It’s all about professionalism, not sex…!!!

Studi Kasus: Suatu ketika, penulis pernah melihat sebuah sosialisasi mengenai hasil sidang formatur suatu organisasi yang telah dilakukan sebelumnya. Dari hasil tersebut, terdapat kesenjangan angka antara laki-laki dan perempuan dalam pemegang jabatan. Dari beberapa divisi yang ada, hanya satu pejabat perempuan, itu pun divisi keputrian. Lantas, beberapa perempuan angkat tangan, protes. “Mengapa tidak terdapat kesetaraan dalam organisasi ini, padahal kita (perempuan) juga anggota organisasi ini, dan memiliki hak yang sama dengan kalian (laki-laki)?” lebih kurang demikian artikulasinya. Kemudian mereka beberapa kali dengan kekeuh mengusungkan suatu terma “kesetaraan gender”.

Dari illustrasi singkat di atas, terlihat semacam kesadaran dari pihak wanita bahwa mereka tidak banyak dilibatkan dalam formasi suatu perkumpulan. Tak ayal mereka protes. Mereka menggunakan suatu argument “kesetaraan gender”. Secara sepintas, terlihat bahwa mereka melihat suatu ketidakberesan yang sedang terjadi terhadap diri mereka yang kemudian merangsang mereka untuk angkat bicara. Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa pada saat itu mereka adalah pemerhati gender, pemerhati nasib perempuan. Lanjutkan membaca “It’s all about professionalism, not sex…!!!”

Iklan

Wanita dalam Wacana Dunia dan Agama

Ada suatu pertanyaan klise, mengapa wanita menjadi objek pembahasan tersendiri? Mengapa ada fikih wanita? Mengapa ada studi feminisme? Mengapa dan mengapa yang lainnya? Semua pertanyaan tersebut pada dasarnya mempertanyakan mengapa wanita menempati suatu posisi sebagai entitas yang dipelajari dan dipermasalahkan secara khusus.

Hal ini lebih kurang disebabkan posisi dan keberadaan wanita dalam world view masyarakat dunia yang dilematis. Wanita dari zaman ke zaman sering menempati posisi dan mendapatkan perlakuan yang menyedihkan. Wanita dikungkung oleh relasinya yaitu laki-laki. Beberapa mumi perempuan ditemukan dengan celana dalam besi yang digembok dan bersepatu besi berat untuk membatasi perjalanannya. Peradaban Sasanaia-Zoroaster menyembunyikan perempuan menstruasi di dalam goa-goa gelap, peradaban Hindu membakar perempuan hidup-hidup di samping mayat suaminya. Hal serupa juga terjadi di lingkungan Arab tempat Rasulullah diutus. Peradaban Jahiliyyah memandang wanita sebagai makhluk yang tidak berguna. Wanita lemah dan tidak bisa berperang. Kelahiran anak laki-laki merupakan suatu kebanggaan, sementara kelahiran anak perempuan menjadi hal yang memalukan. Itulah yang menjadi penyebab anak perempuan dikubur hidup-hidup. Sungguh perlakuan yang sangat tidak adil. Lanjutkan membaca “Wanita dalam Wacana Dunia dan Agama”

Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an

A. Pendahuluan

Gender merupakan perbincangan yang kian hangat untuk dibicarakan. Bukan hanya karena kontradiksi yang terdapat pada respon masyarakat mengenai kedudukan perempuan, tetapi juga—terlepas apakah ia kontradiktif atau tidak—karena aktivitas sebagian perempuan yang semakin meningkat dan mendapatkan tempat di wilayah publik. Kontradiksi yang dimaksud berkaitan dengan persepsi masyarakat apakah kondisi historis perempuan sekarang ini sudah cukup sebagai refleksi dari pesan normatif Islam atau tidak. Sebagian berpendapat bahwa posisi dan hubungan kaum perempuan dan laki-laki saat ini sudah sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga tidak perlu dipertanyakan dan dipermasalahkan lagi. Sebagian lainnya merasakan adanya titik-titik diskriminatif dalam posisi dan hubungan perempuan dengan laki-laki. Artinya, posisi ini belum mencerminkan ajaran Islam yang memperkenalkan keadilan dan egalitarianisme antara status laki-laki dan perempuan. Menurut mereka, mestilah ada suatu inisiatif untuk mengkajinya dengan orientasi memutuskan jalan ketidakadilan yang telah berjalan lama untuk selanjutnya diganti dengan suatu sistem yang adil.[1] Lanjutkan membaca “Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an”