Tentang Penciptaan, bukan Pernikahan


juga dimuat di qureta.com

Adalah sebuah kebanggaan, catatan kecil saya mendapatkan respon dari Bapak Mun’im Sirry, seorang internationally-recognized scholar in religious/qur’anic studies. Perbedaan kami bukan hanya pada pandangan dalam menafsirkan kata azwaj Q.26:166, tetapi juga dengan cara menanggapi. Jika Bapak Mun’im Sirry di Amerika Timur sana menjawabnya dengan santai sambil sarapan pagi, saya di sini, di suatu tempat di sebelah kota Bukittinggi, butuh upaya yang lebih keras demi sebuah tulisan singkat ini.

Sayangnya, saya tidak akan memberikan argumen baru yang substansial di sini. Saya hanya menata ulang argumen kemarin, mengurangi ambiguitas yang ada, sambil berharap dengan itu bisa menepikan respon yang diberikan oleh Bapak Mun’im Sirry.

Sudah maklum bahwa suatu kata dalam Al-Quran memiliki sejumlah kemungkinan makna, tergantung dengan konteks dan relasi intratekstualnya. Salah satunya adalah kata zawj / azwaj yang menjadi pusat diskusi ini. Ia bisa bermakna pasangan suami-istri, tetapi juga pasangan yang lebih generik. Persis sebagaimana yang disampaikan oleh beliau Mun’im Sirry.

Permasalahannya di sini adalah, makna mana yang diwakili oleh Q.26:166. Bapak Mun’im menyebut ia bermakna istri, tapi saya menilai ia bermakna pasangan dalam konteks penciptaan. Oleh sebab itulah kata khalaqa menjadi penting dalam argumen saya (dan sepertinya diabaikan Bapak Mun’im).

Masing-masing makna memiliki implikasi yang berbeda. Makna versi Bapak Mun’m Sirry berimplikasi bahwa celaan terhada kaum Lut adalah karena perilaku seks semau gue, di luar nikah, dan pemerkosaan; bukan karena pernikahan atau perilaku seks sejenis. Sementara itu, pada versi yang saya ajukan celaan tersebut disebabkan perilaku seks sejenis bukan sebagaimana yang diperuntukkan (diciptakan).

Hingga titik ini, jelaslah perbedaan pendapat antara saya dan beliau Mun’im Sirry. Hingga titik ini, jelas pula bahwa argumen saya dipahami olehnya, meski tidak diamininya. Permasalahan muncul pada langkah berikutnya, ketika Ia menyusun argumen balasan yang menurutnya berasal dari implied meaning dari argumen saya.

Bapak Mun’im Sirry terlalu fokus kepada kalimat  “bukan dalam makna suami-istri yang telah menikah.” Menurutnya, dengan itu saya telah meruntuhkan institusi pernikahan, karena kalimat itu berimplikasi diperbolehkan mengumbar nafsu asal antara laki-laki yang perempuan, meskipun belum menikah. Bisa jadi karena memang kalimat saya berpotensi untuk ditafsirkan sedemikian (Kalimat Al-Quran saja  berpotensi multi-interpreted).

Namun begitu, ia gagal menangkap pentingnya posisi khalaqa pada penjelasan saya (atau saya yang gagal menyampaikannya secara baik). Karena itulah ia terdorong untuk mengambil implied meaning di luar dari yang saya tuju.

Mari kita lihat kembali ayatnya:

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara ciptaan dan malah meninggalkan azwaj kalian yang Tuhanmu ciptakan untukmu.”

Saya memang melepaskan makna azwaj di sini dari konteks pernikahan, sebagaimana yang diperlihatkan juga oleh Q.51;49. Akan tetapi, bukan berarti dengan itu melegalkan perilaku seks di luar nikah. Implied meaning yang disusun oleh Mun’im Sirry terlalu jauh. Bukan ‘tak terpikirkan’ tapi memang ‘tak dituju’.

Justru, dengan argumen balasan dari Bapak Mun’im Sirry tersebut, saya melihat beliau masih memaknai kata azwaj ini dalam makna pernikahan (masih mempermasalahkan di dalam atau di luar institusi pernikahan). Bisa dilihat umpamanya dari pertanyaan yang diungkapkannya:

“Nah, jika azwajikum dalam 26:166 diartikan “pasangan perempuan kalian”, lalu siapa indentitas “pasangan perempuan” itu? Apakah perempuan yang menjadi istri-istri yang sah, atau perempuan di luar pasangan suami istri?”

Di sini lah argumen saya disalahpahami. Saya tidak membicarakan ayat itu dalam konteks perniakahan, oleh sebab itu saya tidak menolak institusi pernikahan. Saya membawanya ke makna yang lebih asasi, yaitu penciptaan (khalaqa lakum rabbukum min azwajikum). Artinya, pertanyaan tersebut tidak relevan di sini.

Maksud ayat itu bagi saya adalah bahwa Tuhan telah menciptakan bagi al-zukran pasangan yang dengannya lah semestinya naluri seksual ditempatkan. Ia sepadan dengan Q.3:14, bahwa manusia dihiasi dengan naluri syahwat kepada perempuan. Pembacaan kontekstual extra dan intra teks mengindikasikan bahwa al-nas (manusia) di sini bermakna laki-laki. Artinya, perilaku seks sejenis menyalahi natur penciptaan itu.

Dapat saya pahami, Bapak Mun’im memang sedang membahas tema pernikahan sejenis. Karena itulah ia terdorong memahami kata azwaj di Q.26:166 dalam konteks pernikahan, dan masih menaggapi argumen saya dalam nuansa yang sama. Pada sisi lain, saya sama sekali melepaskan nuansa itu. Sebab, ayat itu bagi saya menanggapi perilaku seksual sejenis dengan merujuk kepada normativitas penciptaan manusia, bahwa naluri seksual diciptakan antara al-zukran dan zawj-nya.

Semoga kali ini saya mampu menjelaskannya dengan lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s