Alfa, Rambut, dan Siswa Bengal

Juga dimuat di mediasantri dan kompasiana Kembali ke beberapa tahun yang lalu, saya teringat dengan sebuah pelatihan bagi guru-guru madrasah. Hal ini mengikuti kebijakan madrasah tempat saya dulu belajar dan ketika itu mengajar, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, untuk mengadopsi Multiple Intelligence System (MIS) dalam kegiatan belajar-mengajar. Metode ini mengingkari status quo yang hanya menilai dan menghargai sisi kognitif dari peserta ajar. Dengan kata lain, sejauh ini sekolah-sekolah cenderung hanya menghargai siswa paling … Lanjutkan membaca Alfa, Rambut, dan Siswa Bengal

Fenomena Guru Berlapis

Ada satu hal menarik yang mungkin familiar terjadi di lingkungan pesantren. Saya ingin menyebutnya dengan fenomena Guru Berlapis. Ini tentang rentetan hubungan guru dan murid dari generasi ke generasi. Bukan, ini bukan seperti silsilah keluarga atau jalur isnad dalam periwayatan hadis. Fenomena guru berlapis ini pastinya juga terjadi dalam isnad hadis. Dari situlah kemungkinan terjadi hadis Mursal. Ah, sudahlah. Kita tidak akan membicarakan mustalah hadis … Lanjutkan membaca Fenomena Guru Berlapis

Selamat Jalan, Nyiak…

“Baa nyo, lah sudah duo?” “Alah, Nyiak.” “Alhamdulillah. Lai ka manambah katigo?” “Insyaallah, Nyiak. Minta doanyo, Nyiak” Tak disangka, ternyata itu dialog terakhirku dengan Beliau. Beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri tahun ini. Ketika itu, sepulangnya menghadiri pernikahan salah seorang teman, saya dan beberapa orang teman menyempatkan diri menemui Beliau. Kembali menggenggam dan mencium tangannya. Inyiak Khatib Muzakkir. Begitulah ia dipanggil. Ah, sebenarnya sudah begitu … Lanjutkan membaca Selamat Jalan, Nyiak…

“Jilboobs” untuk Perempuan Minangkabau?

Opini Padang Ekspres 21 Agustus 2014 Fenomena jilbab kembali menjadi perbincangan hangat. Kali ini istilah baru nan nyentrik mengemuka. Jilboobs, begitulah ia disebut. Istilah ini bahkan bukan sebuah kata. Ia adalah gabungan dari dua hal. Yang pertama adalah jilbab, yaitu pakaian penutup kepala bagi perempuan yang telah biasa kita kenal. Yang kedua adalah boobs. Ini adalah kata dalam bahasa Inggris yang bermakna payudara perempuan. Artinya, … Lanjutkan membaca “Jilboobs” untuk Perempuan Minangkabau?

Lilik: Jilbab Urang Minang


Tulisan ini membahas ‘jilbab’ yang pernah menjadi identitas orang Minang. Meskipun pada kenyataannya pakaian yang dimaksud memiliki nama lain, istilah ‘jilbab’ dipilih berdasarkan penamaan umum masyarakat. Tulisan ini adalah survey sederhana dengan kesimpulan tentatif dari keterbatasan referensi yang ada. Hal ini disebabkan karena pembicaraan mengenai jilbab lebih didominasi aspek normativitasnya sebagai ajaran agama. Adapun tulisan ini lebih melihat aspek kesejarahannya di Minangkabau semenjak awal abad XX. Lanjutkan membaca “Lilik: Jilbab Urang Minang”

Bacaan Wajib Calon Khadim li al-Ummah

UN sudah dekat untuk santri tingkat akhir, begitu juga dengan KU untuk santri kelas lima. Khidmatul Ummah (KU) memang suatu tradisi dan program yang terus diagendakan oleh Ponpes Sumatera Thawalib Parabek.Waktu itu, kalau tidak salah program ini dirintis pada angkatannya bg Zaki Munawwar, tahun 2004. Semenjak itu agenda ini bertahan terus setiap tahunnya. Selain ngurangin jatah libur santri kelas V (kasiaan,, hehe) , agenda ini … Lanjutkan membaca Bacaan Wajib Calon Khadim li al-Ummah

HISTORICAL RECORD FOR MADRASAH SUMATERA THAWALIB PARABEK: A historically-forgotten legendary pesantren

A historically-forgotten legendary pesantren We acknowledge that we intentionally chose the phrase for the headline of this article on some reasons. Firstly, the history of Madrasah Sumatera Thawalib Parabek (MST Parabek) receives less-attention from the writers particularly from the insiders, and therefore, secondly, many people by no intention misunderstand about this pesantren, which is located in Regency of Agam, West Sumatera. On some occasions, we … Lanjutkan membaca HISTORICAL RECORD FOR MADRASAH SUMATERA THAWALIB PARABEK: A historically-forgotten legendary pesantren

Sinetron Masuk Pesantren: Positif-Negatif

Pesantren dan Rock n Roll menambah sederet sinetron yang sebelumnya telah menggunakan simbol-simbol kepesantrenan. Berbeda dengan Ketika Cinta Bertasbih, sinetron ini bahkan menggunakan terma ‘pesantren’ sebagai judul dan secara eksklusif memperlihatkan konflik-konflik yang berkaitan erat dengan budaya dan kehidupan internal pesantren dengan segala unsurnya: santri, ustaz, dan kyai. Sementara Ketika Cinta Bertasbih sepertinya menggunakan pesantren hanya sebatas latar/setting terjadinya adegan, sementara esensi dan adegan terkait lebih menyoroti kasus-kasus keluarga tokoh, bukan pesantren itu sendiri. Di samping kedua judul tersebut, masih ada beberapa sinetron lainnya yang berkaitan dengan pesantren atau Islam secara umum. Sebutlah judul-judul Astaghfirullah, Rubiah, Tuhan Ada Dimana-mana, dan sebagainya.

Lanjutkan membaca “Sinetron Masuk Pesantren: Positif-Negatif”

Menggagas Jurnalisme Pesantren

Mana Tradisi Menulisnya Prof. K. Yudian Wahyudi, Phd pernah berkata, “Biar ada santri yang nulis disertasi bahasa Inggris di Harvard gitu lho!” Ungkapan profokatif ini merupakan salah satu dari sederet motivasi beliau untuk pengembangan pesantren. Dari beberapa kesempatan, terlihat jelas bahwa pengasuh English Pesantren Nawesea ini memiliki impian luar biasa untuk menjadikan pesantren sebagai lembaga intelektual terkemuka hingga taraf internasional. Beliau juga menyatakan bahwa salah … Lanjutkan membaca Menggagas Jurnalisme Pesantren

Yang Tak Pandang Bulu

Terbit di Majalah SANTRI volume 1/November 2009

Ada sebuah streotype yang berkembang di masyarakat mengenai keberadaan santri. Streotype tersebut sedikit banyaknya telah menyudutkan santri di satu sisi dan pesantren di sisi lain. Ada yang beranggapan, santri tidak siap kerja, ilmu yang mereka dapatkan di pesantren tidak akan membawa mereka kepada kesuksesan. Atau dalam pandangan lain, buat apa menyekolahkan anak ke pesantren, mau jadi apa dia setelah dewasa? Jadi penceramah? Bagaimana dia bisa menghidupi keluarganya? Atau dalam tataran praksis, pesantren dijadikan ‘ban serap terakhir.’ Ketika seorang anak tidak lulus tes penerimaan siswa baru di beberapa sekolah yang ditargetkan, akhirnya dengan ‘terpaksa’ ia disekolahkan di pesantren. Pada dasarnya, semua streotype tersebut meragukan kualitas seorang santri, apakah mereka bisa menjalani kehidupannya di zaman modern yang penuh teknologi ini jika ia hanya belajar alif-ba-ta saja? Akankah mereka menjadi orang sukses kelak? Lanjutkan membaca “Yang Tak Pandang Bulu”