Sejarah Minang yang Islami?


Jumat, 10 November 2017, pagi saya membaca tulisan menarik dari Saudara Anggun Gunawan yang dimuat Harian Singgalang. Dalam artikel itu, ia berupaya melakukan dekonstruksi sejarah Minangkabau melalui analisis asal muasal istilah ‘minangkabau’ itu sendiri. Mengutip dari Buya Mas`oed Abidin, ia mengungkap bahwa asal kata ‘Minangkabau’ adalah ‘Mukminan Ka an-Nabi’, frasa berbahasa Arab yang secara literal ia artikan ‘orang-orang beriman seperti ajaran Nabi’, meskipun secara pribadi saya lebih senang mengartikannya ‘secara mukmin sebagaimana Nabi.’

Artikel tersebut ia beri judul “Sejarah Minangkabau yang Islami”. Saya menjadi penasaran, bagaimanakah sejarah yang islami menurut penulis? Jawaban itu segera muncul dari argumen-argumen yang ia sampaikan, bahwa sejarah Minangkabau menjadi Islami ketika ia diyakini berasal dari simbol-simbol kebudayaan Islam, yaitu bahasa Arab dan interpretasi tertentu terhadap ayat Al-Qur`an, yang dalam hal ini adalah kisah Nabi Nuh dan Dzul Qarnain.

Sungguhpun artikel ini menarik, sayangnya argumen-argumen yang disampaikan terlihat berserakan dan kontradiktif. Paling tidak ada tiga kontradiksi yang saya temui dalam argumennya.

Pertama, Anggun Gunawan mengaitkan sebuah ungkapan terkenal dalam tambo ‘sajak gunuang Marapi sagadang talua itiak’ dengan kisah Nabi Nuh. Ia juga mengaitkan simbol tanduak yang selama ini diasosiasikan kepada kerbau dengan pride kekuasaan dari Dzul Qarnain, sang pemilik wilayah Barat dan Timur. Problem dari argumen ini adalah hidup Nabi Nuh dan Dzul Qarnain dipisahkan oleh rentang waktu yang sangat panjang. Nabi Nuh adalah nabi ketiga setelah Nabi Adam dan Idris. Sementara itu, meskipun beragam pandangan tentang masa hidup Dzul Qarnain, Anggun Gunawan mengutip Imam al-Syaukāni yang memperkirakan ia hidup di rentang abad pertama sebelum masehi hingga abad keenam setelah masehi.

Dengan kata lain, Anggun Gunawan dalam hal ini menjembatani 3 hal; peristiwa air bah pada masa Nabi Nuh dan kekuasaan Dzul Qarnain yang memiliki jarak waktu yang sangat jauh sebagai dua kategori pertama, dan asal muasal Minangkabau sebagai kategori ketiga. Ketiga hal tersebut ia jembatani dengan interpretasi karakter itiak yang berenang dan air; tentu ini penjelasan yang sangat tidak cukup.

Kedua, berdasarkan argumen terkait kisah Dzul Qarnain, Anggun Gunawan lantas menyimpulkan bahwa Minang telah berislam sebelum nabi Muhammad; sebuah argumen yang sangat berani. Tentu saja yang ia maksud adalah Islam dalam makna substantif, yaitu berislam sebagai wujud keberhambaan kepada Tuhan yang Esa dalam kerangka Tauhid. Sebagaimana diyakini dalam ajaran Islam, para rasul dari Adam hingga Muhammad, dan nabi-nabi lainnya yang tidak diceritakan, memiliki ajaran yang sama, yaitu pengakuan dan keberserahdirian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Problem dari argumen ini adalah bahwa ajaran Tauhid ini, ketika menyejarah ke atas dunia, ia memiliki nama yang beragam. Ketika ia diturunkan kepada Nabi Musa, ia bernama Yahudi. Ketika ia diturunkan melalui Nabi Isa, ia menjadi Nasrani, dan ketika ia diwahyukan kepada Nabi Muhammad, ia bernama Islam. Bahwasanya dalam perkembangannya kedua agama tersebut berkembang tidak lagi sejalan dengan apa yang diyakini oleh Muslim, itu perkara lain. Intinya, ia muncul di dunia dalam banyak nama.

Nama ‘Islam’ sendiri baru digunakan setelah masa kenabian Muhammad. Para sejarahwan mengungkap, bahwa sebelum menjadi nabi pun, Nabi Muhammad disebut mengamalkan ajaran anīf. Tentu saja hal ini karena ‘Islam’ belum dikenal sebagai nama formal. anīf adalah ajaran monoteis murni yang dipertahankan dari nabi Ibrahim. `Uzlah yang ia lakukan sepanjang lima tahun di gua Hirā` merupakan tradisi dari ajaran anīf ini. Dalam sudut pandang bahwa ajaran Yahudi dan Kristen telah melenceng dari rel Tauhid yang diakui Islam, maka anīf atau unaƒā` adalah nama dari ajaran yang masih tetap mempertahankannya. Ibnu Iṣḥāq dalam Sīrah Nabawiyah-nya menyebut ada lebih kurang empat orang penganut anīf di Makkah sebelum kenabian Muhammad. Barulah ketika ia diangkat menjadi Nabi, Islam substantif-monoteis tersebut diberi nama formal berupa ‘Islam’.

Berdasarkan argumen dari Anggun, jika Islam substantif ala nabi-nabi pra Muhammad tersebut masuk ke tanah Minangkabau, maka dapat dipastikan ia akan memiliki sebuah nama, sebagaimana Yahudi dan Kristen telah menjadi nama bagi agama monoteis ini sebelumnya. Akan tetapi, karena ia datang ke tanah Minangkabau sebelum Nabi Muhamad ada, maka nama tersebut tentu saja bukanlah Islam. Dengan demikian, narasi sejarah Minangkabau yang Islami yang dikemukakan Anggun menjadi aneh.

Kontradiksi ketiga berada pada problem bahasa. Ia menyebut Minangkabau berasal dari mukminan ka an-nabi, sebuah frasa berbahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan oleh Nabi Muhammad, dan Al-Quran diwahyukan dengannya. Dengan demikian, mengaitkan Minangkabau dengan Mukminan ka an-Nabi hanya masuk akal jika Anggun berbicara tentang Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Argumen dia yang menyebut masyarakat Minangkabau telah berislam sebelum nabi Muhammad menjadi tidak masuk akal karena nabi-nabi sebelum nabi Muhammad juga memiliki bahasa tersendiri dengan ajaran mereka. Contoh kongkritnya saja Taurat dan Injil tidak berbahasa Arab.

 

Discourse Adat vs Agama

Sebagaimana dilansir oleh Anggun, menurut Buya Mas`oed Abidin, istilah Mukminan Ka al-Nabi telah digunakan pada naskah ulama-ulama pada tahun 1830-an. Data ini kemudian dijadikan penguat pijakan historis tentang nama tersebut. Lagi, argumen ini memiliki kelemahan. Sebuah catatan baru secara sah dijadikan sebagai data historis jika ia diproduksi semasa dengan peristiwa yang ditunjuknya. Jika Anggun menarik keislaman masyarakat Minangkabau sangat jauh ke belakang, bahkan lebih mendahului zaman Nabi Muhammad, maka ia harus merujuk catatan yang semasa. Tahun 1830-an tentu saja periode yang sama sekali baru dalam rentang waktu yang sangat panjang itu. Sederhananya, catatan pada tahun-tahun tersebut tidak layak dianggap sebagai sumber historis tentang peristiwa puluhan abad sebelumnya.

Jika data tersebut tidak bisa dijadikan pijakan historis, jadi apa maknanya penggunaan Mukminan ka an-Nabi sebagai nama asal dari Minangkabau?

Jika terminologi tersebut memang ada, maka ia hanya bisa mengungkap kondisi sosio-historis di sekelilingnya. Untuk memahami hal itu, maka ia perlu ditempatkan dalam konteks yang pas, yaitu Minangkabau di awal abad ke-19. Masa itu adalah masa-masa kerusuhan antara kaum adat dan kaum Paderi. Setelah Syaikh Burhanuddin pulang dari Aceh dari menuntut ilmu kepada Abd al-Ra`uf al-Sinkili, penulis tafsir pertama di tanah Melayu, ia segera melakukan islamisasi surau di tanah Minangkabau. Azyumardi Azra menyebut, meskipun ia bukan orang yang pertama memperkenalkan Islam ke ranah Minang, ia adalah figur yang memiliki peran signifikan dalam penyebaran ajaran ini. Dalam perjalanannya, secara perlahan Syaikh Burhanuddin menghadapi pergesekan demi pergesekan dengan masyarakat dan kaum Adat.

Salah satu perdebatan yang mengemuka ketika itu adalah hubungan antara adat dan agama (syara`). Dari itulah terjadi negosiasi dan muncullah diktum Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Adat. Sejarah memperlihatkan ternyata diktum tersebut tidak cukup, dan negosiasi-negosiasi berikutnya membawa kepada rumusan yang baru, yaitu Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Kitabullah.

Pergesekan demi pergesekan dan negosiasi demi negosiasi tersebut menggambarkan perebutan discourse yang tengah berlangsung ketika itu. Saya membayangkan, pergulatannya bisa jadi mirip dengan perdebatan seputar discourse Islam Nusantara yang berkembang beberapa tahun belakangan. Betapa simbol-simbol seperti sarung, peci, kitab kuning, nyantri, ngaji, dan sebagainya diproduksi sedemikian rupa untuk merekonstruksi relasi agama dan kultur Nusantara.

Penggunaan istilah Mukminan ka al-Nabi dalam konteks awal abad 19 hanya bisa dipahami dalam konteks ini. Ia sangat dimungkinkan berfungsi sebagai argumen para ulama yang dikemukakan untuk menciptakan discourse yang appealing bagi masyarakat. Mereka memproduksi narasi dan refleksi yang dengannya masyarakat menjadi memiliki pandangan tertentu tentang relasi antara adat dan agama. Tentu saja relasi yang dimaksud adalah sebagaimana yang mereka idealkan ketika itu. Dengan kata lain, para ulama ketika itu mengapropriasi simbol-simbol kultural yang berasal dari tanah tempat kelahiran Islam—Bahasa Arab—untuk memenangkan kontestasi tentang tatanan ideal relasi adat dan agama yang diidamkan. Menempatkannya sebagai referensi historis hanya bermuara anakronisme.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s