Tentang Kerangka Teori

Gimana sih teori itu? Beberapa waktu belakangan saya sering mendapatkan pertanyaan seputar kerangka teori. Menunggu subuh setelah melihat kemenangan dramatis Barcelona dan kekalahan Chelsea, saya ingin menuliskan apa yang saya pahami tentang hal ini. Considering that I am not a professional researcher, maka apa yang akan Anda baca bisa jadi salah namun semoga saja benar. Konon katanya, kerangka teori adalah sesuatu yang menjadikan ilmu itu … Lanjutkan membaca Tentang Kerangka Teori

Kullu Sahabi ‘Udul: Telaah atas Pemikiran G.H.A Juynboll

Jurnal Hermeneia Volume 13, Nomor 1 Januari – Juni 2013

Abstract

Muslims believe that whole companions have ‘ada>lah quality, which is famous by a dictum: kullu s}ah}abi> ‘udu>lun. Furthermore, this belief has come as something approved theologically. However, Juynboll denies it. He claims that this theory occurred in evolutive schema, and however, is the creation of muh}addis, in which the controversy of Abu Hurayrah is the integral item. This paper is the analysis towards the theory of evolution of Juynboll about collective ta’dil. Authors criticize Komaruddin Amin’s view that based on the three basical assumptions of commont link, the theory of collective ta’dil is then denied. In the other hand, author views that the denial of Juynboll for collective ta’dil is one of the instruments to strenghten the theory of commont link.
Keyword: Juynboll, kullu s}ah}abi> ‘udu>lun, Abu Hurayrah, commont link, evolusi.
Pendahuluan
G.H.A Juynboll kerap dihubung-hubungkan dengan teori common link. Dapat dipahami tentu saja, karena ia salah seorang sarjana Barat yang mengembangkan teori ini. Namun begitu, ia bukanlah yang pertama kali mengintrodusir teori ini ke dalam prosesi kritik hadis. Diperkenalkan oleh Joseph Schacht, teori ini menggambarkan fenomena penyebaran hadis oleh seseorang yang disebut fabricator kepada beberapa orang periwayat, dan untuk supremasi legalitas, sang fabricator yang disimbolkan dengan N.N. menyediakan nama-nama rujukan ke atasnya.[1]

Lanjutkan membaca “Kullu Sahabi ‘Udul: Telaah atas Pemikiran G.H.A Juynboll”

Iman pada Rasulullah Mesti Tanpa Bertemu

Takdipungkiri lagi, iman memang hal yang begitu determinan dalam Islam. Jika ranahperpolitikan suatu negara memiliki trias poelitica yang menentukan arahberlangsungnya kehidupan suatu negara, Islam juga mempunyai trilogi yangmendasari status keislaman seseorang; Ihsan, Iman, dan Islam. Keterkaitanketiga unsur ini satu sama lainnya menjadikan seorang mukmin, menjadi hambayang sempurna di sisi Allah.
Salahsatu komponen iman dalam Islam adalah mengimani nabi dan rasul. Tentunya,Rasulullah saw merupakan figur penting dalam poin ini. Seorang muslim wajibmengimani beliau. Harus diyakini dengan benar, bahwa Muhammad saw adalah rasuldan nabi Allah yang tidak pernah sekalipun berbuat syirik kepada Allah. Beliauadalah penutup para nabi dan rasul—tidak ada nubuwwah lagi setelahbeliau. Rasulullah juga imam para muttaqin. Beliau merupakan sosok yangmenjadi teladan dalam segala aktifitas menuju ketaqwaan. Habibullah adalahgelarnya. Beliau diimani dengan segal mu’jizat yang dikaruniakan Allahkepadanya.[1]

The Rising of Isra’iliyyat in Earlier Exegetical Work and the Effect

dimuat di Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hadis Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta edisi Juli 2010 Abstract The article questions about the emergence of isra’iliyyat in early exegetical work and how it affects the exegesis of its author. Isra’iliyyat is one kind of traditions (riwayahs) exist in exegesis book, especially classical exegesis book. This term has been familiar even since the early days of … Lanjutkan membaca The Rising of Isra’iliyyat in Earlier Exegetical Work and the Effect

Hadd Zina Ghairu Muhsan

Terdapat banyak hadis yang bercerita seputar hadd bagi pezina gair muhsan. Diantaranya adalah hadis:

حدثنا محمد بن المثنى وابن بشار جميعا عن عبد الأعلى قال ابن المثنى حدثنا عبد الأعلى حدثنا سعيد عن قتادة عن الحسن عن حطان بن عبد الله الرقاشي عن عبادة بن الصامت قال كان نبي الله صلى الله عليه وسلم إذا أنزل عليه كرب لذلك وتربد له وجهه قال فأنزل عليه ذات يوم فلقي كذلك فلما سري عنه قال خذوا عني فقد جعل الله لهن سبيلا الثيب بالثيب والبكر بالبكر الثيب جلد مائة ثم رجم بالحجارة والبكر جلد مائة ثم نفي سنة[1] Lanjutkan membaca “Hadd Zina Ghairu Muhsan”

Kitab Tarikh Al-Baghdad Karya al-Khatib al-Baghdadi

A. Pendahuluan

Ilmu hadis telah menjadi suatu cabang ilmu yang cukup menarik, baik pada abad lampau, hingga sekarang ini. Hal ini dibuktikan dengan informasi historis mengenai para ulama-ulama klasik yang telah mendalami cabang ilmu ini dengan sangat luar biasa. Banyak rumusan-rumusan mereka yang kita terima dan sangat bermanfaat bagi generasi-generasi setelah mereka, termasuk kita. Kerja keras mereka menjadi manifest dalam bentuk buku-buku yang sangat banyak dan mengagumkan.

Seiring perkembangan ilmu hadis, dan terbuktinya urgensi yang sangat vital dalam kajian rawi terhadap sebuah hadis, teori-teori mengenai rawi dan sanad pun mulai berkembang. Mulai dari kualifikasi intelektual  (al-dhabt) dan personal (al-adalah) seorang perawi baik secara makro maupun mikro, yang cukup berperan dan penyimpulan kualitas suatu hadis. Begitu juga dengan teori seputar jarh wa ta’dil yang bertujuan untuk memberikan justifikasi bagi seorang perawi. Semua itu, tidak lain adalah dalam rangka penelitian suatu hadis.

Lanjutkan membaca “Kitab Tarikh Al-Baghdad Karya al-Khatib al-Baghdadi”

Hadis Ramalan Kesialan

Rasulullah diutus ke negeri Arab pada abad ke 7 M. Tentu saja, sebelum beliau diutus, bangsa Arab telah melalui sejarah yang sangat panjang. Perjalan sejarah ini telah mengkonstruk kebudayaan-kebudayaan mereka. Kebudayaan tersebut bisa dalam bentuk bahasa, tingkah laku, kebiasaan, keyakinan, dan sebagainya.

Salah satu kebudayaan yang masih terekam hingga saat ini adalah kepercayaan kepada hal mistik. Lebih khusus lagi, mistik yang dimaksudkan lebih diarahkan kepada hal yang berkaitan dengan syu’m atau thayrah. Rasulullah yang hidup pada masa itu, mau tidak mau merespon setiap kejadian yang beliau dapati. Dalam hal ini pun, beliau meresponnya sehingga tersabdalah sebuah hadis:

حدثنا أبو اليمان أخبرنا شعيب عن الزهري قال أخبرني سالم بن عبد الله أن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إنما الشؤم في ثلاثة في الفرس والمرأة والدار

“….Kesialan terdapat pada wanita, kuda, dan rumah.” Lanjutkan membaca “Hadis Ramalan Kesialan”

Evolusi Sunnah dan Implikasinya terhadap Teori Penulisan Hadis

Dunia kontemporer telah melahirkan sederet nama pemikir-pemikir dalam diskursus Islamic Studies yang meliputi berbagai bidang, termasuk Hadis. Dalam bidang ini, nama-nama seperti Yusuf Qaradhawi, Mushtafa Azami, Muhammad al-Ghazali, Rasyid Ridha, Ahmad Amin, Musthafa al-Siba’i dan sebagainya bermunculan. Pada saat yang sama, tidak sedikit non-muslim yang tertarik dan bahkan melakukan penelitian serius mengenai hadis. Sebutlah nama-nama Ignaz Goldziher, Sprenger, Montgomery Watt, Jospeh Schacht, Harald Motzki, Margoliouth, Lammens, dan sebagainya.[1] Untuk kalangan sarjana Muslim, sebagiannya menelorkan karya yang berupa respon bagi kajian-kajian orientalis tersebut, baik yang bernada setuju maupun membantah.

Lanjutkan membaca “Evolusi Sunnah dan Implikasinya terhadap Teori Penulisan Hadis”