Romantika Terompah Opah


 

Siapakah Tuk Dalang?

Sudah sekian lama semenjak saya tidak mendapati ada episode baru dalam kartun Upin-Ipin. Meskipun saya dengar sudah ada yang baru, saya belum melihatnya. Setiap kali ada waktu, saya belum mendapati nasib baik menonton episode terbaru itu. Sore ini peruntungan berbicara lain, kebetulan saya menonton episode “Hadiah untuk Opah,” konon kata teman saya, Sajida Putri, judul aslinya si “Terompah untuk Opah.” Saya belum pernah menonton episode ini sebelumnya.

Ada hal menarik dalam episode ini. Tentang Upin-Ipin yang mencintai Opah mereka? Itu sudah ada di episode lainnya. Tentang mereka yang saling usil dengan Kak Ros? Bukan cerita baru lagi. Lantas apa?
Ada baiknya saya ceritakan terlebih dulu rasa penasaran saya terhadap serial ini. Jika dalam sebuah meme kita disuguhkan dengan pertanyaan “Siapakah nama Opah?”, bagi saya hal itu tidak begitu menarik. Sepertinya bukan hal aneh jika anak balita tidak mengenal nama Opah mereka. Hal yang menarik adalah kenapa Tuk Dalang begitu baik sama Upin-Ipin? Saya melempar beberapa hipotesis. Apakah Upin-Ipin cucunya, dan Tuk Dalang sudah bercerai dengan Opah sehingga tidak tinggal serumah? Hipotesis saya terbantahkan ketika menonton episode si Badrul pulang ke kampung Durian Runtuh mengunjungi kakeknya. Ya Tuk Dalang itu kakeknya. Dan Upin-Ipin tidak digambarkan memiliki pertalian kerabat dengan Badrul. Jelaslah sudah, Upin-Ipin bukan cucu Tuk Dalang.
Lantas siapakah Tuk Dalang? Apa hubungannya dengan Upin-Ipin? Pertanyaan ini selalu membuat saya penasaran. Seringkali saya memikirkannya, bahkan hingga terbawa mimpi. Tapi tapi yang barusan ini cuma bohong. Tapi percaya aja kalau mau…
Hingga sore ini, sepertinya saya mendapatkan kata kunci tentang apa hubungan Tuk Dalang dengan Opah. Dimulai ketika Meimei memberi sofenir gantungan kunci dengan miniatur terompah (baca: tangkelek, Minang) kepada semua temannya dan Terompah sungguhan pada Cik Gu nya. Bukan Upin-Ipin jika tidak memperlihatkan apa yang ia dapatkan kepada Kak Ros dan Opah. Seperti biasa, Kak Ros ketus, “Alah, kecik je. Opah punya lagi cantik.” begitulah kira-kira. Singkat cerita, Opah memperlihatkan terompahnya. Sayangnya, terompah ini tersisa sebelah, dan sebelah lagi telah hilang. Katanya, Opah sayang sekali sama terompah ini. Pengakuannya sih karena itu terompah bikinan orang tuanya khusus untuk dia. Masih kata Opah, banyak kenangan terompah ini.
Upin-Ipin merasa kasian pada Opahnya. Mereka dapat ide. Awalnya, saya menebak dia akan ngubungin Meimei, trus minta tolong beliin terompah buat Opah. Tapi tebakan saya keliru. Kepada siapa Upin-Ipin datang? Siapa lagi kalau bukan Tuk Dalang. Entah angin apa kenapa saya bisa lupa ada Tuk Dalang dalam dunia Upin-Ipin.
Singkat cerita lagi, Upin, Ipin, dan Tuk Dalang bekerja sama membuat terompah untuk Opah. Dengan lihainya Tuk Dalang memperlihatkan kemampuannya mengukir kayu membentuk motif bunga-bunga. Bukan hanya itu, terompah Opah yang sebelah dibuatkan kotak kaca sebagai pajangan. Menjelang pulang, Tuk Dalang menyuruh Upin-Ipin memperlihatkannya pada Opah dan bilang, “jangan bawa mandi ke sungai!” Si kembar menjawab, “Atuk ni, nakal, suka godain Opah je!” Respon yang menggelikan tentu saja.
Ketika Upin-Ipin memperlihatkan hasil karya mereka dan Tuk Dalang pada Opah, Upin-Ipin merahasiakan darimana mereka mendapatkan terompah itu. Tapi, rahasia mereka segera terungkap, ketika si kembar menyampaikan pesan Tuk Dalang secara anonim, “jangan bawa mandi ke sungai!” Opah pun bergumam, “Alang, ingat aja kau cerite tu.” Ahay, Alang…! Siapa pula itu? Tuk Dalang tentunya. Opah memanggil Tuk Dalang dengan panggilan Alang ternyata. Upin-Ipin penasaran, “cerite ape Opah?,” tanya mereka. “Biarlah menjadi rahasia Opah.”
Nah, sudah bisa kah Anda menebak siapa Tuk Dalang? Buat saya, sepertinya Tuk Dalang dan Opah itu cinta tak jadi. Aduhaii…! Jadi, Opah menyayangi terompahnya yang sebelah lebih dari sekedar kenangan pada orang tuanya, tapi juga kenangan dengan seseorang bernama Alang. Mandi di sungai? Hanya Opah dan Tuk Dalang yang tau gimana kisahnya. “Biarlah jadi rahasia Opah.” Memang, romantika cinta itu lebih indah jika menjadi rahasia. []

Cukup cerita alaynya. Sebelum lupa, saya memiliki kesan bahwa kelas Upin-Ipin ini merupakan contoh kelas ideal. Semua anak aktif dalam belajar. Seandainya model ini berjalan dengan baik di sekolah-sekolah mana pun, kualitas pendidikan akan luar biasa.
Masih ada satu hal lagi yang mau saya sampaikan. Beberapa saat yang lalu, dalam seminar tentang kerukunan antar umat beragama, Dosen saya Moch. Nur Ichwan mengatakan bahwa serial Upin-Ipin ini memperlihatkan relasi antar etnis dan agama yang rukun dalam satu kelas dan satu desa. Akan tetapi situasi di Malaysia sebenarnya tidak seakur itu. Di sana memang terdapat sejumlah etnis besar, dan mereka saling berkompetisi dan saling sikut. Jadi, serial animasi Upin-Ipin ini merupakan salah satu kampanye untuk kerukunan. Di samping itu, konon katanya, di UIN Sunan Kalijaga sudah ada satu tesis yang membahas film ini. Luar biasa, film animasi ternyata bermakna lebih luas dari kelihatannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s