Afi dan Sudut Pandangnya

juga dimuat di geotimes.co.id Beberapa hari belakangan banyak orang membicarakan Afi Nihaya dan status facebooknya. Beberapa hari berselang, tulisan tanggapan dari Gilang Kazuya Shimura muncul. Lalu, menyusul tulisan Candra Wiguna yang balik menanggapi Gilang. Tiga tulisan itu adalah yang viral. Selain ketiganya, masih banyak berseliweran komentar-komentar lainnya di sosial media. Afi menulis refleksi empiris, Gilang menjawab dengan refleksi doktriner, dan Candra membalas mengafirmasi Afi. Ketiga … Lanjutkan membaca Afi dan Sudut Pandangnya

Nalar Beragama Muslim Indonesia

sebelumnya dimuat di geotimes.com Apakah Anda melihat pos atau meme tentang penolakan perayaan Tahun Baru 1 Januari 2017 ini? Saya ingin sedikit mendiskusikan fenomena tersebut dalam kerangka nalar beragama Muslim Indonesia. Bagi saya, fenomena itu merupakan salah satu fragmen yang memperlihatkan krisis epistemologis yang dialami oleh Muslim Indonesia. Paling tidak ada dua argumen yang muncul menjelang dan pada saat tahun baru kemarin. Argumen pertama berkaitan dengan bentuk, … Lanjutkan membaca Nalar Beragama Muslim Indonesia

Islam dan Pernikahan Sejenis: Catatan untuk Mun’im Sirry

juga dimuat di qureta.com

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan dari Mun’im Sirry tentang LGBT yang di-repost oleh Denny J.A. di inspirasi.co. Dalam artikel berjudul Islam, LGBT, dan Perkawinan Sejenis itu, Mun’im Sirry berniat untuk meruntuhkan argumen penolak LGBT dan pernikahan sejenis. Ia menyebut bahwa penolakan legalitas homoseksualitas dan pernikahan sejenis berasal dari cara pandang tekstual terhadap Al-Quran. Lanjutkan membaca “Islam dan Pernikahan Sejenis: Catatan untuk Mun’im Sirry”

Membumikan Nilai Isra’-Mi’raj

Tanggal 27 Mei 2014 bersamaan dengan 27 Rajab 1435 yang berarti hari umat Islam memperingati peristiwa Isra’-Mi’raj.  Peristiwa ini menandai keberangkatan Nabi Muhammad dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa, lalu kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha. Secara akal sehat, peristiwa tersebut adalah hal yang mustahil. Akan tetapi, kejadian-kejadian di dalam kehidupan tidak selalu mengikuti hukum rasional, akan tetapi  juga hukum supra-rasional. Sifatnya yang supra-rasional pada akhirnya … Lanjutkan membaca Membumikan Nilai Isra’-Mi’raj

Kristen Menurut Alquran Dalam Pendekatan Reader-Response Jane Dammen Mcauliffe

Dipresentasikan pada International Seminar Living Phenomena of Arabic Language ang the Qur’an Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan University of Malaya 7 Mei 2014
Abstract:

Many Qur’anic a>ya>t both challenge and praise Christians and Bible which then determine the way of Muslim to behave before the Christians. McAuliffe divides the Qur’anic presentation to the Bible into two sections: Qur’anic self-referentiality and Quranic Inter-religious view. In a reader-response approach, after analysing ten commentary-books on seven Qur’anic verses, she concludes that since the exegesis controls the Qur’an, Qur’anic Christians refer to neither historical Christians nor the living community call themselves as Christians. Applying descriptive-analitical method, the research found that there are some methodological problem within his logical sequence: her argument are circular in one hand and she falls in improper generalization since she constructs her Qur’anic Christians theory only on verses which praise Christians.

Lanjutkan membaca “Kristen Menurut Alquran Dalam Pendekatan Reader-Response Jane Dammen Mcauliffe”

Islam Sahabat Perempuan

Banyak feminis yang mengidentifikasi agama, terutama Islam, sebagai salah satu penghambat berkembanganya pemahaman yang egaliter secara gender. Lebih jauh, mereka berpandangan bahwa agama justru melanggengkan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Isu-isu seperti poligami, hak waris, kepemimpinan perempuan, thalak, dan sebagainya menjadi sorotan. Tuduhan kaum feminis ini sepertinya mendapatkan justifikasi dari umat Islam sendiri. Mayoritas menganggap perempuan ya seperti itu adanya dan ditemukan justifikasinya dari teks suci agama.

Benarkah Islam diskriminatif? Benarkah Islam tidak egaliter secara gender? Jawabannya tentu saja ‘sangat’ tidak. Jika dipahami secara lebih mendalam dan menyeluruh, akan ditemukan bahwa Islam adalah penyelamat perempuan. Perempuan harus berbangga dengan adanya Islam, dan perempuan harus bisa menganggap Islam sebagai sahabat yang telah setia memperjuangkannya. Bagaimana Islam menyelamatkan perempuan? Lanjutkan membaca “Islam Sahabat Perempuan”