubajir itu temennya setan!” begitulah kira-kira. Tapi kalau kita denger si anak SMU-nya, mereka bilang, ‘Ah ini kan lagi bersyukur. Emang g boleh bersyukur. Kan agama ngajarin kita bersyukur.” Nah, liat kan, agama jadi berkelahi sama agama??

Tapi kalau dipikir-pikir, kata Bapak-Ibu, Guru, atau Ustaz/ah bener juga. Syukur ya syukur aja. Ndak usah pakai corat-coret baju. Kan bisa dikasih ke adik kelas. Cuma, kalau dipikir-pikir juga, si anak SMU ini juga bener. Emang ada adik kelas jaman sekarang yang mau pake baju bekas? Lagian tidak sedikit sekolah yang baca peluang bisnis dari pengadaan seragam tiap tahun. Terus, kayak ndak mau liat orang senang aja. Kan lulus UN ini. Daripada tidak lulus, mending lulus kan? Kalau lulus, terus senang kan? Kalau senang, ga apa lah sedikit bersenang-senang. Lagian ini corat-coretnya bukan sembarangan. Ini tanda tangan temen-temen terdekat, temen sekelas. Ini kenangan yang akan selalu diingat. Kata Crisye kan, masa sekolah itu masa-masa paling indah. Bener kan? Jadi ini tentang yang tadi itu, euforia dan kenangan. Karena itulah ada pesta.

Iya deh, saya ikut deh. Saya setuju. Lagian itu Bapak-Ibu kayak ndak pernah muda aja. Tapi tunggu dulu, tadi katanya kenapa? Karena lulus? Jadi gini, saya mau tanya, emang lulus UN itu prestasi ya? Ah sepertinya biasa aja. Masak lulus UN doang dianggap prestasi. Iya sih kalau lulus pastinya senang, daripada tidak lulus. Eh, pikir lo, perbandingannya, “daripada tidak lulus.” Masak “daripada tidak lulus” terus euforianya kayak Juventus dapat juara liga Champion aja. Berlebihan kali. Lulus itu biasa aja. Kayak Juventus dapat scudetto lagi. Bukan prestasi istimewa. Jadi senengnya, ya seneng aja, dak perlu pake banget.

Kira-kira menurut kamu lebih seneng mana lulus UN daripada abang-uni atau mas-mbakmu nikahan? Atau mama-papa kamu waktu ngelahirin kamu dulu? Kayaknya lebih seneng mereka deh. Tapi mereka g corat-coret baju tuh. Biasa aja. Cuma nangis haru dikit. Paling kamu bakal jawab gini, “Ndak bisa dibandingin gitu lah, beda konteks!” Oke deh, beda konteks. Tapi, gimanapun juga, lulus UN itu hanya ‘cuma’ dan merayakannya itu ‘masak’. Ah lebay amat ngerayain kelulusan UN pakai gituan segala. Apalagi tu pakai pesta bikini.

Gini dah, perbandingannya ganti sama yang dilingkungan sekolah aja. Emang prestasian maka kamu lulus UN daripada menang olimpiade fisika di Singapura kayak di film Mestakung? Prestasian mana lulus UN daripada menang kontes robot? Ah, banyak banget tuh prestasi skolahan kalau mau ditulisin satu-satu. Tetep aja, lulus UN itu pangkatnya hanya ‘cuma’ dan prestasinya hanya ‘daripada.’ Tapi kalau mau ngotot mau corat-coret baju, yaudah silahkan lah. Lha yang punya baju ya kamu. Bukan saya. Masih bisa ditoleransi lah kalau cuma gituan. Tapi kalau mau pesta bikini jangan sampai. Lebay banget tu kalau mau sampai gituan segala. Apalagi seumur-umur saya belum pernah. Lagian kalian tidak bisa disalahin sepenuhnya juga. Kemarin kabarnya Kak Seto bilang, pesta bikini itu gara-gara UN memberatkan. Saya sih setuju berat sama Kak Seto ini. UN udah terlanjur didramatisir jadi momok menakutkan. Itu tuh mengapa sampai ada yang depresi sampai nekat bunuh diri. Jadi, kalau kamu jadi pemerintah nanti, jangan cuma kaget waktu dapat info pesta bikini aja. Tapi hentikan dramatisasi UN. Dengan sendirinya yang gini-ginian akan berkurang dan hilang. Ingat ya, lulus UN itu ‘cuma,’ bukan prestasi. Yang tinggian dikit dong kalau mau dapat prestasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s