Antara Sekolah dan iPh*ne 7


juga dimuat di qureta.com

Sebutlah tante Luna, seorang ibu sosialita, punya anak gadis yang cantik, sebut saja Bunga. Bunga baru saja lulus dari SMP anu di Jakarta, sebuah sekolah unggulan, dan telah diterima di SMA anu, sekolah top juga tentunya. Tante Luna begitu bangga dengan Bunga. Ia sangat senang anaknya mendapatkan yang katanya pendidikan kelas atas. Apalagi ketika melihat anak tetangga yang hanya sekolah, ahh entah apa lah namanya. SMA kecil di luar komplek.

Bukan hanya tante Luna, Bunga juga bangga. Bawa seragam sekolah dengan logo SMA anu nongkrong di mall, idihh gengsinya minta ampun; berasa keren aja. Apalagi pas pulang dari mall papasan sama tetangga yang sekolah di luar komplek. Itu suasananya kayak slow motion; ngeliat sekedip, berpaling, dan senyum tipis mengembang.

Bunga baru saja ulang tahun ke-16. Ehh pas banget iPhone 7 baru release, dan tante Luna beliin dong. Buat anak cantik juga. Tak terkira, betapa gembiranya Bunga. Saban pagi bangun tidur, ambil hp, selfi depan cermin, liatin logo Apple bekas gigit itu, caption “bangun tidur kucel.”

***

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, kesamaan nama dan peristiwa ya mau gimana lagi. Tapi sungguhpun begitu, ilustrasi ini menggambarkan sesuatu tentang pendidikan kita di Indonesia. Semua orang saat ini meratapinya. Mereka bilang pendidikan Indonesia gagal. Gagal karena peristiwa misterius dalam perpolitikan, seperti dicomotnya Anies Baswedan. Atau gagal karena bongkar-pasang sistem dan kurikulum oleh pak Mentri. Apa daya Umar Bakri.

Apalah itu peristiwa politik ataupun kebijakan yang trial and error, memang urusan yang pelik. Tidak diragukan lagi! Tapi itu bukan semuanya. Pak Presiden dan mentri itu berada di luar, di rumah atau di kantor mereka masing-masing. Di luar itu semua, kegagalan pendidikan Indonesia uratnya juga ada yang sangat dekat; yaitu semenjak dalam pikiran si orang tua.

Sepertinya saat ini banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya untuk mengkhianati pendidikan itu sendiri. Pendidikan itu untuk ilmu, dan ilmu itu luhur, bukan untuk ego dan kebanggaan. Aristoteles bilang ilmu itu untuk kebijaksanaan. Umar Ibn Khattab bilang ilmu itu ada tiga tahap, dan tahap ketiga adalah kerendahan hati. Itulah tujuan pendidikan yang sejati.

Akan tetapi kenyataannya logika publik tentang pendidikan saat ini sudah seperti logika mereka terhadap lifestyle. Demi prestise sosial bagi si Bapak, untuk gengsi bagi si Ibu, dan untuk keren-kerenan bagi si anak. Akhirnya, memilih sekolah ini daripada sekolah itu tak ubahnya seperti memilih merek iPhne atau Samsng. Bukan karena alasan telfon atau sms yang jadi fungsi utama hape, sebagaimana bukan karena alasan pendidikan yang jadi fungsi sekolah.

Buktinya? Sudah rahasia umum bahwa setiap sekolahan punya rivalnya masing-masing. Ibarat Juventus-Inter Milan, Manchester United-Manchester City, Real Madrid-Barcelona. Masing-masing siswa merasa sekolah mereka lah yang paling top. Tak jarang pula kita dengar oknum orang tua yang rela memberi angpao pelicin supaya anaknya masuk di sekolah tertentu. Bukan karena alasan pendidikan, tapi gengsi.

Dalam konteks yang lebih luas, boroknya pendidikan bukan cuma di kepala si orang tua atau si murid saja. Dimana lagi? Di si kepala sekolah, komite, pemilik, atau investor, atau siapa saja yang bertanggung jawab.

Mereka berlomba-lomba menyediakan fasilitas ini dan itu. Secara sekilas mungkin saja terlihat itu karena alasan pendidikan. Tapi jika dilihat lebih intens, kompetisi mereka ada polanya, yaitu untuk mendapatkan image sekolah beken, sekolah keren, sekolah eksklusif. Tak heran jika biaya pendidikan semakin hari semakin melangit. Mitos pun berkembang; ‘sekolah yang diminati itu adalah sekolah yang elit, sekolah yang mahal.

Lihat, betapa logika pasar menentukan pendidikan kita. Kesuksesan sekolah diukur dari minat publik, sementara minat publik itu sendiri dikelabuhi dengan image sebagai sekolah elit dan harga yang selangit; sebuah ironi stratifikasi sekolah unggulan dan non-unggulan.

Mari lihat sekali lagi, ‘sekolah yang diminati itu adalah sekolah yang elit, sekolah yang mahal.’ Sungguh logika itu sebangun dengan “Yang keren ya mahal, kayak iPhne 7 kayak Samsng s7.”

Jika demikian kenyataannya, wajar apabila kemudian terjadi perang gengsi antar sekolah dan antar siswa. Perang yang sebangun antara iPhne dan Samsng. Mereka berkompetisi dengan image menggunakan unsur-unsur yang tidak begitu substansial. Tapi logika lifestyle membutakan mata orang tua maupun si anak. Mereka ikut perlombaan, tapi tidak sadar bahwa yang sebenarnya sedang mereka banggakan adalah kualitas pendidikan yang artifisial.

Maaf, Pakde Aristoteles, Pakde Umar, quote dari jenengan tinggal jadi pemanis bibir motivator doang, yang—errr… juga sebenarnya nyari duit. Saat ini dan sampai entah kapan, si Bunga anak tante Linda, atau si Bunga yang lain masih akan berselfi pakai seragam sekolah kebanggaan dengan iPh*ne terbarunya.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s