Kado Tahun Ini


Oleh: Matahari
Kota ini istimewa. Menurutku yang sejak lahir selalu berada disini, keyakinan itu terus ada. Dedaunan gugur nyata saat udara panas disini, berbeda dengan belahan bumi bagian sana. Seluruh alam seolah bersinergi tiap tahunnya. Hari yang sama, bulan yang sama. Tiap tahun. Hari kelahiranku.
Udara cukup panas. Keringat mengalir begitu saja melewati leher dan punggungku. Muka berminyak sudah jadi hal biasa bagi penduduk kota yang tak seberapa. Sungai yang cukup besar mengalir disepanjang barat kota. Persekolahan dari tingkat usia balita sampai usia siap untuk bekerja lengkap disini. Tempat ibadah, pasar, rumah sakit, kantor polisi, sampai pada tempat hiburan muda mudi bahkan pekuburan. Semuanya seolah sudah disediakan cukup disini. Kebanyakan orang lahir dan mati disini. Hanya hitungan jari orang yang bisa keluar dari kota ini. Gerbang besar mengelilingi kota. Penjaga bepatroli tiap waktu. Tapi aku mau ambil pusing. Sekarang aku bahagia di kota ini.
Bersama dengan potongan semangka yang tinggal kulitnya, Teo sibuk menggoyang tangan kananku, mengganggu delusi yang batasnya hanya seangin di benakku. Pernyataannya selalu sama sejak seminggu yang lalu, entah setan apa yang masuk ke otaknya.
“Aku ingin keluar Lehm” ujar Teo setengah berbisik sesaat setelah ia berhasil menarik perhatianku.
“Kita memang sudah diluar Teo” balasku. Aku tak berbohong, kami memang tengah duduk di teras rumahku, menikmati beberapa potong semangka yang kami beli. Memang aku hidup sendirian. Keluargaku telah tiada, tiada dalam arti sebenarnya.
 “Ayolah Lehm. Aku tahu kau mengerti maksudku,sama semangatnya denganku. Setidaknya sebelum kau bertemu gadis di halte itu kan?” nada Teo terdengar menyindir. Refleks aku melempar apa saja yang ada ditanganku. Kulit semangka yang dagingnya sudah habis kumakan telak mengenai puncak kepala Teo. Aku menyeringai. Bersyukurlah Teo, setidaknya aku tidak sedang memegang pisau layaknya beberapa menit yang lalu.
“Gelagatmu benar-benar orang jatuh cinta Lehm”
Aku memilih diam. Percuma melawan Teo. Bertahun-tahun jadi temannya, aku jadi tahu salah satu bakat tersenyumbunyi Teo memang jadi seorang peramal.
Benakku langsung berlari menuju detik masa itu. Detik-detik yang hari ini bisa ku lantangkan sebagai detik terindah dalam hidupku.
Di kota ini tak ada buku-buku roman picisan. Kalau pun ada, hanya segelintir orang yang bisa membacanya. Oleh-oleh dari dunia luar-begitu cara kami menyebut wilayah diluar dinding, memang selalu mahal, dan aku tak cukup mahal untuk memilikinya. Aku pemuda biasa.
Tapi cinta selalu memiliki kisahnya tersendiri. Bahkan di tempat paling buruk dan terpencil sekalipun, bahkan di kotaku. Aku yakin ceritanya tak akan kalah indah dari belahan dunia manapun.
Detik itu, detik terindah dalam hidupku adalah detik-detik hari seperti biasa. Cuaca panas, matahari yang membakar. Dedaunan jati yang berguguran di kiri kanan jalan. Detik terindah dalam hidupku adalah detik-detik biasa. Sepulang ngampus, aku berdiri resah menanti bis kota yang belum kunjung datang. Jadwalnya sudah terlambat dua menit. Waktu itu aku berfikir bahwa detik ini malah akan berubah jadi detik buruk dalam hidupku. Apalagi melihat puluhan orang yang ikut menunggu tak sabaran.
Selang beberapa menit, bis yang ditunggu terlihat dari kejauhan. Semua orang berdesakan ke depan, aku pun berencana begitu jika Teo tak mengirimiku pesan untuk kembali ke kampus. Aku berpaling mundur, saat itu aku melihat gadis itu. Berkulit sawo matang dengan terusan putih dan topi lebar. Ia tersenyum, membantu seorang tua renta memasuki bis yang penuh sesak. Sayang gadis itu tak kebagian kursi. Di kotaku, setiap angkutan umum memiliki kapasitas tempat duduk. Tak ada penumpang yang boleh berdiri. Semacam peraturan daerah. Disatu sisi menjaga kenyamanan penumpang, namun di satu sisi juga cukup menyebalkan. Namun gadis itu melambaikan tangan pada tua renta yang menempati duduk tempat gadis itu seharusnya duduk jika memilih untuk tak peduli.
Kakiku melangkah kesal. Disebelahku Teo tertawa ringan. Ayolah! Teo memintaku merelakan bis yang sudah kutunggu lama, apalagi dengan panas seperti ini, hanya untuk pulang bersama. Teo bukan anak kecil lagi. Tak bisakah ia pulang sendiri?
“Pulang sendiri selalu membosankan Lehm. Bukankah rumah kita bersebelahan? Malah seharusnya kita berangkat dan pulang bersama tiap hari. Ah, kedengaran seperti kencan bukan?” tawa Teo pecah. Becandaannya selalu lucu baginya, tidak bagiku.
“Aku tak kencan denganmu Teo. Jangan bicara dengaku sampai di rumah hari ini! Aku masih marah padamu” ujarku.
Beberapa orang melihat aneh pada kami berdua. Aku mengusap wajahku makin kesal. Teo tertawa lepas kali ini. Oh Tuhan! Jangan sampai orang-orang benar berfikir aku kencan dengan pemuda ini! Aku mempercepat langkahku, meninggalkan Teo yang sudah tertawa sambil memegangi perutnya.
Aku kembali lagi ke halte. Sempat melirik jam yang tersemat di tanganku. Masih sepuluh menit lagi sebelum bis trip berikutnya tiba. Waktu itu sebenarnya detik terindah dalam hidupku benar dimulai.
Gadis itu duduk sembari membaca sebuah buku. Buku yang cukup tebal, dengan sampul unik yang belum pernah kulihat. Gadis itu menutup bukunya saat sadar dengan kehadiranku. Sedikit menggeser, memberikanku cukup ruang untuk duduk.
Tak lama Teo datang. Ia melirikku, namun sama sekali tak menyapaku, apalagi mendekat. Ia benar-benar bertingkah layaknya orang asing. Aku sempat ragu, apa Teo benar-benar mengindahkan kalimatku padanya. Tapi Teo tak pernah begitu sebelumnya.
Namun Teo begitu cepat terlupakan olehku. Duniaku seolah terhisap oleh hadir gadis itu. Gadis yang sudah mulai kembali membaca bukunya. Bahkan sampai di bis. Alam mengizinkanku duduk disebelahnya, mengamatinya hingga ia turun satu halte lebih dahulu dari  tempatku turun.
Sungguh, detik terindah dalam hidupku adalah masa itu. Sekedar duduk dan mengamati, tak lebih. Aku tak punya keberanian untuk membuatnya lebih.
“Kau benar-benar jatuh cinta kawan!” Teo tertawa mengamatiku. Aku memalingkan wajah. Teo selalu senang tertawa. Jika ada survei tentang orang paling bahagia di kota ini, mungkin Teo akan masuk nominasinya.
“Kau menyebalkan Teo”
“Dan kau adalah orang yang memutuskan untuk berteman dengan Teo menyebalkan ini atau tidak Lehm”
Argh! Menyebalkan. Teo selalu menang adu mulut dengaku.
“Aku serius. Aku benar-benar ingin keluar dari kota ini. Kau bisa lihat sendiri kan? Satu-satunya dari dunia luar yang bisa kita lihat disini hanya gunung yang bahkan kita tak tahu namanya! Aku yakin Lehm. Ada banyak hal di dunia luar yang kita tak tahu. Tidakkah kau merasa aneh? Tembok besar yang mengelilingi kota? Fasilitas yang terlalu lengkap? Bahkan penduduk kota yang sama sekali tidak dikenalkan dengan dunia luar! Ada yang aneh disini Lehm! Penjaga itu berjaga disekeliling tembok tentu bukan tanpa alasan”
“Orang-orang yang kembali dari dunia luar juga tak dibolehkan bercerita banyak. Bahkan bisa dikatakan bahwa orang-orang yang bisa kesana hanya kalangan pejabat. Saudagar kaya pun susah mendapat izin. Kita seolah dikurung Lehm! Tidak ada yang bisa keluar. Bahkan tak ada yang bisa masuk”
“Jaga ucapanmu Teo!” bentakku. Terlihat Teo yang seolah masih ingin berbicara banyak hal. Dulu, melihat dunia luar adalah mimpiku dan Teo. Mimpi kami berdua. Setengah hatiku berteriak marah pada diriku sendiri, aku merasa berkhianat pada Teo. Berkhianat pada mimpiku sendiri.
“Gadis itu merubah mimpimu Lehm. Kita sudah sama sepakat untuk tidak mati disini sebelum melihat lebih banyak tentang dunia luar! KAU BERUBAH!” teriak Teo. Ini pertamakalinya Teo berteriak padaku, selama ini selalu dia yang mendengar marahku.
“Aku tak berubah. Hanya mimpiku yang berubah Teo! Dan tolong jangan bawa-bawa gadis itu. Aku bahkan tak tahu siapa dia, bahkan namanya!”
Teo menghela nafas panjang. Pengendalian emosi Teo selalu bagus. Terlihat dari raut wajahnya yang sudah sedikit mengendur.
“Aku sedang tak ingin bicara denganmu Lehm! Tolong jangan temui aku beberapa hari ini” ujar Teo berlalu.
Baru sekarang aku paham bahwa becandaan Teo tempo hari memang lucu. Setidaknya aku berharap sekarang Teo akan kembali menghdap padaku dan tertawa sembari bercanda tentang pertengkaran ‘kekasih’ yang sering kami perankan secara tak langsung. Ah! Pertengkaran dengan teman itu bahkan lebih merepotkan dibanding pertengkaran kekasih.
Hari berlalu begitu saja. Sudah tiga hari aku tak bertemu Teo. Hanya sesekali aku mengiriminya pesan. Teo hanya berkata untuk tak menemuinya bukan, tidak untuk mengiriminya pesan. Dan syukur Teo masih membalas pesanku, meskipun hanya dengan kata-kata singkat ya, tidak, dan entahlah. Tiga hari tak bertemu Teo serasa bertahan seminggu penuh di kampus bersama dosen paling membosankan dikota.
Tiga hari kembali berlanjut lama. Kuhabiskan tiap detiknya untuk kembali merenung. Sayang tak pernah ada pemenang dalam debat yang berlangsung di benakku sendiri. Tak terasa, esok hari ulang tahunku. Hari yang selalu istimewa bagiku.
Di kota ini dedaunan gugur selalu nyata saat udara panas, berbeda dengan belahan bumi bagian sana. Seluruh alam seolah bersinergi tiap tahunnya. Hari yang sama, bulan yang sama. Tiap tahun. Pada hari kelahiranku, hujan yang hanya datang sekali dalam berbulan musim panas berbaik hati ikut merayakan.
Sayang kali ini aku benar sendiri.
Rintik air mulai berjatuhan. Orang-orang meramaikan diri keluar rumah. Tinggal menunggu jam. Menunggu jam saat umurku akan genap 20 tahun.
Sebuah pesan masuk. Teo mengucapkan selamat ulang tahun, berjanji bahwa ia akan ke rumahku malam ini. Aku tersenyum lega. Semoga Teo tak marah lagi padaku.
Beberapa menit berselang, Teo sudah mengetuk pintu rumah. Ia datang dengan senyum cerah seperti biasa. Membawa sebuah bingkisan besar untukku.
“Jangan bilang kau marah hanya untuk mengerjaiku?”
“Aku benar-benar marah Lehm!”
Kami berdua tertawa. Sama memutuskan untuk berhenti membicarakan hal itu.
“Apa lagi yang kau tunggu Lehm? Gelagatmu sungguh tak enak dilihat” ujar Teo.
Memang aku masih menunggu. Menunggu bingkisan yang tiap tahun datang padaku. Bingkisan ulangtahun yang tak pernah kutahu siapa pengirimnya sampai kini. Tahun ini niatku bulat untuk tahu siapa pengirim hadiah itu. Bahkan aku sudah mencoba memasang kamera pengintai.
Jam 11.55. Bingkisan itu tak kunjung datang. Sungguh aneh. Biasanya bingkisan itu datang sebelum pukul 11.00. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Dari pengirim yang tak dikenal. Keningku berkerut. Aku serahkan pada Teo. Teo hanya tertawa, menganggap itu sebuah lelucon yang dikirim teman kampus.
“Lalu kita harus jawab apa?” tanyaku.
“Terserahmu. Mungkin ini hukuman karena kau mengkhianatiku Lehm” balas Teo acuh tak acuh.
Aku membaca pesan itu sekali lagi. Selamat ulangtahun! Kuberikan hadiah khusus untukmu tahun ini. Apa kau ingin melihat dunia luar?
Tanganku sedikit bergetar ketika mengetik pesan balasan ini. Entah mengapa rasanya ada sebuah beban berat dipundakku. Seolah pilihanku ini akan berdampak apa pun.
Pesan balasan datang. Ia meintaku keluar. Teo yang penasaran mengikuti langkahku. Kami berdua sama terkejut melihat gadis yang tempo hari kutemui. Gadis yang menjadikan detik terindah dalam hidupku adalah sebuah rangkaian sederhana.
Ia tersenyum ramah. Membawa sebuah kue ulang tahun berhiaskan namaku. Bajunya masih sama, terusan putih. Namun kali ini ia tak memakai topi lebarnya.
“Selamat ulang tahun Lehm. Ini hadiahku untukmu” ujarnya.
Bersamaan dengan dentang jam yang kedua belas, letusan besar terdengar disekeliling kota. Orang-orang berlarian berteriak. Sebuah letusan besar membuat tembok-tembok raksasa itu runtuh selayaknya pasir yang ditiup angin. Aliran sungai mulai mengeruh, dibayangi aliran merah darah. Teo memegangi tanganku, kepalanya bocor, mungkin terkena lemping batu. Hujan sedikit membantu turunnya abu.
Tanganku bergetar. Apa jawaban singkatku yang membuat semua ini tejadi. Apa jawaban asalku membunuh orang-orang yang bahkan tak bersalah padaku. Tembok itu perlahan jatuh. Memperlihatkan dunia luar. Mimpiku dan Teo.
Diantara teriakan dan bunyi serine yang mulai mengudara, sebuah suara lembut menguar di telingaku.
Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday dear my Lehm. Accept my present.
Bola mataku membesar. Gadis itu bernyanyi tepat di telingaku.
END
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s