Memekat Pekat


oleh: Matahari

-kisah untuk bukittinggiku, yang semoga hanya tetap menjadi kisah…
Semoga kabut asapnya cepat hilangYa Allah.

“Cukup Bang!! Lihat rupa kau sekarang! Hitam makin hitam. Memerah pula matamu. Jangan sampai batuk-batuk pula kau keesokan, menyusul mamak ke tempat tidur”
Aku diam saja mendengar teriakan Husna. Sudah hampir tiap hari dia ucap itu itu saja. Ditanggapi pun percuma, ujung-ujungnya dia akan menangis dan mengurung diri bersama mamak di kamar.
Tas hitam kusutku dia ambil. Dibongkarnya semua isi yang ada disana. Cekatan matanya melirik tiap barang yang jatuh, seolah sedang mencari barang bukti atas dosaku. Tiap lembarkertas, kain, dibukanya dan dilihatinya cermat. Buru-buru dia ambil al-quran yang ikut jatuh. Diangkatnya tinggi-tinggi ke mukaku.
“Masih sempatkah kau mengaji Bang? Percuma kau bawa kitab suci ini ke pertarungan bodohmu itu! Kurasa mengurus diri pun kau tak sempat” ujarnya sinis.
Aku menghela nafas panjang. Ada benarnya ucapan si Husna. Sekali pun tak sempat aku membaca quran itu dalam pertarunganku. Tapi pertarunganku nyata, tak bodoh.
“Bagaimana kondisi mamak Na?” tanyaku mengalihkan perhatian, berharap emosinya reda barang sedikit.
Mata Husna berangsur memerah. Wajahnya tertunduh sedih. Musnah bekas amarah dari wajahnya.
“Tadi pagi memerah kain sapu tangan mamak bang” ceritanya tercekat.

Hal ini sudah berlangsung lama, terlalu lama sehingga berubah jadi malaikat maut.
Beberapa bulan yang lalu langit memekat. Putih, namun tak bersih. Jarang-jarang ku temui putih yang tak suci, tak bersih.
Seantero pertelevisian nasioal berlomba memberitakan tiap-tiap sumber api. Sampai mana asapnya. Sampai mana korbannya.
Lalu berminggu lalu, toa mesjid ramai akan berita duka. Rata-rata sama: ISPA, Bronchitis, paru-paru basah.
Mamak sudah lama kena asma. Saat putih itu mulai mengental, batuk mamak pun. Sampai tertidur di ranjang tak sanggup apa-apa lagi.
Lalu beberapa hari yang lalu, aku memutuskan ikut mendemo. Ikut jadi bagian dari sejarah yang mungkin saja tak cantumkan namaku. Husna memanggilnya pertarungan bodoh, aku lebih senang menyebutnya keikhlasan.

Malam itu aku sampiri mamak di kamarnya. Aku ciumi wajah tirusnya, aku genggam telapak tangannya erat-erat.
“Mak,, bodohkah aku jadi pejuang Mak? Durhakakah aku mak??” Aku tanyai mamak yang jelas-jelas sedang tertidur. Berharap tidak ada jawaban.
Perkataan Husna membekas di hatiku. Tak pantas aku sanjung kepahlawanan kerjaku. Dia bilang aku melupakan mamak. Jelas dusta! Mamak sebabku berani memutuskan. Untuk mamak aku perjuangkan lagi udara yang tak pekat.
“Mak! Anakmu ini bodoh mak! Tak pandai ilmu hitung. Cuma bisa sembayang mengaji. Selebihnya sekedar ilmu hidup. Tak paham aku tentang politik, ilmu kesehatan, ilmu alam Mak!
Tapi lihat! Kau yang terbaring di dipan ajariku, kalau putih ini tidak suci. Pekat!”
Kurasakan jemari mamak bergerak sedikit. Buru-buru kuletakkan kembali. Kuhapus air mata. Terimakasih sudah mendengar curhatku mamak!

Opsi berseragam polisi lengkap telah buat cukup banyak orang merintih dan mundur akibat tendangannya. Orang-orang yang bertoa beradadi tengah kerumuman kami. Mereka adalah yang paling mahasiswa, paling sarjana. Kadang heran pula aku kenapa tidak mahasiswa dan sarjana sungguhan yang ikut dengan kami. Kata Ujang, sarjana-sarjana itu bertempur dengan cara lain. Lewat pena dan kertas kabarnya, lewat media. Aku tak paham, tapi puas dengan jawaban itu.
“Pemerintah serakah! Kembalikan udara kami! Tanah air kami!” Teriak seseorang dengan toa. Serentak kami selebihnya ikut berteriak.
“Ooooo!!!!!!!!”
“Buaya Putih serakah!! Tangkapi investor asing yang bakari hutan!!”
“Ooooo!!!!!!!”
Teriakan kami berkumandang seharian. Bau keringat dan ketek sudah mengudara sejak siang tadi. Aku mulai pusing, memilih berhanjak ke belakang.
Orang-orang di barisan depan makin menggila. Masker ukuran raksasa dibentang dan dibakar, katanya sebagai simbol bahwa negri ini tak boleh selamanya memakai masker.
“Sstt… Amir!” panggil Ujang tanpa babibu langsung menarikku menjauh ke salah satu mushola dekat sana. Disuruhnya aku melepas tiap kain bertuliskan demo di badanku. Dia pun melakukan hal yang sama.
“Ada apa jang?” tanyaku bingung. Ditariknya aku ke salah satu bilik kamar mandi dengan bau minta ampun. Ditutupnya pintu dan dikuncinya rapat-rapat.
“Ada kabar kalau hari ini seluruh pendemo akan ditangkapi. Yang beruntung akan dilepas lagi dengan badan tak utuh, yang ‘nakal’ dipastikan tak bakal jumpa lagi dengan keluarga sekalian” bisik Ujang. Dadaku berdegub kencang. Baru kali ini aku begini takut.
Menit demi menit berlalu tegang. Antara percaya dan tidak. Tak lama terdengar serine dan teriakan yang memekatkan langit. Dari suaranya kami bisa tebak betapa kacaunya kondisi di luaran sana.
Suara yang pekat itu makin mendekat tempat kami sembunyi. Suara kaca pecah menambah riuh suasana. Aku rasai kedua kakiku gemetaran.
“Apa yang akan kita lakukan jang?” tanyaku berbisik, suaraku hilang timbul. Ujang meletakkan telunjuknya di depan bibir, menyuruhku tetap diam.
Kepekatan itu menjauhi kami.
Teringat benar kini olehku tiap teriakan Husna yang suruh aku berhenti. Pertarungan ini konyol! Kami hanya melawan bayang. Menyakiti tiada kecuali diri sendiri. Tak ada batas, perbedaan antara melawan dan pasrah. Toh orang-orang berpangkat itu terlalu sulittuk ditentang. Aku bodoh. Naif!
“Tak bisa dibuka pintunya Jang!” ucapku panik. Ujang ikut mencoba membuka piintu. Hasilnya sama.
“Jang lihat jang!” Teriakku menunjuk fentilasi. Asap pekat menyeruak dari sana. Aku dan ujang makin kesetanan ingin membuka pintu. Udara makin panas, dari segala arah.
“Kita harus siram badan kita mir” ujar Ujang menghidupkan keran sebesar-besarnya. Satu gayung untuknya, lalu untukku. Bergantian hingga kami basah kuyup.
“Aku pernah lihat di film amerika! Kita harus dobrak pintu ini dan lari sebelum kita hangus!”
Kami berdua kesetanan, mendobrak pintu yang bawahnya mulai terbakar. Kami sama batuk, berlari sekuat tenaga. Dan yang kami temui di luar tak jauh lebih buruk dari kami.
“Aku nak pulang Jang!” ujarku. Ujang mengangguk pelan. Sedangkan masih banyak orang yang mencobabangkit meski terseok.

Husna berteriak lagi, kali ini dengan air mata.
“Ku kira tak kan pulang-pulang kau lagi Bang” ucapnya tersendat. Tangisnya makin pecah, tanda tak lega.
“Mamak Bang! Mamak!” ujarnya tak selesai. Kakiku telah lebih dahulu berlari ke tempat mamak.
“Mamak! Mamak!” Dan mamak tak pernah menjawab.

“AAAHHHH!!!!” teriakku entah pada siapa. Persetan! Amarah ini untuksemua orang. Kabut pekat ini terlebih. Orang yang membuatnya apalagi. Persetan! Persetan! Persetan!
Kurang apa pertarunganku?
Dipojok ruangan mamak terbaring mati, disisi lainnya Husna dengan mata yang mati pula. Terbatuk sambil menyeka mulut dengan sapu tangan merah pekat.
Matahari memerah, langit memekat. Malam datang. Memekat pekat.
Semoga besok masih ada hari, doaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s